
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Suasana alam terus menelisik memberikan sinyal - sinyal pada setiap insan yang telah mengarungi malam panjang yang membuat semuanya menjadi terlelap. Tak terkecuali sepasang insan yang saat ini masih terlelap akibat malam panjang yang telah keduanya lalui.
Akibat dari pergulatan panjang yang dilakukan semalam, membuat Andra dengan istrinya Nadira masih tak kunjung sadar dari tidur malam mereka, padahal di luar rumah sana lantunan suara adzan subuh telah banyak berkumandang.
Andra tidur dengan memeluk tubuh istrinya Nadira yang masih juga terlelap. Entah kapan keduanya akan segera tersadar dari tidur panjang mereka. Rupanya pergulatan panjang yang terjadi semalam telah membuat keduanya begitu sulit untuk terbangun, hingga pada akhirnya....
Tringgg... tringgg... tringgg...
Suara alarm pengingat waktu dari handphone milik Nadira sedang berbunyi. Handphone itu berbunyi seolah mengerti dan memberikan isyarat jika sang empu sudah selayaknya untuk bangun dari tidurnya.
Tringgg... tringgg... tringgg...
Alarm handphone itu masih terus berbunyi untuk membangunkan pemiliknya.
Tringgg... tringgg... tringgg...
Tringgg... tringgg... tringgg...
Hingga pada akhirnya suara itu telah berhasil mengusik gendang telinga Nadira. Dengan perlahan Nadira mulai tersadar dari tidurnya. Ternyata alarm handphone yang biasa dirinya aktifkan sudah membangunkan nya. Padahal baru saja dirinya terlelap, dan kini dirinya sudah dibangunkan oleh waktu pengingatnya. Mengapa alarmnya sudah berbunyi, apakah ini sudah masuk waktu subuh.
Nadira sudah benar - benar membuka kedua bola matanya. Saat dirasa, entah mengapa seperti ada sesuatu yang cukup berat yang menimpa perutnya seolah seperti ada sebuah lengan besar yang sedang mengikat perutnya.
Nadira sedikit menoleh ke arah samping tubuhnya, dan ternyata ada sosok Andra yang masih tidur terlelap dengan memeluk tubuhnya. Iya, Nadira baru teringat jika sekarang ini dirinya sudah menikah dan menjadi istri dari seorang Andra. Pantas saja ada seperti sebuah tangan besar yang melingkar di perutnya, ternyata memang suaminya Andra lah yang sedang memeluknya.
Namun sesaat tak lama dari ini, Nadira merasakan aneh pada tubuhnya. Nadira merasakan tubuhnya yang seolah remuk dan terasa linu - linu.
" Aduhhh... tubuhku... ". Rintih Nadira.
Tringgg... tringgg... tringgg...
Alarmnya pun telah kembali berbunyi. Nadira tak mampu mengambil handphone nya yang berada di atas meja, tubuhnya tak memiliki cukup banyak tenaga untuk meraih handphone nya itu.
Penasaran dengan waktu sekarang, Nadira pun mulai mengedarkan pandangan nya di kamar ini dengan harapan siapa tahu ada jam dinding di kamar suaminya ini, hingga pada akhirnya, Nadira pun benar - benar menemukan jam dinding itu.
Setelah Nadira perhatikan, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh yang artinya jika adzan subuh sudah berlalu.
Nadira cukup tersentak kaget setelah melihat waktu yang sekarang, ternyata adzan subuh sudah berlalu dan dirinya masih belum bersiap - siap untuk menunaikan kewajibannya.
" Mas, mas Andra bangun, ini sudah subuh, kita masih belum sholat mas ". Seru Nadira lembut dengan sedikit menekan - nekan lengan kekar Andra.
Sayang tak ada respon dari Andra, sepertinya Andra benar - benar kelelahan akibat dari pergulatan yang dilakukannya semalam.
" Mas, mas Andra, bangun, ini sudah subuh mas, kita masih belum sholat ". Seru Nadira lagi yang berusaha untuk membangunkan suaminya.
Nadira merasa kebingungan, bagaimana cara agar suaminya Andra bisa segera bangun, apalagi ini sudah pukul setengah lima subuh. Jika suaminya tak kunjung bangun, bukan tidak mungkin akan telat sholat subuh, karena biar bagaimanapun akibat dari penyatuannya tadi malam, harus membuat dirinya dan juga sang suami untuk melakukan mandi besar terlebih dahulu, dan pastinya hal itu akan memakan waktu yang lebih banyak.
