Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Aneh


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Dira tunggu ". Cegah Andra tiba - tiba.


Sontak panggilan Andra itupun membuat langkah Nadira menjadi terhenti.


" Iya mas ada apa? ". Sahut Nadira setelah berbalik badan.


Andra pun melangkah mendekat ke arah Nadira, entah apa yang ingin dilakukan oleh pria itu, hingga akhirnya...


Cup... cup... cup...


Deg...


Ciuman bertubi - tubi dari Andra pun telah berhasil disematkan di wajah Nadira.


Nadira membelalakkan kedua bola matanya, ia sangat terkejut bukan main, bagaimana bisa Andra memberikan ciuman yang bertubi - tubi seperti ini hingga membuat jantungnya seolah melompat dari tempatnya.


" Ih daddy, kenapa daddy cium - cium bunda telus, tadi di pesta kan sudah cium, bunda itu bunda nya Aida, bukan bunda nya daddy ". Protes si kecil Aida, kali ini Aida merasa jengkel dengan daddy nya sendiri lantaran sang kembali mencium bunda kesayangannya, Aida tak ingin jika bunda nya hanya dimiliki oleh daddy nya saja.


" Ya Tuhan, Andra - Andra, aku heran dengan kamu Dra, di pesta tadi kamu sudah menang banyak, dan sekarang kamu kembali main embat, aduh... tidak malu apa dengan putrimu? ". Protes Firly juga.


Sementara Putri jangan ditanya, ia membekap mulutnya sendiri atas hal yang terjadi di depan matanya. Putri yang sedari tadi memang berada di dekat Nadira, bisa menyaksikan dengan jelas, bagaimana si tuan Andra ini menciumi setiap sudut wajah sahabatnya dan hanya menyisakan bibirnya saja.


Putri benar - benar tak percaya serta dibuat sangat melongo, bagaimana bisa seorang tuan Andra yang terlihat begitu dingin dan berwibawa bisa bertingkah yang seolah menghilangkan semua kewibawaan itu.


" Ya Allah, ternyata tuan Andra memang sudah benar - benar jadi budak cintanya Nadira ". Batin Putri yang begitu tak menyangka.


Setelah selesai dari rasa keterkejutan nya, dalam seketika membuat Nadira menundukkan wajah cantiknya. Nadira merasa sungguh sangat malu akan perlakuan Andra yang begitu tak terduga, bahkan wajah cantiknya ini pun menjadi memerah bak buat tomat yang sudah matang.


Raut wajah Nadira yang seperti ini, tentu tak terlepas dari pandangan Andra.


" Aneh... kenapa Nadira begitu terlihat sangat malu seperti ini, kenapa setiap kali aku melakukan hal mesra seperti ini kamu terlihat malu sayang, bahkan sekarang kamu terlihat lebih merasa malu... jika saja aku tak tahu tentang statusmu yang seorang janda, pasti aku akan mengira jika kamu masih seorang gadis, bahkan seorang gadis yang sangat polos ". Batin Andra.


" Hahahaha... ". Firly pun tertawa dengan begitu kencangnya.


" Kenapa kamu tertawa begitu mas, memangnya ada yang lucu? ". Sentak Putri, bukannya merasa iba pada Nadira yang merasa malu karena di cium oleh tuan Andra, Firly malah tertawa, entah apa yang ditertawakan oleh pria itu.


" Hihihihi... aduh.... Dira, kenapa wajahmu terlihat malu seperti itu, ya meskipun serangan Andra mendadak, tapi seharusnya kan kamu merasa senang ". Seru Firly dengan berusaha menahan tawanya.


" Kamu ini bicara apa sih mas?, ya wajarlah kalau Dira merasa malu saat dicium tuan Andra, Dira kan masih su... ". Sontak kalimat Putri pun menjadi terhenti kala Nadira membekap mulutnya.


" Masih apa? ". Sanggah Andra.


" Emmm... tidak ada mas ". Sahut Nadira, Nadira sangat khawatir jika Andra sampai mengetahui semuanya.

