Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Bunda Datang


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Dengan perasaannya yang semakin lama semakin merasa sedih, dengan penuh harapan si kecil Aida masih menunggu akan kedatangan bunda nya, gadis kecil itu masih setia menunggu di dekat pintu masuk dengan ditemani oleh bi Sari, dan berharap setelah ini bunda nya akan benar - benar datang.


Namun, hingga detik ini, ternyata bunda nya masih belum juga datang. Karena sudah begitu lama menunggu, Aida memilih untuk menemui daddy nya, mungkin sang daddy bisa memberikannya solusi.


" Mau kemana non? ". Seru bi Sari namun tak di sahut oleh Aida.


Aida berlari kecil mendekati daddy nya. Setelah sampai di dekat sang daddy, gadis kecil itupun mulai meraih tangan kanan daddy nya. Merasakan adanya hal itu, sontak membuat Andra pun langsung menoleh.


" Sayang ". Seru Andra.


" Daddy, Aida mau bunda daddy, Aida mau bunda datang ". Seru si kecil Aida bahkan kini kedua bola mata birunya sudah nampak berkaca - kaca.


Deg...


Andra begitu sangat tersentak mendengar seruan putrinya, bahkan putrinya Aida sudah ingin menangis. Saat ini Andra benar - benar merasa bingung, bagaimana caranya untuk menenangkan putrinya Aida, yang memang sudah semenjak tadi siang menantikan kedatangan Nadira.


" Daddy, Aida mau bunda, Aida mau bunda daddy... ". Seru Aida bahkan air matanya sudah benar - benar terjatuh.


Semua rekan kerja Andra yang berada di sana menjadi bingung, mereka menoleh satu sama lain, dalam benak mereka sedang bertanya - tanya, siapakah bunda yang dimaksud oleh putri dari tuan Andra.


Mendapati Aida yang sudah menangis, membuat Firly pun langsung mendekat untuk menenangkan gadis kecil itu yang sudah dirinya anggap sebagai keponakannya sendiri.


" Sayang, Aida, kok nangis sih, kalau Aida nangis nanti cantiknya Aida bisa hilang loh ". Seru Firly yang berusaha menghilangkan isak tangis Aida.


" Uncle, Aida mau bunda, Aida mau bunda hiks... hiks... ". Isak nya yang semakin merengek.


Andra benar - benar semakin bingung dan tak tega melihat putrinya Aida seperti ini, namun dirinya tak tahu harus berbuat apa. Nadira sudah sulit untuk dihubungi kembali, bahkan hanya untuk melihat Nadira saja, Andra harus memandangnya dari jauh tanpa sepengetahuan Nadira.


" Daddy hiks... hiks... Aida mau bunda daddy, Aida mau bunda... ".


" Ayo daddy, suluh bunda ke sini, Aida mau bunda ke sini "...


Sunyi...


" Sayang... Aida... ". Seru suara seorang wanita tiba - tiba yang terdengar begitu lembut.


Mendengar adanya suara yang begitu tak asing dalam indera pendengarannya, sontak membuat Aida pun langsung menoleh ke arah sumber suara itu.


" Bunda... ". Pekik Aida.


" Bundaaa... ". Seru Aida lagi dan gadis kecil itupun langsung berlari mendekati bunda nya.


Mengetahui sang putri sedang berlari ke arahnya, membuat Nadira pun sedikit berjongkok dan merentangkan kedua tangannya untuk memberikan ruang jika selain hanya Aida yang ingin memeluknya, bunda nya pun juga ingin memeluknya.


Grep... pelukan hangat antara seorang bunda dengan putrinya itu pun telah terjadi. Aida memeluk bunda nya dengan begitu sangat erat.


" Bunda hiks... hiks... Aida lindu bunda hiks... hiks... kenapa bunda lama sekali datangnya?... ". Serunya mengadu dengan tangisan pilunya.


" Maafkan bunda sayang, maafkan bunda yang tidak memberitahu Aida jika akan datang malam hari, maafkan bunda ya ". Sahut Nadira dengan segala permohonan maafnya.


Nadira sangat sedih, karena lama menunggu dirinya, putri kecilnya ini sampai menangis hingga terisak seperti ini. Tak pernah dirinya sangka jika Aida akan sesedih ini karena dirinya tak kunjung datang.


