
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sepasang kaki mungilnya melangkah dengan begitu gesit seolah seperti tak ingin tertinggal saja, padahal ini masih di dalam rumahnya, dan aktivitas apapun hanya akan dilakukan di dalam rumahnya.
Mungkin karena keinginannya yang ingin memakan sesuatu, gadis kecil yang tak lama lagi akan genap berusia lima tahun ini sedang mencari bibi asuhnya.
" Bi Sali - bi Sali ". Seru si kecil Aida dengan memanggil - manggil bibi asuhnya.
Padahal usianya sudah hampir lima tahun namun lidahnya masih saja cadel, alhasil suaranya pun masih terdengar blepotan ketika berbicara.
" Bi Sali - bi Saliii... ". Serunya lantang ketika sudah memasuki dapur.
" Aduuuh ya Tuhan non, ada apa sih?, bibi ada di sini nona Aida yang cantik ". Sahut bi Sari yang tak habis pikir dan merasa gemas dengan tingkah nona kecilnya.
" Hehehehe... maafkan Aida ya bibi, Aida kan memang suka teliak - teliak kalau sama bi Sali, kalau tidak teliak lasanya tidak selu hehehehe... ". Sahut Aida dengan cengengesan.
" Iya - iya, memangnya ada apa sih non, nona Aida ada perlu sesuatu sama bi Sali eh maksud bibi ada perlu sama bi Sari? ".
" Iyalah bi Sali, tentu ada pellu, hali ini Aida mau makan puding coklat, tolong buatkan ya bibi, buatnya halus yang lezaaat ". Jelas Aida bahkan dengan sedikit mengeluarkan lidahnya.
" Oh oke, siap non, akan bibi lakukan ". Sahut bi Sari siap.
" Bagus sekali, bi Sali memang selalu bisa diandalkan ".
Dengan gayanya yang khas, si kecil Aida mendekati bibi asuhnya itu dan menarik tangan bibinya hingga membuat tubuh sang bibi jadi menunduk.
Cup... cup...
" Telima kasih bi Sali ".
Dan seusai memberikan ciuman manisnya di kedua pipi bibi asuhnya itu si kecil Aida langsung berlari melenggang pergi begitu saja.
Bi Sari merasa begitu sangat bahagia kala nona kecilnya memperlakukannya dengan begitu sayang. Selalu saja ada tingkah nona kecilnya itu yang membuat hatinya merasa senang.
" Sehat selalu kamu ya non, bibi sangat bahagia kalau melihat non selalu sehat dan ceria ". Gumam bi Sari dengan penuh rasa harunya.
*****
Sementara di dalam kamar, sepasang suami istri yang sedang menikmati waktu bersama ini sepertinya sedang bermanja-manjaan, lebih tepatnya sang suami lah yang ingin memanjakan istrinya.
Dengan perlahan dan penuh ketelatenan Andra memijati bahu istrinya, padahal istrinya tidak sedang dalam keadaan pegal - pegal, akan tetapi Andra memiliki inisiatif untuk melakukannya.
Sebenarnya Nadira sendiri sudah merasa begitu jengah dengan tingkah suaminya, entah harus bagaimana lagi dirinya menerima tingkah suaminya ini.
Menjadi wanita hamil yang seharusnya bisa bergerak meski hanya sesekali, namun kondisinya saat ini begitu sangat memperihatinkan, dirinya malah tak bisa bergerak semaunya lantaran sang suami yang terus melarangnya.
" Mas sudah ya mas pijatnya, memangnya tangan mas Andra apa tidak lelah yang memijat terus? ". Seru Nadira.
" Lelah apanya sih sayang, baru lima menitan aku memijat mu, dan aku sudah merasa lelah?, tentu tidak lah sayang ". Sahut Andra.
Bukan jawaban ini yang ingin Nadira dengar, Nadira yang bertanya apakah suaminya merasa lelah karena memijat itu semua hanyalah isyarat agar suaminya bisa menyudahi pijatan nya ini, namun apalah daya, ternyata suaminya Andra tak memahaminya, lebih tepatnya suaminya kurang peka dengan apa yang diinginkannya.
" Mas ".
__ADS_1
" Huum... ada apa sayang, apa pijatan ku kurang enak? ". Sahut Andra.
