
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Semua pasang mata dari para mahasiswa itupun mengarah pada Firly dan juga Putri, terlebih lagi Nadira, ia yang sedari tadi berada di dekat Putri bahkan berhenti mengunyah rotinya benar - benar dibuat terperangah dengan apa yang ada di depan matanya.
Dan Putri sendiri masih terdiam dengan seribu bahasa. Apakah yang disaksikannya ini adalah sebuah mimpi, seorang Firly telah bersimpuh di hadapannya dan melamar dirinya untuk menjadi kekasihnya, benarkah ini, tapi bagaimana bisa.
" Put, bagaimana, apakah kamu mau menjadi pacarku?... aku ingin kamu menjadi kekasihku Put ". Seru Firly lagi dengan masih menyodorkan buket bunganya itu.
Sontak seruan Firly kali ini menyadarkan Putri dari rasa ketertegunannya, hingga Putri pun menjadi terkesiap karenanya.
" M-mas... apa yang kamu lakukan?, berdirilah, jangan seperti ini ". Sahut Putri yang begitu merasa malu, Putri merasa sangat malu karena apa yang dilakukan oleh Firly kepadanya menjadi pusat perhatian semua mahasiswa yang ada di tempat ini.
" Ayo Putri terima saja lamaran dari tuan Firly, apalagi yang perlu kamu tunggu ". Seru salah seorang mahasiswa yang juga satu kelas dengan Putri.
" Iya Putri, terima saja ". Timpal yang lainnya.
" Ayo, terima... terima... terima... ". Sorak semua mahasiswa yang ada di sana agar Putri mau menerima lamaran dari seorang Firly.
Dalam seketika sorakan - sorakan dari para mahasiswa itupun telah menggema hampir memenuhi lorong kampus di lantai dasar itu, mereka semua bersorak ria untuk memberikan dukungan penuh pada tuan Firly mereka.
Putri benar - benar dibuat tak berkutik, Putri merasa malu dengan semua situasi ini, bagaimana bisa semua mahasiswa malah menyoraki nya untuk menerima Firly.
" Ayo Putri terima sajalah, coba lihat, tuan Firly sampai bersimpuh seperti itu, kamu sangat beruntung Put bisa diinginkan oleh tuan Firly ". Seru salah satu dari mereka yang masih menyoraki.
" Terima... terima... terima... ". Para mahasiswa itu terus bersorak dengan lantang untuk memberikan dukungannya.
Sementara Nadira sendiri tak bisa berbuat apa - apa, Nadira hanya bisa diam kebingungan dengan menggaruk tengkuknya sendiri.
" Ayo Putri terima sajalah lamaran tuan Firly ". Seru mahasiswa itu lagi.
" Terima... terima... terima... ".
Fikiran Putri sudah merasa tak karuan, bisa menjalin sebuah hubungan dengan seorang pria sangatlah membutuhkan pengambilan keputusan yang benar - benar matang, apalagi Firly melamarnya disaat seperti ini.
Merasa sudah sangat bingung dengan situasi ini, akhirnya dengan tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun lagi, Putri pun mulai menarik tangan kanan Firly dan dengan segera gadis cantik itupun mengajaknya untuk pergi dari area lorong kampus itu.
" Yaaah... Put, mau dibawa kemana itu tuan Firly nya? ". Seru semua mahasiswa itu yang merasa heran dengan tingkah Putri.
Putri menarik tangan Firly dengan sedikit kencang, sehingga membuat tubuh tinggi nan kekar milik Firly itupun menjadi sedikit tersentak.
" Wah Put, tarikan mu kencang juga ternyata ya ". Seru Firly di tengah - tengah langkahnya yang mengikuti langkah Putri.
Putri sudah tak tahu harus berbuat apa lagi, satu - satunya hal yang bisa dirinya lakukan adalah yaitu dengan secepatnya membawa Firly menjauh dari pusat perhatian dari semua teman - teman mahasiswanya.
Hingga pada akhirnya dua sejoli itu telah berada di sebuah halaman yang tak terlalu luas yang posisinya berada di sebelah tempat parkir motor, karena tempat itu terhalang oleh dinding tempat parkir, memungkinkan Putri dan juga Firly tak terlihat oleh banyak orang yang ada di area sekitar kampus itu.
" Mas, apa sih yang mas Firly lakukan itu, kan aku jadi malu dengan semua anak - anak kampus ". Seru Putri dengan nadanya yang sedikit kesal.
" Benarkah kamu merasa malu?, tapi aku malah merasakan yang sebaliknya dari kamu ". Sahut Firly yang nampak menggoda Putri.
" Maksud mas? ". Sahut Putri yang merasa bingung.
" Buktinya ini, kalau kamu memang merasa malu, kenapa tanganku masih terus kamu genggam? ". Sahut Firly dengan mengarahkan pandangannya pada tangannya yang ternyata masih setia digenggam oleh Putri.
