
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sepasang dua gadis cantik itu telah berada di dalam rumah sakit. Setelah mengetahui di mana sang tuan di rawat, kini langkah mereka sudah mulai mendekati kamar perawatan khusus itu.
Hingga kini, dua gadis itupun benar - benar telah berada di depan pintu masuknya. Namun ketika sudah sampai, entah mengapa ada keraguan di dalam benak salah satu dari mereka. Benarkah apa yang dilakukannya ini. Haruskah dirinya benar - benar menemuinya.
" Dira, ada apa?, ini kita sudah sampai, memangnya kita hanya mau berdiri di sini? ". Seru Putri karena sahabatnya ketika sudah sampai malah menjadi diam.
" Aku tahu jika kamu masih ragu untuk menemui tuan Andra, tapi setidaknya, kamu lakukan ini untuk putrimu Aida ". Seru Putri lagi pada akhirnya.
Dalam seketika hati Nadira menjadi merasa tertegun. Iya, putrinya Aida masih ingin bertemu dengannya. Bahkan ia begitu sangat mengharapkan jika dirinya benar - benar akan datang.
Bagaimana ini, hatinya sendiri begitu sangat khawatir dan ingin bertemu dengan Andra. Namun mengapa yang dirasakannya malah seperti ini.
Ceklek...
Tiba - tiba saja pintu kamar perawatan Andra terbuka. Sontak hal itupun membuat Nadira dan juga Putri cukup terkejut.
" Bunda? ". Ternyata si kecil Aida yang membuka pintu itu.
" Sayang... ". Lirih Nadira.
" Bunda ". Lalu Aida mendekati sang bunda dan memeluk tubuh bagian bawah bunda nya.
Reflek Nadira pun menjadi membungkuk ketika putrinya langsung memeluknya seperti itu.
" Bunda, bunda kemana saja sih, kenapa kuliahnya lama sekali? ". Seru Aida.
Aida begitu sangat merindukan bunda nya, sungguh sangat merindukan bunda nya.
Mendengar seruan putrinya, membuat Nadira sadar jika selama ini Andra sudah memeberikan alasan mengapa dirinya tidak pernah bertemu dengan Aida adalah karena sedang sibuk kuliah, padahal sama sekali bukan itu penyebabnya. Memang diantara dirinya dan juga Andra sedang ada masalah. Jadi seperti ini cara Andra untuk membuat Aida tetap tenang. Memberikan alasan jika dirinya sibuk kuliah agar Aida tak punya keinginan untuk menemuinya.
" Sayang... ". Seru Nadira dengan lembut lalu gadis itupun meraih tubuh mungil putrinya untuk ia gendong.
" Bunda Aida lindu bunda ". Seru Aida dengan memeluk erat leher dan juga bahu bunda nya.
Nadira mencium bahu mungil putrinya yang memeluknya dengan begitu erat, hingga dengan perlahan Nadira sedikit merenggangkan pelukan putrinya itu agar dirinya bisa melihat wajah putrinya.
Cup... cup... cup...
Dengan penuh rasa sayang Nadira menciumi di hampir seluruh bagian wajah putrinya. Sudah sangat lama dirinya ingin melihat dan mencium wajah ini, akhirnya dirinya bisa merasakannya juga.
Sementara Putri yang melihat kedekatan antara Nadira dan juga Aida benar - benar begitu sangat terharu. Keduanya benar - benar terlihat seperti sepasang ibu dengan putri kandungnya.
" Ayo bunda, kita masuk ke dalam ". Seru Aida pada akhirnya.
" Tunggu dulu sayang, Aida kan mau keluar, Aida ada perlu ingin keluar?, kenapa sekarang sudah mau masuk?, selesaikan dulu apa yang Aida mau lakukan sayang ". Sahut Nadira karena memang itulah yang hendak putrinya lakukan.
" Ih... bunda kenapa tidak mengelti sih, Aida kelual kan ingin memastikan apa bunda sudah datang atau belum huuuh... ". Ternyata Aida malah kesal.