" Tidak bukan itu, hanya saja aku merasa heran saja dengan mas Andra ". Sahut Nadira.
Tak terima karena dianggap heran, Andra pun melepaskan pijatan nya itu.
" Maksudmu apa sayang?, kamu heran denganku?, memangnya apa yang sudah aku lakukan sampai kamu merasa heran? ".
Nadira menghela nafasnya, entah memang suaminya yang tak mengerti dengan sikapnya sendiri atau suaminya hanya berpura-pura tak mengerti.
" Iya aku merasa heran mas, jika diingat - ingat sikap mas Andra begitu sangat protective setelah tahu aku mengandung ".
" Dan itu sangat tidak biasa, mas Andra sebenarnya ada apa sih mas, kenapa jadi sangat protective seperti ini?, sepertinya suami - suami yang lain yang istrinya hamil juga sikapnya tidak sampai seperti mas Andra ". Sahut Nadira dengan segala penuturannya.
Memang benar penilaian istrinya, ternyata dirinya begitu sangat protective pada istrinya. Mungkinkah ini terjadi karena sebab masa lalu yang pernah dialaminya sehingga dirinya begitu tak ingin jika masa lalu itu sampai terulang kembali.
" Mas, mas Andra kenapa?, kok jadi diam?, ya sudah tidak apa - apa, ummm... mas, nanti malam kita keluar ke restoran ya mas ".
Dengan sedikit malu - malu Nadira mengutarakan apa yang diinginkannya.
" Kenapa harus malam hari sayang?, kamu ngidam sesuatu?, jika iya, ya sudah kita berangkat sekarang ke resto ". Sahut Andra.
Andra mengerti jika istrinya ini pasti sedang menginginkan sesuatu, karena istrinya ini tipe wanita yang jarang keluar rumah, sehingga tidak sulit untuk menebak keinginan istrinya ketika berkeinginan untuk keluar.
" Memangnya boleh mas kalau kita pergi sekarang ke resto? ". Tanya Nadira.
" Ya bolehlah sayang, kan untuk baby kita, memangnya kamu ingin makan apa sih sayang? ". Sahut Andra.
" Ummm aku ingin makan ayam goreng mas, tapi yang utuh, yang lengkap dengan kepalanya ".
Istrinya Nadira ingin memakan ayam yang utuh lengkap dengan kepalanya, ini benar-benar ngidam yang mengerikan, apa jadinya jika dirinya harus melihat istrinya makan ayam yang lengkap dengan kepalanya.
Ya, Nadira masih tak mengetahui jika suaminya Andra sangat tak suka jika melihat orang makan daging ayam lengkap dengan kepalanya, entah dari mana asalnya yang pasti Andra memiliki ketakutan tersendiri kala harus melihat masakan daging ayam yang dicampur dengan potongan kepala ayamnya atau daging ayam yang masih utuh dengan kepalanya.
" Ada apa mas Andra?, kenapa wajah mas seperti berubah begitu? ". Nadira merasa heran dengan perubahan raut wajah suaminya.
" Tidak ada sayang ". Dengan cepat Andra pun menggeleng. Andra tak ingin jika istrinya Nadira sampai mengetahui jika dirinya tak menyukai dengan cara istrinya yang mengidam.
" Bagaimana, jadi tidak mas berangkat sekarang? ".
" I-iya jadi sayang ". Pasrah nya.
Andra sudah pasrah dengan keinginan istrinya, toh ini juga demi kebaikan buah hatinya juga.
" Jika bukan karena kamu baby, daddy tidak akan mau untuk menuruti permintaan bunda mu, anak daddy ini aneh - aneh saja, ngidam, tapi ngidamnya yang membuat daddy mu ngeri ". Batin Andra yang mencoba berbicara pada anaknya yang masih di dalam rahim istrinya.
*****
Keluarga kecil itu kini telah tiba di salah satu restoran ternama yang ada di ibu kota. Restoran ini bukanlah Restoran miliknya. Karena sang istri tak ingin makan di restoran miliknya, akhirnya pilihan pun jatuh pada restoran mewah yang lainnya.
Dengan membawa dua bidadari cantiknya, Andra mulai memasuki restoran itu. Memilih tempat duduk yang sedikit ada dipojokan rasanya akan terasa lebih baik.
" Sayang, kita duduk di pojokan sana ya ". Serunya pada sang istri.
