
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Andra masih berada dalam belenggu emosinya yang masih terus dirinya tahan, meski rasa emosinya ini sudah benar - benar membuncah hingga ke ubun - ubunnya, namun sangat tak mungkin jika dirinya meluapkan amarahnya di tempat umum seperti ini, Andra benar - benar merasa sangat kepanasan, bisa - bisanya ada seseorang yang membicarakan wanita yang dicintainya disaat dirinya ada di sini, benar - benar tidak pantas.
" Terus mau sampai kapan kamu akan memiliki perasaan pada Nadira Dit, jangan katakan jika kamu ingin mengganggu hubungan antara Dira dengan tuan Andra ". Timpal Feri yang mulai tak habis pikir dengan sahabatnya.
" Aku memang tidak akan mengganggu hubungan Nadira dengan tuan Andra, tapi... apa salahnya jika berharap suatu hari nanti hubungan mereka kandas, bukankah itu artinya aku memiliki kesempatan untuk bisa memiliki Dira ". Sahut Adit yang seolah tak merasa bersalah dengan ucapannya.
Mendengar sahutan dari Adit yang semakin membuat api amarah di dalam dadanya semakin menyala, sontak membuat Andra pun langsung berdiri dari posisinya dan menghadap ke arah mereka bertiga.
" Apa kamu masih memiliki keinginan untuk memiliki pacarku? ". Seru Andra dengan suaranya yang terdengar begitu kelam.
Sontak adanya suara bariton itupun langsung membuat ketiga pria muda itu langsung menoleh ke arah sumber suara.
Deg...
Mereka bertiga begitu sangat terkejut bukan main, mereka sangat terkejut dengan sosok yang telah berdiri itu. Dalam seketika nyali Feri dan juga Jaka menjadi menciut. Ternyata tuan Andra berada di dekat mereka.
Jaka dengan Feri pun berdiri dari posisinya, mereka tak ingin berurusan dengan tuan Andra, apalagi sudah terlihat sangat jelas jika tuan Andra nampak begitu sangat marah.
Tak ingin menjadi sasaran dari kemarahan tuan Andra, Jaka dengan Feri pun segera bergegas dari meja itu dan meninggalkan seorang Adit yang entah tidak tahu bagaimana nasibnya setelah ini.
" Dasar tidak setia kawan ". Geram Adit karena melihat Feri dan Jaka pergi meninggalkannya.
Masih belum sempat mereka memesan menu makan siang, ternyata kesialan telah menimpa mereka bertiga. Jika kedua temannya telah pergi meninggalkan meja mereka, maka beda halnya dengan Adit.
Adit yang memeng sudah sangat tahu apa yang menjadi penyebab tersulut nya emosi tuan Andra sama sekali tak ada keinginan untuk menghindarinya, malah pemuda itu juga sudah berdiri tegak menghadap sang tuan.
Sementara di beberapa meja yang lain, nampak beberapa mahasiswa dan juga mahasiswi yang ada di sana melihat Adit dan tuan Andra yang sama - sama berdiri, namun mereka sama sekali tak tahu dengan apa yang menjadi penyebab dua pria yang berbeda usia itu saling memandang.
" Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan, wanita yang kamu harapkan itu adalah kekasihku, kamu sama sekali tidak pantas berkata seperti itu apalagi sampai mengharapkan nya ". Seru Andra dengan nada suaranya yang terdengar menahan amarahnya.
" Pantas atau tidak pantas bukan anda yang berhak menentukannya tuan Andra ".
" Sebelumnya saya mohon maaf, atas pengakuan saya yang tidak sengaja anda dengar ini, tapi saya sama sekali tidak merasa bersalah karena saya sudah memiliki perasaan seperti itu pada Dira ".
" Saya tidak merasa bersalah karena saya mengungkapkan perasaan itu, dan anda pasti sudah tahu bukan, jika yang namanya perasaan tidak akan memandang siapapun untuk berlabuh, begitu pun dengan perasaan saya yang tak memandang kepada wanita mana akan berlabuh ".
" Andai anda tahu tuan Andra, sebelum anda mengakui hubungan anda dengan Dira pada semua orang di kampus ini, jauh sebelum itu saya sudah jatuh hati pada Dira, namun sayang, masih belum sempat saya menyatakan perasaan ini, anda sudah membuat pengakuan jika Dira adalah pacar anda ".
" Awalnya saya percaya jika anda memang sudah menjalin kasih dengan Dira, namun setelah cukup lama saya memperhatikan dan mengingat kejadian pertama kali di mana anda membuat pengakuan itu, disaat itulah saya mulai menyadarinya, jika pengakuan anda itu adalah pengakuan sepihak, saat itu Dira sama sekali bukan pacar anda ". Ujar Adit dengan segala kejelasannya.
Deg....
Andra begitu sangat tertegun mendengar penjelasan dari Adit, bagaimana bisa Adit mengetahui alasan yang terselubung itu dengan benar.
" Mohon maafkan segala ucapan saya yang kurang begitu berkenan di hati anda tuan Andra, kalau begitu saya permisi ". Putus Adit pada akhirnya dan berlalu pergi begitu saja dengan meninggalkan Andra yang masih mematung.