Andra yang menyaksikan kedatangan Nadira benar - benar tak mampu bersuara. Pandangan kedua bola mata birunya seolah tak mampu untuk berkedip. Andra benar - benar sangat terkagum dengan kecantikan Nadira malam ini.


Dalam pandangannya Nadira sangat cantik, benar - benar sangat cantik. Dress panjang di bawah lutut dengan lengan pendek yang berwarna cofee muda itu, benar - benar sangat cocok dan indah saat dikenakan oleh Nadira.


Bahkan gaya rambut yang dibuat sedikit ikal dan dibiarkan tergerai, semakin menonjolkan aura femininnya sehingga begitu sangat elok dipandang mata, belum lagi dress warna cofee muda yang dikenakan Nadira begitu sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih.

__ADS_1


Andra benar - benar dibuat terpanah dengan penampilan Nadira malam ini. Dalam pandangannya Nadira bagai seorang bidadari cantik yang tak pernah ia lihat sebelumnya, sungguh Andra benar - benar terpesona dengan kecantikan seorang Nadira.


" Kamu sangat cantik sayang ". Batin Andra yang begitu sangat kagum.


Sementara sahabat Andra sendiri Firly, juga ikut terdiam, bukan karena melihat sosok Nadira, namun Firly menjadi terdiam setelah melihat sosok yang ikut bersama Nadira. Firly merasa tak asing dengan wajahnya. Ia berusaha untuk mengingat di manakah dirinya pernah melihat sosok yang sangat dirinya yakini jika ia pernah bertemu dengannya.


" Iya, sekarang aku ingat, gadis itu kan yang pernah aku tabrak di mall sewaktu aku akan ke toilet... Putri, iya, namanya Putri, tidak salah lagi, gadis itu adalah Putri ". Batin Firly yang sudah merasa yakin dengan dugaannya.


Setelah semua rasa sedihnya telah gadis kecil itu tumpahkan, dengan perlahan ia pun mulai melepas rengkuhan mungilnya dari tubuh sang bunda.


Dengan penuh kasih sayang, Nadira pun mengusap lelehan air mata yang masih tersisa di kedua pipi menggemaskan Aida.


" Sekarang Aida sudah ya nangisnya, kan bunda sudah ada di sini nak ". Seru Nadira lembut dengan kedua ibu jarinya yang terulur untuk mengusap kedua pipi menggemaskan putrinya itu. Aida pun mengangguk tersenyum sebagai jawabannya, inilah yang sangat Aida sukai dari bunda nya, yaitu sikap perhatian sang bunda yang begitu tulus.


" Hai Aida, aunty bawa hadiah boneka beruang untukmu, selamat ulang tahun ya ". Seru Putri tersenyum dengan menyodorkan hadiah yang dibawanya pada si kecil Aida.


" Wah telima kasih aunty, hadiahnya bagus sekali, Aida suka ". Sahut si kecil Aida senang lalu dengan sigap gadis kecil itupun meraih hadiah dari aunty Putri nya.


Senyum kebahagiaan kembali terbit dari kedua sudut bibir Nadira, ia senang karena akhirnya putri kecilnya ini kembali tersenyum. Dan setelah cukup lama dirinya berjongkok, gadis cantik itupun mulai berdiri dari posisinya.


Nadira mulai mengarahkan pandangannya untuk melihat kemeriahan pesta ulang tahun dari putri kecilnya ini, namun baru saja dirinya mengarahkan pandangannya, ternyata sudah ada sosok Andra yang berdiri tegak yang saat ini sedang menatapnya, pandangan keduanya pun saling bertemu.


Untuk sejenak Nadira merasa senang karena dirinya bisa kembali melihat sosok pria yang sampai detik ini masih memiliki tempat istimewa di hatinya, namun sesaat setelah itu, Nadira kembali mengalihkan pandangannya. Nadira lebih memilih untuk menatap Aida yang masih tersenyum bahagia karena mendapatkan hadiah dari Putri.


" Bunda, aunty, ayo temani Aida main sama teman - teman Aida yang lain, atau boleh juga kita makan kue, itu, di sana sudah banyak kue, kue nya enak sekali ". Ajak Aida dengan segala penawarannya.