" Iya sudah mas terserah mas Andra saja ". Sahut Nadira.
__ADS_1
Hingga akhirnya keluarga kecil Andra itupun benar memilih untuk duduk di tempat itu.
Andra meletakkan putri kecilnya Aida di tengah-tengah istrinya dan juga dirinya, putrinya ini nampak begitu tenang, sepertinya suasana hati putri kecilnya ini sedang dalam keadaan sejuk sehingga tak ada tingkahnya yang biasanya cenderung ada drama.
" Putri daddy mau pesan apa?, biar daddy yang pesan kan ". Tanya Andra pada sang putri.
" Aida mau steak daddy, steak yang dali daging ayam, telus minumnya jus jeluk ". Sahut Aida lengkap.
Andra tak menanyakan apa yang diinginkan oleh sang istri, karena yang diinginkan oleh istrinya dari awal sudah jelas.
" Permisi tuan, nona, ada yang ingin di pesan? ". Seru suara seorang pelayan pria yang baru saja mendekati meja Andra.
" Aku ingin memesan... ".
Deg...
Dan betapa terkejutnya Andra setelah melihat sosok pria yang sedang menjadi pelayan ini.
" Uncle Daniel, kok uncle di sini, tidak di lumah sakit? ". Aida tak menyangka jika dirinya akan melihat uncle Daniel nya di restoran ini, bahkan uncle nya ini tak menggunakan baju dinas kedokteran.
Namun pria yang berprofesi sebagai pelayan restoran yang tak lain adalah Daniel ini hanya bisa memberikan senyumannya pada putri dari temannya.
" Bagaimana tuan nona, adakah yang ingin tuan dan nona pesan? ".
Daniel bersikap seolah diantara mereka tidak saling mengenal bahkan Daniel tetap bersikap ramah meski dirinya dan juga Andra sudah pernah berkonflik.
" Uncle Daniel, kok uncle begitu sih?, apa iya uncle tidak mengenal Aida?, ini Aida uncle ". Seru Aida bahkan dengan menunjuk dirinya sendiri.
Aida merasa sangat heran dengan sosok pria yang ada di depannya, jelas - jelas pria dewasa ini adalah teman dari daddy nya, dan teman daddy nya ini malah bersikap seolah seperti tak mengenalnya.
" Baiklah kalau begitu aku pesan ini, ini dan ini, minumannya sama jus jeruk ". Sahut Andra dengan cepat - cepat.
" Baiklah tuan, jika begitu kami akan segera menyiapkannya ". Sahut Daniel.
Dan seusai mengucapkan kalimatnya itu, Daniel pun berlalu pergi dari area meja Andra sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya untuk menuju dapur.
" Daddy, yang balusan itu uncle Daniel kan?, tapi kenapa tidak kenal Aida ya?, dan uncle Daniel juga tidak pakai baju lumah sakit ". Seru Aida yang masih pada kebingungan nya.
Andra tak menyahuti seruan putrinya, pikirannya saat ini begitu sangat kalut setelah apa yang dilihatnya. Andra masih tak menyangka dengan keadaan Daniel yang sekarang, benar - benar berubah seratus delapan puluh derajat.
Setelah sekian bulan lamanya, dirinya dipertemukan dengan pria yang pernah menjadi teman baiknya. Jujur sebenarnya Andra merasa begitu sangat miris dengan keadaan Daniel yang sekarang.
Nadira yang melihat diamnya suaminya tak bisa berbuat apa - apa, pasti suaminya ini begitu sangat terkejut setelah mengetahui keadaan temannya.
Jika diingat bagaimana penampilan dokter Daniel tadi, jujur sebenarnya membuat hati Nadira merasa sangat miris.
Dokter Daniel yang biasanya selalu berpenampilan begitu sangat berwibawa dengan pakaian khas kedokteran nya, kini malah berpenampilan menjadi seorang pelayan.
Memang tak ada yang salah dengan menjadi seorang pelayan, hanya saja dengan keadaan dokter Daniel yang tak lagi sama seperti yang dulu benar-benar terlihat begitu sangat memperihatinkan.
" Semoga setelah mengetahui keadaan dokter Daniel yang sekarang, pikiran dan hatimu bisa berubah mas ". Batin Nadira.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€