
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Hari - hari memang terus berlanjut dengan meninggalkan berbagai kenangan di dalamnya. Dan pada hari ini, di waktu pagi menjelang siang ini, sepasang ibu dan juga putranya seolah merasa berkabung.
Saat ini mereka merasakan kesedihan di masing - masing hati mereka. Bagaimana tidak, karena sebentar lagi sepasang ibu dan anak ini akan segera berpisah.
Ya, sekarang sudah saatnya bagi si kecil Alvin harus kembali ke kampung halamannya. Setelah sudah satu bulan lamanya ia menginap di rumah sang bunda, akhirnya bocah kecil itupun sudah akan bersiap untuk pergi kembali ke kampung halamannya.
Sedih yang tiada terkira sudah pasti dirinya rasakan, begitu pun dengan Nadira yang juga merasa sangat begitu sedih. Namun meski begitu, sebisa mungkin Nadira tetap bersikap tegar seolah tak terjadi hal yang begitu menyedihkan. Ini semua dirinya lakukan agar putra kecilnya ini bisa menjadi lebih tegar sama seperti yang dirinya tunjukkan.
Dan sekarang ini, yang bisa dilakukan oleh si kecil Alvin adalah, ia masih setia duduk di pangkuan bunda nya dan memeluknya dengan begitu erat. Mengingat hari ini adalah hari terakhir dirinya tinggal di rumah ini setelah satu bulan lamanya telah berlalu.
Semua ini terasa begitu singkat bagi Alvin. Rasanya masih baru kemarin dirinya datang ke rumah ini, dan sekarang sudah saatnya lah baginya harus kembali ke rumahnya sendiri.
Jujur jika boleh berkeinginan, ingin sekali rasanya Alvin menambah waktunya lagi agar bisa menginap di rumah ini dan banyak menghabiskan waktunya bersama bunda nya.
Nadira mengelus kepala bagian belakang milik Alvin dengan begitu lembut. Sebenarnya Nadira sangat tidak kuat harus mengalami hal ini, mengalami hal yang sama seperti dulu.
Tidak lama lagi putranya ini akan dijemput oleh neneknya yang tak lain adalah mantan mama mertuanya. Mungkin masih harus menunggu beberapa menit lagi barulah mantan mama mertuanya itu akan tiba.
" Bunda, Alpin macih mau ninap di cini, Alpin dak mau pulan ". Seru Alvin kala dirinya masih memeluk bunda nya.
Hati Nadira menjadi semakin seolah teriris dibuatnya. Seruan putranya Alvin benar - benar telah membuat hatinya semakin remuk. Bagaimana dirinya bisa menahan kesedihan yang lebih lagi jika seruan putranya ini terdengar begitu sangat memilukan.
Alvin tak ingin kembali ke kampung halamannya begitupun dengan Nadira yang juga merasa tak ingin jika putranya sampai pergi dari sisinya. Namun itu tidak mungkin, mau tidak mau putranya Alvin haruslah kembali pulang.
" Bunda, Alpin dak mau pulan ". Seru Alvin lagi lantaran sang bunda masih belum menyahuti nya.
" Sayang, Alvin ". Dengan lembut Nadira pun sedikit mendongakkan wajah mungil putranya agar bisa menghadapnya.
" Sayang, neneknya Alvin sudah ada di perjalanan nak, dan sebentar lagi sudah akan datang, kasihan nenek yang sudah datang jauh - jauh ke sini untuk menjemput Alvin tapi Alvin tidak mau ". Sahut Nadira.
Mendengar sahutan dari bunda nya seketika itu membuat raut wajah Alvin semakin menjadi murung.
" Sayang, anak bunda, kan Alvin sudah berjanji akan nurut pada bunda, Alvin masih ingatkan apa pesan bunda, Alvin harus menyayangi bunda Diana dan juga ayah Dani, kasihan bunda Diana nya Alvin sayang, pasti di sana dia sangat merindukan Alvin ". Sahut Nadira.
Nadira ingin jika putranya ini mau kembali pada kedua orang tuanya, tidak baik rasanya jika Alvin lebih banyak menghabiskan waktu lebih banyak dengannya, nanti yang ada Alvin akan sulit untuk benar - benar dekat pada orang tua kandungnya sendiri, terutama pada Diana ibu kandungnya.
" Sayang, Alvin, dengarkan bunda, bunda janji, suatu hari nanti bunda akan main ke rumah Alvin yang di kampung, dan setelah itu kita bisa bermain kembali ". Sahut Nadira.
" Benaltah bunda, bunda mau te lumah Alpin? ". Sentak Alvin.
Seolah seperti mendapatkan hadiah yang luar biasa seketika itu raut wajah Alvin langsung berbinar. Alvin merasa sangat senang jika bunda nya benar akan datang ke rumahnya.
