
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Ehem... ehem... ". Firly pura - pura terbatuk.
Mendengar nada dari batuknya Firly membuat perasaan Andra semakin tak nyaman bahkan semakin khawatir.
Mengapa Firly terbatuk seperti itu, tidak salah lagi, pasti sudah ada sesuatu hal yang sudah Firly rencanakan, dan itu pasti akan sangat merugikan diri Andra.
" Aida, Aida benar ingin tahu kuda nya? ". Tanya Firly namun anehnya tatapan matanya malah menatap nakal pada Andra.
" Iya uncle, tentu Aida ingin tahu, kalau tidak untuk apa Aida beltanya dali tadi, Aida kesal dengan kuda itu, kuda nya nakal sudah membuat bunda nya Aida sakit sepelti ini ". Sahut Aida.
" Sebenarnya jawaban dari pertanyaan Aida ada pada daddy Aida sendiri, coba Aida tanyakan pada daddy, pasti daddy bisa menjawabnya ". Sahut Firly.
" Hihihihi... rasakan kamu Andra ". Batin Firly yang tertawa cekikikan.
Andra menatap nyalang pada Firly. Sudah dirinya duga, pasti Firly ingin membuat dirinya berada di situasi terjepit seperti ini. Sahabatnya ini memang suka sekali usil pada dirinya.
" Daddy, kenapa daddy diam?, jadi daddy tahu di mana kuda nya?, ayo, antal Aida pada kuda nya, Aida mau menghukumnya daddy ". Kekesalan Aida semakin bertambah saja.
Tubuh Andra malah menjadi panas dingin. Semakin lama keadaan di sekelilingnya semakin menyeramkan saja.
Jika dirinya mengaku sebagai kuda nya, sudah pasti putri kecilnya ini akan bertindak sangat keras padanya, atau bahkan mungkin putrinya ini akan memisahkan dirinya dari istrinya Nadira. Tidak - tidak, ini tidak boleh terjadi.
Sungguh Andra merasa sangat bingung dengan keadaan ini, entah mengapa mendadak otak cerdasnya tak mampu mengeluarkan ide yang dapat mengelabuhi putri kecilnya ini.
" Ayo daddy mana kuda nya, belaninya dia menyakiti bunda, lihat saja Aida akan suluh pak Maman untuk sembelih kuda nya bial kuda nya mati telus dagingnya dibuat sate ".
" Hahahaha... ". Firly pun tertawa dengan begitu kencangnya.
Begitupun tak jauh berbeda dengan dokter Budi dan juga Putri. Meski mereka tak tertawa kencang seperti Firly, namun mereka tetap tersenyum lebar karena kelucuan ini. Iya, lucu karena Aida sudah membuat ancaman akan menyembelih kuda nya dan membuat daging kuda itu menjadi sate, padahal kuda itu tak lain adalah daddy nya sendiri.
" Hahahaha... benar Aida, sembelih saja kuda nya biar mati, kan kalau kuda nya mati tidak akan bisa main kuda - kudaan lagi hahahaha... ". Firly begitu sangat bahagia karena bisa menjahili sahabatnya sendiri.
Awalnya Andra memang merasa mentalnya menjadi menciut karena khawatir akan menjadi bulan - bulanan bagi putrinya sendiri, namun sekarang dirinya malah kesal karena menjadi bahan olokan. Ini semua terjadi karena ulah sahabatnya yang tidak tahu diri itu.
" Kamu senang sekali ya Fir?, lihat saja kalau kamu dan Putri sudah menikah nanti akan ku buat malam pertama kalian gagal ". Batin Andra yang sudah merasa begitu geram.
__ADS_1
" Ayo daddy, daddy dali tadi kenapa diam telus sih, mana kuda nya, jangan sembunyikan kuda nya daddy, ayo mana kuda nya daddy? "
Bahkan Aida sudah tak bisa membendung amarahnya lagi karena dirinya tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
" Kuda nya, kuda nya anu sayang, kuda nya lari, iya lari, kuda nya sudah lari, sudah pergi dari rumah ini ". Sahut Andra pada akhirnya.
" Aduh daddy ini bagaimana sih, kenapa kuda nya dibialkan lali?, kan Aida mau menghukumnya daddy ". Sudah tak bisa dibayangkan bagaimana kesalnya Aida karena kuda yang diincarnya telah melarikan diri.
Semua orang dibuat menggeleng tak percaya dengan drama antara sang putri dengan daddy nya ini. Ternyata Andra masih memiliki ide untuk menjawab pertanyaan Aida.
Dokter Budi sendiri yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia dari keluarga kecil tuannya ini masih sedikit terheran. Dokter Budi tak menyangka jika sosok tuan Andra yang begitu dingin bahkan ketika menginginkan sesuatu sering menunjukkan sikap garangnya terlihat seperti kehilangan nyalinya kala putri kecilnya menekannya habis - habisan. Ini benar tidak terlihat seperti tuan Andra pada biasanya.
Riuhnya suasana kamar ini tentu saja mengusik indera pendengaran Nadira. Mungkin sudah semenjak tadi Nadira merasakan ini, namun dirinya masih memilih untuk diam, hingga pada akhirnya...
" Sayang ". Seru suaranya yang terdengar begitu lirih.