" Mas, mas Andra bangun, ini sudah subuh mas, kita masih belum sholat, bangun ya ". Seru Nadira lagi.
Namun lagi - lagi tak ada respon dari suaminya Andra. Mengapa suaminya Andra begitu sangat sulit untuk dibangunkan. Mungkinkah karena pergulatan nya semalam. Tapi rasanya sedikit aneh, jika memang sulit untuk bangun dari tidur, seharusnya dirinyalah yang lebih merasakan hal itu, karena di sini dirinya yang sudah digempur habis - habisan.
Merasa sang suami sudah tak lagi bisa merespon untuk segera bangun, Nadira memutuskan untuk lebih baik bangun sendiri saja.
__ADS_1
Dengan perlahan, Nadira mulai menyentuh lengan kekar suaminya itu dan mencoba untuk menurunkannya dari perutnya.
Deg...
Sungguh terasa aneh, mengapa tangan suaminya malah menjadi semakin berat saja melingkar di perutnya.
" Ya Allah, mas Andra kenapa sih, kenapa berat seperti ini tangannya? ". Nadira tak menyerah untuk menurunkan lengan kekar suaminya itu.
Nadira mencoba untuk melepaskan rengkuhan lengan besar suaminya ini, namun sialnya semakin dirinya berusaha untuk melepaskan, semakin erat saja lengan kekar suaminya melingkar di perutnya.
Nadira merasa heran dengan suaminya, sebenarnya suaminya ini masih tidur atau bagaimana, mengapa tangannya menjadi mengunci tubuhnya seperti ini.
" Mas, mas Andra bangung, ayolah mas bangun, adzan subuh sudah tadi di kumandangkan, tapi kita masih belum sholat subuh mas ". Seru Nadira lagi, nampaknya Nadira sudah sedikit kesal dengan tingkah suaminya.
" Mas Andra ayo bangun, kita masih... ".
Cup... cup... cup...
Deg...
Andra pun langsung mencium bibir mungil istrinya itu dengan bertubi - tubi. Rupanya Andra sudah sadar dari tidurnya, atau mungkin memang sudah dari tadi Andra memang sadar dari tidurnya.
" Ih, mas Andra keterlaluan, dari tadi aku membangunkan mas Andra tapi mas malah tidak bangun - bangun juga, menyebalkan ". Gerutu Nadira.
" Hihihihi... kenapa kamu jadi cerewet seperti ini sayang?, apa karena semalam hum hum? ". Sahut Andra yang menggoda Nadira.
Nadira terdiam mendengarnya, rasanya Nadira menjadi merasa malu sendiri karena kegiatannya semalam.
" Sudahlah mas, aku mau mandi ". Kilah Nadira, lalu ia pun memcoba bangkit dari posisinya.
" Akhhh... ". Rintihnya.
" Aduh... sakit... ". Ringisnya dengan memegangi bagian sensitifnya.
" Sayang ". Seketika itu ada rasa bersalah dalam benak Andra saat, Andra merasa bersalah karena akibat dari ulahnya yang semalam membuat istrinya Nadira sampai seperti ini.
Iya, ini semua memang karena ulahnya, coba saja dirinya tidak melakukannya sampai dua ronde, sudah pasti istrinya Nadira tidak akan sakit seperti ini, apalagi kegiatan panas itu adalah untuk yang pertama kali bagi istrinya Nadira.
" Sayang, apa sangat sakit? ". Seru Andra lagi.
" Sudah mas tidak apa - apa, aku mau mandi, aku harus sholat mas ". Nadira tak memikirkan apa - apa lagi selain hanya sholatnya.
" Baiklah ". Putus Andra.
Dengan tanpa memikirkan apa - apa lagi, Andra pun mulai turun dari ranjang kasurnya. Andra turun dalam keadaan tubuhnya yang masih polos.
" Ayo sayang kita mandi bersama ". Dan Andra pun mulai membawa tubuh mungil istrinya itu ke dalam gendongannya.
" Mas, apa yang mas Andra lakukan? ".
" Ya ingin mandi lah sayang ". Sahut Andra.
Dalam keadaan tubuh keduanya yang sama - sama tanpa menggunakan sehelai benang pun, keduanya langsung menuju ke kamar mandi.