" Iya sayang benar, suatu hari nanti bunda akan datang ke sana ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Acyiiik... Alpin mau bunda te lumah, Alpin mau bunda ". Sahut Alvin yang begitu sangat senang.
" Oleh karena itu sayang, Alvin jangan sedih ya kalau sudah kembali ke rumah ayah Dani, meski Alvin dan bunda berjauhan, kita kan masih bisa video call, dan bunda pastikan, bunda akan main ke sana ". Sahut Nadira.
" Iya bunda ". Sahut si kecil Alvin lalu ia pun kembali memeluk bunda nya.
Nadira sudah bisa bernafas cukup lega, setidaknya dengan dirinya memberikan respon seperti ini sedikit membuat kesedihan putranya menjadi berkurang.
Sebenarnya Nadira sendiri tidak tahu kapan dirinya akan berkunjung ke kampung halamannya, apalagi ke rumah mantan suaminya.
Lagipula jika dirinya datang ke kampung halamannya siapa yang akan menyambutnya. Pada akhirnya dirinya malah kembali tidak diperlakukan dengan baik oleh mama dan juga kakaknya.
*****
Di sebuah teras rumah yang nampak terlihat begitu luas, seorang gadis kecil terlihat merengek kesal pada supir pribadinya.
Ia terus membujuk sang supir agar bersedia melakukan hal yang diinginkannya, namun sayangnya sang supir pribadi itu masih tetap setia pada perintah tuan nya.
" Ayo pak Maman, antal Aida ke lumah bunda, Aida mau beltemu bunda ". Seru si kecil Aida.
" Maafkan saya nona, selama daddy nona masih belum kembali pulang, saya dilarang untuk mengantar nona ke manapun ". Tolak pak Rahman lagi, entah ini sudah berapa kali penolakan yang dirinya lakukan pada nona kecilnya ini.
" Yah... pak Maman kok begini sih?, Aida kan tidak mau ke mana - mana, hanya mau beltemu bunda saja, daddy pasti mengizinkan ". Seru Aida lagi.
Padahal daddy nya sudah mengatakan jika dirinya dilarang untuk menemui bunda nya lantaran bunda nya masih sibuk dengan urusan kuliahnya.
" Nona Aida ". Kali ini bi Sari lah yang berseru.
" Kalau nona mau bertemu dengan bunda nya non, lebih baik tunggu sampai daddy nya non pulang dulu, kalau sudah pulang, kan non Aida bisa diantar ke sana dengan daddy ". Timpal bi Sari.
Seketika itu Aida menjadi langsung terdiam. Jika menunggu daddy nya datang, sudah pasti dirinya tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan bunda nya, apalagi yang menjadi penyebabnya jika bukan pasti bunda nya sibuk kuliah. Seperti alasan yang sudah - sudah, dan alasan itu sudah begitu membosankan.
Sampai kapan dirinya akan seperti ini, selalu kesulitan disaat ingin bertemu dengan bunda nya.
Tin... tin...
__ADS_1
Terdengar adanya suara klakson mobil yang sangat mereka hafal akan suara klakson mobil siapakah itu.
Sontak saja adanya suara klakson mobil itupun membuat mereka bertiga serta beberapa bodyguard yang lainnya langsung menoleh ke arah sumber suara.
Dan ternyata benar, mobil sang tuan lah yang datang dan membelah halaman yang luas ini. Ini menandakan jika sang tuan pemilik rumah telah tiba.
" Daddy... ". Gumam si kecil Aida dengan pandangannya yang mengarah pada mobil daddy nya.
Aida tak percaya jika daddy nya sudah datang secepat ini, padahal ada kemungkinan jika daddy nya akan kembali sekitar satu bulan lagi.
Hingga akhirnya, mobil mewah itupun mulai berhenti di garasi. Karena sang tuan telah tiba, mereka semua para bodyguard yang bertugas mulai berjejer rapi untuk menyambut tuan mereka.
" Selamat datang tuan ". Sahut semuanya dengan penuh rasa hormat kala Andra telah keluar dari dalam mobilnya.
Andra sengaja membawa mobil pribadinya setelah dari luar negeri, tak seperti biasanya yang memang sering dijemput oleh sang supir kepercayaan pak Rahman.
" Selamat datang tuan Andra ". Sapa pak Rahman dan juga bi Sari kala Andra sudah akan mendekat ke arah mereka.
" Terima kasih ". Sahut Andra singkat, lalu Andra pun mendekati putri kecilnya.
" Sayang, ada apa hum? ". Seru Andra lembut lalu pria beranak satu itupun mulai mengangkat tubuh mungil putrinya pada gendongnya.
