
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dengan perasaannya yang merasa begitu kesal, Andra melangkahkan sepasang kaki jenjang nan kokohnya itu untuk menuju ke arah sumber suara yang begitu mengusiknya, ia begitu sangat merasa penasaran dan jengkel akan siapakah wanita yang sudah dengan begitu lancang memanggilnya seperti ini di rumahnya sendiri.
Melangkah dengan tergesa - gesa itulah yang Andra lakukan.
Sementara si kecil Aida yang masih bersama bunda nya begitu sangat penasaran, Aida merasa jika dirinya juga harus melihat siapakah orang yang telah memanggil daddy nya itu.
" Bunda, ayo susul daddy, Aida penasalan siapa yang sudah panggil - panggil daddy ". Seru Aida pada bunda nya.
Nadira yang merasa tidak keberatan dengan permintaan putrinya rasanya tak mengapa jika menuruti permintaannya.
" Baiklah sayang, ayo, kita susul daddy mu ". Sahut Nadira yang akhirnya menyetujuinya.
Dan sepasang bunda dengan putri kecilnya itupun juga melangkah bersama menuju ke sana.
" Andra... kamu di mana?, aku datang ". Seru wanita itu dengan terus mengedarkan pandangannya agar bisa menemukan sosok Andra.
" Andra... aku datang... kenapa kamu tidak kelu... ". Seketika itu ucapan dari sosok wanita yang telah memanggil - manggil nama Andra menjadi terhenti.
Andra yang telah sampai dan berhadapan secara langsung dengan sosok wanita yang ingin dia temui menjadi sangat tertegun.
Andra begitu tertegun kala wanita yang sudah sekitar tiga tahunan tidak pernah dirinya lihat, kini malah berdiri dengan begitu nyata di depan kedua bola mata birunya.
" Andra... ". Pekiknya.
Dan wanita itupun langsung berhambur memeluk tubuh kekar Andra.
" Andra aku sangat merindukanmu ". Seru wanita itu yang memeluk tubuh kekar Andra dengan begitu eratnya.
Deg...
Tanpa Andra sadari kekasihnya Nadira dan juga putri kecilnya Aida telah melihat dirinya yang sedang dipeluk.
" Andra aku merindukanmu, sangat merindukanmu ". Seru wanita itu yang sama sekali belum ada niat untuk melepaskan pelukannya dari tubuh tinggi nan kekar Andra.
" Celine, apa yang kamu lakukan, lepaskan pelukanmu ". Sahut Andra dengan berusaha melepaskan dari Celine.
Ya, wanita yang saat ini memeluk Andra adalah Celine Anastasya, seorang teman lama yang selama ini memiliki perasaan yang lebih dari sekedar teman.
__ADS_1
" Celine, lepaskan, apa yang kamu lakukan? ". Seru Andra lagi yang berusaha untuk melepaskan pelukan Celine yang begitu sangat erat.
" Hey... siapa kamu, kenapa kamu peluk - peluk daddy nya Aida? ". Sentak si kecil Aida tiba - tiba dari belakang tubuh Andra.
Sontak suara lantang dari Aida itupun membuat Andra begitu sangat terkejut, apalagi Celine sehingga dirinya langsung reflek melepaskan pelukannya dari tubuh Andra.
Andra langsung menolehkan tubuhnya ke arah belakang.
Deg...
Dan betapa terkejutnya Andra saat setelah menoleh, Andra sangat terkejut kala dirinya telah melihat kekasihnya Nadira yang tengah berdiri mematung dengan tatapannya yang masih mengarah padanya.
" Sayang ". Seru Andra lirih.
Tak ingin sang kekasih salah paham dengan apa yang dilihatnya, dengan sigap Andra pun mendekatinya.
" Sayang, ini tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa menjelaskan semuanya ". Seru Andra yang merasa begitu sangat khawatir.
Andra khawatir jika Nadira sampai memiliki kesimpulan negatif dari apa yang dilakukan Celine padanya.
Andra tidak ingin sebuah kesalahan yang berpotensi dapat merusak hubungannya dengan Nadira sampai terulang kembali, masih belum lama hubungannya dengan Nadira bersemi, namun sebuah hal yang tak terduga malah terjadi, di mana Nadira sendiri telah menyaksikan dirinya yang dipeluk oleh Celine.
" Sayang ". Seru Andra lagi lalu pria yang memiliki ciri khas bola mata biru itupun merangkul tubuh mungil Nadira dan membawanya ke dalam dekapannya.
Celine yang yang menyaksikan bagaimana perlakuan Andra pada sosok wanita yang saat ini sedang di peluknya, begitu sangat tertegun sekaligus begitu sangat tak menyangka.
Apakah dirinya tidak salah melihat dan mendengar, apa yang Anda panggil, sayang?... apa maksudnya Andra mengucapkan sebutan itu.
