
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Hari - hari masih terus berjalan dengan menyisakan kenangan dan kebiasaan yang sudah - sudah. Tanpa terasa sudah satu minggu lamanya Andra telah dirawat di rumah sakit. Dan sekarang telah tiba saatnya bagi sang tuan pemilik rumah sakit ini akan kembali ke kediaman pribadinya.
Karena memang tak begitu banyak barang yang telah dibawa untuk digunakan selama Andra dirawat di rumah sakit, tak membuat mereka menjadi kerepotan di saat hendak ingin melakukan perjalanan pulang.
" Ini sudah selesai kan tuan? ". Seru pak Rahman pada Andra.
" Iya, dibawa saja ke mobil ". Sahut Andra.
" Baiklah tuan ". Sahut pak Rahman.
Pak Rahman lalu keluar dari ruangan rawat tuannya dengan membawa sebuah koper yang memang berisi barang - barang milik tuan nya.
Dan kini di ruangan ini hanya menyisakan Andra, Nadira, Putri dan juga Firly.
" Ya sudah tunggu apa lagi, kita keluar sekarang ". Seru Firly.
" Ayo baby ". Seru Firly lagi dengan meraih tangan kekasihnya Putri.
Dua pasangan kekasih itupun sudah mulai akan keluar. Namun disaat mereka sudah hendak mulai keluar, Andra malah menahan tangan kiri Nadira. Sontak saja apa yang dilakukan oleh Andra itu langsung membuat Nadira menoleh ke arahnya.
Dan disaat Putri dan juga Firly telah benar - benar keluar dari ruangan rawatnya itu Andra malah menutup pintu kamar itu lalu menguncinya.
" Tuan, apa yang tuan lakukan? ". Seru Nadira.
Jujur Nadira merasa sedikit khawatir dengan situasi ini. Mengapa Andra mengunci pintu kamar ini, apa yang ingin dirinya lakukan.
" Tuan, kenapa pintunya di kunci, kita kan sudah mau pulang? ". Seru Nadira dengan perasaannya yang sudah begitu sangat khawatir.
Nadira merasa khawatir, khawatir jika Andra melakukan hal - hal yang tidak - tidak dikala tidak ada siapapun orang di ruangan ini yang dapat melihatnya.
Andra tak menyahuti pertanyaan Nadira, seharusnya dirinya menyahuti pertanyaan Nadira yang sudah dilontarkan sebanyak dua kali itu, namun bukannya menyahut, Andra malah mendekati Nadira, Andra mendekati Nadira dengan tatapannya yang begitu mendalam.
Apa yang dilakukan oleh Andra tentu saja membuat Nadira menjadi semakin khawatir. Andra terus mendekati Nadira dan Nadira pun menjadi melangkah mundur karenanya.
Nadira terus melangkah mundur hingga pada akhirnya langkah sepasang kaki jenjangnya itu menjadi terhenti karena terhalang oleh ranjang kasur perawatan milik Andra.
Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan akhirnya langkah Andra benar - benar berhenti tepat di dekat Nadira.
Deg... deg... deg... deg...
Detak jantung Nadira seolah tak karuan dibuatnya. Ada apa ini, mengapa Andra bertingkah seperti ini.
" Tu-tuan, apa yang ingin tuan lakukan, ini sudah saatnya bagi kita untuk pulang ". Seru Nadira dengan begitu gugup.
Andra tak menyahuti seruan Nadira. Lagi - lagi dirinya hanya diam. Seolah tak ingin lepas, Andra masih terus memandang wajah kekasihnya ini, seolah tak pernah bosan, Andra masih menatap kedua bola mata indah Nadira.
Hingga pada akhirnya, dengan lembut Andra pun meraih tubuh mungil Nadira dan membawanya ke dalam pelukan hangatnya.
Akhirnya setelah sekian lama, dirinya bisa merasakan hal ini lagi. Andra bisa memeluk tubuh Nadira lagi. Ia memeluknya dengan begitu erat, seolah tak ingin kehilangan saja.
Nadira terdiam kala Andra memeluknya seperti ini, memang tak bisa dipungkiri jika dirinya begitu rindu dan sangat mengkhawatirkan kondisi Andra. Dan setelah Andra memeluknya seperti ini, ada rasa kelegaan di dalam inti hatinya.
Dan memang juga tak bisa dipungkiri jika sebelum Andra memeluknya seperti ini, Nadira memang merasakan takut. Takut jika Andra sampai berbuat yang melampaui batas padanya. Entahlah, rasa takut jika Andra akan berbuat yang macam - macam padanya serta rasa lega karena Andra telah memeluknya seperti ini telah dirasakan di dalam hatinya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, Nadira pun tersadar dari apa yang dilakukannya dengan Andra.
