Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Jagalah Nadira


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Malam sudah begitu larut, semua tamu undangan berangsur-angsur telah pergi meninggalkan area pesta ulang tahun putri Andra, anak - anak yatim dan piatu sudah semenjak sore hari tadi telah kembali pulang ke panti asuhan mereka, kini dalam keluarga Andra hanya menyisakan keluarga kecilnya dan juga kedua sahabatnya Firly dan juga Putri.


Si kecil Alvin telah beristirahat di kamarnya dengan ditemani oleh sang nenek Lusi, sementara si kecil Aida si gadis kecil pemilik pesta ini, baru - baru ini yang terlelap di gendongan daddy nya.


Nadira menghampiri sang suami yang nampaknya sudah akan menidurkan putri kecil mereka.


" Mas, Aida sudah tidur, sana letakkan dulu di kamar ". Seru Nadira setelah menyentuh punggung mungil putri kecilnya.


" Sayang kamu mau kemana, ini apa? ". Bukannya menjawab pertanyaan istrinya Andra malah balik bertanya.


" Biasa mas, aku mau titipkan kue sama obat oles ini ke Putri, katanya nyeri di lutut ibu kambuh lagi ". Sahut Nadira.


Andra baru memahaminya sekarang, pantas saja bu Dewi tidak turut hadir di pesta, ternyata kondisi kesehatannya lah yang tak memungkinkan wanita yang sudah berumur itu untuk datang ke pesta ini.


" Dira ". Seru Putri.


" Hei Dra ". Seru Firly dengan gayanya yang khas.


Baru saja Putri ingin dihampiri, ternyata dia sendiri yang datang menghampiri Nadira.


" Dir, aku dan mas Firly sudah mau pulang, ini sudah malam ". Ujar Putri.


" Ya sudah aku titip ini untuk ibu Put, ini ada kue sama obat oles, ini ". Sahut Nadira dengan menyodorkan bungkusan kue dan juga obat oles.


" Ya ampun Dir, di rumah juga ada obat oles nya, jadi kamu tidak perlu titip ini, biar kuenya saja yang aku bawa ". Sahut Putri.


" Sudahlah Put bawa saja biar ibu tidak perlu beli obat oles lagi, ini cepat ambillah ".


Dan Putri pun menurut saja dengan keinginan sahabatnya, lagipula keinginan sahabatnya ini adalah hal yang baik.


" Terima kasih ya Dir, kamu memang selalu perhatian sama ibu ". Dengan senang hati Putri pun akhirnya menerima pemberian dari sahabat terbaiknya ini.

__ADS_1


" Ya sudah Dra, Dira, kita mau pulang dulu, ini sudah sangat malam ". Seru Firly.


" Buru - buru sekali kamu Fir, kamu tidak sedang merencanakan sesuatu kan pada Putri? ". Rupanya Andra sedang membuat suasana agar terpancing.


" Dasar kamu Dra, memangnya aku ingin merencanakan apa?, jangan coba - coba buat masalah kamu Dra ". Kesal Firly.


" Aku kan hanya bertanya, siapa tahu apa yang ku tanyakan benar terjadi, otakmu kan kadang suka belok Fir ".


" Dasar kamu Dra, kamu sengaja ingin membuat pacarku salah paham ya?, dasar teman durhaka kamu Dra ". Sungguh Firly merasa sangat jengkel dengan tingkah sahabatnya ini, bisa - bisanya sahabatnya ini membuat suasana menjadi keruh.


" Mas, mas Andra ini suka sekali ya jahil sama kak Firly, jangan begitu mas itu tidak baik tahu ". Nadira hanya tak ingin jika suaminya Andra sampai membuat kesalahpahaman dengan hubungan sahabatnya.


" Iya ini suami mu Dir, suka sekali mancing - mancing, ya sudahlah ini sudah sangat malam, aku dan my baby harus pulang sekarang, ayo baby kita pulang ". Putus Firly pada akhirnya.


" Ya sudah Dira, tuan Andra, kami pulang dulu ". Pamit Putri.


Dan akhirnya sepasang kekasih itupun benar mulai melangkah pergi dari sana. Beruntung Nadira segera mengakhiri drama antara sang suami dan juga sahabatnya, jika tidak sudah pasti sepasang kekasih itu masih tetap di sini.


" Ayo sayang kita masuk ke kamar, jangan lama - lama berdiri, kasihan anakku yang sedang di perutmu itu ". Andra mencoba merangkul istrinya.


" Sudahlah sayang, ini sudah malam, Alvin dan neneknya pasti sudah tidur, besok saja kalau ingin melihat Alvin, sudah menurut saja padaku ".


