
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Sayang putri daddy yang cantik jangan seperti itu ya, kan daddy dan bunda mu baru saja menikah, jadi daddy dan bunda harus tidur bersama sayang ". Sahut Andra.
Andra benar - benar tak bisa membayangkan akan bagaimana nasibnya jika sampai tidak tidur dengan istrinya lagi.
" Tidak bisa, habisnya daddy nakal sama bunda, tidul sama daddy saja sudah buat bunda sakit, jadi agal bunda tidak sakit lagi bunda halus tidul sama Aida, bukan sama daddy ". Rupanya Aida masih bersikeras tetap pada keputusannya.
Andra merasa semakin kalang kabut saja dibuatnya. Bagaimana ini, apa yang harus dirinya lakukan untuk mencegah keinginan putrinya.
Merasa dirinya sudah tak mampu menjawab, membuat Andra melirik pada istrinya. Andra sangat berharap jika istrinya Nadira akan mampu memberikan jawaban yang dapat mengubah keputusan putrinya ini, namun sayangnya Nadira malah mengangkat kedua bahunya sebagai isyarat jika dirinya juga tidak tahu harus memberikan jawaban apa.
" Sayang, putri daddy, daddy dan bunda mu ini masih pengantin baru, jadi yang namanya pengantin baru tidak boleh tidur terpisah sayang, kami harus tidur bersama ". Sahut Andra lagi.
Entah ide dari mana yang sudah Andra dapatkan, namun yang pasti dirinya sangat berharap jika putrinya Aida mau menerima alasannya ini.
" Masih pengantin balu?, pengantin balu itu apa daddy? ". Mendadak otak kecilnya menjadi begitu penasaran dengan kalimat dari daddy nya.
" Iya, pengantin baru sayang, pengantin baru itu adalah dua orang yang baru saja menikah, seperti daddy dan bunda mu ini, jadi kami berdua harus tidur bersama sayang ". Sahut Andra dengan penjelasannya.
Aida malah menjadi semakin terkesan dan menganggap penting tentang kalimat masih pengantin baru itu, sebegitu pentingkah pengantin baru bagi orang yang sudah menikah.
Mungkin karena otak kecil Aida yang masih begitu polos membuatnya tak mengerti akan hal itu. Namun jika tidur bersama adalah suatu keharusan bagi pengantin baru, maka mau tidak mau dirinya harus membiarkan daddy nya untuk tidur bersama dengan bunda nya.
Tentu hal ini harus benar - benar Aida pertimbangkan, apalagi saat ini bunda nya sedang sakit, dan itu terjadi akibat ulah dari daddy nya.
" Baiklah daddy, daddy boleh tidul sama bunda ". Sahut Aida pada akhirnya.
Seketika itu senyum kemenangan langsung terbit dari kedua sudut bibir Andra, ternyata idenya ini sudah berhasil membuat putri kecilnya menjadi berubah pikiran.
Beruntung putri kecilnya ini tidak sulit untuk diberikan pengertian, jika tidak bisa panjang urusannya. Mendapati hal ini tentu saja tak ingin membuat Andra membuang - buang waktunya untuk bisa menggarap istrinya Nadira. Ternyata hal yang dikhawatirkan nya tidak benar - benar terjadi, ternyata dirinya tidak jadi berpuasa lagi.
Dengan senyuman yang penuh kemenangan itu, Andra melirik nakal pada istrinya Nadira. Andra melirik nakal seolah dirinya ingin mengatakan jika tidak ada seorang pun yang mampu menghalangi keinginannya untuk memiliki istrinya itu.
Menyadari senyuman sang suami yang terlihat absurd, hanya membuat Nadira menggeleng. Bisa - bisanya suaminya ini membuat tipu daya pada putri kecilnya sendiri hanya demi keinginannya, benar - benar sangat nakal.
" Tapi ada syalatnya daddy ". Ujar Aida kemudian.
Deg...
" Apa?, syarat?, syarat apa sayang? ".
" Syalatnya adalah kalau daddy mau tidul sama bunda, maka daddy halus membialkan Aida tidul di sini juga ". Jelas Aida.
Seketika itu tubuh Andra seolah menjadi terhempas dengan begitu sangat keras. Baru saja dirinya merasakan adanya kemenangan, namun semua perasaan itu malah terhempas begitu saja karena putrinya malah membuat keputusan di luar dugaannya.