Entah memang Andra yang sudah lupa atau memang karena dalam keadaan menggendong istrinya, Andra tak membawa handuk ataupun kimono mandi mereka. Entah akan menggunakan apa keduanya nanti setelah usai dari aktivitas mandi mereka.
__ADS_1
*****
Sepasang kaki mungilnya sedang menulusuri ke hampir setiap sudut ruangan di rumahnya. Gadis kecil yang masih berumur empat setengah tahun itu sedang mencari sosok bunda nya.
Setelah tubuh mungilnya sudah sangat wangi karena sudah mandi dan berpenampilan rapi, membuat gadis kecil ini berinisiatif untuk mencari bunda nya.
Ia mencari bunda nya ke hampir seluruh sudut ruangan di rumah mewah ini namun sayangnya sosok yang dicarinya itu masih tak kunjung ditemukan.
" Huuh... bunda sebenalnya ada di mana sih, kenapa tidak ada di mana - mana, tidak mungkin kan ada di kamal daddy, ini kan sudah pagi, daddy biasanya sudah bangun, belalti bunda juga sudah bangun? ". Seru Aida.
Aida masih kebingungan mencari bunda nya, sudah hampir seluruh ruangan di rumahnya ini sudah dirinya telusuri, namun keberadaan bunda Nadira nya masih tak kunjung ditemukan.
" Tapi tunggu dulu, apa jangan - jangan daddy sama bunda masih belum kelual ya dali kamal, iya, benal sepeltinya begitu, wah daddy culang, daddy tidul sama bunda tidak ajak - ajak aku ". Si kecil Aida rupanya sudah menemukan akar permasalahannya.
Pantas saja dari tadi dirinya tidak menemukan keberadaan bunda nya, pasti bunda nya masih berada di kamar daddy nya.
" Huuh, awas saja daddy, pokoknya bunda halus tidul sama aku, halus tidul sama aku setiap hali ". Putus Aida pada akhirnya.
*****
Gedor... gedor... gedor...
" Daddy daddy buka pintunya ". Panggil Aida.
Gedor... gedor... gedor...
" Daddy daddy ayo cepat buka pintunya, pasti bunda ada di dalam kamal kan?, jangan sembunyikan bunda nya Aida daddy ". Aida sudah begitu tak sabar ingin segera melihat sang bunda tercintanya.
Sementara di dalam kamar sendiri, Andra yang mendengar suara gedoran pintu akibat dari perbuatan putrinya menjadi kebingungan sendiri.
" Mas, Aida memanggil - manggil kita di luar, buka saja pintunya mas, kasihan Aida ". Seru Nadira.
" Tapi sayang, kalau Aida sampai masuk bukan tidak mungkin jika Aida akan berulah, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu sayang ". Sahut Andra.
Iya benar, akibat dari perbuatannya tadi malam, istrinya Nadira sampai mengalami lecet yang cukup parah di bagian sensitifnya, akibatnya istrinya malah kesulitan untuk berjalan. Jangankan untuk berjalan, untuk berdiri saja istrinya Nadira sudah kesulitan.
Jika putri kecilnya Aida sampai masuk ke dalam kamarnya, bukan tidak mungkin jika putrinya itu akan berulah dengan mengajak istrinya Nadira untuk melakukan hal - hal yang tidak - tidak. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan.
Gedor... gedor... gedor...
" Daddy ayo buka pintunya daddy Aida mau masuk ". Seru Aida lagi dari balik pintu.
" Mas, bukalah pintunya mas, kasihan putri kita, biarkan dia masuk ". Seru Nadira lagi.
Andra menjadi semakin terdesak, jika tidak segera dibuka pasti baik putrinya Aida maupun istrinya sendiri tidak akan suka dengan hal ini, tapi bagaimana dengan kondisi istrinya yang saat ini masih sedang sakit.
" Mas, ayo buka pintunya, kasihan putri kita mas, biarkan Aida masuk, lagipula aku sangat merindukan putri kita itu ". Seru Nadira lagi.
" Tapi sayang kamu masih sakit ". Sahut Andra.
" Ya tidak apa - apa mas, lagipula aku sampai seperti ini kan juga gara - gara mas Andra ". Sahut Nadira lagi bahkan dengan sedikit mencebikkan bibirnya.
Andra sudah pasrah dengan keadaan ini, tidak ada cara lain selain harus menuruti keinginan putrinya dan juga istrinya. Semoga saja putri kecilnya itu tak membuat ulah.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€