Andra sangat marah, benar - benar sangat marah. Dadanya begitu sangat bergemuruh dan ingin meledak saat ini juga. Andra mengepalkan kedua tangannya dengan begitu kuat. Ingin sekali rasanya ia menghajar Adit yang hanya seorang bocah ingusan itu, namun dirinya menahannya dengan sekuat tenaga, karena Andra masih sadar, jika tempat ini adalah tempat umum.
*****
Tanpa terasa waktu kuliah pun telah selesai, dan sore ini, sudah saatnya lah bagi semua mahasiswa untuk pulang menuju kediamannya masing - masing.
__ADS_1
Mereka berjalan secara bergiliran melewati lorong kampus mewah itu, termasuk si kecil Aida yang melangkah bersama di tengah - tengah Nadira dan juga Putri.
Hingga kini, posisi mereka pun telah berada di luar pintu masuk kampus.
" Daddy ". Seru si kecil Aida kala melihat sang daddy telah menunggunya.
Seketika itu pandangan Nadira pun langsung tertuju pada sosok yang Aida panggil. Nadira melihat keberadaan Andra di sana.
Tatapan mereka saling bertemu. Andra terdiam melihat Nadira, dirinya hanya bisa melihatnya dengan rasa kerinduannya, sementara Nadira masih terdiam di tempatnya. Nadira sangat tak menyangka jika hari ini, tanpa dirinya sangka, malah bertemu dengan Andra, sosok yang sangat dirinya ingin hindari setelah luka yang begitu menyakitkan itu.
" Dira, itu tuan Andra sudah datang, sepertinya tuan Andra ingin menjemputmu ". Bisik Putri namun tak ada sahutan dari Nadira.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, Andra pun mulai mendekat ke arahnya. Nadira semakin tak berkutik dengan situasi ini, dan ia pun akhirnya berinisiatif untuk pergi saja dari tempat ini.
" Sayang, kamu mau ke mana? ". Seru Andra tiba - tiba yang berusaha menahan saat Nadira hendak melangkah.
" Ya mau pulang, memangnya mau ke mana? ". Sahut Nadira dengan suaranya yang datar.
Mendengar sahutan dari sang sahabat yang terdengar tak biasa pada kekasihnya sendiri, membuat Putri pun menjadi mengernyit bingung. Apakah dirinya tidak salah melihat, sepertinya ada yang salah pada sahabatnya. Tak seperti biasanya, biasanya jika Nadira bertemu dengan kekasihnya akan terlihat nampak bahagia dan juga murah senyum, namun mengapa kali ini sikap Nadira begitu biasa bahkan terkesan acuh. Ini tak seperti Nadira pada biasanya.
" Putri, sebaiknya kamu pulang dengan supir pribadiku saja, sebentar lagi dia akan datang ". Ujar Andra yang memberitahu.
" Baik tuan, tidak masalah ". Sahut Putri.
" Sayang, Dira, kamu ikut dengan ku, aku yang akan mengantarmu pulang ". Seru Andra dengan suaranya yang terdengar lembut.
" Bahkan dia masih memanggilku dengan panggilan sayang, sebenarnya apa maksud kamu sih mas, apa kamu benar - benar ingin mengikatku dengan hubungan yang dilandasi dengan kebohongan lagi ". Batin Nadira berbicara.
Dengan perlahan Andra pun mulai meraih tangan Nadira, namun dengan perlahan pula Nadira melepas sentuhan tangan Andra. Namun Andra tak menyerah, ia pun meraih kembali tangan mungil itu hingga akhirnya benar - benar berhasil dirinya genggam.
" Ayo sayang, kita masuk ke mobil ". Lanjut Andra lagi pada putrinya.
" Tuan, sebenarnya apa yang ingin anda lakukan? ". Seru Nadira dan berusaha menarik tangan mungilnya itu dari genggaman Andra.
" Sayang, aku mohon, kali ini saja ikut dengan ku, aku ingin bicara berdua denganmu ". Sahut Andra.
" Membicarakan apa tuan, diantara kita sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi ". Sahut Nadira.
" Aku mohon Dira, kali ini saja aku meminta waktumu, aku ingin bicara dengan mu, dan tolong, jangan panggil aku tuan lagi, karena aku bukanlah tuannu ". Sahut Andra dengan rautnya yang sedikit nampak memelas.
Melihat permohonan Andra yang nampaknya terlihat bersungguh - sungguh, membuat hati Nadira pun menjadi tak tega dibuatnya. Dan kali ini, sepertinya dirinya akan mengabulkan keinginan Andra.
" Baiklah tuan, saya akan ikut ". Sahut Nadira pada akhirnya.
" Sudah aku katakan untuk jangan memanggil ku dengan sebutan itu, panggil aku mas ". Jelas Andra.
Nadira pun menghela nafasnya, baiklah kali ini dirinya akan menurut.
*****
Mobil mewah itupun terus melaju membelah jalanan di ibu kota. Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar dari kedua belah bibir Nadira kecuali celotehan - celotehan dari si kecil Aida.
