Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Tak Ingin Bertemu


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam ini tak menyurutkan keinginan sang tuan dalam melakukan apa yang diinginkannya. Sepanjang perjalanan melewati jalanan di ibu kota, telah banyak kendaraan yang disalib nya. Ia mengendarai mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi seolah seperti tak ingin tertinggal.


Setelah mengetahui semua kebenarannya dari Daniel, Andra merasa seperti sudah kehilangan bagian dari hatinya.


Marah, sedih, kecewa, dan rasa penyesalan, semuanya seolah bercampur menjadi satu. Semoga setelah ini, kekasihnya Nadira masih mau memaafkannya dan memberikannya satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semua kesalahannya.


" Apa yang kamu katakan Dira?, kamu benar - benar sudah keterlaluan, apa kamu tidak lihat jika Celine sudah sekarat seperti ini? ".


" Cukup Dira, kamu ini sudah benar - benar sangat keterlaluan, hanya karena rasa cemburu, kamu sampai begitu tega memperlakukan orang yang sedang sakit seperti ini dengan begitu rendah, kamu keterlaluan Dira, aku benar - benar tidak menyangka jika kamu sampai berbuat serendah ini ".


Serpihan - serpihan cacian nya begitu tergambar jelas dalam ingatan Andra. Andra teringat bagaimana dirinya memarahi dan mencaci maki kekasihnya Nadira.


Sungguh perbuatannya itu sangatlah tidak layak diterima oleh seorang wanita yang baik hati seperti kekasihnya itu. Dan kini, hanya tinggal penyesalan yang Andra rasakan.


" Maafkan aku sayang ". Batin Andra.


Dengan perasaannya yang masih dipenuhi oleh rasa bersalah, Andra terus mengendarai mobil mewahnya itu dengan tanpa mengurangi kecepatannya sama sekali.


Rasa segera ingin bertemu dan meminta maaf pada sang kekasih, benar - benar sudah tak bisa dirinya bendung lagi.


Hingga tak butuh waktu lama, kini mobil mewahnya itupun mulai memasuki area halaman rumah bu Dewi.


Disaat mobil mewahnya mulai sampai, nampak lampu depan yang ada di teras depan sudah terlihat padam. Dan itu menandakan jika orang - orang di rumah bu Dewi sudah beristirahat untuk menempuh mimpi indah mereka.


Dan kini, hanya lampu yang berada di luar teras lah yang masih menyala, atau mungkin lampu itu memang dibiarkan menyala di setiap malamnya.


" Rupanya kamu sudah tidur sayang ". Gumam Andra.


Andra merasa sedikit kecewa karena dirinya tidak bisa menemui kekasihnya. Mungkin karena waktu ini sudah terlalu malam, apalagi selama seharian penuh orang - orang di rumah ini bekerja, adalah hal yang wajar jika mereka tidur lebih awal.


" Tunggu dulu, pintu rumahnya sedikit terbuka ". Andra merasa jika sepertinya orang - orang di rumah bu Dewi masih belum benar - benar tidur.


Tak ingin menyia - nyiakan kesempatan ini, Andra pun mulai keluar dari dalam mobilnya. Dan ternyata benar, pintu rumah ini masih belum benar - benar tutup, sedikit terbuka namun ruangan di dalamnya nampak terlihat jelas.


" Tunggu - tunggu jangan di tutup pintunya ". Tahan Andra kala pintu rumah bu Dewi akan ditutup oleh seseorang dari dalam.


Karena ada suara seseorang dari luar, Putri yang kala itu ingin menutup pintu rumahnya malah menjadi membukanya.


" Tuan Andra? ". Seru Putri yang menjadi bingung.


Namun sesaat setelah itu, raut wajah Putri menjadi berubah sedikit dingin.


" Ada apa tuan malam - malam datang ke sini? ". Tanya Putri dengan suara datarnya.


Tak ada sikap ramah tamah dari Putri yang saat ini bisa ditunjukkan.


