
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang mentari telah lama terbenam hingga menggantikan siang menjadi malam.
Suara - suara lucu dari sebuah benda persegi empat yang berdiagonal terdengar menghiasi kamar mewah yang pencahayaannya masih terang benderang.
Sepasang suami istri ini masih menonton drama kartun kesukaan putri mereka, mereka menonton kartun dengan berbaring bersama di kasur empuknya.
Nadira memandang wajah suaminya, tentu saja apa yang dilakukan olehnya membuat suaminya jadi memandang juga.
" Ada apa sayang?, aku terlihat sangat tampan ya?. " goda Andra.
Nadira hanya tersenyum saja mendengarnya.
Nadira masih teringat dengan keluarga dari mantan mama mertuanya Lusi yang buru - buru berpulang setelah tak lama bertamu. Itu semua karena sikap suaminya Andra, memang benar jika suaminya tak mengusir mereka, namun karena sikap suaminya yang terkesan begitu tak bersahabat, membuat mereka sudah harus buru - buru untuk pergi. Kasihan mereka, jauh - jauh datang dari kampung malah tidak disambut dengan baik.
" Mas, apa mas menyesal dengan sikap mas yang tadi?. " tanyanya.
" Sikap yang mana?. "
Nampaknya Andra masih belum menyadarinya.
" Ya sikap yang tadi mas, yang tadi pagi ke mama Lusi dan keluarganya. " jelas Nadira.
Sekarang Andra mengerti apa maksud istrinya.
" Kenapa aku harus menyesal sayang?, aku kan tuan rumahnya, jadi ya terserah aku mau bersikap bagaimana. "
Bahkan Andra menjawabnya dengan santai tanpa ada beban sama sekali.
Nadira sudah tak heran dengan respon dari suaminya, mungkin memang seperti inilah watak suaminya, kapan suaminya Andra bisa membuang sifat yang semacam ini.
" Tapi itu hanya sementara sayang. " lanjutnya.
" Sementara?. " bingung Nadira.
" Iya, sementara, aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran pada mereka berdua, nanti kalau ada waktu bolehlah kita main ke rumah mereka juga sayang. " terang Andra pada akhirnya.
Nadira jadi tersenyum mendengarnya, bahkan ia tersenyum sangat lebar, ternyata suaminya Andra tidak selamanya kejam.
*****
Sementara di dapur dua bocah kecil nampak sibuk dengan berada di depan kulkas, mereka berdua meninggalkan kedua orang tua mereka yang sedang berada di kamar.
Yang satunya sibuk mengeluarkan cemilan dari dalam kulkas, sedangkan yang satunya menerima saja cemilan yang dikeluarkan itu.
" Tak Aida, ini cemilannya sudah banyak. " ujar Alvin karena di ke dua tangannya sudah penuh dengan bingkisan berisi snack yang diberikan Aida.
__ADS_1
" Ya pegang saja dulu Alvin, aku masih mau mengelualkan yang lainnya. " sahut Aida dengan ke dua tangan mungilnya yang masih memilah pilah snack apalagi yang akan dikeluarkannya.
Alvin jadi berpikir, apakah snack sebanyak ini masih tidak cukup untuk dimakan berdua.
" Tak Aida, memangnya tita atan matan snack banyak?, memangnya bisa habis semuanya?. " tanya Alvin lagi.
" Yang makan bukan hanya kita beldua, tapi bunda, daddy sama adik bayi lagi. " jelas Aida.
Alvin pun baru mengerti, iya ya, mengapa dirinya bisa lupa pada bunda dan juga daddynya, tapi kan snack ini sudah banyak, meski dimakan bersama akan cukup, memangnya akan dimakan sebanyak apa sampai harus mengeluarkan banyak snack, namun ya sudahlah, lebih baik dirinya mengikuti saja keinginan kak Aida nya.
" Loh, nona Aida, tuan Alvin, apa yang sedang dilakukan?. " seru bi Sari setelah wanita yang berumur itu masuk ke dapur.
Alvin melihat bi Sari, dan ia hanya tersenyum saja dengan memamerkan bingkisan snack yang ada di kedua tangannya.
" Ya ampun, bibi kira ada apa?, soalnya dari dapur ada bunyi - bunyi dari bingkisan plastik, ternyata cemilan yang diambil. "
" Ini - ini Alvin pegang. " Aida menyerahkan dua bingkisan snack lagi pada Alvin, tapi Alvin jadi kesulitan menerima snack - snack itu.
" Ya ampun non, ini snack nya sudah banyak, sudah jangan ngambil lagi, nanti non bisa dimarahi sama daddynya non. " bi Sari mengambil alih snack - snack itu dari tangan nona kecilnya.