Aida mengeluarkan kamera dari tas slempangannya itu. Nampaknya gadis kecil itu ingin menunjukkan hasil pemotretan nya yang sempat di ambil di kampus tadi.
" Bunda coba lihat ini, Aida sudah banyak foto - foto olang di kampus tadi bunda ". Seru gadis kecil itu yang setia duduk di pangkuan bunda nya.
__ADS_1
Nadira pun meraih kamera yang disodorkan oleh Aida. Ia memperhatikan hasil semua foto karya milik putrinya itu.
" Sayang, fotonya bagus - bagus, kamu pintar sekali memotret mereka ". Sahut Nadira yang begitu sangat kagum.
" Telima kasih bunda, tentu kalya nya bagus, Aida kan pintal ". Sahut Aida dengan begitu percaya diri.
Mendengar sahutan suara Nadira, membuat hati Andra cukup lega, Andra merasa sedikit lega karena Nadira masih mau berbicara meski itu hanya dengan putrinya saja.
Mobil mewah milik Andra pun sudah mulai dikurangi tingkat kecepatannya, setelah sekitar lima lebih dari lima belas menit mengendara, akhirnya mobil mewah itu sudah memasuki pelataran rumah mewahnya.
Sepasang orang tua yang masih belum terikat oleh hubungan pernikahan itu telah melangkah bersama dengan menuntun putri mereka menuju ke dalam rumah. Disaat melangkah untuk masuk, ternyata bi Sari sudah berdiri menyambut kedatangan mereka.
" Bi Sali ". Pekik Aida kala gadis kecil itu melihat keberadaan bi Sari nya.
" Nona Aida ". Sambut bi Sari dengan senyuman kebahagiaannya.
" Bibi ". Pekik Aida dan gadis kecil itupun langsung berlari berhambur memeluk bibi yang mengasuhnya itu dengan meninggalkan bunda dan daddy nya begitu saja.
" Bibi Aida lindu sekali ". Serunya tanpa melepas pelukannya dari sang bibi.
" Apalagi bibi non, bibi lebih rindu dengan nona Aida ". Sahut bi Sari.
Ya, bi Sari sang pelayan yang memang sudah mengasuh Aida dari semenjak baru lahir kini telah kembali setelah dua hari ini berkunjung ke rumah saudaranya.
Aida yang mendapati kedatangan bibi asuhnya itu, tentu merasa sangat bahagia, karena dengan begitu, dirinya tak akan kesepian lagi.
" Ya sudah putri daddy, kamu ikut bi Sari dulu ya sayang, ingat putri daddy harus mandi dan ganti baju, setelah itu baru boleh makan ". Seru Andra yang sudah terbiasa memperingati.
" Okey daddy pasti ". Sahut Aida.
Lalu gadis kecil itupun melangkah bersama dengan bu Sari.
*****
Gadis cantik dengan sepasang bola mata indahnya itu telah duduk tenang di salah satu ruangan rumah mewah milik Andra, lebih tepatnya Nadira duduk di sebuah ruangan di mana ruangan itu hanya terhalang oleh sebuah kaca lebar yang memperlihatkan hamparan taman yang begitu indah. Dengan di temani oleh Andra, Nadira masih menatap ke arah taman yang indah itu.
Nadira sangat tak menyangka jika di rumah Andra ini terdapat sebuah taman yang begitu indah dengan berbagai macam tanaman bunga yang tumbuh di sana.
Dan akhirnya setelah sekian menit, Andra memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Nadira, mereka pun benar - benar memiliki waktu berdua untuk berbicara. Memang terasa begitu singkat, itu semua karena Andra lah yang telah mengatur semua waktunya.
Kesempatan ini akan benar - benar Andra lakukan untuk meluluhkan kembali hati wanita yang pernah dilukai nya.
Dengan perlahan pria berusia matang itupun mulai meraih tangan mungil seorang wanita yang dirinya masih anggap kekasihnya itu.
" Sayang, aku tidak ingin berbasa - basi lagi, aku akan langsung bicara pada intinya ". Ujar Andra yang berusaha memulai semuanya.
" Sayang, aku tahu aku salah, tapi aku mohon padamu, beri aku kesempatan kedua untuk membuktikan kesungguhan ku ini ".
" Nadira, aku mencintaimu sayang, sungguh, aku memang benar mencintaimu, aku tidak ingin hubungan kita berakhir, jadi aku mohon, beri aku satu kesempatan saja untuk membuktikan semuanya ". Seru Andra tulus dengan segala ungkapan perasaannya.
Nadira terdiam mendengar permintaan dari Andra. Permohonan nya itu dapat Nadira lihat dengan jelas jika Andra memang bersungguh - sungguh ingin melakukannya.
Bagaimana ini, Nadira sendiri pun juga tak tahu harus menjawabnya bagaimana. Jujur, hingga detik ini, hatinya memang lah pada Andra, namun Nadira juga merasa takut, bagaimana jika Andra sampai mengulang lagi perbuatannya, menghina dan merendahkan dirinya, hanya karena status yang disandang nya. Tidak, tentu Nadira tak ingin hal itu terulang kembali.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