Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Sampai Punya Anak Kembar


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sebagai seorang ibu rasanya begitu sangat berat dan merasa sangat sedih meninggalkan putri kecilnya yang masih begitu kesal padanya, namun ini adalah jalan yang terbaik yang saat ini harus dirinya lakukan, setidaknya dengan tidak memaksakan putri kecilnya tak akan membuat emosi putrinya itu semakin menjadi.


Dengan perlahan namun pasti, Nadira sudah melangkah cukup jauh dari putrinya. Seharusnya pada saat berbicara dengan Alvin, seharusnya dirinya mengajak putrinya juga untuk berbicara dengan saudaranya, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini.


Grepp...


Deg...


Tiba - tiba saja ada seperti seseorang yang memeluk tubuhnya dari arah belakang.


" Bunda, bunda jangan pelgi, kok bunda tega sih meninggalkan Aida? ". Ternyata Aida lah yang memeluk bundanya.


" Sayang, anak bunda ". Dengan perasaannya yang begitu sangat terharu Nadira sang ibu muda itu langsung berbalik badan dan memeluk putrinya, Nadira membawa tubuh mungil putrinya itu pada gendongnya.


" Bunda, kenapa bunda pelgi sih?, bunda jahat, bunda jahat sama Aida ummm... ". Aida merengek pada bundanya.


" Maafkan bunda sayang, mana mungkin bunda bisa pergi meninggalkan Aida, maafkan bunda ya anak bunda ". Akhirnya putri kecilnya ini mau berbicara juga dengannya.


Nadira memeluk putri kecilnya tanpa menurunkan gendongannya. Hati Nadira merasa sedikit lega, rasa khawatir yang sempat dirasakannya kini sudah menghilang, ternyata putri kecilnya ini masih mau dengannya.


" Bunda, bunda jangan pelgi, kenapa tadi bunda pelgi?, bunda jahat, bunda tidak sayang sama Aida ". Ternyata rasa kesal Aida masih ada.


Perlahan Nadira sedikit mengangkat wajah putrinya agar lebih terlihat.


Cup... cup... cup...


" Maafkan bunda sayang, bunda tidak ada niat untuk meninggalkan Aida, bunda hanya ingin memberi waktu saja pada Aida agar bisa memaafkan bunda sayang, Aida jangan marah ya, apalagi marah seperti tadi, tidak baik loh kalau anak kecil marah seperti itu ". Sahut Nadira agar putri kecilnya ini bisa mengerti.


" Ya bagaimana Aida tidak malah, bunda tega sama Aida, bunda jahat sama Aida, bunda lebih suka bicala sama anak bunda yang video call itu dalipada sama Aida ". Ungkapnya karena memang itulah alasan yang sebenarnya Aida menjadi marah, karena dirinya merasa diabaikan.


Seperti yang diduganya, jika putri kecilnya sampai bersikap seperti ini karena rasa cemburunya, Aida merasa cemburu karena dirinya sibuk dengan Alvin.


" Maafkan bunda ya sayang ". Lantas Nadira mulai melangkah menuju ke kursi yang tadi di mana ibu muda itu duduki, Nadira ingin bicara lebih dalam lagi dengan putri kecilnya.


Tak ada seorang ibu yang bisa jauh dari anak yang sangat dicintainya, begitupun dengan Nadira. Nadira tak bisa jika harus menjauh dari putri kecilnya, Nadira ingin bicara lebih dalam lagi dengan putri kecilnya ini, hingga pada akhirnya kini Nadira kembali duduk di kursi kayu itu dengan memangku putri kecilnya.


" Sayang, dengarkan bunda, apa Aida masih kesal pada bunda? ". Tanyanya, Nadira ingin tahu lebih jelas lagi agar kesalahpahaman ini bisa diselesaikan.


Untuk sejenak Aida memang diam, namun tak lama dari itu, gadis kecil itupun mengangguk.


" Ya bagaimana Aida tidak kesal, bunda lupa sama Aida, bunda asyik bicala sendili sama anak bunda yang itu, halusnya bunda tidak lupa sama Aida, kan Aida juga anak bunda ". Sahut Aida, inilah yang sesungguhnya ingin Aida sampaikan.


Hati Nadira menjadi tertampar kala mendengar alasan putrinya, iya, itu memanglah benar, karena rasa rindunya pada sang putra Alvin sampai-sampai membuat dirinya lupa jika masih ada putrinya yang juga membutuhkan perhatian darinya. Inilah kesalahan fatal nya, dan Nadira tak mengelak akan hal itu.


" Maafkan bunda ya sayang ". Dengan lembut Nadira kembali memeluk putri kecilnya.


Entah sudah berapa kali kalimat permohonan maaf yang dirinya haturkan pada putri kecilnya.


