
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Kini di sebuah ruangan perawatan khusus VVIP sang tuan pemilik rumah sakit telah beristirahat. Setelah sekian jam lamanya menjalani operasi akibat dari kecelakaan yang dialaminya, akhirnya ia sudah berada di dalam kamar perawatan khusus untuk menjalani masa pemulihan.
" Jadi bagaimana kondisi Andra saat ini dok, apa setelah menjalani operasi Andra akan bisa segera pulih? ". Seru Firly.
" Sebenarnya kondisi tuan Andra sudah membaik tuan, saya juga cukup heran, ini di luar dugaan saya tuan ".
" Tuan Andra memiliki kekuatan fisik yang cukup prima, daya tahan tubuhnya sangat kuat ".
" Meski tuan Andra mengalami kecelakaan hebat, ternyata tetap mampu membuat tubuhnya bisa bertahan dengan luka yang begitu sangat serius ".
" Bahkan disaat operasi berlangsung, tidak ada tanda - tanda jika daya tahan tubuh tuan Andra akan menurun, dan itu benar - benar membuat kami kagum dengan kekuatan tuan Andra ".
" Kami sudah memberikan obat agar tuan Andra bisa segera pulih. Kapan tuan Andra akan bisa segera sadar, kita tunggu nanti atau mungkin besok ". Jelas dokter yang menangani operasi Andra.
" Terima kasih dok ". Sahut Firly.
" Iya tuan sama - sama, itu memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kami untuk memberikan yang terbaik ". Sahut sang dokter pria itu.
" Kalau begitu, kami permisi dulu tuan ". Pamit sang dokter.
Sang dokter pria dengan dua orang susternya itupun akhirnya keluar dari ruangan perawatan khusus itu.
Menyadari sang dokter dengan dua orang suster nya sudah keluar, si kecil Aida mendekati kasur ranjang daddy nya. Aida ingin menemani daddy nya yang masih terbaring lemah itu.
" Aida, mau kemana? ". Seru Firly.
" Aida mau naik ke kasulnya daddy, Aida mau tidul di samping daddy ". Seru Aida dengan tubuh mungilnya yang sudah hendak akan naik.
" Hati - hati non ". Seru bi Sari.
" Tunggu - tunggu - tunggu, biar uncle yang membantumu naik ". Tahan Firly.
Tak ingin Aida sembarangan naik dan sampai menimpa tubuh Andra, Firly pun mengangkat tubuh mungil Aida dan meletakkannya di samping kiri tubuh Andra.
" Daddy, cepat sembuh, Aida ingin main di taman dengan ditemani daddy ". Seru Aida.
Lalu gadis kecil itupun mulai membaringkan tubuh mungilnya di samping tubuh daddy nya. Aida memeluk tubuh besar Andra, meski tangan mungilnya itu tak sampai dengan penuh memeluk tubuh daddy nya.
Melihat Aida yang memeluk daddy nya seperti itu, membuat hati Firly menjadi teriris. Sangat nampak jelas jika dari sikap Aida menunjukkan jika Aida begitu tidak ingin kehilangan daddy nya.
" Cepatlah sembuh Dra, kasihan putrimu Aida ". Batin Firly dengan doa nya.
Belum sampai beberapa menit Aida menemani daddy nya tidur, gadis kecil itu mulai terjaga dari posisi berbaring nya.
" Ada apa non? ". Seru bi Sari.
Bukannya menyahuti seruan bi Sari, Aida malah memandang pada uncle Firly nya. Dari raut nya bisa Firly lihat jika Aida seperti menginginkan sesuatu.
" Ada apa Aida? ". Tanya Firly.
__ADS_1
" Uncle, uncle punya nomel nya bunda?, pasti punya kan?, mana handphone nya uncle, Aida mau telepon bunda ". Seru Aida pada uncle nya.
Ternyata ini yang membuat Aida menjadi terjaga.
" Kenapa tiba - tiba Aida ingin telefon bunda? ". Sahut Firly.
Bukannya melarang Aida untuk menghubungi Nadira, Firly malah balik bertanya. Firly juga tidak tahu mengapa dirinya malah balik bertanya.
" Ayolah uncle, Aida mau telepon bunda, Aida lindu bunda ". Seru Aida dengan tanpa bantahan.
" Baiklah - baiklah ". Pasrah Firly.
Firly tak ingin menahan Aida untuk tidak menghubungi Nadira, karena jika sampai itu terjadi yang ada hanyalah kegaduhan yang memenuhi ruangan ini.
" Ini, telefon lah bunda mu ". Ujar Firly dengan menyodorkan handphone pintarnya pada Aida.
Dengan sigap Aida pun langsung meraih handphone uncle nya itu seolah tak ingin kehilangan handphone itu saja.
" Aida - Aida, bahkan disaat sedih seperti ini, kamu masih mengingat bunda mu, kamu begitu menyayangi bunda mu itu, tapi sayangnya, karena ulah dari daddy mu sendiri, bunda mu malah menjadi jauh ". Batin Firly
Seolah sudah hafal dengan gadget, Aida pun langsung mengoperasikan handphone pintar milik uncle nya itu dengan begitu sangat fasih. Nampaknya Aida sudah sangat mengenali nomer handphone bunda nya.