Menyadari akan hal itu, sontak membuat Putri pun secara reflek melepaskan genggaman tangannya pada tangan Firly, Putri sama sekali tak menyadari jika ia masih memegang tangan Firly.
Firly yang mendapati hal itu hanya bisa tersenyum gemas, rupanya Putri terlihat nampak lebih lucu jika sudah salah tingkah seperti ini.
Hingga pada akhirnya, Firly pun mulai meraih tangan kanan Putri dengan lembut, buket bunga yang sedari tadi ia pegang, mulai diberikan pada Putri.
Putri hanya diam dengan apa yang dilakukan oleh Firly.
" Put bagaimana, apa kamu menerima permintaan ku yang tadi? ". Seru Firly pada akhirnya.
" Permintaan, permintaan yang mana? ". Sahut Putri yang dibuat pura - pura bingung.
" Yang tadi, maukah kamu menjadi pacarku? ". Ujar Firly yang mengulang kalimatnya kembali.
Putri hanya diam, ia sedang mencari sebuah kesungguhan dari seorang Firly, dan jika dilihat dari kedua bola mata Firly cukup nampak jelas jika Firly memang menginginkan adanya hubungan ini.
" Bagaimana Put, apa kamu mau menjadi pacarku? ". Tanya Firly lagi, dan mungkin ini sudah yang kesekian kalinya Firly mengungkapkan kalimat yang sama.
" Tapi aku kan masih baru mengenalmu mas, dan kamu juga masih belum tahu bagaimana aku, masih belum lama mengenal saja, kamu sudah ingin memacari ku, kalau ternyata aku bukan orang baik bagaimana? ". Sahut Putri.
Nampaknya Putri sedang berusaha bernego, entah apa yang diinginkannya.
" Aku tidak butuh banyak waktu untuk bisa mengenalmu, kamu wanita yang baik, aku yakin itu ". Sahut Firly.
__ADS_1
Dari kedua sorot mata Firly dapat Putri lihat dengan jelas, jika Firly memang terlihat tak merasa ragu.
" Kamu diam, apa itu artinya kamu sudah mau menerima ku, kamu mau menjadi pacarku, iya kan? ". Sahut Firly lagi, entah ini sudah kalimat yang kesekian pria berusia matang itu lontarkan.
Dan dengan gerakan yang begitu pelan Putri pun mulai menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.
Mendapati sinyal semacam itu dari Putri, dalam seketika membuat Firly menjadi tersenyum senang, akhirnya perjuangannya benar - benar telah membuahkan hasil
" Terima kasih baby ". Seru Firly yang begitu nampak sangat senang, dan dengan spontan pria berusia matang itu mulai memeluk Putri.
Deg...
Putri begitu sangat terkejut karena Firly tiba - tiba saja langsung memeluknya, dan dengan reflek gadis muda itu pun langsung mendorong dada Firly sehingga membuat Firly dengan secara paksa terlepas dari kegiatan memeluknya.
" Ih, kamu ini mas, seenaknya saja main peluk - peluk, dan apa itu barusan, baby?, kamu memanggilku dengan sebutan baby, ada - ada saja kamu mas ". Sentak Putri yang begitu tak suka.
" Bab, jangan marah seperti itu, kamu ini aneh sekali, kita ini kan sudah jadi sepasang kekasih, jadi tidak apa - apa jika kita berpelukan ". Sahut Firly, karena memang itulah yang biasa dilakukan sebagai sepasang kekasih.
" Tidak, tidak boleh, aku tidak suka ". Sahut Putri yang menolak dengan telak.
Mendengar sahutan dari Putri hanya bisa membuat Firly menghela nafasnya, seharusnya dirinya menyadari jika berpacaran dengan wanita seperti Putri tidaklah mudah, bukankah Putri pernah mengatakan jika alasan yang menyebabkan dirinya pernah memutuskan pacarnya dulu adalah karena pacarnya itu mengajaknya berciuman.
Sepertinya Firly harus ekstra bersabar memiliki seorang kekasih seperti Putri, padahal baru saja dirinya resmi berpacaran dan bisa menjalin kasih layaknya orang berpacaran pada umumnya, namun sudah ditolak meski itu hanya sekedar untuk memeluknya.
Namun sesaat setelah itu, Firly pun menjadi tersenyum, Firly menyadarinya jika pacar barunya ini ternyata memanglah masihlah orisinil.
" Kenapa kamu senyum - senyum begitu mas?, ada yang lucu apa? ". Tanya Putri yang nampak sedikit curiga.
" Iya lucu, kamu lucu baby ". Sahut Firly yang tersenyum.
