
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Samar - samar masih terdengar adanya riuhan - riuhan kecil pengunjung kafe yang terdengar hingga ke ruang tamu. Disaat - saat pagi seperti ini memang sudah menjadi hal yang biasa banyak pengunjung yang datang. Apalagi tujuannya jika bukan untuk mengganjal perut mereka dengan sarapan di kafe.
Hari ini adalah hari libur kuliah bagi Nadira, yang menandakan jika di hari ini adalah hari di mana dirinya bekerja, namun sayangnya Nadira tidak bekerja di kafe, ia lebih memilih untuk membersihkan rumah saja, dan pekerjaan ini hanya dirinya lakukan di pagi hari saja.
Entahlah, semenjak kejadian di mana awal permasalahan antara hubungannya dengan Andra muncul, membuat Nadira tak begitu banyak beraktivitas. Namun Nadira memang lebih cenderung menghabiskan waktunya untuk belajar.
Sudah seminggu ini waktu telah berlalu, namun hingga detik ini, tak ada satupun kabar dari Andra yang ia beritahu pada Nadira, bahkan Andra pun juga tak mengantarnya lagi ke kampus.
Namun Nadira sama sekali tak mempermasalahkan hal itu. Siapalah dirinya yang bisa mengharapkan seorang Andra agar bisa peduli padanya. Nadira tak mengharapkan hal itu lagi.
Entah bagaimana nasib hubungannya dengan Andra, semuanya sudah menjadi semu. Yang bisa dirinya lakukan saat ini adalah bagaimana agar dirinya bisa mempertahankan beasiswa nya hingga lulus kuliah, bahkan mungkin dirinya harus berjuang lebih keras lagi agar mendapatkan beasiswa untuk pendidikan S2 nya, ya, seperti itu yang mungkin bisa dirinya lakukan.
Apakah saat ini dirinya masih sedih, tentu saja dirinya sedih, apalagi selama satu minggu ini telah diabaikan oleh kekasihnya, diabaikan?... atau mungkin kekasihnya Andra sudah mulai melupakannya.
Namun ya sudahlah, mungkin seperti ini nasib hubungannya dengan Andra. Entah saat ini apa yang sedang dilakukan oleh Andra. Apakah ia sudah merasa bersalah karena sudah membentak dan memarahinya, atau mungkin ia begitu sangat sangat sibuk mengurusi wanita yang sudah divonis penyakit kanker itu.
" Dira ". Seru Putri.
Nadira pun langsung menoleh ke arah sang sahabat, nampaknya Putri sedang membawa sesuatu dari dapur kafe.
" Ini, aku bawa pisang goreng coklat, lumayan lah bisa dijadikan cemilan di pagi hari ". Tutur Putri, lalu gadis muda itupun meletakkan makanan yang di wadah piring itu di atas meja.
" Terima kasih Put, ini kamu sendiri yang membuatnya? ". Sahut Nadira.
" Iyalah, memangnya siapa lagi? ". Sahut Putri dengan sedikit mencebikkan bibirnya.
Nadira pun menjadi tersenyum melihat tingkah Putri, pasti Putri mengira jika dirinya telah meragukannya, padahal hal itu tidak mungkin, karena Putri sendiri memang cukup pintar memasak.
" Bagaimana, enak kan? ". Tanya Putri kala Nadira telah berhasil mengigit dan mengunyah sepotong pisang goreng coklat buatannya itu.
" Emmm, enak ". Sahut Nadira dengan sambil lalu mengunyah.
Kedua gadis itu menikmati cemilan mereka, cemilan sederhana yang mungkin bisa dibuat oleh siapapun, namun cemilan ini sudah terasa begitu enak di lidah mereka.
Nadira dengan Putri sudah menikmati cemilannya itu hingga menyisakan separuhnya. Merasa sudah cukup puas, Nadira pun akhirnya berhenti untuk memakan cemilan itu lagi.
" Dira? ". Seru Putri.
" Iya ". Sahut Nadira.
" Sudah satu minggu ini tuan Andra tidak datang ke sini lagi, bahkan juga tidak mengantar dan menjemputmu dari kuliah, ya aku tahu tuan Andra memang sibuk dengan pekerjaannya, tapi ya aneh saja jika seorang tuan Andra sampai selama ini tidak pernah mengantarmu lagi? ". Tanya Putri.