__ADS_1


" Tidak ada apanya, jelas - jelas Putri ingin mengatakan sesuatu tentangmu ". Sanggah Andra lagi.


" Biasalah mas, urusan perempuan ". Sahut Nadira yang masih belum menurunkan bekapan tangannya dari mulut Putri.


Entah mengapa kali ini Andra merasa ada yang sedang ditutupi oleh Nadira, Andra merasa seperti ada sesuatu hal penting yang sengaja Nadira tutup - tutupi dari dirinya.


" Lepaskan tanganmu dari mulut Putri ". Suruh Andra.


" Untuk apa mas?, ti-tidak ada apa - apa kok, sana, mas Andra pulang saja, kasihan Aida yang sudah menunggu sejak tadi ". Sahut Nadira yang berusaha mengalihkan rasa penasaran Andra.


" Sayang, kalau memang tidak ada apa - apa, kenapa kamu sampai membekap mulut Putri dengan begitu kencang seperti itu, pasti ada sesuatu yang kalian tutupi, sudah, lepaskan tanganmu, apa kamu tidak kasihan melihat sahabatmu dibekap sampai seperti itu ". Ujar Andra.


Mendengar sahutan Andra yang begitu tegas seperti itu, reflek membuat Nadira pun langsung menurunkan bekapan tangannya.


" Huuuh... akhirnya dilepas juga ". Seru Putri yang sudah merasa lega.


" Memang wanita alias perempuan itu aneh ya, kalau ditanya sedang ada rahasia apa, jawabannya pasti biasalah urusan wanita ". Timpal Firly.


Selain Andra, Firly pun juga merasa aneh dengan tingkah Nadira dan juga Putri, pasalnya jika memang tak ada sesuatu yang mereka tutupi, mengapa Nadira malah dengan begitu sigapnya menutup mulut Putri.


" Baiklah, Putri, sekarang kamu ceritakan padaku, sebenarnya ada rahasia apa antara Dira dengan kamu yang sengaja kalian berdua tutupi dariku? ". Tanya pada Andra pada akhirnya.


Deg...


Tubuh Nadira seolah membeku tanpa bisa bergerak, bagaimana jika Andra mengetahui semuanya, mengetahui jika dirinya masih seorang gadis.


" Hehe... apa yang perlu saya katakan tuan, tidak ada rahasia apapun dengan kami berdua, benar tuan, tidak ada rahasia apapun ". Sahut Putri dengan tawanya yang terdengar renyah.


" Sudahlah Andra, lagipula apa sih yang ingin kamu ketahui dari Nadira dan Putri, seperti kamu tidak tahu wanita saja, wanita itu kan makhluk yang memang selalu memiliki rahasia dari kaum mereka sendiri, sudahlah ini sudah malam, kasihan keponakan ku Aida, dari tadi sudah menunggumu ". Ujar Firly pada akhirnya yang mencoba menengahi percakapan mereka.


Dalam sejenak Andra tersadar, jika dipikir - pikir, benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Firly jika setiap dari wanita, memang memiliki rahasia dari kaum mereka sendiri yang mungkin tak harus kaum pria mengetahuinya.


" Alhamdulillah, akhirnya ". Batin Nadira yang merasa lega.


Nadira merasa lega karena sepertinya Andra tak akan lagi menanyakan tentang kecurigaannya, hal itu terlihat dari raut wajah Andra yang sudah tak nampak penasaran, sepertinya Andra membenarkan kalimat Firly.


" Ya sudah, kalian masuklah ke rumah kalian, ini sudah malam, coba lihat itu, motor kalian saja sudah sudah standby di teras sana ". Lanjut Firly lagi.


Mendengar tentang motor mereka, sontak saja membuat Putri dan juga Nadira langsung menoleh ke teras rumah mereka, dan ternyata benar, motor matic mereka sudah bertengger dengan rapi di sana, lengkap dengan kunci motornya yang masih terpasang.


" Apa?... motorku sudah di rumah?, tapi bagaimana bisa?, bagaimana bisa motor kita sudah ada di rumah lebih dulu sebelum orangnya? ". Seru Putri yang begitu tak habis pikir.


