
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Kini, di teras depan rumah bu Dewi, Nadira masih melepas rindu dengan putra tercintanya. Setelah sekian bulan tak bertemu dengan sang putra, rasanya Nadira menjadi tak ingin melepas pelukannya.
Bisa Nadira rasakan aroma tubuh mungil putranya, aroma khas bayi yang selama ini dirinya rawat.
Merasa sudah cukup lama Nadira memeluk putranya, dengan perlahan ia pun akhirnya mulai merenggangkan pelukannya.
" Sayang... ". Seru Nadira.
Cup... cup... cup... cup... Nadira menciumi ke hampir setiap bagian di wajah mungil putranya.
Dengan penuh kasih sayang Nadira pun mulai menggenggam kedua tangan mungil putranya, ia memegang jemari kecil di sepasang tangan mungil Alvin.
" Bunda, Alpin mau ninap di cini, Alpin cudah di tacik idin cama ayah ". Seru Alvin yang langsung mengutarakan keinginannya.
Mendengar seruan dari putranya, membuat Nadira menjadi tertegun. Benarkah putranya Alvin ingin menginap di sini, merasa kebingungan, Nadira pun akhirnya mengalihkan pandangannya pada Lusi, sosok wanita yang cukup berumur yang tak lain adalah mantan mama mertuanya.
Nadira mulai berdiri dari posisinya dengan membawa Alvin ke dalam gendongannya. Nadira bisa melihat dengan jelas, jika mantan mama mertuanya ini telah mengeluarkan air matanya, entah apa yang menjadi penyebabnya, mungkin ia merasa terharu karena melihat dirinya dengan Alvin bisa bertemu kembali.
" Tante ". Seru Nadira lembut, lalu ia pun berusaha untuk meraih tangan kanan Lusi.
Namun disaat Nadira hendak melakukan itu, Lusi malah menyembunyikan tangannya dan ia pun langsung membalikkan tubuhnya hingga membelakangi Nadira dan juga Alvin.
Lusi bersikap seperti ini bukan karena merasa enggan untuk menerima sambutan baik dari Nadira, hanya saja ia merasa bersalah dan begitu malu setelah apa yang dilakukan oleh putranya.
Lusi menyadari jika putranya Dani sudah terlalu banyak melukai Nadira, bahkan sepanjang usia pernikahan mereka, tak ada sedikitpun sikap keadilan dari putranya Dani pada Nadira.
Andai saja jika dirinya tak pernah memaksa agar Nadira dan juga Dani menikah, pasti nasib seperti sekarang ini tak akan pernah terjadi.
" Tante, apa tante baik - baik saja? ". Seru Nadira dengan mendekati Lusi.
" Nenek, tok nenek beditu?, bunda mau calaman nenek ". Seru Alvin yang mengingatkan neneknya.
Dengan gerakan cepat Lusi pun segera mengusap lelehan air matanya yang sempat terjatuh itu, hingga kini ia pun kembali menghadap Nadira.
" Tante, tante baik - baik saja? ". Seru Nadira lalu ia pun meraih punggung tangan kanan mantan mama mertuanya.
Rasa haru begitu dirasakan oleh Lusi. Ia tak pernah menyangka setelah apa yang diterima oleh Nadira dari keluarganya, tak menyurutkan semangat rasa hormat Nadira padanya.
Padahal jika mantan menantunya tidak seperti Nadira, bukan tidak mungkin jika dirinya akan diperlakukan dengan kurang baik.
" Dira, boleh mama memeluk mu nak? ". Seru Lusi pada akhirnya.
__ADS_1
Nadira pun tersenyum pada Lusi.
" Tentu boleh tante ". Sahut Nadira.
Karena sudah mendapatkan izin dari Nadira, Lusi pun dengan segera memeluknya.
Lusi memeluk tubuh Nadira dengan begitu erat. Sudah sangat lama dirinya tak memeluk tubuh ini.
" Nak, maafkan mama ya, maafkan mama yang sudah membuat hidup kamu seperti ini ". Seru Lusi dalam pelukannya.
" I-iya, Dira juga minta maaf ". Sahut Nadira.
Nadira merasa bingung harus memanggil Lusi dengan sebutan apa, padahal dirinya memanggil Lusi dengan panggilan tante, namun Lusi sendiri malah menyebutnya sebagai mama, apakah itu artinya Lusi masih menganggap dirinya sebagai menantunya.
Tanpa sepengetahuan Nadira, ternyata bu Dewi dan juga Putri sedang mengintip kebersamaan mereka.
Bu Dewi dan juga Putri begitu sangat penasaran akan sebenarnya siapakah dia orang tamu yang ingin bertemu dengan Nadira.
" Bu, ibu - ibu dan juga anak kecil laki - laki itu adalah mertua dan juga anaknya Dira ". Bisik Putri pada ibunya.
" Iya nak, kamu benar ". Sahut bu Dewi.
" Dan kenapa mereka membawa koper ke sini, apa mereka mau menginap di sini? ". Tanya Putri.
" Ibu juga tidak tahu nak, ya kalau mereka mau menginap di sini, kamar mushollah di dalam kita jadikan kamar tamu saja, biar kita sholat di kamar masing - masing saja ". Sahut bu Dewi.
" Ayo tante, kita masuk dulu ". Seru Nadira yang ingin agar Lusi masuk ke dalam rumahnya.
" Kamu memanggil mama dengan sebutan tante nak, apa mama ini sudah bukan mama mertuamu lagi sampai kamu memanggil mama dengan sebutan tante? ". Sahut Lusi, karena bukan panggilan inilah yang ingin dirinya dengar dari Nadira.