Wajar saja jika Putri menanyakan hal ini, pasalnya sudah cukup lama dirinya tidak melihat tuan Andra untuk menjemput sahabatnya, dan ini tidak biasa tuan Andra lakukan.
" Dir, apa kamu ada masalah dengan tuan Andra? ". Tebak Putri.
__ADS_1
" Masalah apa sih Put, jangan yang aneh - aneh deh ". Elak Nadira dengan segera.
" Ya bukan apa - apa Dir, ya maaf kalau pertanyaan ku ini aneh, aku bertanya seperti ini karena aku khawatir saja jika kamu ada masalah dengan tuan Andra. Apalagi kamu, siapa sih yang tidak tahu kamu, kamu kan orangnya suka menutupi masalah ". Sahut Putri.
Ya, memang seperti itulah yang Putri tahu, sahabatnya ini memang cenderung lebih suka menutupi masalahnya, dan hal inilah yang terkadang membuat Putri merasa begitu khawatir, khawatir jika Nadira memang benar memiliki masalah dengan tuan Andra namun ia tak mau mengatakan nya.
Dan itu memang benar, Nadira memang telah menyembunyikan masalahnya dengan Andra, bukan karena Nadira tak mau berbagi keluh kesah yang ada di hatinya pada sahabatnya, hanya saja Nadira tidak ingin jika sahabat dan ibunya ini menjadi ikut memikirkan masalahnya. Sudah cukup selama ini sahabat dan juga ibunya telah membantunya, dan Nadira tidak ingin menjadi beban untuk mereka.
" Dir, kamu masih belum menjawab pertanyaan ku, benar ya jika tuan Andra masih sibuk bekerja sehingga dia tidak pernah datang untuk menjemput mu lagi? ". Tanya Putri.
" Iya, itu benar, mas Andra saat ini sedang banyak mengurus pekerjaan ". Sahut Nadira.
Ya memang seperti itulah jawaban yang selalu Nadira berikan, memangnya jawaban seperti apa lagi yang cukup masuk akal untuk diberikan jika bukan jawaban seperti itu.
Entah sudah berapa banyak kata bohong yang harus dirinya lontarkan. Bukan keinginannya untuk berbohong seperti ini, namun Nadira tidak menemukan jalan lagi, Nadira hanya tidak ingin menjadi beban untuk semuanya.
" Dira - Dira ". Panggil bu Dewi dengan berjalan mendekati Nadira dan juga Putri.
" Iya bu ada apa?, ibu butuh bantuan di kafe? ". Sahut Nadira.
" Tidak nak bukan itu... itu, di depan teras sana, ada seorang ibu - ibu dan cucunya, katanya mau bertemu kamu nak ". Sahut bu Dewi.
" Dir, kamu punya tamu, kamu punya teman ibu - ibu di sini Dir? ". Timpal Putri.
" Tidak... aku tidak tahu Put, ibu - ibu siapa? ". Sahut Nadira.
" Ya sudah kalau begitu temui saja dulu mereka nak, siapa tahu penting, kasihan, ibu itu datang dengan cucunya ". Seru bu Dewi.
" Baiklah bu, Dira akan menemui mereka ". Sahut Nadira pada akhirnya.
Tak ingin membuat kedua tamu itu lama menunggu, Nadira pun mulai bergegas untuk menemui mereka di teras depan rumahnya.
" Bu, siapa ya tamunya Dira, kok Dira bisa tidak tahu? ". Seru Putri pada ibunya.
" Ibu juga tidak tahu nak, ya sudahlah, kita tanyakan saja nanti pada Dira, siapa tahu di sini Dira punya kenalan tapi dia sendiri lupa ". Sahut bu Dewi.
" Iya mungkin ". Sahut Putri lagi.
Sementara di teras rumah mereka, nampak Nadira sudah mulai berada di sana. Nadira mengarahkan pandangannya pada kedua tamu yang saat ini sedang duduk menghadap ke halaman rumah.
Deg...
