
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dalam keadaan menahan api amarah di dalam hatinya, Andra kembali membawa istrinya Nadira masuk ke kampus.
Setelah mendapat kabar dari salah seorang mahasiswi jika istrinya telah mendapatkan penghinaan di kampusnya sendiri membuat aliran darah di tubuhnya langsung mendidih. Andra sangat tak terima jika istri yang sangat dicintainya ini mendapatkan penghinaan dari mahasiswinya sendiri.
Dengan menggendong putri kecilnya, pria blasteran itu menggandeng tangan istrinya untuk menuju ke ruangan kantor.
Semua orang memperhatikan mereka, apalagi setelah melihat raut tuan Andra yang jelas sangat tak bersahabat membuat mereka jadi takut sendiri. Nampaknya setelah ini akan terjadi huru hara lagi.
Tinggal beberapa meter lagi Andra bersama keluarga kecilnya akan sampai di ruang kantor, dan dalam perjalanan inilah Putri secara tak sengaja berpapasan dengan mereka.
" Dira, Dira masuk kampus. " gumam Putri yang cukup heran.
Putri tak tahu jika sahabatnya Nadira hari ini akan masuk kampus.
" Diraaa... " panggil Putri.
Nadira menoleh mendengar panggilan itu, Nadira hanya tersenyum saja melihat Putri.
" Ada apa dengan mereka?. " heran Putri.
Putri masih tak tahu akan kejadian di pagi tadi sebelum dirinya datang ke kampus. Jika saja Putri datang lebih awal, sudah pasti ia akan melawan Riska, Yanti, dan juga Tina yang suka menghina Nadira.
Tinggal beberapa langkah lagi mereka akan tiba di ruangan kantor, hingga pada akhirnya keluarga kecil itu benar melewati pintu kantor, namun pada saat mereka melewati pintu itu, tak sengaja mereka bertemu dengan Adit sang ketua BEM yang tak lama lagi akan segera selesai dari masa jabatannya.
" Selamat pagi tuan, nona. " sapa sang rektor, dekan serta beberapa dosen yang lainnya yang memang sudah menunggu di ruangan ini.
Nadira hanya tersenyum saja mendengar sapaan dari para petinggi di kampusnya, ini adalah pertama kalinya dirinya disapa dengan begitu sangat terhormat oleh mereka, rasanya begitu tak enak jika diperlakukan sangat terhormat seperti ini oleh dosen - dosennya sendiri, karena seharusnya dirinyalah yang menghormati mereka.
Adit yang memang hendak keluar dari ruangan ini menjadi termangu dengan masih memperhatikan Nadira, lebih tepatnya Adit sangat tertegun setelah melihat perut Nadira yang sudah terlihat besar. Adit masih sangat tak percaya jika Nadira benar mengandung anak dari tuan Andra.
" Kamu benar mengandung anaknya, kamu memang sudah jadi miliknya Dira. " batin Adit.
Merasa sedih dan kecewa, sudah pasti tak lepas dari yang dirasakan oleh Adit saat ini. Tak bisa dipungkiri jika hingga detik ini perasaannya pada Nadira masihlah belum usai, meski sudah berbulan - bulan lamanya tak pernah melihat Nadira lagi, bukan berarti perasaannya ini hilang begitu saja.
__ADS_1
Namun kenyataan ini memang benar adanya. Nadira sudah menjadi milik pria lain, sangat tak pantas rasanya jika dirinya masih memiliki perasaan seperti ini pada wanita yang sudah bersuami.
" Sudahlah Dit, Dira sudah menjadi milik orang lain, jadi lupakan dia. " batin Adit yang berusaha menguatkan hatinya sendiri.
Tak ingin hatinya menjadi semakin lara karena melihat kebersamaan Nadira bersama dengan suaminya, akhirnya Adit pun memilih untuk melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan ini.
*****
" Ini mereka. " ujar salah seorang security yang telah berhasil membawa Riska, Yanti dan juga Tina ke hadapan Andra.
Andra menatap tajam pada ketiga wanita yang tak tahu diri ini. Semua informasi sudah dirinya dapatkan, ternyata mereka bertiga memang sangat suka menghina istrinya Nadira, bahkan sudah semenjak dari dulu mereka sering melakukannya, dan nahasnya dirinya baru mengetahuinya sekarang.
" Kalian, apa yang sudah kalian lakukan pada istriku hah?, cepat kalian bersimpuh dan minta maaf pada istriku! " teriak Andra yang langsung berdiri dari posisinya.
Kali ini Andra benar menunjukkan kemarahannya, teriakan Andra yang begitu lantang hingga keluar, membuat semua mahasiswa yang berada di luaran kantor jadi sangat terkejut, akibatnya mereka malah berlarian dan mendekati pintu kantor.
" Tuan, apa salah kami?, kenapa kami harus meminta maaf pada dia?. " sahut Riska yang ternyata masih kurang mengerti atau pura - pura tak mengerti.