__ADS_1
" Oh seperti itu, maafkan bunda ya sayang ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Dasar kamu Dir, kurang peka ". Cibir Putri yang menimpali, padahal dirinya juga memiliki pemikiran yang sama seperti Nadira.
" Ayo bunda kita masuk ". Seru Aida yang sudah begitu sangat tak sabar.
Aida ingin bunda nya melihat kondisi daddy nya. Namun dibalik itu semua, ada satu hal yang menjadi keinginan terbesar Aida. Dan ia benar - benar ingin hal itu terwujud.
Dan kini, mereka bertiga pun telah berada di kamar rawat milik Andra.
Deg...
" Baby, kamu sudah datang ". Seru Firly kala sang kekasih sudah masuk ke kamar ini, dan Firly pun mendekati kekasihnya itu.
Sementara Nadira hanya terdiam. Nadira terdiam dengan posisinya yang masih setia menggendong tubuh mungil putrinya.
Merasa sangat hancur, itulah yang dirinya rasakan saat ini. Nadira merasa sangat hancur ketika sudah melihat secara langsung akan bagaimana tidak berdayanya Andra dengan tubuhnya yang sudah banyak dipasang peralatan medis.
Nadira hanya bisa diam di tempat. Dirinya tidak sanggup jika harus mendekati Andra lebih dekat lagi. Seperti inikah nasib seorang Andra yang dirinya kenal. Lemah tak berdaya dengan luka yang sangat memperihatinkan di tubuhnya.
Dengan sekuat tenaga Nadira berusaha untuk menahan air matanya agar tak terjatuh. Sangat sakit rasanya jika melihat orang yang dicintainya terluka sampai seperti ini. Iya, cinta, Nadira masih begitu mencintai Andra, bahkan hingga detik ini rasa cinta itu sama sekali tidak berkurang sedikitpun.
" Ya Tuhan, tuan Andra, kasihan sekali tuan Andra ". Seru Putri yang begitu tak percaya dengan nasib tuan Andra nya sekarang.
" Tunggu apa lagi, kenapa kalian hanya berdiri di sini, kalian kemari pasti untuk menjenguk Andra kan, ya sudah ayo dekati dia ". Seru Firly.
" Ayo bunda kita temani daddy ". Seru Aida dengan menggerak - gerakkan kedua kaki mungilnya.
Luka di kepalanya yang masih dibalut dengan perban, tangan kirinya pun juga demikian, dan masih terdapat beberapa lebam di wajah, kedua lengan serta bercak luka di kedua punggung tangannya itu semuanya terlihat sangat jelas pada Andra.
Hati Nadira tidak kuat melihat semua ini. Ingin rasanya dirinya memeluk Andra yang sedang terbaring lemah ini.
" M-mas An-dra ". Lirih Nadira, dan kini dirinya benar - benar menjatuhkan air matanya.
" Hiks... hiks... ". Isaknya yang memang terdengar lirih.
" Bunda, bunda nangis?, jangan nangis bunda, nanti Aida bisa nangis juga ". Seru Aida sedih lalu gadis kecil itupun kembali memeluk bunda nya.
Sang bunda dengan putri kecilnya itupun saling memeluk. Sebenarnya Nadira tidak berniat ingin menangis di depan putrinya Aida, namun rasa tidak kuatnya melihat kondisi Andra yang sudah seperti ini benar - benar membuatnya tak bisa membendung air matanya lagi.
Putri sahabatnya sangat paham mengapa Nadira sampai menangis seperti ini. Memang tidak bisa dipungkiri jika sahabatnya ini masihlah sangat mencintai tuan Andra. Melihat kondisi tuan Andra yang seperti ini pastilah hatinya begitu sangat hancur.
" Menangislah Dira jika kamu memang ingin menangis, tidak perlu kamu tahan - tahan, tumpahkan lah semua air matamu itu ". Ujar Firly yang mulai bersuara.
