
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Masih belum menjelang siang, sebuah drama yang begitu menyita perhatian para orang rumah sudah disaksikan secara langsung.
Dengan membawa dua koper besar miliknya, Ria melangkah untuk keluar dari kediaman tuannya.
Akibat dari masalah yang sudah terjadi, dirinya telah dikeluarkan secara tidak terhormat oleh tuannya.
Semua rencana dan niatnya telah kandas, apa yang diusahakan nya selama ini selalu saja gagal.
Hanya amarah dan kekesalan yang luar biasa lah yang begitu membara dalam hatinya. Rasa cinta yang selama ini dirinya pendam telah sirna kala Andra memperlakukannya secara tak terhormat.
Ya, memang tak bisa dipungkiri jika cara Andra dalam memberhentikan Ria sangat tidak bisa dibenarkan. Namun Andra yang pada kala itu telah dilanda api amarah sudah tak bisa bersikap lembut lagi.
Dengan masih membawa dua koper besarnya, Ria melangkah hampir mendekati pintu keluar rumah. Nampak di dekat pintu rumah itu sudah ada bi Sari, pak Rahman dan juga suster Lina yang telah berdiri.
Mungkin mereka ingin menggiring kepergian Ria, mengingat jika Ria adalah salah satu teman seperjuangan mereka.
" Ria, kamu sudah ingin pergi?, maafkan bibi ya Ria ". Bi Sari pun mendekat dan mencoba memeluk Ria.
Bi Sari memeluk Ria, meski apapun yang telah terjadi tetap tak bisa dipungkiri jika manis pahitnya menjadi asisten rumah tangga di rumah tuannya ini juga dirinya dan Ria rasakan.
Bi Sari sendiri juga tak menyangka jika Ria akan diberhentikan dengan cara seperti ini. Jika diingat - ingat memang benar selama Ria bekerja di rumah tuannya ini sangat tak jarang jika Ria suka bertindak semaunya sendiri, dan itu memang terkesan berusaha untuk mencari perhatian tuannya.
Setelah apa yang terjadi entah mengapa ada rasa bersalah dalam benak bi Sari. Dari dulu bi Sari memang sudah merasakan jika Ria memang memiliki perasaan yang tak biasa pada tuan Andra nya, tapi entah mengapa dirinya sama sekali tak pernah memberikan pengertian agar Ria bisa menyadari posisinya, ini adalah rasa bersalahnya, jika saja semenjak awal dirinya mengingatkan Ria, pasti semua ini tak akan terjadi.
" Bi Sari masih ingin memelukku?, sebelum pukul sebelas siang, aku sudah harus tidak boleh sampai ada di rumah ini lagi bi ". Seru Ria karena bi Sari masih terus memeluknya.
Bi Sari pun melepaskan pelukannya.
" Apa kamu akan pulang ke kampung halaman mu Ria? ". Tanya bi Sari.
" Iya, aku akan kembali ke kampung halaman ku ". Sahut Ria.
Ria tak ingin berlama-lama di rumah ini, semakin lama dirinya tak kunjung pergi dari rumah ini, semakin membuatnya merasa sangat muak.
__ADS_1
" Ria aku minta maaf ya jika mungkin selama kita bersama... ".
" Sudahlah Lina jangan bicara apa - apa lagi, aku sudah tidak punya waktu untuk terus berada di rumah ini, aku harus pergi dari rumah ini, untuk kalian, terima kasih karena sudah menjadi teman seperjuangan ku, aku bekerja di sini masih belum sampai lima tahun, aku junior di sini, tapi sayangnya akulah yang dipecat lebih dulu ". Jelas Ria.
Mendengar kalimat Ria entah mengapa seperti menjadi sebuah tamparan bagi pak Rahman. Mungkinkah Ria tidak akan dipecat jika dirinya tidak melaporkan atas keteledoran Ria, tapi bukankah dirinya memang selalu diperintahkan oleh tuannya untuk selalu melapor, jadi bukan salahnya jika tuannya sampai bersikap di luar dugaannya.
Ya benar, setelah nona Nadira nya meminta pertolongan agar nona Aida segera dibawa ke rumah sakit, pak Rahman melihat adanya bekas cucuran minyak yang ada di sekitar kolam renang, dan dari hasil cctv memperlihatkan jika di pagi itu Ria lah yang sedang bertugas untuk membersihkan di area sana, namun sayangnya Ria teledor atau mungkin memang sengaja tidak membersihkan cairan minyak itu karena malas, dan akibat dari keteledoran nya itu sungguh tak disangka jika tuan Andra benar sampai memecatnya.
Dengan tanpa menyapa pada pak Rahman, Ria pun melewatinya begitu saja dan keluar dengan melewati pintu.
Pak Rahman hanya bisa diam dengan sikap Ria, wajar saja jika Ria sampai bersikap tak ramah padanya, karena Ria sudah pasti mengetahui jika yang melaporkan perbuatannya adalah dirinya.