" Ih, dasar tidak jelas kamu mas, sudahlah aku mau ke kafe, aku mau makan siang sama Dira ". Sahut Putri pada akhirnya.
Lalu gadis cantik itupun mulai melangkah.
" Ya Tuhan, baby, kenapa kamu buru - buru, kita kan baru resmi pacaran, harusnya kita mesra - mesra dulu ". Sahut Firly.
" Tidak ada mesra - mesraan, sana mas Firly mesraan dengan tembok ". Sahut Putri.
Putri terus melangkah meninggalkan Firly seorang diri di sana, sungguh aneh tapi nyata, Firly dan juga Putri sudah resmi menjalin kasih, namun sayangnya dari pihak Putri nya sendiri malah bersikap acuh seperti tak memiliki seorang kekasih.
" Ya Tuhan, kenapa malah jadi seperti ini sih, baru saja aku punya pacar, dan memang benar memiliki seorang pacar, tapi rasanya seperti tak memiliki pacar ". Gumam Firly yang merasa tak habis pikir.
" Kamu memang benar - benar menarik baby ". Batin Firly.
*****
Tak terasa sang waktu telah berjalan dengan begitu cepat, setelah hampir seharian ini mengikuti waktu kuliah, sudah saatnya lah bagi semua mahasiwa di sebuah kampus ternama milik Andra ini, harus pulang ke kediamannya masing - masing.
Andra sang tuan pemilik kampus, telah menunggu kekasih hatinya semenjak sekitar dua puluh menit yang lalu, dan tak lama lagi kekasihnya Nadira akan segera pulang, lebih tepatnya wanita yang sedang dirinya perjuangkan untuk menjadi kekasihnya itulah yang akan segera keluar.
Dalam penantiannya menunggu sang kekasih hati, tanpa sengaja Andra melihat datangnya sebuah mobil yang tergambar begitu jelas di spion depan mobilnya, Andra sangat mengenal betul siapa pemilik mobil itu.
" Itu mobil Firly, sedang apa dia kemari? ". Gumam Andra.
Merasa cukup penasaran, Andra pun memilih keluar dari dalam mobilnya.
" Hai Dra ". Sapa Firly ketika ia sudah keluar dari mobilnya, dan seperti biasa Andra tak menyahuti sapaan sahabatnya itu.
" Sedang apa kamu kemari? ". Tanya Andra setelah Firly berada di dekatnya.
" Menunggu my baby lah ". Sahut Firly.
Andra menjadi sedikit mengernyit bingung dengan sahutan sahabatnya.
" My baby?... memangnya kamu sudah punya pacar?, memangnya pacarmu kuliah di sini? ". Tanya Andra.
" Iya, aku sudah punya pacar, pokoknya dia itu sangat menarik dan membuat ku tak sabar untuk melangkah lebih jauh lagi ". Firly nampak tersenyum disaat menceritakan sosok wanita yang menjadi idamannya itu.
" Siapa pacarmu yang sudah membuatmu ingin serius seperti ini, kamu kan suka mempermainkan wanita, semoga saja dia tidak bernasib malang karena punya pacar sepertimu ". Sahut Andra yang mencebik sahabatnya.
" Putri... sahabat Dira ". Sahut Firly dengan begitu santainya.
Deg....
" Apa?... Putri?... kamu pacaran dengan Putri? ". Sentak Andra yang begitu sangat terkejut.
" Iya Putri, kamu kenapa sih Dra, biasa saja lagi wajahnya, tidak perlu sampai begitu, seperti kamu melihat hantu saja ". Sahut Firly.
Lalu Andra menarik bahu kanan Firly hingga dua pria berusia matang itu saling berhadapan.
__ADS_1
" Kamu jangan main - main Fir, kamu memacari Putri bukan untuk mempermainkan dia kan, bagaimana mungkin seorang playboy seperti kamu bisa serius dengan wanita? ". Seru Andra dengan tatapan kedua sorot bola mata birunya yang nampak menajam.
Kali ini Andra merasa khawatir, ia khawatir jika Firly memacari Putri hanya sebagai wanita koleksinya saja, mengingat kebiasaan Firly yang suka bergonta - ganti wanita.
" Kamu apa sih Dra, lepas ". Sentak Firly dengan melepas secara paksa cengkraman Andra di bahu kanannya.
" Aku memang playboy, tapi itu kan dulu, aku serius menjalani hubungan ini dengan Putri, memangnya sebegitu buruknya penilaianmu padaku? ". Sahut Firly, Firly begitu sangat tersinggung dengan ucapan Andra.
Lalu Andra menghela nafasnya dengan cukup dalam.
" Bukan seperti itu, aku hanya tidak ingin jika Putri sampai jatuh pada pria yang salah, dan kamu sendiri, siapa yang tidak tahu kamu, dari dulu kamu itu suka bermain - main dengan wanita ". Sahut Andra dengan nada suaranya yang sudah cukup tenang.
