
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sebuah keluarga kecil datang beriringan mendatangi tempat yang sudah terbilang lama tak dikunjungi. Dengan perlahan mereka melangkah bersama melewati lorong kampus.
Sepanjang perjalanan mereka melangkah, banyak pasang mata yang terus menatap pada mereka, apalagi sang wanita yang didampingi oleh suaminya itu dalam keadaan mengandung, tentu saja itu semua membuat mereka yang berada di kampus ini tak henti - hentinya menatap keluarga kecil itu.
Andra melangkah dengan merangkul bahu mungil istrinya, pria itu sengaja melakukannya sebagai sebuah tanda jika istrinya Nadira adalah miliknya.
Sementara si gadis kecil Aida melangkah senang di depan kedua orang tuanya. Gadis kecil itu melangkah dengan memegangi kamera kesayangannya yang telah gadis itu kalungkan di lehernya, entahlah, gadis kecil itu seolah tak pernah lupa untuk membawa kamera saat pergi ke kampus bundanya.
Saat ini hati Nadira begitu sangat senang, akhirnya suaminya Andra mengizinkannya untuk masuk kampus. Setelah kemarin suaminya sempat melarangnya, namun setelah dibujuk rayu membuat suaminya Andra jadi berubah pikiran, akhirnya hari ini, di pagi hari yang cerah ini, dirinya bisa kembali masuk kuliah.
" Hey, itu lihat, Dira hamil. " bisik salah seorang mahasiswi pada temannya.
" Iya, Dira hamil, lama tidak masuk kuliah, setelah masuk sudah hamil saja. " sahutnya pada temannya.
Semua mahasiswa dan mahasiswi yang melihat keberadaan Nadira dengan keluarga kecilnya tak henti - hentinya berbisik, ada yang kagum, ada yang masih tak menyangka jika Nadira benar mengandung anak tuan Andra, ada juga yang masih iri dan tak terima dengan status baik yang dimiliki oleh Nadira saat ini.
" Bunda, kelas bunda di sana kan?. " seru Aida dengan menunjuk beberapa kelas yang tak lama lagi akan segera didatanginya.
" Iya sayang. " sahut Nadira.
Ternyata putri kecilnya ini masih sangat ingat di mana lokasi kelasnya.
Keluarga kecil itu terus melangkah menuju kelasnya, namun baru tinggal beberapa meter saja mereka bertiga akan sampai, tiba - tiba saja Aida merasakan gejolak tak nyaman di dalam perutnya, dan karena hal itu membuat Aida menghentikan langkahnya.
" Sayang, ada apa nak?. " tanya Nadira karena putrinya tiba - tiba saja berhenti.
" Bunda, pelut Aida sakit, mulas - mulas begitu. " sahutnya yang agak merintih.
Andra menghela napasnya kala melihat tingkah sang putri, ada saja tingkah putrinya di pagi ini.
" Mas, kita ke toilet dulu ya, sepertinya putri kita ingin buang air besar. " seru Nadira.
__ADS_1
Andra tak langsung menyahut, pria itu malah memperhatikan daerah di sekitarnya. Dan ternyata di dekatnya berdiri ada sebuah kursi panjang. Setelah mengetahui jika di sekitarnya tak begitu banyak orang, bahkan tidak ada pria lain, membuat Andra merasa cukup tenang jika harus meninggalkan istrinya meski itu hanya sejenak.
" Sayang, kamu duduk dulu di sini, kamu tidak perlu ikut, aku yang akan mengantar Aida ke toilet. " ujar Andra.
" Tapi mas aku ingin membantu putri kita... "
" Sudahlah sayang jika aku menyuruhmu duduk ya duduk, biar aku yang mengantar Aida ke toilet, kamu tidak perlu ikut. " tegas Andra.
Nadira hanya bisa pasrah, padahal dirinya juga ingin membantu putri kecilnya, semoga saja suaminya Andra bisa sabar menghadapi tingkah putrinya.
Nadira mulai duduk di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Sudah sangat lama dirinya tak duduk di kursi ini, ternyata masih sama, tak ada yang berubah dari kursi ini, bahkan warna dinding di luar kelas pun juga masih sama.
Tak ada seliweran sahabatnya Putri yang datang menghampirinya, itu wajar karena dirinya memang tak memberitahu sahabatnya itu jika hari ini akan berniat untuk masuk kampus.
Sambil lalu menunggu suaminya dengan putrinya, agar tak bosan wanita dengan perut buncitnya itu merogoh handphone pintarnya dari dalam tasnya.
Nadira ingin membaca novel online di salah satu aplikasi novel favoritnya, namun baru saja ibu muda itu membuka aplikasi novelnya, terdengar seperti adanya suara banyak langkah kaki yang sepertinya berbondong-bondong datang untuk mendekatinya. Hingga pada akhirnya Nadira menoleh pada sumber suara langkah kaki itu.
Deg...
Tap... tap... tap...
Dan kali ini, mereka benar berdiri tepat di hadapannya.