β
Sementara di kamar Andra sendiri, Andra sedang menatap ke arah luar jendela. Apa yang ingin dirinya pastikan sudah benar. Nampak di luar sana Ria sudah pergi dengan membawa dua koper besarnya.
Andra yang melihatnya pun tentu merasa sangat lega, bagaimana tidak seorang asisten rumah tangga yang memang seharusnya semenjak dari dulu dirinya berhentikan malah baru dilakukan hari ini, dan ini memang sudah begitu sangat terlambat.
" Bagus, seharusnya memang dari dulu aku memecat mu ". Batin Andra yang merasa sudah sangat lega.
" Hah sayang ". Dengan spontan Andra pun langsung menutup gorden jendela kamarnya.
" Ya Tuhan sayang, kamu membuatku terkejut saja ". Dengan perlahan Andra mengelus - elus dadanya.
" Dasar mas Andra, padahal aku kan memanggil mas pelan aneh sekali kalau mas terkejut seperti ini, memangnya apa sih mas yang mas lihat di luar sana ".
" Jangan sayang jangan, sudah jangan dilihat ". Dengan secepat kilat Andra langsung menahan tangan istrinya agar tak membuka gorden nya itu.
" Ada apa sih mas, mencurigakan sekali? ".
" Tidak ada sayang, memangnya apanya sih yang mencurigakan?, coba lihat dirimu, kamu kan harusnya istirahat sayang ".
Beginilah Andra selalu saja bersikap over protective pada istrinya.
" Ayo duduk dulu ".
" Aku harus duduk bagaimana lagi mas, aku dari tadi sudah duduk terus ". Sungguh Nadira benar tak mengerti dengan sikap suaminya ini.
__ADS_1
Jujur sebenarnya Nadira merasa aneh sendiri dengan cara suaminya yang ingin melindungi dirinya yang sedang mengandung, menurutnya cara suaminya ini sangatlah tidak wajar, seperti orang yang pernah mengalami suatu kejadian yang tak diinginkan dan hal itu tak ingin jika sampai terjadi pada dirinya, tapi ya sudahlah, lebih baik dirinya biarkan saja dengan apa yang menjadi keinginan suaminya, mungkin sikap suaminya ini hanya terjadi di awal - awal saja.
" Mas, ada yang ingin aku bicarakan pada mas Andra, dan ini sangat penting ". Seru Nadira.
Ya inilah yang sebenarnya ingin Nadira bicarakan.
" Hal penting apa sih sayang, memangnya apa yang ingin kamu bicarakan? ". Sahut Andra.
" Ini tentang dokter Daniel ". Sahut Nadira pada akhirnya.
Dan benar saja, seketika itu suasana di hati Andra langsung berubah, mendadak hatinya menjadi sangat lesu setelah mendengar nama itu kembali.
Nadira sangat mengerti dengan sikap tak nyaman suaminya, pasti suaminya ini merasa sangat tak suka ketika mendengar nama itu kembali.
Dengan perlahan Nadira meraih kedua tangan suaminya itu, berharap dengan cara ini suaminya Andra bisa menjadi sedikit lebih tenang.
" Mas, apa mas Andra masih kesal dengan dokter Daniel?, dia sudah mas Andra pecat, dengan dipecatnya dokter Daniel sebagai seorang dokter sudah pasti dokter Daniel akan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai gelarnya mas ". Sebelum berbicara lebih jauh, Nadira sangat ingin jika suaminya bisa mengerti terlebih dahulu.
Sebenarnya Nadira sendiri juga tak mengerti mengapa tiba - tiba saja dirinya malah teringat dengan dokter Daniel.
" Lalu apa maksudmu yang mengajakku untuk membicarakan soal Daniel?, biarkan saja dia dengan nasibnya, siapa suruh dia mengkhianati sumpah jabatannya sendiri ". Andra mengatakannya dengan rautnya yang sama sekali tanpa ada rasa bersalah.
" Mas, aku tahu jika apa yang dilakukan oleh dokter Daniel adalah salah, dan itu sama sekali tidak dibenarkan ".
" Tapi mas itu kan dulu, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk dokter Daniel, tidakkah mas Andra ada niat untuk memaafkan dokter Daniel? ".
" Kita sudah menikah mas, kita sudah hidup bersama, dan kita sudah memiliki anak di tengah-tengah kita, masihkah mas Andra marah pada dokter yang dulunya sudah hampir membuat hubungan kita tak tergolong? ".
Andra tak bisa menyahut lagi, sungguh dirinya merasa sangat malas jika harus membahas teman yang sudah membuat hubungannya dengan istrinya dulu nyaris tak tertolong.
Tidak, dirinya masih belum bisa memaafkannya, memaafkan orang yang telah melakukan kesalahan fatal seperti itu rasanya terlalu mudah, tidak, dirinya tidak menginginkan hal itu, Daniel masih harus mendapatkan efek jera dari apa yang telah diperbuatnya.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1