
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Setelah masuk ke kamarnya, Andra malah kembali keluar, ternyata istrinya Nadira tidak ada di kamarnya.
Kemanakah istrinya, bukankah dalam keadaan mengandung istrinya itu tak boleh terlalu banyak beraktivitas, mungkin istrinya Nadira sedang berada di dapur.
" Sayang... sayaaang... ". Panggil Andra dalam perjalanannya menuju dapur.
" Sayang, sayang ". Panggilnya lagi.
Ya begitulah Andra, semenjak memiliki istri Nadira, pria itu sudah sangat tak malu jika harus memanggil - manggil dalam jarak jauh. Memang benar jika Andra adalah sosok yang dingin, namun itu semua akan berubah ketika bersama sang istri tercinta atau bersama putri kecilnya.
" Sayang ". Seru Andra kala mulai memasuki pintu dapur.
" Mas ". Sahut sang istri Nadira.
Ternyata benar istrinya Nadira sedang berada di dapur dengan didampingi oleh sang asisten bi Sari dan juga suster Lina.
" Sayang apa yang kamu lakukan?, lepaskan itu, sudah, biar yang lainnya yang membuatnya ". Lantas Andra melepaskan tangan istrinya yang memegang centong kayu itu.
" Mas, hanya sebentar kok, aku hanya membuatkan puding untuk anak - anak mas, ini pudingnya sudah hampir matang ". Sahut Nadira.
" Sayang, kamu ini sedang hamil, aku tidak ingin kamu kelelahan sayang, kamu tidak perlu masak puding sendiri, biarkan bi Sari dan Lina yang membuatnya "
Dan benar saja, Andra mulai menatap tajam pada kedua asisten rumah tangganya ini.
" Maafkan kami tuan, kami sudah melarang nona, baiklah kami yang akan menggantikan nona tuan ". Ujar bi Sari dengan takut - takut.
" Mas, sudahlah mas, jangan menatap begitu pada mereka, mereka tidak salah mas, aku yang memaksa untuk membuat puding ". Nadira menjadi khawatir sendiri pada kedua asisten rumah tangganya.
Selalu saja seperti ini suaminya, selalu bersikap overprotective, seolah dirinya berada di dalam bahaya, di rumah sebesar ini dengan pengamanan dari para bodyguard yang berjaga di luar, bagaimana mungkin akan ada bahaya yang mengenainya.
" Ya sudah ayo mas, kita temui anak - anak sekarang ". Putus Nadira pada akhirnya.
" Ya sudah ayo sayang ". Sahut Andra.
Sepasang suami dan istri itupun akhirnya mulai meninggalkan area dapur. Bi Sari dan suster Lina sudah cukup merasa lega, dengan perginya tuan Andra dari dekat mereka membuat suasana ruangan dapur menjadi tak menegangkan lagi.
__ADS_1
" Bi, bibi masih takut dengan tuan Andra ya, aku kira meski bibi sudah lama kerja di sini jadi tidak takut dengan tuan Andra ". Seru Lina .
" Enak saja kamu ini Lin, ngawur saja kamu ini kalau bicara, tentu bibi masih takut dengan tuan Andra, meski bibi sudah lama kerja di sini, bukan berarti bibi tidak merasa takut pada tuan Andra, apalagi sampai bersikap seenaknya, itu sama sekali tidak boleh Lina ". Sahut bi Sari dengan jelasnya.
" Hihihihi... maaf bi, soalnya tadi tuan Andra hanya menatap tajam bukan marah pada kita, aku kira mungkin tuan Andra tidak marah karena ada bibi di sini ". Sahut Lina.
Jika dipikir mungkin memang benar, Andra tak jadi marah karena ada bi Sari, biar bagaimanapun bi Sari adalah pengasuh putri kecilnya dari semenjak masih bayi bahkan hingga sekarang, jadi bagaimana mungkin Andra sampai marah pada orang yang sudah membesarkan putri kecilnya.
*****
" Alvin kamu kenapa mepet sama aku jalannya, jauhan sedikit saja kenapa, kan tamannya luas? ". Ujar Aida karena menurutnya Alvin terlalu dekat dalam mengayunkan sepedanya.
" Iya ". Hanya satu kata itulah yang keluar dari mulut mungil Alvin sebagai jawabannya.
Alvin tak ingin banyak bicara, apalagi dirinya berada di tempat ini karena merindukan bundanya, Alvin cukup sadar diri akan siapa dirinya, jadi ia pun juga tak ingin banyak bertingkah, padahal dirinya bersikap seperti itu pada Aida karena dirinya ingin menjadi lebih dekat dengan saudara barunya, namun sayangnya Aida tak mengerti maksudnya.
Hingga pada akhirnya, Alvin pun melihat sosok bundanya yang mulai datang bersama om Andra nya.
" Bunda ". Seru Alvin, lantas bocah kecil itupun langsung membelokkan sepedanya untuk menuju ke arah bundanya.
Rasa khawatir langsung menyelimuti hati Aida, ia merasa khawatir karena Alvin sudah bergerak untuk menuju bundanya.