" Iya itu kan dulu Dra, sekarang aku sudah berubah, lagipula bagaimana mungkin aku mempermainkan wanita sebaik Putri, sudahlah, kamu jangan memikirkan hubungan ku dengan Putri, urus saja hubunganmu dengan Dira, seperti hubunganmu sudah jelas saja ". Sahut Firly.
" Kamu... apa maksidmu Fir? ". Sahut Andra yang terdengar seperti menahan emosi.
" Iya tidak jelas, benarkan?, buktinya sampai sekarang si Dira masih belum memberikan jawaban apapun padamu ". Sahut Firly dengan sedikit mencebikkan bibirnya.
" Kamu... ".
" Apa?... ".
Kali Andra sungguh sangat kesal dengan Firly, namun dirinya juga tak bisa membantah ucapan sahabatnya, apa yang dikatakan oleh Firly memanglah benar adanya, bahkan hingga detik ini, Nadira sendiri masih belum memberikan kepastian untuk kelanjutan hubungannya.
Dan seperti itulah mereka berdua, dua sahabat yang selalu setia untuk saling mendukung, namun juga tak jarang jika keduanya saling terlibat cekcok, bahkan untuk hal yang sepele sekalipun.
Hingga tak lama dari itu, riuhan suara dari para mahasiswa sudah terdengar hingga keluar hingga ke halaman kampus.
Semua mahasiswa itu keluar bersama untuk menuju pulang.
" Baby ". Panggil Firly kala ia melihat Putri yang sudah melewati pintu lorong kampus.
Lalu pria berusia matang itupun mendekati kekasih barunya, begitupun dengan Andra, pria yang masih menunggu kepastian dari wanita pujaannya itu juga datang menghampiri, Andra menghampiri kekasihnya Nadira.
" Loh mas, untuk apa datang ke sini? ". Tanya Putri yang sedikit heran.
" Ya untuk menjemputmu lah baby, memangnya untuk apa lagi? ". Sahut Firly.
" Untuk apa, tidak perlu, aku kan naik motor ". Sahut Putri yang menolak.
" Tidak bisa baby, motormu sudah tidak ada di kampus, motormu sudah aku pulangkan ke rumahnya ". Sahut Firly.
" Apa? ". Sentak Putri yang begitu terkejut.
" Apa yang kamu lakukan sih mas, kenapa motorku sampai harus dipulangkan? ". Lanjut Putri lagi.
" Sudahlah baby, jangan kesal seperti itu, kan lebih enak naik mobil daripada naik motor ". Sahut Firly.
Andra dengan Nadira yang berada di dekat mereka hanya bisa menjadi penonton setia mereka, lalu Andra pun mulai meraih tangan mungil Nadira.
" Sayang, ayo kita pulang ". Ajak Andra.
" Iya mas ". Sahut Nadira singkat.
Dengan tanpa mempedulikan Firly dan juga Putri yang yang nampaknya masih butuh waktu untuk menyelesaikan urusan mereka.
Nadira dengan Andra pun sudah menuju mobil mereka untuk perjalanan kembali pulang.
" Coba lihat mereka ". Seru Riska pada kedua sahabatnya.
Bukan Riska namanya jika tak bisa memanfaatkan situasi yang ada untuk memantau orang - orang yang menurutnya tidak bersahabat dengannya.
" Mereka benar - benar wanita murahan, sukanya sama yang kaya raya ".
" Iya benar, mereka memang murahan, aku heran deh, sebenarnya sihir apa sih yang dua wanita tidak tahu diri itu lakukan, bisa - bisanya tuan Andra dan juga tuan Firly mau dengan mereka ". Timpal Yanti.
" Sudahlah untuk saat ini jangan mengurus mereka dulu, besok kan sudah dimulai kemah, dan si janda itu pastinya sendirian tidak ada teman yang bisa melindunginya, ya kita kerjai saja dia, kita kerjai dia habis - hsbisan, tidak ada Putri dan juga tuan Andra, kita bisa melakukan apapun kan? ". Seru Tina.
" Iya kamu benar ". Sahut Riska.
Dan seperti itulah ketiga wanita serangkai itu, tiga sosok wanita yang selalu membuat onar, bahkan akan cenderung mengganggu siapapun yang dirasa lebih dari mereka.
Namun sayangnya, perbuatan mereka tidak ada yang berani melaporkan nya pada pihak kampus, selain mereka juga kakak kelas, orang tua dari mereka juga sudah menjalin hubungan kerjasama perusahaan yang sangat baik dengan perusahaan tuan Andra, mungkin itulah alasan mengapa banyak mahasiswa yang tidak ingin berurusan lebih jauh lagi dengan mereka karena tak ingin tertimpa masalah.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1