
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Waktu memang berjalan begitu cepat, padahal rasanya baru tadi waktu pagi menjelang, dan sekarang sudah malam saja, sebentar pagi, sebentar lagi sudah malam dan begitu seterusnya.
Semakin bertambahnya tahun, entah mengapa malah membuat waktu berjalan terasa semakin cepat, entah apakah semua orang juga menyadari akan hal itu.
" Mas, aku mau menemui Alvin dulu ya, aku ingin memastikan apakah Alvin sudah tidur atau belum ". Seru Nadira setelah wanita hamil itu keluar dari kamar mandi.
" Bunda, bunda mau ke Alvin?, jangan lama - lama ya bunda, Aida kan sendilian di sini ". Sahut Aida, padahal daddy nya ada di kamarnya.
" Iya sayang, bunda tidak akan lama kok, bunda hanya ingin memastikan apakah saudara mu Alvin sudah tidur atau belum ". Sahut Nadira.
" Mas, aku ke kamar Alvin dulu ya ". Nadira meminta izin lagi karena suaminya masih belum menyahut nya.
" Jangan lama - lama ". Sahut Andra singkat, bahkan pria itu sama sekali tak menoleh pada istrinya.
Melihat bagaimana tanggapan suaminya Andra, hanya bisa membuat Nadira menghela nafasnya. Nampaknya suaminya Andra merasa begitu sangat berat jika harus membiarkan dirinya keluar dari kamar, padahal ini kan hanya sebentar, dirinya hanya ingin menjenguk putranya, apalagi besok siang putranya Alvin sudah akan kembali ke kampung, dan tentu hal ini membuat Nadira sebagai seorang ibu tak ingin menyia - siakan kebersamaan dengan putranya yang tak lama lagi akan segera usai.
" Ya sudah mas, aku ke kamar Alvin dulu ya ". Sahut Nadira pada akhirnya.
Nadira melangkah menuju ke pintu keluar, dan Andra memperhatikan istrinya itu.
*****
Sepasang kaki jenjangnya yang tertutup daster dengan motif bunga - bunga ia langkahkan untuk menuju ke kamar di mana putranya berada.
Ceklek...
Hingga pada akhirnya, ia pun membuka pintu kamar itu.
" Sayang, Alvin, kamu masih belum tidur nak? ".
" Bunda ".
Ternyata Alvin masih belum tidur, bocah kecil itu sedang duduk di atas kasur dengan ditemani oleh sang nenek. Alvin sedang menonton tayangan kartun kesukaannya.
" Syukurlah kamu datang nak, tadi Alvin tanya - tanya kamu ". Ujar Lusi.
Nadira mendekati putranya, sangat terlihat jelas dari raut wajah putranya itu jika ia sedang menantikan kehadirannya.
" Sayang ".
" Bunda ".
__ADS_1
" Alvin kenapa belum tidur, Alvin menunggu bunda? ". Tanya Nadira lembut dengan mengelus kepala putranya.
" Iya, Alpin nundu bunda, Alpin inin lihat bunda sebelum tidul ". Sahut Alvin.
" Jadi Alvin mau tidur dengan ditemani bunda? ".
" Ummm... tidak juga bunda, Alpin hanya mau lihat bunda sebelum tidul, itu saja ". Terang Alvin.
Sebenarnya yang dikatakan bundanya benar, dirinya ingin tidur dengan ditemani oleh bundanya, namun Alvin sangat sadar diri jika itu sama sekali tidak mungkin.
Bundanya harus mengantar tidur Aida, jika bundanya lama berada di sini, sudah pasti akan ada masalah, atau mungkin Aida akan protes padanya.
" Ya sudah ayo Alvin berbaring, ini sudah malam ".
Alvin mengangguk, bocah kecil itu mulai membaringkan tubuh mungilnya. Meski dirinya tak akan memejamkan mata dengan ditemani oleh bundanya, setidaknya dirinya masih bisa melihat bundanya sebelum tidur.
Cup... cup...
" Ayo tidurlah sayang ". Seru Nadira lembut.
" Alpin belum nantuk bunda, sana bunda tembali te tamal bunda, Alpin mau lebahan dulu ".
Alvin memang masih belum mengantuk, dirinya ingin melihat wajah bundanya hanya sebagai memori yang akan tersimpan di otaknya sebelum dirinya meraih mimpi malamnya.
" Bunda heran dengan kamu sayang, katanya kamu menantikan bunda, tapi kenapa bunda malah disuruh kembali ke kamar? ". Jujur Nadira merasa bingung dengan sikap putranya.
" Alvin, ada apa sayang? ". Tanya Nadira lagi.
" Alvin apa kamu dengar dengan yang ditanyakan oleh bunda Dira mu? ". Kali ini sang nenek Lusi lah yang bertanya.
" Emm... emm... sebenalnya... Alpin masih inin ninap di sini bunda, Alpin inin lebih lama sama bunda ". Akui Alvin pada akhirnya.
Merasa sangat miris, itulah yang Nadira rasakan. Mengapa putranya terlihat takut seperti ini. Bukankah jika ingin menginap lagi putranya hanya cukup mengatakannya saja. Apakah putranya merasa tertekan tinggal di rumah ini, atau mungkin...
Nadira tak ingin larut dalam pikirannya tentang hal yang tidak - tidak.
" Alvin ingin lebih lama tinggal di rumah ini?, iya begitu? ". Tanya Nadira yang masih ingin memastikan.
" Emm... iya bunda ". Sahut Alvin.
" Ya sudah nak, kalau Alvin memang ingin menginap lagi ya boleh sayang ". Sahut Nadira.