Jika putrinya Aida ingin tidur di kamar ini, lantas bagaimana caranya dirinya bisa menggarap istrinya. Apalagi putrinya Aida terkenal sangat sigap, jadi sangat kecil kemungkinan jika dirinya bisa menggarap istrinya Nadira dengan sesuka hatinya.
__ADS_1
" Kenapa malah jadi seperti ini sih? ". Batin Andra.
Percuma saja dirinya membuat ide yang aneh jika ujung - ujungnya putrinya Aida akan menjadi penghalang untuk dirinya dan juga Nadira. Bukan karena Andra tak suka jika putrinya tidur bersama di sini, hanya saja Andra merasa jika saat ini dirinya dan juga sang istri Nadira yang masih sepasang pengantin baru seharusnya lebih banyak menghabiskan waktu berdua.
Ini sungguh membingungkan, benar - benar sangat membingungkan.
" Sabar Andra, mungkin memang ini yang harus terjadi, tapi kamu jangan menyerah, kamu harus mencari waktu lain agar bisa memakan istrimu yang cantik itu ". Batin Andra dengan kemungkinan rencana yang akan dibuatnya.
*****
Semua menu makanan yang dipersembahkan untuk sarapan pagi bagi para penghuni rumah ternyata masih tertata rapi di atas meja dapur. Semua makanan itu tak jadi disajikan lantaran sang tuan tak ingin sarapan di meja makan seperti biasanya.
Ketiga asisten rumah tangga itu hanya bisa menunggu waktu kapan semua menu makanan ini akan segera disajikan.
" Bi Sari, kapan tuan Andra akan menyuruh kita menata makanan ini di meja?, ini sudah hampir pukul tujuh ". Ujar Lina.
" Kan subuh tadi tuan Andra sudah mengatakan, jangan meletakkan sarapan ini di meja makan, kalau tuan Andra mau sarapan, tuan Andra menyuruh untuk mengantarkan makanan ini ke kamarnya ". Jelas bi Sari.
" Aneh ya, tidak biasanya tuan Andra seperti ini, apa mungkin karena tuan Andra habis malam pertama ya, jadinya dia loyo hihihihi... ". Ujar Lina.
" Huss... dasar kamu ini Lin, jangan yang aneh - aneh kalau bicara ". Bi Sari sedikit memelototkan kedua bola matanya.
" Kan hanya menebak bi, buktinya dari tadi subuh aku masih belum melihat keberadaan istri tuan Andra, mungkin istrinya tuan Andra kelelahan karena semalaman sudah di garap sama tuan Andra hihihihi.... ". Sahut Lina dengan segala pikiran mesumnya.
" Dasar kamu ini Lin - Lin ". Bi Sari sudah tak habis pikir dengan Lina.
Jika bi Sari dan juga asisten Lina sedang sibuk dengan obrolan mereka, maka beda halnya dengan asisten Ria. Semenjak ikut membantu bi Sari dari waktu subuh, tak banyak kalimat yang Ria lontarkan. Nampaknya Ria sedang larut dalam pikirannya sendiri.
" Yakin kamu Lin?, tuan Andra masih belum menyuruhnya ". Sahut bi Sari.
" Yakinlah bi, kan hanya mengantar sarapan, ya kalau tuan Andra tidak mau, ya tinggal aku bawa kembali saja makanannya ". Sahut Lina.
" Ya sudah, boleh juga ". Sahut bi Sari.
" Kalau begitu biar aku saja yang mengantarkan sarapan itu pada tuan Andra bi ". Seru Ria tiba - tiba.
" Sudah biar aku saja Ria, kamu di sini saja, aku penasaran sama istrinya tuan Andra ". Sanggah Lina.
" Aku juga penasaran Lin, ayolah mengalah untukku, aku saja yang akan mengantarkan sarapan ini ke sana, sekalian aku juga ingin lihat bagaimana istrinya tuan Andra ". Sahut Ria.
Ternyata Ria begitu sangat ingin melihat majikan barunya.
" Ya sudah - ya sudah, jangan ribut kalian, ayo yang antar makanan ini kamu saja Ria, nanti kalau tuan dan nona selesai makan, kamu Lin yang membawa sisanya ". Putus bi Sari pada akhirnya.
Ria cukup senang dengan keputusan ini, akhirnya dirinya mendapatkan kesempatan untuk melihat tuannya. Beda halnya dengan Lina, Lina nampak terlihat cemberut setelahnya, padahal dirinya sudah begitu sangat penasaran ingin melihat istri tuannya setelah malam pertama, namun keinginannya itu malah terhalang oleh Ria.