" Andra, kenapa kamu mengabaikan ku, aku sudah datang ke sini tapi kamu malah mengabaikan ku ". Seru Celine dan kali ini nada suaranya dibuat dengan sedikit manja.
Tak ingin menyia - nyiakan pertemuannya dengan Andra, Celine pun berinisiatif untuk mendekatinya.
" Hey, aunty mau kemana?, aunty tidak boleh mendekati daddy nya Aida, tidak boleh ". Tahan si kecil Aida bahkan dengan menyilangkan kedua lengan mungilnya membentuk huruf X sebagai tanda larangan.
" Sayang, Aida cantik, apa kamu tidak ingat dengan aunty? ". Sahut Celine.
Celine yang awalnya ingin kembali mendekati Andra kini malah beralih dengan mendekati si kecil Aida.
" Tidak, Aida tidak kenal aunty ". Sahut si kecil Aida dengan begitu tegas.
Namun meski mengatakan hal seperti itu, sebenarnya Aida masih merasa bingung, Aida merasa bingung dari manakah aunty yang ada di depannya ini mengetahui namanya.
__ADS_1
" Aida, ternyata ada sudah mulai besar ya, Aida cantik sekali ". Seru Celine setelah ia berada di dekat Aida.
" Dali mana aunty tahu nama Aida, kan kita masih belum kenal ". Sahut Aida bahkan kedua bola mata birunya terlihat nampak menelisik.
" Ya ampun, gadis kecil ini benar - benar mirip Andra, suka sekali menelisik orang ". Batin Celine.
" Aida lupa dengan aunty ya, tidak apa - apa, wajar sih jika Aida tidak mengenali aunty, aunty ini temannya daddy nya Aida, dulu kita sering bermain ". Sahut Celine yang menuturkan.
" Belmain?, belamain apa?, memangnya kapan kita pelnah belmain, aunty jangan ngaku - ngaku ". Sahut Aida, ia menolak dengan apa yang dinyatakan oleh Celine.
" Ya Tuhan, dia benar - benar mirip Andra, garang ". Batin Celine lagi yang terus berbicara.
" Begini Aida yang cantik, wajar saja jika Aida tidak mengenali aunty, karena pada saat kita sering bermain dulu Aida nya masih kecil, waktu itu Aida masih bayi, masih berumur satu tahun, wajar saja kalau Aida tidak mengingat aunty ". Tutur Celine dengan segala penjelasannya.
Tak ada sahutan dari Aida, gadis kecil itu menjadi terdiam kala Celine menceritakan tentang itu, namun bukan Aida namanya jika apa yang membuat dirinya begitu penasaran masih belum terjawab kepastiannya.
Dan Aida pun menoleh pada daddy nya seolah meminta kejelasan apakah yang dikatakan sosok aunty yang ada di depannya ini memanglah benar adanya, Andra yang mengerti akan tingkah putrinya itupun memberikan anggukan sebagai jawabannya.
" Tuh kan sayang, yang aunty katakan benar kan?, kita ini sudah saling mengenal ". Sahut Celine yang kembali membenarkan.
" Kalau begitu, aunty boleh dong memeluk Aida ". Lanjut Celine lagi yang ternyata ingin memeluk Aida.
Aida nampak mempertimbangkan keinginan Celine, sepertinya tidak bermasalah juga jika Celine memeluknya.
" Baik, aunty boleh peluk Aida, tapi jangan lama - lama ". Sahut Aida yang pada akhirnya menyetujuinya juga.
" Oh, terima kasih sayangnya aunty yang cantik ". Dan Celine pun langsung memeluk tubuh mungil putri kecil Andra.
Celina memeluk tubuh mungil Aida dengan begitu erat, namun Aida tak memberikan balasan pelukan yang sama seperti yang Celine lakukan.
Nadira yang menyaksikan bagaimana Celine memeluk putri kecilnya Aida, merasa jika saat ini hatinya sedikit merasa begitu terusik.
Perasaan terusik, terusik karena merasa jika putrinya bisa saja menjauh darinya karena kedekatan wanita yang bernama Celine ini dengan Aida.
Nadira sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa memiliki perasaan seperti ini, bukankah itu artinya sebuah pertanda baik jika putrinya Aida bisa menerima Celine.
Menyadari akan perasaan dan pikirannya yang mulai tak tentu arah, dengan segera Nadira pun mulai membuang rasa terusik itu, Nadira tidak ingin jika hal yang sebenarnya tidak perlu dirinya khawatirkan malah menjadi hal yang tak berguna dan meracuni hati dan pikirannya sendiri, tidak, Nadira tidak menginginkan hal semacam itu.
" Sudah - sudah Dira, buanglah pikiran negatifmu, kan bagus jika putrimu bisa dekat dengan teman lamanya ". Batin Nadira yang berusaha menepis pemikiran negatifnya.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
β€β€β€β€β€