Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Sedih


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Tidur nyenyak yang masih belum cukup ini telah dialami seorang gadis kecil. Ia terusik dari tidur nyenyak nya lantaran sebuah mimpi buruk yang seolah telihat nyata.


Isak tangisnya pun sudah pecah. Kegelisahan dan rasa khawatir dalam hatinya membuatnya merasakan takut yang begitu teramat sangat.


" Daddy... hiks... hiks... daddy... ". Isak tangis Aida yang memenuhi ruangan kamarnya.


" Non, tenang ya non, nona Aida jangan menangis, mungkin daddy nya non sedang ada pekerjaan ". Sahut bi Sari yang berusaha menenangkan nona kecilnya.


" Tidak bibi, daddy nya Aida kecelakaan, Aida lihat sendili di mimpi hiks... hiks... ". Sahut Aida dengan jawabannya yang masih sama.


Bi Sari tak tahu harus bersikap bagaimana. Semenjak dari tadi nona kecilnya selalu mengatakan kalimat yang sama.


Sebenarnya kemanakah tuan Andra nya, mengapa tuan Andra nya sama sekali tak memberi kabar. Bukankah jika ada urusan pekerjaan tuan nya tak pernah lupa untuk memberi kabar, apalagi memberi kabar pada putri kecilnya.


" Bi Sali, Aida mau cali daddy hiks... Aida mau tolong daddy hiks... hiks... ". Seru Aida.


" Tapi mau cari di mana non?, kita kan tidak tahu di mana daddy nya non berada ". Sahut bi Sari.


" Aida tidak mau tahu, pokoknya Aida mau cali daddy, halus hwaaa... ". Aida semakin menjadi dalam isakannya.


" Baiklah non, baiklah, kita akan cari daddy sekarang ". Turut bi Sari pada akhirnya.


Dalam keadaan nona kecilnya yang masih terisak, bi Sari pun mulai menggendong tubuh mungil nona kecilnya itu sebelum akhirnya mereka menuju ke kamar pak Rahman yang berada di lantai bawah.


Tring... tring... tring...


Bunyi suara telepon rumah terdengar dengan jelas di ruangan utama rumah tuan nya.


" Non, sepertinya ada yang menelfon, bibi angkat dulu ya telefon nya ". Izin bi Sari yang diangguki oleh Aida.


Sebenarnya bi Sari merasa begitu heran, mengapa di waktu di hari seperti ini sudah ada yang menelpon seperti ini, apakah yang ingin dibicarakan adalah hal yang sangat penting.


Tring... tring... tring...


Dengan masih menggendong Aida, bi Sari pun mulai mengangkat panggilan telepon itu.


" Halo, ini dengan siapa? ". Sahut bi Sari setelah mengangkat panggilan telepon itu.


" Iya benar, saya asisten rumah tangganya tuan Andra ". Sahut bi Sari lagi.


Dan seseorang yang menelpon itupun memberi kabar jika tuan Andra sedang mengalami kecelakaan.


Deg...


" Astaghfirullah, tuan Andra kecelakaan? ". Sentak bi Sari yang begitu sangat terkejut.

__ADS_1


" Daddy, daddy hwaaa... ". Aida menjerit kala mendengar kabar jika daddy nya mengalami kecelakaan.


" Terima kasih infonya, kami akan segera ke rumah sakit ". Putus bi Sari pada akhirnya.


" Daddy hiks... hiks... daddy hiks... ".


" Non, tenanglah non, kita akan ke rumah sakit sekarang ". Seru bi Sari.


" Daddy, daddy bibi hiks... hiks... ".


" Iya non, tenang - tenang, pasti daddy nya nona Aida baik - baik saja, ayo kita ke rumah sakit sekarang ". Sahut bi Sari yang berusaha menenangkan nona kecilnya.


Bi Sari merasa sangat terkejut dan juga tak menyangka dengan apa yang dirasakan oleh nona kecilnya Aida.


Mimpi buruk yang dialami oleh nona Aida nya tentang daddy nya, bukanlah hanya bunga tidur biasa, melainkan mimpi itu sudah menjadi petunjuk jika dady nya tuan Andra memang benar - benar mengalami kecelakaan dan sangat membutuhkan pertolongan.


Ikatan batin antara seorang anak dengan ayahnya memanglah cukup kuat. Sehingga dari kuatnya ikatan batin itu, sampai mampu membuat salah satunya bisa merasakan dengan apa yang dialami olehnya.


Tak ingin membuang waktu lagi, bi Sari pun segera mempersiapkan diri dan juga nona kecilnya Aida untuk bersiap - siap pergi ke rumah sakit. Namun sebelum itu, terlebih dahulu dirinya harus menemui pak Rahman, karena pak Rahman lah yang akan mengantar ke rumah sakit.


*****


Tak butuh waktu lama hingga mereka telah sampai di rumah sakit milik Andra. Si kecil Aida yang di dampingi oleh bi Sari dan juga pak Rahman telah tiba di rumah sakit.


Mereka bertiga sudah akan menuju ke tempat unit gawat darurat karena Andra sendiri saat ini masih ditangani oleh dokter. Dan kini, mereka bertiga pun telah sampai di depan ruangan itu.


" Tenanglah non, daddy nya non sedang ditangani oleh dokter, daddy nya non sedang diobati ". Sahut bi Sari.