" Hahahaha.... ". Kali ini Firly pun kembali tertawa.


" Hihihihi.... kalian ini lucu sekali ya, kalian ini benar lupa, atau pura - pura lupa sih, jangankan motor yang dalam waktu hitungan menit bisa sampai rumah, sepuluh mobil pun juga bisa sampai di rumah kalian dalam hitungan menit ".


" Kalian lupa ya, jika yang membuat motor kalian standby di sini adalah si tuan Andra, seorang yang sangat berkuasa di kota ini, lagipula, apa sih yang tidak mungkin bagi seorang tuan Andra ". Ujar Firly dengan segala pembenarannya.

__ADS_1


Mendengar penuturan dari Firly, memanglah benar, bukan tuan Andra namanya jika tak mampu melakukan semuanya.


" Ya sudah sayang, kamu masuklah, ini sudah malam ". Seru Andra pada akhirnya.


" Iya mas ". Sahut Nadira, lalu ia pun sedikit mengarahkan pandangannya pada putri kecilnya, ternyata Aida hanya diam dengan wajahnya yang ditumpukan pada kedua tangan mungilnya yang bertumpu pada pintu mobilnya.


" Sayang, Aida ". Panggil Nadira.


" Iya bunda ". Sahut Aida dengan suaranya yang terdengar lirih, nampaknya Aida sudah mulai mengantuk.


Mendengar adanya suara Aida yang berubah lirih seperti itu, membuat Andra tersadar dan menoleh.


" Putri daddy, kamu sudah mengantuk sayang ". Seru Andra yang merasa khawatir lalu pria berusia matang itupun mendekati putri kecilnya.


" Dira, Put, ya sudah, aku dan Andra pulang dulu ". Seru Firly.


" Sayang, aku pulang dulu, Aida sudah mengantuk ini ". Seru Andra.


" Iya mas, pulanglah, hati - hati di jalan ". Sahut Nadira.


Dan akhirnya setelah sekian cukup banyak obrolan dari mereka, rasa mengantuk dari Aida lah yang sudah menghentikan semuanya.


Perpisahan mereka untuk menuju rumahnya memang berakhir tak terlalu romantis, semuanya memang terkesan cepat karena perantara dari si kecil Aida lah yang saat ini sudah mengantuk.


*****


Sang mentari telah cukup bersinar melambung tinggi memancarkan pancaran nya menghiasi setiap atap - atap bangunan dan rerumahan.


Kini, di sebuah kampus yang cukup populer ini, para mahasiswa dan juga mahasiswi sedang menggunakan semua panca indera mereka untuk memahami setiap ilmu pengetahuan yang telah diberikan oleh sang dosen.


Kini, di salah satu ruangan kampus, Nadira sedang menyimak penjelasan dari dosennya, kegiatan mata kuliahnya itu pun sudah berlangsung cukup lama, dan mungkin sebentar lagi tiba waktunya untuk istirahat makan siang.


" Baiklah semuanya, perlu ibu ingatkan kembali jika dua hari lagi terutama bagi mahasiswa baru akan melakukan kemah, jadi ibu harap, kalian sudah mempersiapkan diri kalian untuk kegiatan kemah nanti ". Seru ibu dosen itu yang mengingatkan kembali pada mahasiswanya.


" Iya bu ". Sahut semua mahasiswa itu.


" Ya sudah, kegiatan mata kuliah hari ini, ibu akhiri dulu, sekarang kalian boleh beristirahat ". Sahut dosen wanita itu lagi.


Dan akhirnya dosen wanita itu dengan semua mahasiswanya pun mulai berangsur - angsur keluar, tak terkecuali Nadira sendiri.


Nadira keluar dari kelasnya, gadis cantik yang sebentar lagi sudah akan berusia dua puluh satu tahun itupun mulai menuju ke kafe, tempat di mana dirinya dan Putri sering makan siang bersama di sana.


" Dira ". Panggil Putri dengan melambaikan tangannya pada sang sahabat, rupanya Putri sudah duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2