" Ooo... jadi wanita yang tak tahu diri ini sudah masuk ke kampus?, enak sekali ya, lama tidak masuk, sekarang sudah masuk bahkan tanpa dipanggil ke kantor. " sindir Yanti.
Ya, Riska, Tina dan Yanti, tiga wanita yang selalu membully Nadira kini malah kembali mengganggu. Setelah mendapat kabar jika Nadira kembali masuk ke kampus, membuat mereka tak ingin kehilangan kesempatan untuk menemui dan kembali mengejek Nadira, mereka tak tahu jika Andra masih berada di kampus ini.
Pok... pok... pok...
Tepuk tangan yang begitu keras sengaja Riska lakukan setelah melihat secara langsung perut Nadira yang sudah besar. Tak cukup sampai di sana, baju bermerk serta tas Nadira yang sudah pasti memiliki harga yang luar biasa mahal juga tak luput dari perhatiannya.
" Waw... apa yang kamu inginkan sudah kamu dapatkan ya wanita matre, sangat murahan, kamu memanfaatkan status jandamu demi mendapatkan kekayaan tuan Andra, dan sekarang kamu benar mendapatkan itu, dasar matre. " kali ini Riska benar kembali menghina Nadira.
" Iya benar, jujur ya, sampai sekarang aku itu masih tidak paham, kenapa tuan Andra mau dengan wanita seperti dia?, cantik sih memang cantik, tapi dia kan sudah jadi bekas orang. " lagi, Tina juga ikut menghina Nadira.
__ADS_1
Kembali mendapatkan bullyan seperti ini, membuat Nadira tak bisa memberontak. Nadira tak cukup kuasa untuk melawan mereka, masih merasa takut itulah penyebabnya.
" Hey yang lainnya coba lihat wanita ini, ini adalah contoh wanita yang rela menggunakan statusnya untuk mendapatkan pria kaya, murahan sekali bukan?. " ujar Riska lantang bahkan dengan menunjuk wajah Nadira.
" Riska, kamu ini bicara apa?, Dira ini istrinya tuan Andra, jadi lebih baik kamu jangan cari gara-gara jika tidak ingin ada masalah. " peringat dari salah seorang mahasiswi agar Riska berhenti dari kebiasaannya.
" Tidak peduli istrinya tuan Andra sekalipun, yang pasti tuan Andra itu sudah tertipu karena punya istri seperti dia, dia inikan menikah dengan tuan Andra karena hartanya. " jelas Riska.
Semua orang jadi menatap aneh pada Nadira, bahkan mungkin saat ini mereka malah berpikiran yang tidak - tidak, dalam pikiran mereka bertanya - tanya, benarkah Nadira ingin menjadi istri dari tuan Andra karena hartanya, jika itu memang benar, maka tuan Andra hanya dimanfaatkan saja.
Riska dengan kedua temannya ini memang sangat keterlaluan, entah mengapa mereka tak pernah bosan berbuat tidak baik pada Nadira.
" Ini coba lihat buktinya, baju yang dia pakai harganya sangat mahal, apalagi tasnya, harganya itu miliaran, apa kalian tidak percaya jika dia ini menikah dengan tuan Andra karena hartanya?. " jelas Riska yang masih ingin menyakinkan semua orang jika Nadira memanglah bukan wanita yang bak.
Genangan air mata kini sudah hampir memenuhi setiap sudut matanya, sekali berkedip saja bisa dipastikan jika air matanya akan benar terjatuh.
Nadira tak mampu membela diri, ia merasa bingung bagaimana untuk menjelaskan jika apa yang dikatakan oleh Riska dan kedua temannya adalah tidak benar. Nadira hanya bisa menunduk sedih karena kejadian yang tak mengenakkan ini.
" Semua mahasiswa yang ada di kampus ini mengikuti aturan kampus, masuk sesuai dengan jadwal, tapi dia sudah berbulan-bulan tidak masuk kampus, pasti dia memanfaatkan statusnya yang sebagai istri dari tuan Andra untuk malas - malasan kuliah, ayo mengaku saja kamu. " timpal Tina yang semakin mengompori situasi ini.
Dan akhirnya air matanya benar terjatuh membasahi pipi putihnya. Nadira sudah tak sanggup dengan semua penghinaan ini. Seharusnya dirinya tak datang ke kampus ini, seharusnya dirinya menuruti larangan dari suaminya.
Tak sanngup jika masih harus menerima penghinaan berikutnya, membuat Nadira langsung berdiri dari posisinya.
Dalam keadaan perutnya yang besar, Nadira melangkah cepat dan menerobos mereka yang mengerumuninya. Nadira melangkah pergi dengan berderai air mata.
" Lihat apa yang sudah kalian lakukan?, Dira jadi menangis. " ujar mahasiswi yang tadi.
Namun mereka bertiga malah acuh, Riska, Yanti dan Tina, nampak menikmati kesedihan Nadira, mereka bertiga sangat puas karena telah berhasil kembali mempermalukan Nadira, bahkan membuatnya sampai menangis.
Bersambung...........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1