Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Bunda Pilihan


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Tok... tok... tok...


Suara ketukan pintu itu pun telah berhasil mengalihkan penghuni di dalam kamar Andra.


" Mas, ada yang mengetuk pintu ". Seru Nadira.


" Siapa sih?, mengganggu saja ". Andra kurang begitu suka karena waktu kebersamaannya dengan keluarga kecilnya menjadi terganggu.


Tok... tok... tok...


" Tuan, ini saya membawakan sarapan untuk tuan ". Seru suara itu yang Andra sangat mengenali siapa orangnya.


" Daddy, itu asisten Lia, membawa salapan ke sini, Aida mau salapan daddy ". Ujar Aida.


" Ya Tuhan, iya, kalian masih belum sarapan, kenapa aku bisa lupa? ". Andra menepuk jidatnya sendiri lantaran kelupaan nya.


Menyadari sang istri dan juga putrinya bahkan termasuk dirinya sendiri yang masih belum sarapan, membuat Andra pun ingin segera mengambil sarapan itu dari Ria.


Andra baru menyadarinya jika dirinya masih belum kembali ke dapur lagi untuk memberitahu bi Sari agar segera menyiapkan sarapannya.


Tok... tok... tok...


Ceklek...


Akhirnya Andra benar - benar membuka pintu kamarnya itu sehingga menampilkan sosok Ria yang sudah berdiri di ambang pintu.


" Tuan, ini sarapannya ". Ujar Ria dengan ramah.


" Masuk dan letakkan saja di meja ". Sahut Andra lalu ia pun kembali masuk untuk mendekati istrinya Nadira.


Asisten Ria langsung masuk saja dengan membelakangi tuannya, dengan perlahan diantara sepasang tangannya yang memegang nampan, Ria mulai meletakkan nampan itu di atas meja sesuai perintah tuannya.


Nadira memperhatikan asisten rumah tangga dari suaminya itu yang meletakkan sarapannya, begitupun dengan asisten Ria. Untuk sejenak tatapan Nadira maupun Ria menjadi saling bertemu.


Nadira yang melihat Ria cukup terkagum dibuatnya, ternyata jika lebih diperhatikan seperti ini asisten Ria terlihat cantik, rasanya menjadi seorang asisten rumah tangga kurang begitu cocok untuk wanita secantik Ria.


" Baiklah Ria, kamu boleh keluar sekarang ". Suruh Andra.

__ADS_1


" Baik tuan ". Sahut Ria ramah dengan tersenyum.


Ria sudah ingin keluar dari kamar tuan Andra nya, sebenarnya dalam hal ini Ria merasa cukup berat untuk melangkahkan sepasang kakinya untuk keluar. Entah mengapa Ria begitu sangat penasaran dengan istri tuannya.


" Sebenarnya apa sih istimewanya wanita itu?, kenapa tuan Andra sampai mau menjadikannya istri?, kalau dibilang cantik ya memang sangat cantik, tapi apa iya karena itu, memangnya tuan Andra bisa hidup dengan wanita sederhana seperti dia? ". Batin Ria dengan segala pertanyaan nya.


Andra tak ingin mendapatkan gangguan lagi, seusai asisten rumah tangganya keluar, cepat - cepat Andra menutup pintu kamarnya kembali.


" Ayo, sudah saatnya kita sarapan ". Ujar Andra.


" Yeay kita mau salapan, Aida mau disuapi bunda ". Seru Aida dengan begitu manjanya.


" Iya sayang pasti ". Sahut Nadira dengan tersenyum.


Nadira sangat menyukai sikap manja putri kecilnya yang terlihat begitu menggemaskan ini.


" Mana mas punyaku, aku mau makan berdua dengan putriku ". Pinta Nadira.


" Ini istriku dan putriku yang cantik, punyaku biar aku yang makan sendiri saja tidak perlu disuapi huh... ". Sahut Andra dengan pura - pura tersinggung, Andra memberikan sepiring menu sarapan itu pada istri dan juga putri kecilnya.


" Ya iyalah, daddy memang halus ngalah pada Aida, kan Aida anaknya bunda ". Sahut Aida.


Sungguh nasib memang menjadi seorang Andra. Setelah menikah dengan Nadira, sepertinya hari - harinya memang tidak mudah untuk dirinya nikmati. Sepertinya dirinya memang akan di nomer duakan oleh istrinya Nadira, karena yang paling utama harus diperhatikan adalah putrinya Aida.


" Bismillahirrahmanirrahim, aaa... ". Nadira pun mulai menyuapi putri kecilnya.


Dengan begitu lahapnya mulut mungil Aida langsung menyantap suapan dari bunda nya. Aida sangat senang bisa disuapi oleh bunda nya seperti ini, hal seperti inilah yang Aida inginkan, bisa melakukan banyak hal dengan bunda nya termasuk disuapi seperti ini.


" Makan yang lahap sayang biar Aida cepat tumbuh besar ". Seru Nadira.


Aida hanya mengangguk - ngangguk saja dengan seruan bunda nya, maklum karena mulut mungilnya masih mengunyah membuatnya tak bisa menyahuti kalimat bunda nya.