" Dia katamu?, kamu tidak sopan ya, yang kamu sebut dia adalah istriku, kampus ini adalah milikku, maka kampus ini milik istriku juga, Nadira, istriku adalah nyonya di kampus ini. " marah Andra.
Suasana di ruangan kantor ini benar menjadi sangat menegangkan, sang rektor nampaknya tak boleh tinggal diam agar masalah ini jadi tak terlalu besar.
" Riska, Yanti, Tina, cepatlah kalian meminta maaf, kalian sudah bersalah karena sudah menghina nona Nadira, ayo minta maaflah. " seru sang dosen bu Sofie yang pada akhirnya juga ikut bersuara.
Namun Riska dengan kedua temannya nampaknya begitu sangat enggan untuk meminta maaf.
" Jadi kalian masih tidak mau meminta maaf?, baiklah, aku tidak mau tahu, aku mau hari ini mereka bertiga dikeluarkan dari kampus ini. " tegas Andra.
Deg...
" Tuan, baik tuan saya akan minta maaf tuan. " seru Yanti.
" Iya tuan, saya juga akan minta maaf, tapi saya mohon jangan keluarkan saya dari kampus ini tuan. " mohon Tina.
" Sayangnya permintaan maaf kalian sudah terlambat, aku ingin mereka bertiga dikeluarkan dari kampus ini. " tegas Andra.
" Tuan - tuan, tolong jangan tuan, jangan lakukan ini, kami masih ingin kuliah tuan. "
__ADS_1
Dan benar saja, mereka bertiga benar bersimpuh di hadapan Nadira dan juga Andra.
" Dira, tolong maafkan aku, aku janji aku tidak akan mengulangi perbuatanku lagi, maafkan aku Dira. " seru Riska yang pada akhirnya benar bersimpuh dan meminta maaf.
" Iya Dira, aku juga minta maaf. "
Nadira tak menyukai hal ini, dirinya tak suka jika ada orang yang memohon - mohon padanya hingga bersimpuh seperti ini.
" Kalian, kalian jangan seperti ini, ayo berdirilah. " sahut Nadira.
Nadira merasa tak tega jika harus melihat mereka seperti orang yang tak berharga seperti ini.
" Sudahlah sayang, kamu jangan terlalu bermurah hati pada mereka karena mereka memang tak pantas diberi hati, ayo, lebih baik kita pulang saja. " kali ini Andra benar tak akan memberikan kesempatan apapun lagi.
" Dira - Dira aku mohon, maafkan kami Dira, kami tidak ingin keluar dari kampus ini. " kali ini Tina sampai menarik tangan Nadira.
" Kalian, kalian jangan seperti ini, ayo berdirilah. " sungguh Nadira merasa tak tega melihat nasib mereka.
" Kami akan berdiri jika kamu sudah memaafkan kami Dira, katakan pada suamimu tuan Andra jika kami tidak ingin keluar dari kampus ini. " sahut Tina yang benar memelas.
Sungguh miris nasib mereka bertiga, tadi mereka dengan begitu beraninya menghina dan mempermalukan Nadira, dan sekarang mereka bertiga malah mengemis - ngemis untuk mendapatkan maaf dari Nadira dan membujuknya.
Sang rektor, dekan, serta semua dosen yang ada di ruangan ini tak bisa berbuat apa - apa, mereka tak memiliki cukup kuasa untuk untuk membantu ketiga mahasiswinya.
" Dira, aku minta maaf Dira, aku janji setelah ini aku tidak akan mengulangi perbuatan ku lagi, tapi aku mohon, jangan keluarkan aku dari kampus ini. " mohon Riska lagi bahkan kali ini terlihat bersungguh-sungguh.
" Baiklah, aku sudah memaafkan kalian, sekarang kalian berdirilah. "
" Tidak bisa, kenapa kamu masih mempedulikan mereka sayang, ayo, lebih baik kita pulang saja, biarkan mereka menerima akibat dari perbuatan mereka sendiri. " putus Andra pada akhirnya.
Andra sudah begitu sangat marah, tak ada kata maaf untuk mereka yang sudah menghina dan menyakiti istrinya. Seharusnya semenjak awal disaat dirinya menyuruh untuk meminta maaf, mereka bertiga harusnya benar meminta maaf, tapi kenyataannya malah lain, mereka bertiga nampak ogah - ogahan untuk meminta maaf, maka bukan salah dirinya jika sudah tak bisa memberikan kesempatan untuk mereka lagi.
" Ayo sayang kita pulang sekarang. " lantas Andra langsung meraih tubuh mungil putrinya dan membawanya pada gendongannya.
Andra membawa anak dan istrinya dari ruangan ini, seharusnya dirinya tak perlu membawa istrinya ke ruangan ini, seharusnya dirinya langsung mengeluarkan saja mereka bertiga dari kampus ini karena sudah berani menghina istrinya.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€