*****
Hari sudah sangat sore, kafe yang menjadi tempatnya bekerja sudah tutup semenjak beberapa waktu yang lalu.
Sudah menjadi rutinitas bagi Nadira untuk membersihkan rumahnya sebelum malam datang menjelang.
" Dira - Dira ". Panggil Putri dari arah dalam.
" Itu, handphone mu bunyi, berhenti dulu nyapu nya, siapa tahu yang menelfon sangat penting ". Seru Putri.
Mengetahui hal itu, Nadira pun langsung berhenti dari kegiatan menyapu nya. Nadira langsung saja masuk untuk mengangkat panggilan itu.
" Siapa ya? ". Gumam Nadira.
Drtt... drtt... drtt...
" Kak Firly?, untuk apa melakukan panggilan video? ". Heran Nadira setelah mengetahui jika yang menghubungi nya itu berasal dari nomer handphone Firly.
Mau tidak mau Nadira pun akhirnya menerima panggilan video itu.
" Bunda ". Seru suara seorang gadis kecil yang muncul di layar handphone Nadira.
Deg...
" Bunda ". Seru Aida.
" Sayang, Aida ". Sahut Nadira.
" Bunda, Aida lindu bunda, kapan kita bisa beltemu lagi? , kenapa bunda lama sekali kuliahnya? ". Tanya Aida.
Perasaan haru dan rindu begitu memenuhi relung hati Nadira. Setelah sekian lama tak melihat wajah putri kecilnya, akhirnya Nadira bisa melihatnya lagi meski itu dalam sebuah tampilan layar handphone.
__ADS_1
" Bunda, Aida lindu bunda, Aida ingin main sama bunda, bunda datang ya ke sini, Aida sedang di lumah sakitnya daddy, daddy sakit bunda, daddy habis kecelakaan ".
Deg...
" Lihatlah bunda, ini daddy ". Lanjut Aida dengan memperlihatkan kondisi daddy nya yang lemah tak berdaya.
Deg... deg...
Bak mendapatkan hantaman yang begitu besar di dadanya. Seketika itu tubuh Nadira seolah menjadi membeku. Nadira tak berkedip kala menyaksikan tubuh Andra yang lemah tak berdaya dengan dipenuhi peralatan medis yang melekat di tubuhnya.
Nadira membekap mulutnya sendiri kala dirinya melihat Andra. Apa ini. Apa benar ini Andra. Andra mengalami kecelakaan dan sekarang sedang dirawat.
" M-mas Andra... ". Lirih Nadira dengan nada suaranya yang bergetar.
Hingga tanpa terasa, Nadira sudah menjatuhkan air matanya. Apa yang dilihat ini adalah benar. Andra, sosok yang begitu dingin dan juga kuat sudah tak berdaya.
Melihat kondisi Andra yang seperti ini, membuat hati Nadira menjadi hancur. Nadira merasa bersalah dengan apa yang dialami oleh Andra. Apakah nasib yang dialami oleh Andra adalah benar karena dirinya yang menjadi penyebabnya.
" Mas hiks... ". Serunya yang sudah mulai terisak.
" Bunda, bunda nangis?, ayo bunda datang sekalang ke lumah sakit, temani daddy dengan Aida di sini, bunda ke sini ya bunda ". Seru Aida.
Dengan gerakan cepat Nadira pun mulai mengusap lelehan air matanya yang terjatuh.
" Iya sayang, bunda akan datang ke sana, Aida tunggu bunda di sana ya ". Sahut Nadira.
" Asyiiikk... telima kasih bunda, ayo cepat bunda datang, Aida sudah tidak sabal lagi, cepat ke sini ya bunda ".
" Iya sayang, pasti nak, bunda akan ke sana, sekarang handphone nya dimatikan dulu ya, bunda sudah mau siap - siap ini ". Sahut Nadira.
" Iya bunda - iya bunda, Aida sayang sekali sama bunda ". Seru Aida.
Dan setelah kalimat terakhirnya itu, Aida pun benar mematikan handphone nya.
" Hiks hiks... hiks hiks... m-mas... ". Nadira kembali terisak.
" Mas hiks... hiks... hiks... ".
Kali ini Nadira benar - benar menangis dengan sejadi - jadinya.
Nadira sungguh merasa begitu hancur dan tidak kuat setelah mengetahui kondisi Andra. Padahal baru dua hari yang lalu dirinya terakhir kali bertemu. Dan pertemuan terakhirnya itu hanya menyisakan sebuah kehancuran antara dirinya dan juga Andra.
Jika benar Andra sampai mengalami kecelakaan adalah karena masalah yang terjadi, sungguh Nadira merasa dirinyalah yang patut untuk disalahkan.
Memang masalah yang terjadi bukan dirinya yang menjadi penyebab utamanya. Namun setelah mengetahui kondisi Andra yang seperti itu, sudah bisa dipastikan jika Andra mengalami kecelakaan ini akibat dari masalah yang sudah terjadi antara dirinya dan juga Andra sendiri.
" Aku harus ke rumah sakit sekarang ". Dengan cepat Nadira mengusap lelehan air matanya.
Tak ingin membuang - buang waktu lagi, Nadira pun akhirnya segera bersiap untuk pergi. Mungkin dirinya akan mengajak putri untuk datang ke rumah sakit.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€