" Iya bunda, Aida sudah maafkan bunda, bunda kalau video call sama anak bunda yang itu jangan sampai lupa sama Aida, bunda lupa sih, jadinya Aida kesal ". Sahut Aida.


" Bukan anak itu sayang, tapi anaknya bunda juga, namanya Alvin, saudaranya Aida ". Sahut Nadira dengan tersenyum.


Lagi, raut tak suka kembali nampak di wajah mungil Aida. Aida merasa tak suka dengan kalimat bundanya yang ini. Apa dirinya tak salah mendengar, yang benar saja, Alvin adalah saudaranya, saudara dari mana, bertemu saja belum pernah, bagaimana bisa Alvin menjadi saudaranya.


Cup...

__ADS_1


Dengan lembut Nadira mencium kening putrinya.


" Sayang, dengarkan bunda, bunda sayang sekali sama Aida, bunda tidak akan meninggalkan kamu sayang, sampai kapanpun Aida akan tetap menjadi anaknya bunda ". Seru Nadira dengan lembut agar putrinya ini mengerti.


" Benalkah?, bunda tidak bohong kan? ". Tanyanya.


" Iya sayang, bunda tidak berbohong, bagaimana mungkin bunda bisa meninggalkan Aida, tidak akan bisa sayang, bunda tidak akan bisa meninggalkan mu ". Jelas Nadira.


" Uuum bunda ". Dengan manjanya Aida memeluk bundanya.


Jika dipikir - pikir benar juga dengan apa yang dikatakan oleh bundanya, mengapa dirinya harus marah dan khawatir, mana mungkin bundanya akan meninggalkan nya, bundanya kan sangat menyayanginya.


" Aida, jangan marah seperti itu lagi ya sayang, bunda sangat sedih kalau Aida marah seperti itu ".


" Iya bunda Aida janji asalkan bunda juga mau janji untuk telus ingat sama Aida ".


Ya begitulah Aida, masih tak ingin jika bundanya sampai mengabaikan nya.


Nadira mengangguk saja agar tak menjadi panjang.


" Ya sudah, kalau begitu kita masuk ya sayang, sekarang sudah waktunya bagi daddy pulang, siapa tahu daddy sudah di dalam ". Seru Nadira.


" Oh iya bunda, Aida kok lupa ya, ya ampun ". Dengan begitu polosnya Aida menepuk jidatnya sendiri.


Lantas dengan cepat - cepat sepasang ibu dengan putri kecilnya itu mulai turun dari kursi mereka.


" Ayo sayang ayo ".


" Ayo bunda ayo ".


Deg...


Baru saja Nadira dan juga putrinya Aida melangkah, keduanya sudah dikejutkan dengan sosok Andra yang ternyata sudah berdiri tegak.


" Mas ".


" Daddy, daddy sudah di sini? ".


" Sudah dari tadi ". Sahut sang daddy Andra dengan wajahnya yang nampak datar.


Perasaan tak nyaman mendadak menggelayuti hati Nadira. Nadira merasa tak enak hati dengan suaminya. Apakah suaminya sudah mendengar semuanya, iya itu sudah pasti, pasti suaminya Andra sudah melihat dan mendengar bagaimana dirinya dan juga putrinya sempat bermasalah.


Wajah Andra memang terlihat datar, namun tatapannya terlihat begitu sangat mendalam. Pria yang memiliki bola mata yang berwarna biru itu menatap mendalam pada istrinya.


Nadira menjadi salah tingkah sendiri dibuatnya. Nadira merasa tak enak hati, bagaimana ini, mengapa suaminya menjadi seperti ini.


" Daddy, daddy bawa apa, kok sepeltinya banyak sekali, daddy habis belanja? ". Lantas si kecil Aida langsung mendekati daddy nya.


Aida mengintip salah satu tas yang ditenteng oleh daddy nya, sangat nampak jelas jika di dalam tas itu terdapat banyak belanjaan.


" Daddy, daddy beli apa?, ini kok sepelti ada kaldus - kaldus? ". Serunya, Aida mencoba memasukkan kedua tangan mungilnya itu untuk mengambil salah satu belanjaannya.


" Jangan dulu sayang, biarkan bunda mu yang membukanya ". Tahan Andra.


Aida menjadi berkacak tak suka karena daddy melarangnya, apa salahnya jika dirinya yang membukanya, toh meski harus bundanya yang membukanya akan sama saja.


" Sayang, kenapa kamu hanya diam saja di sana?, apa kamu tidak ingin menyambut kedatangan suami mu?, katanya kamu ingin menyambut kedatangan ku, sudah terlambat ". Seru Andra.