" Bunda, bunda sudah sadal? ". Seketika itu wajah si kecil Aida langsung berbinar karena bunda nya sudah sadar.
" Sayang, Dira, kamu sudah sadar sayang ". Dengan lembut Andra pun mengelus kening istrinya.
" Sudah dari tadi mas, kalian berisik sekali ". Sahutnya dengan tersenyum.
Andra menghujani wajah cantik istrinya ini dengan ciumannya. Setelah cukup lama istrinya Nadira tidur, akhirnya istrinya ini sudah membuka matanya juga.
Andra tak menyadari jika istrinya Nadira sudah tersadar dari tidurnya. Mungkin karena dari tadi dirinya terfokus dengan masalah kuda - kudaan.
" Bunda, Aida khawatil sama bunda yang sakit, ini semua kalna kuda nya yang nakal itu, awas saja kalau Aida ketemu sama kuda nya, akan Aida hukum dia ". Keluhnya yang ternyata masih tak terima akan perbuatan kuda liar yang menyebabkan bunda nya jatuh sakit.
" Akhirnya kamu buka mata juga Dira, untung Aida nyaring bicaranya, kalau tidak, mungkin kamu nya masih tidur ". Ujar Putri.
Jujur Nadira merasa sangat malu mendengarnya. Pasti sahabatnya sudah mengetahui akan penyebab mengapa dirinya bisa sampai jatuh sakit seperti ini.
" Baiklah tuan Andra, karena nona sudah sadar, sepertinya saya sudah harus pamit ". Seru dokter Budi setelah cukup lama diam.
" Ini ada vitamin untuk nona, dan ini juga ada resep obat yang harus tuan beli di apotik ". Dengan sopan dokter Budi pun menyerahkan vitamin dan juga resep obat itu.
" Kalau begitu saya pamit dulu untuk kembali bertugas tuan nona ". Putus dokter Budi.
Dokter Budi tak ingin berlama - lama di rumah tuan Andra nya karena dirinya masih harus bertugas di rumah sakit milik tuannya.
__ADS_1
" Kamu dengar sendiri kan Dra dengan apa yang dikatakan oleh dokter Budi?, kamu harus bisa puasa dulu, jangan minta jatah terus, kasihan istrimu Dira ". Tutur Firly yang ikut menambahkan kalimat dokter Budi.
Iya itu benar, Nadira memang harus banyak beristirahat selama beberapa hari ke depan ini. Andra sudah sangat menyadari hal ini. Harus bagaimana lagi, mau tidak mau dirinya harus kembali berpuasa dari jatah malamnya.
" Bunda, bunda kan belum salapan, mau Aida suapi untuk salapan? ". Seru Aida yang mencoba menawarkan dirinya.
Aida ingin benar - benar bisa memperhatikan bunda nya.
" Terima kasih putri bunda yang cantik, sarapannya nanti saja dulu ya, bunda masih belum lapar sayang ". Sahut Nadira.
" Tapi sayang yang dikatakan putri kita benar, kamu harus sarapan dulu, biar aku menyuruh bi Sari untuk mengantarkan sarapan mu ke sini dulu ya ". Imbuh Andra.
Nadira hanya bisa pasrah, ya sudahlah lebih baik dirinya mengikuti saja keinginan suami dan juga putrinya.
" Andra aku ikut ". Ujar Firly lalu ia pun mengikuti langkah Andra yang akan segera menuju ke dapur.
Kini, di ruangan kamar ini hanya menyisakan Nadira dengan putri kecilnya dan juga Putri.
" Put, di kampus bagaimana?, untuk anak semester satu masih belum ada kegiatan apa - apa kan?, misalnya seperti adanya seminar atau kegiatan bakti sosial begitu? ". Tanya Nadira.
Bukan tanpa sebab Nadira menanyakan hal ini, pasalnya sudah hampir satu minggu ini Nadira tidak masuk kuliah semenjak hampir mendekati hari pernikahannya.
" Yang aku tahu tidak ada kegiatan apa - apa Dir selain hanya pemberian mata kuliah seperti biasanya ". Sahut Putri.
" Syukurlah kalau seperti itu ". Nadira merasa cukup lega mendengarnya.
Nadira masih belum tahu saja tentang gosip yang sedang bermunculan di kampusnya. Entah dari mana semua mahasiswa bisa mengetahui tentang pernikahannya dengan Andra, yang pasti saat ini situasi di kampusnya sedang tidak baik jika menyangkut soal Nadira. Itulah mengapa Putri tak menjawabnya.
Sebenarnya keadaan di kampus tempat Nadira kuliah sedang tidak baik, terlebih tiga wanita yang selalu mencari masalah dengan Nadira selalu saja berusaha mencari kekurangannya.
Nadira dianggap telah memanfaatkan statusnya sebagai pasangan Andra. Apalagi Nadira bisa masuk ke kampus yang cukup populer itu karena mendapatkan beasiswa, namun sayangnya Nadira kurang profesional dalam kuliah, dan karena alasan itulah Nadira dianggap sebagai orang yang telah memanfaatkan situasi karena statusnya.
" Maafkan aku Dir, mungkin setelah kamu kembali masuk kuliah, kamu akan kembali di bully, bahkan mungkin yang ini akan lebih parah dari sebelumnya ". Batin Putri.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1