Tidak, ini tidak boleh. Nadira merasa dirinya tidak boleh menangis seperti ini, kasihan dengan putrinya Aida, pasti Aida akan sangat sedih jika melihat dirinya menangis seperti ini. Seharusnya dirinya bisa menjadi penguat untuk putri kecilnya.
Menyadari akan kebodohannya, dengan segera Nadira pun mengusap lelehan air matanya yang membasahi kedua pipinya itu. Nadira baru menyadari jika putri kecilnya ini sedang memeluknya dengan begitu sangat erat. Pasti Aida begitu sangat sedih dan takut karena dirinya menangis seperti ini.
" Sayang, Aida ". Dengan lembut Nadira mengusap punggung putrinya.
" Buda, emmm... bunda jangan nangis ya, kan Aida jadi sedih ". Sahut Aida.
__ADS_1
" Iya sayang, bunda janji setelah ini bunda tidak akan menangis lagi, maafkan bunda ya ". Sahut Nadira.
Seusai mengucapkan kalimat itu, Nadira seperti ingin duduk, Nadira ingin duduk di dekat ranjang kasur Andra, namun sayangnya tidak ada kursi.
" Nona Dira ingin duduk, duduknya di sini nona ". Seru bi Sari.
" Kamu ingin duduk di dekat Andra Dir?, tunggu sebentar akan aku pindahkan satu sofa single di sini ". Seru Firly.
Dengan hati - hati Firly pun memindahkan sofa itu hingga tepat berada di dekat ranjang kasur Andra.
" Terima kasih ya kak ". Sahut Nadira.
" Iya ". Sahut Firly.
" Ayo baby kita duduk di sini ". Lanjut Firly lagi pada Putri.
Dan kini mereka semua yang menjaga Andra telah sama - sama duduk kecuali pak Rahman karena pak Rahman memang tidak ada di sini, pak Rahman kembali ke rumah Andra karena dirinya sedang bertugas untuk berjaga. Pak Rahman memang orang kepercayaan Andra yang dapat diandalkan.
Nadira duduk dengan memangku putri kecilnya itu tanpa sedikitpun niat untuk menurunkannya. Cukup lama tak bertemu dengan putri kecilnya ini membuat Nadira tak ingin melepaskannya.
" Ss-sayang... ". Seru suara seorang pria yang terdengar begitu serak.
Sontak adanya suara yang begitu tak asing itupun langsung membuat Nadira dan juga Aida menjadi menoleh ke ranjang kasur Andra.
" Ss-sayang... ".
Deg.....
" Daddy, daddy sudah sadal? ". Pekik si kecil Aida.
Sontak saja pekikan Aida itupun membuat Firly, Putri dan juga bi Sari langsung terjaga dari posisi duduk mereka. Baru saja mereka duduk, ternyata Andra sudah sadar.
" Daddy, daddy yeay, daddy sudah sadal ". Dengan begitu senangnya si kecil Aida langsung turun dari pangkuan bunda nya.
" Hati - hati Aida ". Peringat Firly.
Karena rasa senangnya melihat sang daddy telah sadar kembali, membuat Aida sampai lupa jika daddy nya masihlah belum sembuh.
" Akhirnya kamu sadar juga Dra, kenapa kamu cepat sadar begini?, apa karena ada Dira? ". Seru Firly.
Entah ini ungkapan yang sebenarnya memang bertanya atau hanya sebuah sindiran untuk Andra.
Andra tak menanggapi ucapan sahabatnya, semenjak dirinya membuka mata, yang Andra perhatikan adalah Nadira, wajah wanita yang sangat dicintainya.
Nadira tak tahu harus bersikap bagaimana. Rasa senang, rindu, marah, malu, semuanya seolah bercampur aduk menjadi satu.
Namun satu hal yang pasti, hati Nadira begitu sangat bahagia, bahagia karena pria yang sangat dicintainya akhirnya bisa sadar kembali. Andra sudah sadar, dan kini Andra masih terus menatap dirinya.
Bersambung.........
πππππ
__ADS_1