" Oh aku paham, kamu mau agar aku yang datang menghampiri, oke, akan aku lakukan istriku ". Lantas Andra pun benar mendekati istrinya.

__ADS_1


Cup... cup... cup...


Nadira menjadi tersipu malu karena ciuman suaminya, suaminya Andra memang sering menciumnya ketika sudah pulang dari kerja, namun yang terakhir ini malah membuat dirinya menjadi malu sendiri, apalagi di sini masih ada putri kecilnya, semoga saja putri kecilnya Aida tak melihatnya.


" Sayang, ayo kita masuk, aku membeli banyak makanan untuk mu dan putri kita ". Lalu Andra mulai merangkul bahu istrinya.


" Mas mengajakku masuk? ". Heran Nadira.


" Ya iyalah sayang, ayo kita masuk ". Sahut Andra.


Lantas Andra menggiring tubuh istrinya itu untuk melangkah. Nadira merasa heran dengan sikap suaminya, mengapa suaminya tak menanyakan masalahnya dengan Aida, bukankah kemungkinan suaminya sudah mendengar semuanya.


" Ayo kita masuk ". Andra menggiring sang istri dan juga putri kecilnya.


" Mana belanjaannya yang satunya daddy, bial Aida yang bawa ". Lantas dengan gerakan cepat si kecil Aida langsung meraih belanjaan yang sempat dilihatnya.


Aida begitu sangat penasaran dengan isinya, jika tidak salah tadi dirinya seperti melihat sebuah box susu bubuk, entah untuk siapa box susu itu.


" Daddy, ini susu, ini bukan susunya Aida, ini susunya siapa? ". Benar saja, Aida benar menanyakannya.


" Iya itu memang bukan susumu sayang, tapi susu untuk bunda mu ". Sahut Andra.


" Mas, mas Andra membelikan susu lagi untuk ku, kan persediaan susunya masih ada mas ". Sahut Nadira.


" Iya daddy, susunya bunda masih banyak, kemalin Aida lihat masih banyak susunya ". Timpal Aida.


" Ini bukan soal susunya banyak atau tidak, daddy ingin bunda mu dan adik mu yang masih di perut bunda sehat terus, Aida tidak mau kan lihat bunda dan adik sampai sakit karena kekurangan nutrisi? ".


" Ya tidak mau lah daddy ".


" Bagus, berarti putri daddy ini sayang bunda dan adik, tapi alasan yang sebenarnya kenapa daddy beli susu lagi bunda mu, agar bunda bisa sehat terus sayang, dan kalau bunda sehat, daddy akan memberikan mu banyak adik sayang ".


Deg...


Sontak Nadira pun langsung menghentikan langkahnya.


" Apa mas, banyak adik, mas Andra ingin punya banyak anak? ". Sungguh Nadira sangat terkejut dengan pernyataan suaminya.


" Iya sayang, aku mau kita punya banyak anak, ya setidaknya sampai kita punya anak kembar, kalau kita punya anak kembar, aku janji tidak akan buat adik lagi untuk Aida ". Sahut Andra santai tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


" Daddy - daddy, jadi Aida akan punya banyak adik? ".


" Iya sayang, Aida akan punya banyak adik, oleh karena itu Aida harus bisa jaga bunda dan adik agar tetap sehat ". Sahut Andra.


" Asyiiik... Aida mau punya adik, Aida senang sekali daddy, pasti lumah ini akan jadi sangat lamai asyiiik... ". Sungguh Aida merasa begitu sangat senang jika apa yang dikatakan oleh daddy nya akan benar terjadi.


Memiliki banyak adik adalah hal yang sangat menyenangkan, dengan memiliki banyak adik Aida tak lagi merasa kesepian.


Habislah sudah, mungkin sang daddy dan juga putri kecilnya ini merasa begitu sangat senang dengan yang diharapkan oleh mereka, namun tidak dengan sosok yang akan memberikan banyak anak ini.


Nadira menjadi kesulitan saat menelan salivanya sendiri setelah mendengar semuanya. Bagaimana bisa seperti ini, suaminya Andra menginginkan memiliki banyak anak sampai dirinya bisa memberikan anak kembar, lalu bagaimana jika dirinya tak bisa memberikan anak kembar, apakah suaminya Andra akan terus membuat anak, itu artinya suaminya Andra akan terus membuat dirinya hamil.


Inilah yang Nadira tak suka dari sikap suaminya Andra, suaminya selalu saja suka memutuskan secara sepihak tanpa meminta persetujuannya, memangnya mengandung itu adalah hal yang mudah.


" Mungkin ini sudah menjadi nasib mu Dira yang punya seorang suami seorang Andra ". Batin Nadira.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


❀❀❀❀❀


__ADS_2