" Emm... memangnya Dira boleh memanggil dengan sebutan mama? ". Sahut Nadira, Nadira tak ingin mengatakan hal yang sebenarnya bukan hak nya lagi.
" Tentu saja sayang, sampai kapanpun mama ini masihlah mama mertuamu, karena sampai kapanpun kamu akan tetap menjadi menantu mama ". Sahut Lusi karena memang itulah yang selalu dirinya rasakan.
" Ayo ma, kita masuk ". Ajak Nadira lagi.
Lusi merasa sangat bersyukur karena dirinya disambut dengan baik oleh Nadira, padahal sebelum dirinya berangkat ke tempat ini, Lusi sudah sempat merasa pesimis, ia merasa khawatir jika Nadira tidak memperlakukannya dengan baik bahkan mungkin mengusirnya, ternyata dugaannya salah, sungguh Nadira memanglah menantu idaman.
Tanpa merasa sungkan, Lusi pun membawa koper kecilnya, di mana di koper itu berisi banyak pakaian Alvin lengkap dengan mainannya.
" Ma, mama mau menginap juga di sini? ". Tanya Nadira.
" Tidak nak, tidak lama lagi mama akan segera pulang, maaf ya mama bawa koper, di koper ini bukan hanya ada bajunya Alvin, tapi juga mainannya ". Sahut Lusi.
Lusi mengerti akan pertanyaan Nadira, mungkin karena dirinya membawa sebuah koper membuat Nadira mengira jika dirinya pasti akan menginap di sini juga, sehingga perlu baginya untuk membawa koper yang berisi pakaian Alvin dan juga pakaiannya.
__ADS_1
Dan kini dua wanita yang berbeda generasi dan juga si kecil Alvin telah benar - benar masuk ke dalam rumah Nadira.
Jujur sebenarnya Nadira tak pernah menyangka jika putranya Alvin akan datang secepat ini, pasalnya baru sekitar beberapa hari yang lalu dirinya mengirimkan alamat rumahnya di ibu kota, dan ternyata Alvin pun benar - benar datang ke tempat tinggalnya.
*****
Pagi hari yang cerah dan begitu menenangkan, nampaknya tak membuat isi rumah menjadi terasa ikut tenang.
Sudah semenjak beberapa hari seorang gadis kecil yang masih berusia empat tahun lebih itu sering merengek pada daddy nya.
Ia merasa kesal lantaran sang daddy tak kunjung menuruti keinginannya untuk bertemu dengan bunda kesayangannya.
Jika ditanya mengapa daddy nya tak bisa mempertemukannya pada sang bunda, pasti alasannya karena bunda nya sedang sibuk mengerjakan tugas kuliah.
" Ayo daddy kita ke lumah bunda, Aida mau beltemu bunda ". Rengek Aida pada daddy nya.
Padahal waktu masihlah begitu sangat pagi, di mana di waktu sepagi ini yang harusnya digunakan untuk beristirahat, malah terjadi kegaduhan yang seharusnya tidak terjadi.
" Ayo daddy kapan kita beltemu bunda, kenapa bunda sibuk kuliah telus sih? ". Seru Aida lagi.
" Sayang, kan sudah daddy katakan, bunda mu sibuk kuliah, banyak tugas yang harus bunda mu kerjakan, memangnya Aida mau kalau nilai bunda sampai kecil gara - gara tidak bisa kuliah yang benar? ". Sahut Andra.
Andra tak tahu harus berbuat bagaimana lagi. Berbohong dan terus berbohong pada putrinya mungkin hanya itu yang terus dirinya lakukan.
" Huuuh... selalu saja begitu jawaban daddy, dulu Aida bisa ikut bunda kuliah dan nilai bunda tidak jadi kecil, telus kenapa sekalang jadi tidak bisa, daddy menyebalkan ". Seru Aida yang tak terima dengan segala larangan dari daddy nya.
Merasa semua keinginannya tak dikabulkan, Aida pun akhirnya memilih untuk pergi dari dekat daddy nya, menurutnya percuma saja dirinya terus merengek pada daddy nya, karena sudah pasti daddy nya itu tak akan mengabulkan keinginannya.
Dalam hal ini Andra sudah pasrah, pasrah dalam arti jika dirinya akan tetap pada keputusannya. Biarlah putrinya Aida merasa kesal dengan semuanya.
Semenjak kejadian di kafe itu, hingga saat ini Andra masih belum menghubungi Nadira. Dirinya memang sengaja mendiamkan Nadira. Itu semua Andra lakukan agar Nadira bisa menyadari dan paham jika sikap kekanak-kanakan nya itu sama sekali tidak baik, apalagi hal itu dilakukan karena atas dasar rasa cemburu.
Meski memang tak dapat dipungkiri jika dirinya begitu sangat merindukan kekasihnya itu.
" Tidak - tidak, biarkan saja dulu seperti ini, Dira harus menyadari kesalahannya, dia harus meminta maaf pada Celine, apa yang dilakukannya benar - benar sangat keterlaluan ". Batin Andra.
Andra masih keukeuh pada keputusannya untuk memberikan pembelajaran pada Nadira.
Namun anehnya, meski Nadira sudah bersalah, masih belum ada niatan darinya untuk meminta maaf pada Celine, dan ini tentu saja membuat Andra semakin tak habis pikir dan kecewa pada Nadira. Bagi Andra, Nadira harus meminta maaf pada Celine, entah kapan dirinya akan melakukan itu.
" Sayang, kalau kamu tidak juga meminta maaf, aku akan sangat kecewa padamu sayang, sangat kecewa ". Batin Andra.
Andra benar - benar tak bisa berpikir jernih, pikirannya seolah dibutakan oleh keadaan yang sudah terjadi, padahal apa yang terjadi yang sesungguhnya tidak ia ketahui.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€