" Put, jangan ditutup dulu pintunya, aku ingin bertemu Dira, pasti Dira masih belum tidur kan? ". Seru Andra pada akhirnya.

__ADS_1


" Ini sudah malam tuan, Dira sudah tidur sejak tadi ". Sahut Putri dengan sikapnya yang masih sama.


" Aku tahu jika Dira masih belum tidur, kamu jangan berbohong Put, aku mohon, suruh Dira keluar dulu sebentar, aku ingin bicara dengannya ". Seru Andra, bahkan kali ini wajahnya terlihat nampak memelas.


Putri menjadi terdiam setelah melihat permohonan tuan Andra. Ini adalah kali pertama dirinya melihat tuan Andra memelas seperti ini.


Bukan karena dirinya tak mau membantu, hanya saja, apa yang dilakukan oleh tuan Andra pada sahabatnya Nadira sungguh sudah sangat keterlaluan.


Ya, sudah sekitar dua minggu yang lalu ini, Putri sudah mengetahui jika hubungan sahabatnya dengan tuan Andra sedang tidak baik - baik saja.


Bahkan retaknya hubungan mereka adalah karena adanya pihak ke tiga yang tak lain adalah teman tuan Andra sendiri.


Sungguh sangat disayangkan, bagaimana bisa seorang tuan Andra tidak mempercayai kekasihnya sendiri yang begitu baik hati.


" Put, aku mohon, panggil lah Dira, aku ingin bicara dengannya, meski hanya sebentar, tidak masalah buatku ". Seru Andra lagi.


" Baiklah tuan ". Dengan berat hati Putri pun akhirnya mengiyakan permintaan tuan nya.


" Terima kasih Put ". Sahut Andra dengan rautnya yang nampak terlihat senang.


Karena tuan Andra masih akan menunggu di teras rumahnya, Putri pun kembali menghidupkan lampu terasnya itu kembali sebelum akhirnya ia menuju ke kamarnya untuk menemui Nadira.


Ceklek...


Putri pun membuka pintu kamarnya itu.


" Kenapa baru masuk Put, memangnya lampunya susah dimatikan? ". Tanya Nadira.


" Bukan susah dimatikan lagi, tapi sekarang malah aku hidupkan kembali ". Sahut Putri.


Nadira merasa bingung mengapa di waktu yang sudah malam seperti ini lampu di teras rumahnya masih belum dimatikan.


" Ya karena memang harus dinyalakan, Dir, sekarang kamu harus keluar dulu sebentar, ada tuan Andra yang ingin bertemu dengan mu ". Sahut Putri pada akhirnya.


Deg...


Seketika itu Nadira langsung menjadi terdiam.


" Iya Dir, tuan Andra sedang ada di teras rumah, tuan Andra ingin bertemu denganmu Dir, tuan Andra ingin bicara denganmu ". Jelas Putri lagi.


Nadira hanya diam dengan seribu bahasa. Ia tak tahu harus menjawab apa. Mengapa tiba - tiba kekasihnya Andra ingin menemuinya.


Kekasih?... benarkah Andra masih menjadi kekasihnya. Bukankah sudah hampir dua bulan ini hubungannya sudah tak ada kejelasan apapun, bahkan Andra sama sekali sudah tak menganggap dirinya.


" Dira, bagaimana?, itu tuan Andra masih menunggumu di luar, sepertinya tuan Andra ingin berbicara serius sama kamu, bahkan tadi sempat memohon padaku agar kamu bisa menemuinya ". Tutur Putri lagi.


Deg...


Lagi - lagi Nadira menjadi tertegun setelah mendengar ucapan dari sahabatnya. Benarkah Andra melakukan itu. Andra sampai rela memohon hanya agar bisa bertemu dengannya.


Untuk sesaat Nadira menjadi tersentuh dengan sikap Andra, namun setelah itu, ia pun mulai menepis perasaan itu.

__ADS_1


Sudah cukup dirinya tersakiti selama ini, dan Nadira tidak ingin jika hal yang sama terulang kembali. Sudah dua kali Andra pernah menyakiti perasaannya, dan kali ini, Nadira tidak ingin merasakan luka yang sama lagi.