Andra sudah bisa melihat dari raut wajah putrinya yang nampak begitu tak bersahabat. Tidak seperti biasanya. Seharusnya putrinya Aida merasa senang karena dirinya sudah kembali dari luar negeri, namun ini apa, mengapa putrinya nampak terlihat tidak suka dengan kedatangannya.
" Sayang, ada apa dengan putri daddy yang cantik ini, kenapa terlihat cemberut hum? ". Tanya Andra.
" Ya kalna daddy, kalna daddy lalang Aida untuk beltemu bunda ". Sahut Aida pada akhirnya.
Dan ternyata ini alasannya, mengapa putrinya terlihat tidak suka seperti ini. Pasti putrinya ini merindukan bunda nya dan ingin menemuinya, seperti keinginannya yang sudah - sudah.
Andra tak tahu harus menjawab apa, karena saat ini hubungannya dengan Nadira masih belum membaik.
Dan mungkin dirinya masih akan terus bersikap seperti ini, terus mendiamkan Nadira sampai dirasa cukup untuk memberikan pelajaran untuk kekasihnya.
Namun yang menjadi masalahnya, sampai kapan akan terus seperti ini, sudah satu bulan lebih hubungannya dengan Nadira seperti ini. Bahkan hingga detik ini, tak terlihat adanya tanda - tanda penyesalan dari Nadira.
Cup... cup... cup...
Dengan lembut Andra pun menciumi kening dan juga kedua pipi menggemaskan putrinya.
" Ayo putri daddy kita masuk ". Putus Andra pada akhirnya.
Aida tak menyahuti daddy nya, ia masih merasa kesal, namun uniknya meski dirinya merasa kesal pada daddy nya, Aida tetap menggelayutkan sepasang tangan mungilnya itu di kedua bahu lebar daddy nya.
*****
Waktu di malam hari sudah menjadi aktivitas yang biasa bagi seorang Andra untuk menghabiskan beberapa saat di ruangan kerja pribadinya.
Sudah menjadi rutinitasnya bagi seorang Andra untuk selalu mengoreksi dan mengoreksi beberapa data penting yang menyangkut perkembangan perusahaannya.
Sebenarnya kegiatan itu sudah usai, namun Andra sendiri masih belum beranjak dari ruangan kerja pribadinya ini.
Andra masih teringat dengan ucapan putrinya yang ingin bertemu dengan Nadira. Jujur saat ini Andra merasa gundah gulana. Sebenarnya dirinya sendiri begitu sangat merindukan sosok kekasihnya itu, namun rasanya tidak mungkin jika dirinya yang harus datang ke rumahnya dan menemuinya. Apalagi saat ini dirinya masih memberikan pelajaran untuk kekasihnya yang begitu sangat pencemburu itu.
Andra menghela nafasnya dengan cukup panjang. Mengapa semakin ke sini keadaan semakin mempersulit dirinya. Mungkinkah selama ini dirinya yang terlalu egois dalam memberikan hukuman untuk kekasihnya. Mengapa semakin ke sini rasanya malah dirinya yang semakin tersiksa.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu itupun telah berhasil membuyarkan lamunan Andra.
" Tuan, ini saya ". Seru pak Rahman dari balik pintu.
" Masuklah ". Sahut Andra.
Karena sudah mendapatkan izin, pak Rahman pun mulai membuka pintu kamar kerja tuannya.
" Masuklah dokter Daniel, tuan Andra sudah bersedia untuk ditemui ". Seru pak Rahman yang mempersilahkan Daniel untuk masuk.
" Terima kasih pak ". Sahut Daniel dengan rasa terima kasihnya.
Ya, alasan pak Rahman yang mencoba mengetuk pintu ruangan kerja pribadi milik tuannya ini adalah karena ada sosok Daniel yang sedang ingin bertamu.
Daniel sama sekali tak memberitahu Andra sebelumnya jika dirinya malam ini ingin datang ke rumahnya.
Dan Daniel sendiri memang sengaja datang ke rumah Andra. Menurutnya datang di malam hari ke rumah Andra adalah waktu yang tepat untuk mengutarakan tentang apa yang ingin diungkapkan nya selama ini.
Setelah dirinya mengetahui jika Andra sudah kembali dari luar negeri, dirinya tak mau membuang waktu lagi. Memilih waktu di malam hari untuk bertemu dengan Andra, menurutnya adalah pilihan yang tepat.
" Malam Andra ". Seru sapa Daniel setelah ia mulai memasuki ruangan kerja pribadi Andra.
" Daniel?... ". Sahut Andra.
Andra cukup tertegun melihat kedatangan Daniel di malam hari seperti ini. Apalagi semenjak Daniel menjadi dokter di rumah sakitnya, sangat jarang Daniel menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumahnya.