" Tuan... lepas ya, lepaskan ". Seru Nadira dengan berusaha sedikit mendorong pinggang Andra.
Menyadari apa yang diinginkan oleh kekasihnya, Andra pun akhirnya dengan secara perlahan mulai meregangkan pelukannya itu dari tubuh kekasihnya.
Dipandangnya wajah cantik kekasihnya itu dengan begitu lekat. Dan tak lama setelah itu, Andra pun mulai meraih sepasang tangan mungil Nadira untuk ia genggam.
Seolah tak pernah bosan, dipandangnya lagi wajah kekasihnya. Yang paling membuat Andra begitu sangat mendambakan wajah kekasihnya ini, adalah sepasang bola mata indahnya uang begitu terlihat teduh, yang akan membuat siapapun merasa tenang kala memandang sepasang bola mata indahnya.
Cuppp...
Ciuman hangat dan cukup lama telah Andra sematkan pada kening sang kekasih. Inilah selalu ingin dirinya lakukan kala melihat kekasihnya, bahkan disaat kesalahpahaman yang terjadi, dirinya memanglah selalu ingin bisa mencium Nadira. Memang sudah menjadi kebiasaan Andra yang selalu ingin mencium kening Nadira. Namun karena keegoisan dan kebodohannya sendiri, dirinya malah mengabaikannya.
" Sayang, bagaimana?, aku sudah memutuskan untuk menikah denganmu, dalam hal ini aku sangat serius, tapi sampai sekarang kamu masih belum memberikan jawaban apapun padaku ". Seru Andra pada akhirnya.
Mendengar pertanyaan dari Andra membuat Nadira ingin melepaskan kedua tangan mungilnya yang digenggam oleh Andra, namun Andra malah menahannya.
" Sayang, apa kamu masih belum memaafkanku?, jadi karena itu kamu masih belum menjawabnya? ". Seru Andra lagi.
Nadira menggeleng dengan pelan di mana gelengannya itu membuat Andra beranggapan jika Nadira sudah memafkan nya atau terpaksa memaafkannya.
" Tuan, saya sudah memaafkan semuanya, bukankah saya sudah pernah mengatakan ini? ". Sahut Nadira.
" Dan itu artinya kamu menerima jika kita menikah kan sayang? ". Dengan kepastiannya Andra mengatakan hal ini.
Nadira menjadi terdiam, dirinya menjadi tertunduk. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Nadira ini membuat Andra menjadi merasa khawatir.
" Sayang, ada apa?, apa kamu tidak ingin kita menikah?, iya begitu? ". Andra menjadi semakin khawatir saja.
" Saya tidak tahu tuan, saya tidak tahu, saya takut akan mendapatkan luka yang sama jika saya kembali lagi pada tuan, saya tidak ingin terluka untuk yang kesekian kalinya, saya hanya ingin hidup tenang ". Sahut Nadira dengan segala ungkapan perasaannya bahkan disaat mengatakan hal ini kedua bola matanya sudah mulai berkaca - kaca.
Merasa seperti mendapatkan tamparan keras, itulah yang Andra rasakan. Andra sangat merasa bersalah. Iya, itu benar, bersalah, dirinya memang sudah benar - benar sangat bersalah, dirinya sudah berkali - kali melakukan kesalahan yang membuat hati Nadira terluka begitu sangat dalam. Bahkan meski dirinya meminta maaf ribuan kali, rasanya itu tetap tidak akan bisa mengobati luka hati Nadira yang telah diperbuatnya. Hingga akhirnya Andra pun memeluk kembali tubuh Nadira.
" Maafkan aku sayang, tolong maafkan aku ".
" Aku tahu kesalahan yang sudah aku perbuat memang sudah menghancurkan semuanya, melukai hatimu hingga seperti ini ".
" Tapi aku mohon padamu sayang, beri aku satu kesempatan lagi, aku berjanji padamu jika aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi, tolong beri aku satu kesempatan lagi Dira ".
" Izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku, izinkan aku untuk membayar semuanya, aku ingin membahagiakan mu sayang, sungguh aku ingin memberikan semua kebahagiaan itu ". Sungguh Andra tulus dengan semua ungkapan permohonannya.
Dengan perlahan Andra pun mulai mendongakkan wajah Nadira. Dan ternyata Nadira sudah meneteskan air matanya.