" Iya non, yang dikatakan oleh bi Sari benar, jadi nona Aida tenang ya, pasti daddy baik - baik saja di dalam, ayo, lebih baik kalian duduk dulu ". Sahut pak Rahman.


Lalu mereka pun duduk dengan Aida yang dipangku oleh bi Sari.


Aida begitu sangat sedih dengan keadaan ini. Ternyata mimpi buruk yang begitu mengerikan itu memang nyata adanya. Daddy nya memang benar mengalami kecelakaan. Apakah kejadian disaat daddy nya mengalami kecelakaan tergambar sama seperti yang ada di dalam mimpinya. Jika itu memang benar, maka itu begitu sangat mengerikan.


Sementara di posisi lain, nampak Firly sudah tergopoh - gopoh ingin segera menuju ke ruangan UGD. Setelah dirinya mendapatkan kabar dari bi Sari jika Andra mengalami kecelakaan, membuat Firly pun langsung bergegas ingin pergi ke rumah sakit.


Awalnya Firly tak percaya jika Andra mengalami kecelakaan, namun setelah dirinya mengetahui jika Andra sudah tak lagi berada di kamar, membuat Firly baru percaya jika Andra memang benar pergi dan mengalami kecelakaan.


" Aida ". Seru Firly kala dirinya telah datang.


" Uncle Filly ". Sahut Aida.


Melihat uncle Firly nya sudah tiba, membuat Aida memerosotkan tubuhnya dari pangkuan bi Sari.


" Uncle ". Seru Aida dengan mendekati uncle nya.


" Sayang ". Sahut Firly, lalu Firly pun langsung meraih tubuh mungil Aida dan membawanya pada gendongannya.


" Uncle, daddy nya Aida, daddy nya Aida kecelakaan ". Adu Aida bahkan kedua bola mata birunya sudah nampak berkaca - kaca.

__ADS_1


" Tenanglah sayang, tenang ya, daddy nya Aida sedang diobati di dalam, jadi Aida jangan khawatir ya, kita berdoa saja semoga daddy nya Aida baik - baik saja ". Sahut Firly yang berusaha menenangkan Aida.


Dalam hal ini Firly sendiri juga merasa tidak yakin dengan kondisi Andra yang akan baik - baik saja, karena jika diperhatikan oleh rusaknya mobil Andra yang saat ini masih berada di tepi jalan, terlihat mengalami kerusakan yang parah.


" Andra - Andra, kenapa kamu begitu keras kepala sekali sih? ". Batin Firly.


Firly sangat tahu jika Aida pasti begitu merasa sangat sedih. Apalagi semenjak tadi kemungkinan masih belum ada kabar dari dokter tentang kondisi Andra saat ini.


Entah apa yang ada di dalam pikiran Andra, apakah Andra tidak berpikir jika dirinya pergi dalam keadaan mabuk, yang di mana dalam kondisi seperti itu adalah kondisi yang sangat rawan.


" Bi Sari, terima kasih karena sudah mau menjaga Aida ". Seru Firly.


" Iya tuan, sama - sama, itu sudah menjadi tugas saya ". Sahut bi Sari.


Kini mereka semua sudah duduk di kursi, kecuali si kecil Aida yang dipangku dengan memeluk Firly.


Dan benar saja, dokter yang menangani keadaan Andra sudah keluar dari ruangan itu.


" Dokter ". Seru Firly.


Lalu semuanya mendekati sang dokter.


" Dok, bagaimana keadaan Andra? ". Tanya Firly.


" Begini tuan Firly, tuan Andra mengalami pendarahan di otaknya, selain itu, tangan kiri tuan Andra mengalami cidera yang sangat serius, untuk menyelamatkan nyawa tuan Andra, maka kami harus melakukan operasi ". Seru dokter pria itu.


" Lakukanlah dok, lakukan apa saja asalkan Andra bisa selamat ". Sahut Firly.


" Baiklah tuan, kalau begitu kami akan segera melakukannya ". Sahut dokter.


Dan seusai mengatakan hal itu dokter pria itupun kembali masuk ke ruangan UGD.


" Uncle, daddy kenapa?, daddy luka palah ya?, opelasi itu apa uncle? ". Tanya Aida yang bertubi - tubi.


" Tenanglah Aida, daddy nya Aida pasti akan baik - baik saja. Kenapa daddy harus dioperasi, agar daddy bisa cepat sembuh sayang ". Sahut Firly yang berusaha memberikan pengertian pada putri dari sahabatnya ini.


Aida tak menyahut, ia memeluk Firly dengan melingkarkan sepasang tangan mungilnya di leher Firly.


Aida merasa takut jika sampai kehilangan daddy nya. Sudah cukup dirinya kehilangan sang mommy yang belum pernah dirinya lihat selain hanya foto nya, dan kini kondisi daddy nya sudah buruk.


Aida memang tak mengerti apa itu pendarahan di otak, namun jika didengar dari penjelasan dokter, itu adalah hal yang sangat serius.


" Ya sudah, kita duduk ya sayang " . Seru Firly pada akhirnya.


Firly tak tahu harus berbuat bagaimana untuk menenangkan Aida, namun setidaknya dirinya bisa membuat Aida tak jadi menangis.


Bi Sari yang sedari tadi menyaksikan nona Aida nya yang begitu sedih sebenarnya merasa begitu hancur. Hanya saja bi Sari berusaha agar tak menangis di depan nona kecilnya.


" Kasihan sekali kamu non ". Batin bi Sari yang merasa sedih.

__ADS_1


__ADS_2