" Boleh juga Aida, aunty mau, dan sepertinya sangat disayangkan jika semua kue - kue itu tidak aunty santap hehe.... ". Sahut Putri dengan tingkah khasnya, bukan Putri namanya jika tak suka memanfaatkan situasi yang ada.


" Ya sudah ayo, tunggu apalagi, kita makan kue nya sekalang ". Sahut Aida.


" Ayo ". Sahut Putri.


Ketiga gadis berbeda usia itupun melangkah bersama menuju ke meja di mana semua kue - kue untuk para tamu undangan tertata rapi di sana.


Andra sendiri masih memfokuskan pandangannya pada wanita pujaannya itu tanpa ada sekalipun niat untuk beralih menatap yang lain. Jujur, di dalam benaknya Andra merasa sangat bersyukur karena Nadira benar - benar datang ke acara ulang tahun putrinya, jika tidak, Andra benar - benar tidak tahu bagaimana cara dirinya untuk menenangkan putri kecilnya itu.


Dari hal ini membuat Andra semakin menyadari, jika Putri kecilnya Aida, tak bisa dipisahkan dari bunda nya Nadira.


" Tuan Andra ". Seru salah seorang rekan kerjanya.


" Oh iya ". Sahut Andra yang sedikit tergagap.


" Putri anda memanggil wanita itu dengan sebutan bunda, siapa wanita itu tuan, apa dia istri anda? ". Tanya rekannya.


" Iya, istriku, maksudku dia calon istriku ". Sahut Andra dengan begitu percaya diri.


Firly yang mendengar sahutan tak terduga dari Andra, seketika itu langsung membelalakkan kedua bola matanya tak percaya, bisa - bisanya Andra mengaku jika Nadira itu adalah calon istrinya, padahal hubungannya dengan Nadira sendiri sudah kandas.


" Wah, anda hebat sekali tuan Andra, anda tidak salah dalam memilih wanita, sepertinya kekasih anda itu wanita yang sangat baik dan juga menyayangi putri anda ". Sahut rekan kerjanya.


" Iya benar sekali, pilihan tuan Andra memang tidak salah ". Timpal yang lainnya yang juga rekan kerja Andra.


Mendengar semua apa yang terjadi, membuat Firly hanya bisa menggeleng dengan samar, menurutnya apa yang dilakukan oleh Andra benar - benar gila.


" Andra - Andra, sungguh tak aku sangka, ternyata kamu sudah benar - benar gila, kamu benar - benar jadi budak cintanya Nadira, hubungan kalian sudah kandas, tapi kamu malah mengaku jika Nadira adalah calon istrimu, humm... aku benar - benar tak menyangka jika kamu sudah bucin akut seperti ini Andra ". Batin Firly yang tak habis pikir.


Sementara di posisi lain, nampak Aida dan juga bunda nya sedang asyik duduk bersama memakan kue mereka, lebih tepatnya sepasang ibu dengan putri kecilnya itu sedang makan kue di piring yang sama.


Momen ini tentu tak ingin disia - siakan oleh Aida, Aida benar - benar ingin di acara ulang tahunnya ini kebersamaannya dengan sang bunda bisa dirinya pergunakan untuk melakukan hal - hal yang begitu berkesan dan yang pasti dirinya bisa bermanja dengan bunda nya.


" Aaa... lagi sayang ". Seru Nadira dengan kembali menyuapi potongan kue nya ke mulut mungil putrinya.

__ADS_1


" Bunda makan lagi juga kue nya ". Suruh Aida.


Sementara di posisi yang tak terlalu jauh di mana Nadira dan juga Aida berada, nampak Putri sedang berkumpul bersama dengan anak - anak kecil lain yang ada di sana, Putri duduk bersama di tengah - tengah mereka yang juga sedang asyik memakan kue.


" Kalian ini sudah sekolah ya? ". Tanya Putri pada semua anak - anak itu.


" Iya, kami sudah sekolah aunty ". Sahut merek kompak.


" Kalian masih kecil - kecil, apa kalian masih sekolah TK? ". Tanya Putri lagi.


" Aku sudah kelas satu SD aunty, tapi yang lain masih sekolah TK, dan Aida sendiri masih belum sekolah ". Sahut salah seorang gadis kecil yang sudah sekolah SD itu.