Nampaknya kebersamaan Aida dan juga Alvin tak seperti sepasang saudara yang baru bertemu, mereka berdua terkesan seperti dua orang anak kecil yang saling berkompetisi untuk mendapatkan perhatian dari bunda mereka.
" Bunda ". Seru Alvin dan bocah kecil itupun turun dari sepedanya untuk memeluk bundanya.
Andra sangat memperhatikan Alvin, ternyata bocah laki - laki ini bisa bergerak lebih cepat dari putrinya, anaknya memang cenderung pendiam tapi gerakannya bisa dibilang lumayan gesit.
" Bunda, bunda temana saja, Alpin dali tadi lilik - lilik bunda apatah bunda mau te sini atau tidak, tenapa bunda lama setali te sini nya? ". Rengek Alvin setelah memeluk bundanya.
" Maafkan bunda ya sayang ". Lantas wanita dengan perutnya yang agak membuncit itupun mencoba menundukkan tubuhnya.
Cup...
" Maafkan bunda ya anak bunda, tadi bunda ada urusan sebentar di dapur, sekarang kan bunda sudah ada di sini ". Sahut Nadira lembut dengan mengelus kepala putranya.
" Bundaaa... ". Dan suara cempreng yang terdengar menggemaskan itu telah berhasil mengalihkan pandangan Nadira.
" Bunda ". Rengek Aida lantas gadis kecil itupun mulai mendekat dan memeluk bundanya juga.
__ADS_1
Nadira yang menyaksikan aksi dari kedua anaknya ini hanya bisa menggeleng sambil tersenyum, rupanya kedua anaknya ini saling bersaing untuk merebutkan kasih sayang dan juga perhatian darinya, ada - ada saja kedua anaknya ini.
Aida memeluk bundanya dengan begitu sangat erat, gadis kecil itu tak ingin kalah bersaing dengan Alvin. Aida ingin membuktikan jika bundanya ini adalah miliknya.
" Ayo sudah - sudah pelukannya, apa kalian tidak kasihan pada bunda kalian, ayo lepaskan, aku tidak ingin ya istri dan juga anakku yang masih belum lahir itu sampai kenapa - kenapa ". Kali ini Andra lah yang bersuara.
Dan benar saja, si kecil Aida dan juga Alvin langsung melepaskan pelukan mereka. Mereka baru tersadar jika mereka telah memeluk bundanya dengan begitu sangat erat.
" Ayo anak - anak bunda semuanya duduk ". Ajak Nadira pada anak - anak.
Wanita dengan perutnya yang agak membuncit itu menggiring putri dan juga putranya untuk duduk di sampingnya.
" Dira, maafkan cucu mama ya sayang, mama yakin kalau Alvin tidak berniat untuk membuat mu kerepotan ". Seru Lusi karena dirinya merasa tak enak hati.
" Mama ini bicara apa sih ma, Alvin kan anak Dira, anak Dira ini sama sekali tidak merepotkan ma ". Sahut Nadira.
" Ehemm... ehemm... yang dikatakan oleh tante Lusi itu benar sayang, cucunya memang tidak boleh merepotkan kamu ". Sahut Andra.
Entah apa maksud Andra yang membenarkan ucapan Lusi, mungkinkah Andra bermaksud untuk menyindir Alvin, tapi bagaimana bisa seperti itu, bukankah Alvin hanya seorang anak kecil, rasanya sangat tak elok jika orang dewasa seperti Andra menyindir seorang bocah kecil seperti Alvin.
" Nenek, Alpin inin ninap di lumah bunda ". Seru Alvin tiba - tiba.
" Apa maksud mu Alvin, kan kamu memang sudah menginap di rumah bunda mu? ". Lusi merasa heran dengan cucunya.
" Hei Alvin, kamu kan sudah menginap di sini, kenapa masih bicala lagi?, kalau mau menginap yang menginap saja, tidak pellu bicala belulang - ulang ". Sindir Aida.
Alvin tak menyahut, bocah kecil itu sudah tak mampu mengeluarkan kalimat apapun lagi. Mengapa sikap Aida dan daddy nya seperti ini, sangat jelas sekali jika Aida dan daddy nya sangat tak menyukai akan kehadirannya di sini.
" Alvin sayang, Alvin kenapa, kan Alvin sudah menginap di sini sayang? ". Tanya Nadira karena ia tak mengerti maksud dari putranya.
" Tidak ada bunda ". Sahut Alvin dengan menggeleng cepat.
Bukan itu maksud Alvin, dirinya yang mengatakan ingin menginap lagi di rumah bundanya adalah karena dirinya ingin menambah waktu menginap nya di sini, tapi apalah daya dengan keinginannya itu, nampaknya daddy nya Aida dan juga Aida sendiri seperti tak ingin dirinya berlama-lama menginap di rumah ini.
Dirinya hanya tinggal satu malam lagi menginap di rumah bundanya, dan besok siang dirinya sudah harus kembali ke kampung halamannya.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€