" Sayang ". Dengan perlahan kedua ibu jari tangan Andra mengusap tetesan air mata yang sempat terjatuh di kedua pipi Nadira.
Memang sangat benar jika hati wanita yang sangat dicintainya ini begitu halus dan lembut, bahkan dari saking halus dan lembutnya itu sampai membuatnya begitu mudah menjatuhkan air matanya kala hatinya merasa tersentuh dengan sesuatu. Dan ironisnya, dirinya malah sering menyakiti hati yang begitu halus dan lembut ini.
" Sayang, jangan menangis lagi, aku tidak ingin melihatmu menjatuhkan air matamu lagi sayang, sudah saatnya bagimu untuk bahagia ".
" Bagaimana, apa kamu bersedia menerimaku kembali sayang?, kamu bersedia menikah dengan ku kan sayang?, aku harap kamu akan benar - benar bersedia ". Seru Andra dengan segala harapannya.
Nadira kembali terdiam. Haruskah dirinya menjawab atas ketersediaannya untuk menerima semua keinginan Andra. Iya, mungkin memang seperti itu.
" Sayang bagaimana?, kita jadi kan menikah?, kamu bersedia kan menikah denganku sayang? ". Seru Andra lagi.
Dan Nadira pun mengangguk sebagai jawabannya.
__ADS_1
" Sayang, kamu mengangguk?, maksudnya kamu bersedia menikah denganku sayang? ". Seru Andra lagi bahkan perasaannya kini seolah seperti berbunga - bunga.
" Huumm, iya tuan, saya bersedia menikah dengan tuan ". Sahut Nadira pada akhirnya.
" Benarkah sayang?, terima kasih sayang ". Seru Andra yang begitu sangat bahagia.
Andra memeluk kekasihnya Nadira dengan begitu sangat erat. Andra sangat bahagia, sungguh sangat - sangat bahagia. Akhirnya, setelah sekian waktu dirinya menantikan jawaban dari kekasihnya, akhirnya jawaban itu sudah terjawab.
" Terima kasih sayangku, terima kasih, aku mencintaimu sayang, aku sangat mencintaimu ". Seru Andra.
Sudah tak bisa digambarkan lagi bagaimana kebahagiaan hatinya saat ini. Rasanya memeluk Nadira dengan begitu erat seperti ini tidaklah cukup.
" Eh eh, apa yang tuan lakukan?, turunkan saya tuan ". Seru Nadira yang begitu sangat terkejut.
Nadira sangat terkejut karena Andra tiba - tiba saja menggendongnya.
" Apa?, tuan?, kamu masih memanggilku tuan sayang?, aku ini bukan tuan mu sayang ". Andra tak menyukai dengan sebutan itu.
" Terus saya harus memanggil apa tuan? ". Sahut Nadira.
" Ya seperti sebelumnya lah sayang, atau kalau perlu kamu bisa memanggilku sayang juga ". Sahut Andra.
" Tidak, jangan yang aneh - aneh tuan, sekarang tolong turunkan saya ". Sahut Nadira.
" Baiklah, aku akan menurunkan mu kalau kamu tidak memanggilku dengan sebutan itu lagi ". Sahut Andra.
" Baiklah mas, tolong turunkan aku ". Sahut Nadira pada akhirnya.
" Begitu dong sayang, coba saja dari tadi kamu mengatakannya, pasti tidak akan repot ". Sahut Andra sebelum benar - benar menurunkan tubuh Nadira.
Cup... cup... cup... cup...
" Ih mas, apa yang mas Andra lakukan?, kenapa mas Andra mencium bibirku? ". Kesal Nadira.
" Hihihihi... ". Andra tertawa cekikikan.
Ya, bukan Andra namanya jika tak pandai mengambil kesempatan, alih - alih ingin menurunkan tubuh Nadira dari gendongnya, Andra malah mengambil kesempatan dengan mencium bibir Nadira.
Gedorr... gedorr... gedorr...
" Hey buka, apa yang kalian lakukan di dalam hah?, enak sekali kalian ini ada di dalam, kita dari tadi menunggu kalian ". Seru Firly dari balik pintu kamar.
" Mas, itu kak Firly, mereka menunggu kita mas, ayo kita pulang sekarang ". Sahut Nadira yang merasa sedikit khawatir.
" Sudahlah sayang, kamu jangan khawatir, aku masih ingin berduaan dengan mu sayang ". Andra sama sekali tak merasa bersalah.
Gedorr... gedorr... gedorr....
" Hey buka pintunya, kalian ingin pulang tidak? ". Seru Firly lagi.
Gedorr.... gedorr... gedorr...
Bersambung.........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1