" Iya, benar aunty ". Sahut yang lainnya yang membenarkan.


" Kalau begitu, artinya kalian bukan teman sekolah Aida, tapi bagaimana cara kalian bisa mengenal Aida? ". Tanya Putri yang malah semakin penasaran.


" Ya karena daddy kita berteman dengan daddy nya Aida, jadinya kita juga disuruh berteman dengan Aida ". Sahut gadis kecil yang masih kelas satu SD itu.


" Oh seperti itu, ternyata daddy kalian orang - orang yang hebat ya, selain berteman dengan sesama rekan kerjanya, anak - anaknya juga diajak berteman, kan bagus, dengan begitu kalian bisa saling mengenal ". Sahut Putri yang merasa kagum.


" Ya seperti itulah daddy kita aunty ". Sahut mereka.


" Ehemm... ".


Terdengar adanya suara dehaman seorang pria sehingga berhasil mengalihkan fokus Putri dan juga anak - anak kecil itu.


" Apa aku boleh ikut bergabung? ". Seru pria yang sempat berdeham itu yang ternyata adalah Firly.


" Boleh uncle ". Sahut semua anak kecil itu.


Lalu Firly pun duduk diantara mereka. Putri sendiri hanya diam melihat kedatangan Firly, kedua bola matanya seolah tak lepas memandang pria berusia matang itu yang saat ini sudah mulai duduk di hadapannya.


" Kenapa tidak dilanjutkan makan kue nya?, apa karena wajahku yang tampan jadinya rasa enak kue nya berpindah ke wajahku? ". Goda Firly pada Putri.


" Iya, berpindah ke wajahmu, wajah orang yang sudah pernah menabrakku di mall dan membuat kening ku sakit ". Sahut Putri dengan raut nya yang dibuat sedikit sinis.


Mendengar sahutan seperti itu dari Putri membuat Firly hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ternyata Firly salah mengira, ia mengira jika Putri tidak ingat dengan kejadian saat di mall, karena jika memang benar seperti itu, dirinya sudah berniat untuk berpura - pura ingin berkenalan dengan Putri.


" Hehe... ternyata kamu masih mengingatnya ". Sahut Firly dengan tawa hambarnya.


" Ya jelaslah aku masih mengingatnya, gara - gara kamu kening ku sampai di kompres ". Sahut Putri.


" Ya tapi kamu juga salah, waktu itu kan aku sudah menawarkan diri untuk membawamu ke rumah sakit, tapi kamu malah tidak mau ". Sahut Firly telak, Firly juga tak ingin jika Putri terus menyalahkan dirinya karena apa yang terjadi adalah murni ketidaksengajaan.


Sontak sahutan dari Firly pun membuat Putri langsung terdiam, jika diingat memang benar dirinyalah yang menolak pada saat itu untuk dibawa ke rumah sakit.


" Maafkan kesalahan ku pada waktu itu, aku tidak sengaja melakukannya, lagipula, jika aku punya jalan untuk memilih, aku tidak akan menabrak wanita secantik kamu ". Sahut Firly yang ternyata malah membuat Putri menjadi tersipu malu, entah apa maksud Firly mengatakan hal itu.


Jika Firly sedang duduk bersama dengan Putri dan juga anak - anak kecil yang ada di sana, maka beda halnya dengan sahabatnya Andra. Andra masih diam berdiri memperhatikan kebersamaan putrinya dengan Nadira.


Dirinya tak bisa berbuat apa - apa selain hanya diam memperhatikannya dengan jarak yang hanya sepersekian. Jujur saat ini dirinya ingin sekali mendekati wanita yang dicintainya itu dan memeluknya dengan begitu erat, namun bagaimana caranya.


Andra mengira mendekati Nadira lebih mudah setelah dirinya bertekad untuk mendapatkan cintanya kembali, namun nyatanya tak semudah itu.


" Sayang, malam ini kamu begitu sangat cantik, aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu ". Batin Andra yang begitu merindu.


Dan setelah dirinya hanya diam di tempat memperhatikan wanita tambatan hatinya itu, Andra pun memutuskan ingin mendekatinya. Rasa rindunya pada sang kekasih hati, benar - benar sudah tak bisa ia bendung lagi.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2