*****
Sementara di kamar pribadi Andra, nampak putrinya Aida masih duduk di pangkuan istrinya, bahkan sesekali putri kecilnya itu sedang memain - mainkan rambut panjang dan indah milik bunda nya.
__ADS_1
" Bunda, bunda sakit apa sih?, kok aneh ya, katanya bunda sakit tidak bisa tulun dali kasul, tapi badan bunda kok tidak panas, sebenalnya bunda sakit apa sih? ". Tanya Aida di sela - sela tangan mungilnya yang masih memainkan rambut indah bunda nya.
Nadira juga bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan putrinya, sedangkan suaminya Andra nampak duduk tenang di sampingnya seolah seperti tidak terjadi apapun.
" Kamu menyebalkan mas Andra, aku sakit seperti ini kan gara - gara kamu, setidaknya kamu harus tolong aku untuk menjawab pertanyaan Aida ". Batin Nadira.
Nadira merasa sangat jengkel dengan suaminya Andra.
" Bunda ". Seru Aida lagi.
" Iya sayang ". Sahut Nadira.
" Bunda kok tidak jawab peltanyaan Aida, bunda sakit apa, kenapa tidak bisa tulun dali kasul? ". Tanya Aida lagi.
" Bu-bunda sakit anu sayang, sakit... ". Nadira kebingungan untuk melanjutkan kalimatnya.
" Sakit apa bunda? ". Aida menjadi sangat penasaran.
" Bunda mu tadi jatuh terpleset di kamar mandi sayang, jadinya bunda mu tidak bisa jalan ". Sahut Andra dengan santainya.
" Apa?, bunda jatuh?, aduh kasihannya bunda nya Aida ". Aida pun memeluk bunda nya.
Dengan perasaannya yang begitu sangat khawatir, Aida memeluk bunda nya. Ternyata ini rasa sakit yang dialami oleh bunda nya, bunda nya mengalami kecelakaan di kamar mandi.
Sifatnya yang masih polos sama sekali tidak menyadari jika daddy nya sudah mengibulinya.
" Bunda, kaki bunda apa sakit sekali? ". Serunya lagi.
" Tidak-iya sayang, tapi Aida jangan khawatir bunda baik - baik saja kok ". Sahut Nadira.
Nadira benar - benar tak habis pikir dengan suaminya, bisa - bisanya suaminya Andra membohongi Aida seperti ini, kasihan kan dengan Aida.
" Hihihihi... maafkan daddy sayang yang sudah membohongimu, harus jawaban apalagi yang bisa daddy berikan selain hanya bisa berbohong seperti ini, jika tidak berbohong pasti kamunya akan terus bertanya ". Batin Andra yang menjadi tertawa sendiri.
Ternyata bisa mengerjai istri dan juga putrinya ini terasa begitu mengasyikkan.
Andra menatap wajah istrinya Nadira yang nampak sedikit terlihat dingin, sepertinya Nadira merasa kesal padanya. Sepertinya istrinya ini merasa kesal karena dirinya sudah membohongi Aida.
Namun terlepas dari apa yang nampak, sesungguhnya di hati Andra Andra sendiri merasa sangat menikmati momen ini. Andra sangat menikmati momen ini, momen di mana bisa bercanda dan mengerjai istri dan juga anaknya. Ini benar - benar sebuah keluarga dambaan, bisa hidup bersama dan tersenyum melihat keduanya yang saling dekat.
" Bodohnya aku selama ini, kalau sudah seperti ini, seharusnya sudah dari dulu aku menikahi mu sayang ". Batin Andra.
Jika mengingat masa lalunya dulu yang pernah bersikap begitu sangat dingin pada Nadira, timbul rasa penyesalan dalam benaknya. Andra merasa sangat bersalah jika mengingat masa - masa itu.
Seharusnya dirinya tidak perlu bersikap seperti itu, dan sekarang pada kenyataannya dirinya begitu sangat mencintai istrinya.
Dan sekarang Andra merasa begitu sangat beruntung karena bisa memiliki wanita yang dicintainya ini, bagaimana tidak setelah semua kesalahan yang pernah dilakukannya, Nadira yang sekarang sudah menjadi istrinya masih mau memberinya kesempatan dan mau menerimanya kembali hingga dirinya telah benar - benar menjadi istri bagi diri Andra, sungguh Andra merasa sangat bersyukur dengan semua itu.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€