Bahkan rasa sakit dari perbuatan Andra sebelumnya yang sudah membela Celine masihlah belum sembuh. Dan kini Andra malah datang ingin menemuinya kembali.


" Sana Dir, cepat kamu temui tuan Andra, kasihan tuan Andra yang sudah terlalu lama menunggu kamu ". Seru Putri lagi.


" Tidak Put, aku tidak ingin menemui tuan Andra, katakan saja padanya jika aku sudah tidur dan tidak bisa diganggu ". Sahut Nadira pada akhirnya.


Nadira tidak ingin menemui Andra. Ia tak sanggup jika harus bertemu seorang diri dengan laki - laki yang sudah menyakiti hatinya.


Bukan karena dirinya tak ingin menemuinya tanpa sebab yang jelas. Hanya saja dirinya masih membutuhkan waktu untuk bisa bertemu dengannya lagi.


" Jadi benar kamu tidak ingin menemui tuan Andra?, baiklah ". Pasrah Putri.


Putri tak ingin memaksakan sahabatnya ini. Pasti ini semua masih belum bisa Nadira terima dengan begitu saja.


Dan sesuai jawaban dari Nadira, Putri pun kembali ke luar untuk menemui tuan Andra.


" Maafkan aku mas, maafkan aku yang masih belum bisa menemui mu ". Batin Nadira.


Memang Nadira masih belum mengetahui dengan apa alasan yang sebenarnya Andra ingin menemuinya, namun dirinya tetap bisa memastikan jika pasti Andra sudah mengetahui yang sebenarnya tentang kebohongan Celine, jika tidak, tidak mungkin Andra sampai memohon - mohon hanya karena ingin bertemu dengan dirinya.


Hingga Putri pun kini sudah berada di teras rumahnya.


" Tuan Andra ". Panggil Putri.


Andra pun langsung menoleh ke belakang. Tak ada Nadira yang juga menemuinya.


" Kemana Dira?, dia mau menemui ku kan? ". Tanya Andra.


" Maafkan saya tuan, Dira nya tidak bisa diganggu, Dira sudah tidur, dia tidak ingin diganggu tuan ". Sahut Putri.


Seketika itu tubuh Andra seolah lemas. Apa yang dikhawatirkan nya ternyata memang benar terjadi. Nadira tak ingin menemuinya.


Ini terasa menjadi lebih sulit bagi Andra. Sudah dua kali ini dirinya menyakiti hati wanita yang dicintainya itu, dan sekarang pasti akan semakin sulit lagi untuk bisa mendapatkan hatinya kembali.


" Kalau begitu saya masuk dulu ya tuan, cobalah di waktu lain tuan, siapa tahu tuan Andra bisa menemui Dira lagi ". Sahut Putri.


" Iya, terima kasih Put ". Sahut Andra dengan nada suaranya yang sudah terdengar lirih.


Jujur Putri sebenarnya merasa begitu iba dengan tuan Andra nya. Namun apalah daya, apa yang menimpa tuan Andra nya adalah karena perbuatannya sendiri. Sehingga kini ia pun harus menuai dari apa yang diperbuatnya.


Dengan perasaannya yang benar - benar terasa hancur, Andra pun mulai melangkah dan menjauhi area teras rumah bu Dewi.


Setelah Nadira berpesan jika tidak ingin bertemu dengannya, Andra merasa separuh dari bagian hatinya seolah benar - benar hilang. Mengapa hal ini harus menimpa dirinya.


" Aku tidak akan menyerah sayang, aku akan berusaha untuk mendapatkan hati dan cintamu lagi ". Batin Andra.


Dengan perasaannya yang terasa begitu hancur, Andra pun mulai memasuki mobil mewahnya. Mungkin saat ini keberuntungan masih belum berpihak padanya, namun Andra tak akan menyerah, dirinya akan terus bertekad agar Nadira kekasihnya bisa mau menerimanya kembali.


Bersambung...........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2