" Tapi bunda... ". Alvin tak jadi melanjutkan kalimatnya.
" Tapi apa, apanya yang tapi sayang?, katakan saja nak ". Sahut Nadira, sangat jelas jika putranya sedang menutupi sesuatu, ingin mengatakan tapi merasa enggan.
__ADS_1
" Sudahlah Dira, jangan ditanya lagi nak, kalau Alvin ingin menginap di rumah ini lagi rasanya itu tidak mungkin nak, apalagi dalam waktu dekat ". Ujar Lusi yang memotong pembicaraan mereka.
" Kenapa ma?, kenapa tidak mungkin? ". Heran Nadira.
" Alvin tidak mungkin menambah hari untuk menginap di rumah ini lagi nak karena bundanya Alvin sebentar lagi akan segera melahirkan, Alvin harus menyambut kelahiran adiknya ". Jelas Lusi.
Benar, bundanya Alvin tak lama lagi akan segera melahirkan, kemungkinan tinggal hitungan hari lagi istri dari Dani akan segera melahirkan.
Merasa sangat sedih, itulah yang Alvin rasakan. Ternyata besok dirinya memang akan benar - benar pergi dari rumah ini, padahal dirinya hanya ingin menambah satu malam hari saja menginap di rumah ini. Kapan lagi dirinya bisa memiliki waktu bersama bundanya jika bukan waktu sekarang.
Alvin hanya bisa diam dengan perasaannya yang teramat sedih. Lagi, kekecewaan ini harus kembali dirinya telan. Keadaan memang tak seperti dulu lagi, bunda Nadira nya memang sudah bukan miliknya lagi, dan dirinya memang harus bisa menerima kenyataan ini, kenyataan jika bunda Nadira nya memang sudah jauh darinya.
" Tapi sepertinya anakku ingin menginap di sini ma, Alvin ingin menginap di sini lebih lama lagi kan sayang? ". Tanya Nadira.
Nadira merasa jika putranya memang masih ingin menambah masa menginap nya, iya itu benar, karena itu yang dikatakan putranya.
" Iya kan sayang?, tidak apa - apa kalau Alvin ingin lebih lama menginap di sini, menambah satu atau dua hari lagi menginap di sini juga tidak apa - apa ". Jelas Nadira.
" Benaltah itu bunda?, tapi... emm tapi bagaimana sama daddy nya Aida, apa daddy nya Aida atan suta talo Alpin ninap lagi di sini? ".
Deg...
Sungguh Nadira sangat terkejut bukan main. Apakah dirinya tak salah mendengar. Jadi putranya Alvin merasa cemas, Alvin masih merasa cemas jika harus menginap di sini lebih lama. Apakah suaminya Andra sudah melakukan sesuatu hingga membuat anak sekecil Alvin harus merasa tak enak hati seperti ini. Jadi inilah alasan yang menjadi kebimbangan Alvin, seorang anak kecil yang seharusnya tak boleh sampai kepikiran seperti ini.
" Emm tidak jadi bunda, Alpin dak jadi nambah ninap di sini, besok Alpin sudah mau pulan ". Buru - buru Alvin mengatakan hal itu.
Nadira tak menyahut, dirinya sudah mengerti dengan alasan yang sebenarnya, pasti putranya ini merasa tak enak hati pada suaminya. Kasihan sekali putranya, di masanya yang masih begitu sangat kecil, sudah banyak dirundung masalah.
" Sayang, bunda sangat menyayangi mu nak ". Lantas Nadira ikut berbaring di samping putranya dan memeluk hangat tubuh mungil itu.
Sungguh Nadira merasa tak kuasa menahan gejolak kesedihan di hatinya. Ingin sekali rasanya dirinya menangis dan mengatakan untuk tetap harus kuat pada putranya, namun dirinya tak mungkin melakukan hal itu, karena jika sampai hal itu terjadi, sudah pasti putranya Alvin akan sangat merasa sedih. Lebih baik dirinya memeluk putranya seperti ini, karena besok putranya sudah akan pergi meninggalkan nya.
Semua yang telah terjadi di ruangan kamar ini, tanpa mereka sadari, ternyata tak lepas dari perhatian seorang pria yang sedang mengintip di balik pintu kamar ini.
Andra telah melihat dan mendengar semuanya. Semuanya sudah dirinya dengar dengan jelas. Setelah mengetahui semuanya, apalagi mengetahui bagaimana aduan Alvin pada istrinya Nadira, membuatnya merasa ada rasa bersalah.
Andra merasa bersalah, mungkinkah sikapnya terlalu keterlaluan sehingga membuat seorang anak sekecil Alvin sampai merasa tak enak hati padanya. Bukankah Alvin hanya seorang anak kecil yang masih belum mengerti akan isyarat dari orang dewasa.
Jika anak sekecil Alvin sampai tak enak hati seperti ini padanya, kemungkinan itu artinya dirinya sudah sangat keterlaluan.
Merasa bersalah, bahkan merasa sangat bersalah, itulah yang Andra rasakan. Iya, tak seharusnya dirinya bersikap tak ramah pada Alvin, apalagi Alvin adalah anak dari istrinya. Nadira saja istrinya bisa menerima Aida sebagai putrinya sendiri, lantas mengapa dirinya tak bisa menerima Alvin sebagai putranya.
Dan tanpa dirinya sadari, secara tak langsung, dirinya telah menyakiti hati istrinya. Dengan sedihnya Alvin, telah membuat hati istrinya Nadira juga turut bersedih.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€