Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Sudah Berakhir


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Di minum kak minumannya, ini juga ada makanan ringan, jangan lupa dimakan juga ". Seru Nadira dengan ramah pada Firly.


" Akhirnya kamu keluar juga Dira, terima kasih ya ". Sahut Firly.


Nadira tak menoleh lagi pada Andra, dan kini dirinya mulai meletakkan minuman es teh lemon yang satunya lagi di depan Putri.


" Loh Dir, kok minuman yang satunya diberikan pada Putri?, seharusnya kan diberikan pada pacarmu si Andra ". Seru Firly lagi.


Deg...


Nadira cukup merasa tersentak dengan tanggapan yang baru saja Firly lontarkan. Jadi maksudnya bagaimana, apa minuman ini milik Andra, lalu mengapa tadi Putri mengatakan jika dirinya ingin minum dengan minuman yang sama juga.


Untuk sejenak Nadira memang merasa bingung, namun setelah itu dirinya sudah mengerti jika sebenarnya Putri tidak ingin jika dirinya sampai tahu jika Andra datang bertamu. Namun sayangnya dirinya malah datang mengantarkan minuman dan makanan sehingga pada akhirnya malah bertemu dengan Andra.


Sementara Putri sendiri semenjak kedatangan Nadira hanya diam dengan seribu bahasa. Putri merasa sedikit bersalah karena sudah membiarkan Nadira sampai bertemu dengan tuan Andra nya. Namun dirinya juga sama sekali tak menyangka jika Nadira lah yang mengantarkan minuman dan makanan itu, padahal yang disuruh adalah bu Tin.


Dan dengan terpaksa Nadira pun memindahkan minuman yang sempat diletakkan di depan sahabatnya Putri di dekat Andra.


" Ya sudah, selamat menikmati, kalau begitu saya permisi dulu ". Seru Nadira pada akhirnya.


Tanpa menunggu sahutan dari mereka, Nadira langsung melenggang pergi begitu saja. Ia masuk ke ruangannya yang nampaknya akan menuju ke kamarnya.


Mendapati sikap kekasihnya yang seperti ini, hanya bisa membuat Andra diam. Andra sangat paham mengapa kekasihnya bersikap seperti ini. Bahkan meski kesalahan yang diperbuatnya adalah fatal, Nadira sama sekali tak memarahinya.


" Andra, si Dira itu kenapa?, sepertinya dia menghindari kamu, kalian ada masalah ya? ". Seru Firly.


" Masalah apa sih mas, mungkin saja Dira nya sedang tidak mood, maklum lah perempuan, setiap bulannya kan selalu datang tamu bulanan ". Elak Putri yang tiba - tiba menimpali.


" Humm... begitu ya, ya tidak apa - apa sih, namanya juga wanita ". Sahut Firly karena sudah memahaminya.


Andra tak menanggapi ucapan Firly dan juga Putri. Ia masih memandangi kepada arah di mana kekasihnya Nadira masuk. Pasti kekasihnya itu sedang berada di kamarnya.


" Mas Firly, kenapa saat datang kemari mas sama sekali tidak menghubungiku? ". Tanya Putri.


" Ya biar menjadi kejutan lah baby, memangnya untuk apa lagi?, lagipula kamu pasti senang kan aku datang tiba - tiba seperti ini? ". Sahut Firly dengan sedikit berbangga.


" Huuh... dasar ". Sahut Putri dengan sedikit mencebikkan bibirnya.


" Aih baby, jangan memanyunkan bibirmu seperti itu, membuatku jadi ingin menggigitnya tahu ". Goda Firly.


" Ih, apa sih mas, jangan yang aneh - aneh deh ". Sahut Putri.


Putri kurang begitu suka dengan godaan dari kekasihnya Firly.


" Hihihihi... jangan marah dong baby, aku kan hanya bercanda, jangan marah ya... ". Sahut Firly.

__ADS_1


Sebenarnya Firly sudah merasa begitu khawatir karena kekasihnya Putri sudah nampak begitu kesal hanya saja dirinya tetap bersikap jika ini adalah sebuah bercandaan saja. Seharusnya dirinya tidak menggodanya seperti itu.


Andra masih diam dengan sikapnya. Sedari tadi tidak ada hal apapun yang bisa dirinya lakukan saat ini. Padahal dirinya datang ke mari adalah agar dirinya bisa bertemu dengan kekasihnya Nadira.


Namun ini apa, hingga detik ini dirinya masih belum memiliki kesempatan apapun agar bisa bicara dengan kekasihnya.


Tak ingin masalahnya dengan Nadira menjadi semakin berlarut - larut, membuat Andra ingin menyusul kekasihnya saja. Ya, sebaiknya dirinya menemui kekasihnya sekarang.


" Dra, mau ke mana kamu Dra? ". Seru Firly lantaran Andra sudah berdiri dari posisinya.


" Aku ingin menemui Dira ". Sahut Andra.


" Loh tuan, maksudnya tuan ingin masuk ke kamar? ". Timpal Putri.


" Iya, karena aku ingin menemui Dira, tenanglah, aku tidak akan berbuat yang macam - macam ". Sahut Andra.


" Ingat bro, jangan sampai khilaf hihihihi... ". Ledek Firly.


Andra tak menggubris ledekan Firly. Lebih baik dirinya segera menemui kekasihnya, daripada dirinya hanya menjadi seekor nyamuk di antara mereka berdua, lebih baik dirinya segera menemui kekasihnya saja.


" Dasar manusia kulkas, bukannya menjawab malah main masuk begitu saja, dasar Andra ". Seru Firly kala sang sahabat Andra malah masuk ke dalam ruangan.