Andra tak ingin adanya penolakan, ini sudah sangat larut malam, sangat tidak baik jika istrinya Nadira yang dalam keadaan mengandung masih harus terjaga di waktu selarut ini.


Nadira hanya bisa pasrah, jika sudah seperti ini artinya suaminya tak memberikan toleransi apapun lagi dengan alasan yang diinginkannya, padahal dirinya begitu sangat ingin melihat putra kecilnya itu.


Ini memang sudah sangat larut malam, lebih baik dirinya tidur saja agar esok harinya bisa kembali bangun dengan tubuhnya yang lebih segar.


*****


Sinar sang mentari begitu terpancar dengan sangat terangnya bahkan hingga berhasil menyalib tembok tinggi kediaman Andra.


Usai sarapan bersama di pagi hari, kini keluarga Andra menikmati kebersamaan mereka di sebuah taman kecil yang ada di belakang rumahnya.


Dengan ditemani oleh Lusi sang mantan mama mertua dari istrinya, Andra duduk santai di sebuah kursi kayu panjang. Sang daddy yang tak lama lagi akan memiliki dua orang anak itu begitu sangat fokusnya memperhatikan putri kecilnya yang sedang bermain sepeda, mungkin karena putrinya itu ditemani oleh saudara barunya membuat Andra merasa sangat tak biasa dengan ini.

__ADS_1


" Nak Andra ". Seru Lusi.


" Iya tante ". Sahut Andra dengan singkat.


" Apa kamu sangat khawatir dengan putrimu nak, tante perhatikan kamu seperti sangat khawatir ". Mungkin kalimat Lusi ini sedikit menyinggung.


Andra hanya sedikit tersenyum saja mendengar kalimat sindiran yang terdengar halus itu.


" Tenanglah nak, putri mu Aida akan baik - baik saja, Alvin adalah anak yang baik, dia tidak mungkin sampai mencelakai Aida ". Ujar Lusi agar Andra tak merasa khawatir.


Sebenarnya berada sedekat ini dengan mantan mama mertua dari istrinya membuat Andra merasa tak enak hati sendiri, namun karena putri kecilnya sedang bermain dengan Alvin membuat Andra merasa begitu enggan untuk pergi dari tempat ini.


" Andra nak, apa kamu sangat mencintai Dira? ". Tanya Lusi.


Sontak saja pertanyaan Lusi inipun membuat Andra sedikit tersentak, apa maksudnya dari wanita yang sudah berumur ini menanyakan tentang cintanya pada Nadira, apakah dia tak bisa melihat bagaimana tulusnya cintanya pada Nadira.


" Tentu saja saya mencintai Dira, bahkan saya sangat mencintainya, Dira adalah wanita terbaik yang hadir dalam hidup saya, jadi tak perlu ditanyakan lagi bagaimana saya mencintainya ". Sahut Andra dengan nadanya yang terdengar datar.


" Baguslah nak jika kamu memang sangat mencintai Dira, ibu sangat bersyukur dan bahagia mendengarnya ".


" Dira memang wanita yang baik nak, dia berhak untuk mendapatkan cinta dan kebahagiaan, jagalah Dira nak, jagalah Nadira ".


" Jika diingat - ingat, selama di kampung, Dira hampir tak pernah mendapatkan kebahagiaan, hanya cacian dan perlakuan yang begitu tak pantas lah yang selalu Dira dapatkan dari keluarnya sendiri ".


" Dari kecil dia hanya selalu diperalat oleh keluarganya sendiri... ".


" Cukup... cukup... jangan dilanjutkan, saya tidak mau mendengar apapun lagi tentang penderitaan istri saya, jadi lebih baik tante diam saja, karena saya sudah tahu semuanya ". Andra sudah merasa tak tahan jika harus mendengar lebih banyak lagi akan masa lalu istrinya, meski dirinya tak pernah melihatnya secara langsung akan apa yang dialami oleh wanita yang sangat dicintainya itu, mendengar kisahnya saja sudah membuat hati Andra begitu sangat terluka, dan Andra tak ingin mendengar hal itu lagi.


" Ini masih sangat pagi, jika tante masih mau di taman ini, ya silakan saja, saya ingin menemui istri saya ".


Lantas seusai mengucapkan kalimat terakhirnya itu, Andra pun beranjak dari posisinya. Mungkinkah Andra merasa sangat tersinggung dengan ucapan Lusi sehingga ia memutuskan untuk pergi.


Bersambung.........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


❀❀❀❀❀


__ADS_2