" Iya tak Aida, ini sudah banyak snacknya, sudah ada satu, dua, tiga, empat, lima, ada lima. " ujar Alvin dengan menghitungi semua bingkisan snacknya.
Aida berhenti mengacak acak kulkas nya, iya, snacknya sudah banyak, apalagi snack - snack yang diambilnya memiliki bingkisan yang besar, pastilah banyak isinya.
" Benar non sudah, bibi yakin semua snack ini tidak akan habis meski dimakan bersama. " ujar bi Sari.
Aida memegang tiga snack cemilan sedangkan Alvin memegang dua snack cemilan, maklum kedua tangan Aida lebih memungkinkan untuk memegang tiga bungkus cemilan snack daripada tangan Alvin.
Dan sekarang mereka benar bersiap kembali ke kamar orang tua mereka setelah sempat mengacak acak kulkas.
*****
Sementara di kamar Nadira menantikan kedua anaknya.
" Mas. "
" Hum. "
" Anak - anak kenapa belum datang?. " tanyanya.
" Kan mereka mengambil snack sayang. " sahut Andra santai.
" Tapi kenapa lama mas?, kita susul mereka ya. "
Ceklek...
Suara dibukanya pintu pun menghilangkan kekhawatiran Nadira. Aida dengan Alvin masuk kamar.
Nadira cukup tersentak melihat kedua anaknya yang membawa banyak cemilan, bahkan kedua tangan mereka penuh dengan cemilan.
__ADS_1
" Ya ampun, anak - anak bunda kenapa banyak sekali bawa snacknya?. " heran Nadira.
" Bunda, yang makan kan banyak jadi ya bawa banyak snacknya. " sahut Aida.
" Tapi ini terlalu banyak sayang, satu bungkus saja isinya sudah banyak, apalagi lima, seharusnya kalian mengambil dua saja. " sahut Nadira.
" Ya sudah - sudah, bagikan ke daddy snacknya, akan daddy makan snacknya sampai habis. " ujar Andra.
Andra mengambil satu bungkus snack dari tangan Alvin dan mengambil satu bungkus snack lagi dari tangan putri kecilnya Aida.
" Kita pindah ke karpet bawah, tidak baik kalau makan cemilan di atas kasur. " ujar Andra lagi.
Seperti inilah kebersamaan di malam hari, tak jauh berbeda dari malam - malam biasanya, selalu saja ada drama - drama kecil yang dilakukan Aida, apalagi malam ini ditemani Alvin, pasti suasananya akan terasa berbeda.
" Kalau duduk di karpet ini kan enak. " puji Andra.
Keluarga kecil itu duduk bersama di atas karpet tebal berbulu yang terdapat gambar kartun kesukaan Aida. Mereka duduk santai dengan memperhatikan drama kartun yang sedari tadi masih terus menyala.
Alvin mencoba membuka bingkisan snacknya, namun nampaknya tangan mungilnya agak kesulitan untuk membukanya.
" Sayang, Alvin kesulitan membukanya nak?. " seru Nadira.
Alvin mengangguk sebagai jawabannya.
Nadira meraih bingkisan snack itu dari tangan putranya.
" Daddy heran dengan kalian, kenapa kalian mengambil snack sebanyak ini?, perut kalian kecil, mulut kalian juga kecil, apa kalian mampu menghabiskan snack yang isinya sebanyak ini?. " tanya Andra.
" Ini semua talna tak Aida daddy, tak Aida yang ambil banyak snack. " seru Alvin yang ternyata mulai berani mengadu.
" Ih, kamu suka ngadu ya Alvin, kan tadi aku sudah mengatakan kalau aku ambil snack yang banyak untuk semuanya. " Aida tak ingin dipojokkan.
" Tunggu dulu, daddy jadi curiga padamu Aida, apa putri daddy ini ada maksud lain dengan mengambil banyak snack?. " Andra mencoba menelisik putrinya.
" Daddy jangan culiga - culiga, apa salahnya sih kalau Aida ambil snack yang banyak?, kan snack di kulkas masih banyak daddy. " sahut Aida.
" Iya oke oke, silakan saja ambil snack yang banyak, dua bungkus snack yang ada di tanganmu itu harus dihabiskan semuanya, jika tidak maka besok jangan makan snack lagi, besok harus puasa makan snack. " jelas Andra.
" Ih, daddy jangan begitu, kan snack ini kita semua yang makan, sudahlah daddy, daddy jangan celewet, makan saja itu snacknya, jangan ulus - ulus Aida. " pungkas Aida.
Seperti itulah Aida, selalu merasa dirinya yang paling benar, persis seperti Andra yang tak mau disalahkan.
Alvin duduk tenang di samping bundanya dengan memakan cemilannya, bocah kecil itu sudah malas bersuara lagi, lebih baik dirinya nonton kartun dengan sambil memakan cemilannya.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1