Andra melangkahkan sepasang kaki jenjang dan kokohnya itu. Ia melangkah dengan memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada di ruangan tengah rumah bu Dewi ini.


Hingga dari beberapa jarak yang tak jauh dari posisinya berdiri. Andra melihat salah satu kamar dengan pintunya yang sedikit terbuka. Andra berharap kamar itu adalah kamar Nadira.


Dan dengan penuh kehati - hatian, Andra melangkah mendekati kamar itu, hingga kini dirinya telah benar - benar berada tepat di depannya.


" Sayang, ternyata kamu memang ada di sini ". Seru Andra lirih kala dirinya sudah menemukan sosok yang ingin ditemuinya.


Di dalam kamar ini terlihat dengan jelas jika Nadira sedang sibuk membaca buku. Ia memfokuskan pandangannya untuk membaca lembar buku yang dipangkunya.


Andra menjadi terdiam. Haruskah dirinya masuk. Namun jika masuk, bagaimana dengan reaksi Nadira nanti. Entah mengapa mendadak keberanian dirinya seolah menjadi menciut. Bagaimana jika kekasihnya Nadira malah mengusirnya.


Dengan tidak mempedulikan rasa ragu di dalam hatinya, Andra malah secara perlahan mulai mendorong pintu kamar itu. Andra melakukannya hingga tak terdengar adanya decitan suara sedikitpun.


Hingga kini, Andra pun telah benar - benar berada di dalam kamar ini. Nadira masih setia dengan sikapnya. Nadira masih belum menyadari jika Andra sudah berada di dalam kamarnya.


Perlahan namun pasti, Andra kini sudah berada di dekat ranjang kasur Nadira. Dan dengan gerakan yang begitu sangat halus, bahkan dari saking halusnya benar - benar membuat Nadira tak mendengar apapun. Andra mulai duduk di ranjang kasur itu.


Namun entah mengapa, di sela - sela Nadira sedang membaca, dirinya seolah seperti merasa sedang diperhatikan. Sepertinya sedang ada seseorang di depannya. Merasakan hal itu membuat Nadira pun langsung mengangkat wajahnya.


Deg...


" Ya Tuhan... ". Pekik Nadira.


" Mas Andra, kenapa tiba - tiba ada di sini? ".


Sungguh Nadira begitu sangat terkejut. Bagaimana bisa Andra berada di kamarnya. Mengapa dirinya sampai tidak menyadari jika Andra sudah masuk.

__ADS_1


Menyadari sang kekasih yang terlihat sedikit panik, membuat Andra pun ingin menenangkannya. Andra mulai mendekati Nadira.


" Sayang ". Seru Andra.


" Tuan, apa yang ingin anda lakukan, keluarlah dari kamar saya ". Sahut Nadira.


Seketika itu tubuh Andra langsung menjadi terdiam. Apa yang baru saja kekasihnya katakan. Ternyata benar yang dirinya khawatirkan, Nadira benar - benar mengusirnya.


" Sayang, aku ingin bicara dengan mu, tolong maafkan aku ". Seru Andra.


Dan kini Andra sudah benar - benar berada di dekat kekasihnya. Bukannya menyambut dengan baik, Nadira malah turun dari ranjang kasurnya. Nadira tidak ingin jika kekasihnya Andra menjadi semakin dekat padanya.


" Tuan, apa yang ingin tuan lakukan di sini, lebih baik tuan keluar, tidak baik jika tuan berada di kamar saya seperti ini ". Sahut Nadira.


" Sayang, apa maksudmu?, kenapa kamu memanggilku dengan sebutan itu lagi? ". Sahut Andra.


Andra sangat tak menyangka jika Nadira akan kembali manggilnya seperti dulu.


" Sayang, aku minta maaf, maafkan aku yang selama ini sudah salah paham padamu ". Seru Andra pada akhirnya.


Inilah yang ingin Andra katakan sedari awal. Semoga saja dirinya tidak terlambat.


Mendengar permintaan maaf Andra, entah mengapa membuat perasaan Nadira malah menjadi semakin sakit.


Mengapa Andra malah meminta maaf lagi, seolah permintaan maaf ini bagaikan sebuah hal yang dengan begitu mudahnya dilakukan hanya karena ingin memperbaiki segala kesalahan yang dilakukan.


Mengapa permohonan maaf ini seolah bisa dipermainkan begitu saja.


" Sayang, Dira ". Seru Andra lagi.


Andra mencoba meraih kedua tangan mungil kekasihnya, namun sayangnya, disaat dirinya hendak melakukan hal itu, Nadira malah menyembunyikan sepasang tangannya.


" Sayang, tolong maafkan aku, maafkan aku yang selama ini sudah salah paham padamu, maafkan aku sayang ". Seru Andra lagi.


Andra benar - benar tulus dalam mengutarakan permohonan maafnya. Andra sangat menyadari jika kekasihnya Nadira tidak akan mudah untuk memaafkannya.


" Sayang, kenapa kamu tidak menjawab ku?, kamu mau kan memaafkan semua kesalahan ku sayang? ". Seru Andra.


" Saya sudah memaafkan anda tuan, bahkan jauh sebelum tuan meminta maaf. Dan tolong, jangan panggil saya dengan sebutan sayang lagi, karena saya bukanlah siapa - siapa tuan ". Sahut Nadira.


Deg...


Bak terkena hantaman yang begitu besar di dadanya. Perkataan Nadira bagaikan sebuah batu besar yang menghantam dada Andra dengan begitu kuatnya.


Apa maksud dari Nadira mengatakan jika dirinya bukan siapa - siapa lagi, apakah ini artinya hubungannya dengan Nadira sudah berakhir. Tidak, ini tidak boleh terjadi.


Bersambung.....


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


❀❀❀❀❀


__ADS_2