Lagi - lagi Andra merasa sangat kagum dengan apa yang dilihatnya. Istrinya Nadira begitu sangat telaten dalam memperhatikan putrinya. Perlakuan Nadira benar - benar terlihat seperti seorang ibu kandung bagi putrinya.


Untuk sesaat terbesit dalam benak Andra akan masa lalunya disaat di mana dirinya masih berpura-pura dalam menjalin hubungannya dengan Nadira.


Demi putri kecilnya Aida, Andra sampai harus membuat sebuah kebohongan untuk mengikat Nadira. Apa yang dilakukannya memang benar jahat, mengikat seorang wanita tanpa adanya niat yang tulus.


Andra sangat bersyukur karena ada putri kecilnya Aida diantara dirinya dan juga Nadira, jika tidak, mungkin saja dirinya tak bisa bersatu dengan istrinya Nadira.


Andra sangat bersyukur karena Nadira sudah menjadi kekasih halalnya. Andra sangat bersyukur karena dirinya bisa menikah dengan wanita yang bisa menjadi ibu untuk putri kecilnya. Andra sangat bersyukur karena dirinya bisa menikah dengan bunda pilihan putrinya.

__ADS_1


" Mas, mas Andra kenapa?, kenapa masih belum dimakan sarapannya? ". Nadira cukup terheran dengan suaminya.


" Iya ini, aku masih belum bisa makan, ingin disuapi juga, bercanda hihihihi... ". Godanya.


" Ih, daddy sukanya mau dimanja - manja sama bunda, ingat daddy bunda ini bunda nya Aida, kalau daddy mau manja - manja sama bunda halus ijin dulu sama Aida ". Jelas Aida.


Nasib sudah menjadi daddy dari Aida, ingin bisa bermanja - manja dengan istrinya saja masih harus mendapatkan izin dari putrinya. Sebenarnya ini bagaimana, yang menjadi suami Nadira sebenarnya dirinya atau putrinya.


" Aku harus bisa cari cara lain agar bisa bermesraan dengan Dira, kalau masih ada Aida akan sangat sulit rasanya bisa bermesraan ". Batin Andra.


" Baiklah aku akan makan sendiri, aku akan makan dengan sangat lahap, dan kamu sayang, kamu harus makan dengan lahap juga, atau kalau perlu sarapan punya Aida yang belum dimakan itu kamu makan juga sayang agar kamu nya kuat, ingat, nanti malam kita akan olahraga ranjang lagi ". Sahut Andra sebelum akhirnya ia mulai memakan sarapannya.


Seketika itu tubuh Nadira seolah menjadi membeku. Apakah dirinya tidak salah mendengar, suaminya Andra nanti malam ingin olahraga ranjang lagi, yang benar saja seperti itu, luka di bagian intinya saja masih belum sembuh, dan nanti malam suaminya ingin melakukannya lagi, yang benar saja, jika seperti itu kapan lukanya bisa segera sembuh.


" Ayo bunda suapi Aida lagi? ". Seru Aida karena bunda nya tiba - tiba menjadi diam.


" I-iya sayang ". Dengan reflek Nadira pun mulai menyendokkan sendoknya kembali.


" Bagaimana ini?, nanti malam Mas Andra mau minta lagi, aku kan masih belum sembuh, ternyata seperti ini ya kalau sudah menjadi seorang istri, harus selalu siap melayani suaminya ". Batin Nadira.


Entah apa yang akan terjadi di malam hari nanti. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa Nadira lakukan. Menolak keinginan suaminya dengan alasan masih sakit, atau tetap melayani suaminya dengan resiko jika benar - benar itu terjadi akan butuh waktu yang lebih lama agar dirinya bisa berjalan dengan normal.


*****


Di belahan bumi bagian lain, di sebuah perkampungan yang cukup maju, di dalam rumahnya, seorang pria dengan didampingi oleh keluarga serta seorang dokter ahli sedang berusaha melatih sepasang kakinya untuk secara perlahan melangkah menapaki lantai.


Ia melangkah secara perlahan dengan harapan agar apa yang dilakukannya bisa segera memberikan efek positif untuk kesembuhan penyakit yang dideritanya.


Ya, hari ini Dani sedang melakukan terapi agar sepasang kakinya yang mengalami kelumpuhan sementara bisa segera sembuh.


" Ayo tuan, terus langkahkan kakinya, ini sudah menunjukkan hasil yang bagus ". Ujar sang dokter yang mendampingi nya.


" Ayo mas kamu pasti bisa ". Seru Diana yang terus menyemangati suaminya.


Dani terus melangkah secara perlahan sesuai dengan anjuran dari dokternya.


" Bagus nak, kamu sudah ada perkembangan ". Ujar Lusi yang terlihat nampak bahagia.


Dengan terus mendapatkan dukungan dari keluarga nya, dari terus melangkah secara perlahan. Dani ingin segera sembuh dari kelumpuhan nya. Bukan tanpa alasan dirinya terus berlatih seperti ini. Dani ingin disaat istrinya Diana sudah akan melahirkan anak keduanya, dirinya sudah sembuh dari kelumpuhan nya. Dani ingin bisa mendampingi istrinya disaat akan melahirkan nanti. Mungkin ini terasa begitu tidak mudah, namun dirinya harus sanggup melakukannya.


Bersambung..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2