Seketika itu tubuh Nadira menjadi membeku. Bahkan deru nafasnya pun seolah terhenti. Nadira menjadi tercekat setelah apa yang dilihatnya. Benarkah yang dilihatnya ini, sosok mungil yang selama ini dirinya rindukan.
Hati Nadira terasa dibuat bergetar dan terenyuh setelah melihat sosok mungil ini, hingga tanpa dirinya sadari, kedua bola mata indahnya itupun sudah dipenuhi dengan genangan air mata.
" Alvin... ". Seru Nadira lembut dengan nada suaranya yang terdengar bergetar.
Sontak seorang ibu dengan cucunya itupun langsung menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
Deg...
" Bunda... ". Sahut si kecil Alvin.
" Alvin anak bunda ".
" Bunda... ". Pekik si kecil Alvin.
Dengan rasa kerinduan yang sudah teramat mendalam, Alvin pun langsung berlari untuk menghampiri bunda nya, seorang bunda yang selama ini sangat dirinya rindukan.
Grepp...
Alvin pun memeluk bunda nya itu dengan erat. Akhirnya, setelah sekian lama tak bertemu, sepasang ibu dengan putranya itu sudah bisa bertemu kembali, akhirnya setelah sekian lama, mereka bisa melepas rindu, rindu seorang anak dan juga ibunya.
" Bunda hwaaa... ". Seru Alvin yang menangis ketika memeluk sang bunda tercintanya.
" Alvin... sayang... bunda merindukanmu nak ". Seru Nadira dengan pelukan eratnya, dan tanpa Nadira sadari ia pun telah menjatuhkan air matanya.
Nadira memeluk putra kecilnya itu dengan begitu erat. Sungguh Nadira merasa terenyuh hatinya disaat memeluk tubuh mungil putranya ini, bagaimana tidak, Alvin yang dulu memiliki kondisi tubuh yang terbilang berisi dengan kedua pipinya yang nampak gembul, kini sudah terbilang kurus.
Sebenarnya apa yang sudah dialami oleh putranya ini, mengapa kondisinya sampai seperti ini.
" Bunda hiks hiks... Alpin lindu bunda, Alpin lindu cetali hiks... ". Seru Alvin tanpa ada niat untuk melepaskan pelukannya dari bunda nya.
Dengan penuh kasih sayang, Nadira mengelus kepala Alvin dan juga punggung mungilnya dari belakang.
" Alvin, anak bunda, yang tenang ya nak, sekarang Alvin kan sudah bertemu dengan bunda ". Sahut Nadira yang berusaha menenangkan putranya yang masih larut dalam isakan tangisnya.
Nadira sangat tahu jika putranya ini sangatlah merindukannya, begitu pun dengan dirinya, hanya saja Nadira di sini harus tetap kuat, dirinya tidak boleh sampai menangis dengan begitu kencang sama seperti Alvin yang sedang menangis, karena jika tidak, putranya ini akan sulit untuk berhenti dari isakan tangisnya.
Sementara itu, sosok seorang ibu yang sejak awal menemani cucu Alvin hanya bisa terdiam mematung dengan menatap Nadira dan juga cucunya yang saling berpelukan.
Ya siapa lagi jika bukan Lusi, sang mama dari mantan suami Nadira, Dani. Lusi hanya bisa menjatuhkan air matanya kala ia melihat sosok Nadira.
Sosok wanita yang sempat dirinya begitu inginkan untuk menjadi istri dari putra semata wayangnya.
Dalam hal ini ingin sekali rasanya Lusi memeluk menantunya ini, iya, menantunya, karena sampai sekarang, Lusi pun masih menganggap jika Nadira adalah menantunya, dan selamanya akan seperti itu.
Namun Lusi merasa malu dan juga tak berani, karena putranya Dani sudah terlalu banyak menyakiti hati Nadira. Bisa mendapatkan maaf dari Nadira pun sudah membuat Lusi begitu sangat bersyukur.
" Kamu semakin cantik nak ". Batin Lusi yang tersenyum.
Lama tak melihat Nadira telah membuat Lusi menyadarinya sekarang, dan membuatnya mengambil kesimpulan jika di tempat ini kehidupan Nadira terasa lebih baik, hal itu terlihat dari fisik Nadira yang terlihat semakin cantik.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1