__ADS_1
Kedatangan Daniel terkesan tidak biasa bagi Andra, pasalnya jika Daniel sudah datang ke tempat ini, apalagi di malam hari seperti ini, sudah pasti ada sesuatu hal penting yang ingin disampaikannya.
" Daniel, ada apa?, tumben malam - malam seperti ini kamu datang ke rumahku? ". Tanya Andra setelah temannya ini berada di dekat mejanya.
" Dra, boleh aku duduk? ". Sahut Daniel.
" Ya Tuhan, tentu saja boleh, kenapa harus bertanya? ". Andra merasa aneh dengan temannya ini.
Mengapa Daniel harus bertanya apakah dirinya dipersilahkan atau tidak, bukankah dirinya sudah terbiasa langsung duduk ketika datang ke rumah ini.
Andra merasa ada yang sedikit aneh dengan temannya ini. Tak seperti biasanya, malam ini sikap Daniel terlihat sedikit formal sehingga terkesan seperti orang yang baru dikenal, padahal sudah sangat lama antara dirinya saling berteman dan juga mengenal.
" Kamu masih belum menjawab pertanyaan ku, ada apa, apa ada sesuatu yang sangat penting sehingga kamu datang malam - malam seperti ini? ". Tanya Andra lagi kala temannya ini hanya duduk diam.
Daniel tak tahu harus menjawab bagaimana dengan pertanyaan Andra. Mendadak keberaniannya menjadi hilang, padahal tadi dirinya sudah bertekad jika malam ini dirinya akan mengatakan semuanya di depan Andra.
" Jadi kamu datang menemui ku hanya ingin duduk?, ya sudahlah kalau itu mau mu ". Putus Andra.
Andra tak mengerti dengan sikap Daniel. Tidak jelas, itulah yang Andra rasakan.
Daniel hanya bisa diam dengan duduk berhadapan di depan Andra. Semakin ke sini perasaannya semakin dibuat tidak karuan saja.
Jika terus seperti ini artinya dirinya terus membiarkan dan mendukung kebohongan ini agar tetap berlanjut. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan.
" Andra, ada yang ingin aku katakan padamu ". Seru Daniel pada akhirnya setelah cukup lama ia diam.
" Ya sudah katakan, bukankah dari tadi aku sudah memberi mu kesempatan agar kamu mengutarakan apa yang menjadi kepentingan mu? ". Sahut Andra.
" Tapi, setelah aku mengatakan ini, berjanjilah jika kamu akan memaafkan semua kesalahan ku ". Sahut Daniel.
Andra menjadi sedikit mengernyit bingung dengan ucapan Daniel. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh temannya ini. Mengapa Daniel seolah menggambarkan jika dirinya akan marah besar.
" Sudahlah Daniel, cepat katakan saja apa yang ingin kamu katakan, jangan bertele-tele, aku tidak suka ". Sahut Andra yang sudah mulai nampak kesal.
Dengan sebisa mungkin Daniel pun mencoba untuk mengumpulkan kekuatannya.
" Andra, sebenarnya aku dan Celine sudah berbohong. Sebenarnya Celine tidak sakit apa - apa, aku sudah membuat keterangan palsu tentang Celine yang sedang sakit kanker ".
Deg...
" Apa katamu Daniel?... kamu jangan bercanda Daniel? ". Dada Andra seolah menjadi bergemuruh setelah mendengar pengakuan dari Daniel.
" Maafkan aku Dra, aku sudah membohongi mu, aku sudah membuat pernyataan palsu jika Celine sedang sakit kanker, padahal dia tidak sakit sama sekali ".
Brakkk...
Andra pun memukul meja kerjanya dengan begitu keras dan langsung berdiri dari duduknya.
" Kurang ajar kamu Daniel, jadi selama ini kamu membohongi ku?, kamu berani membohongi ku? ". Sudah tak bisa digambarkan lagi bagaimana kemarahan Andra, hal itu terlihat dari kedua bola mata Andra yang sudah mulai memerah akibat dari kemarahannya.
" Maafkan aku Andra, aku terpaksa melakukannya, aku sama sekali tidak ada niat untuk... ".
" Keluar dari sini, mulai sekarang, kamu jangan bekerja di rumah sakit ku lagi ". Sentak Andra bahkan dengan menunjuk pintu ruangan kerjanya.
Daniel sudah menduganya dari awal jika pasti Andra akan sangat marah besar dan langsung memberhentikan nya dari pekerjaannya setelah mengetahui semuanya.
" Tunggu apa lagi?, cepat keluar dari ruangan ku, ingat, jangan pernah lagi kamu menunjukkan wajahmu di hadapanku lagi, keluar ". Andra benar - benar sudah terlampau marah pada Daniel.
" Maafkan aku Dra ". Hanya kalimat itu yang mampu Daniel ucapkan.
Daniel sangat paham jika Andra sudah tidak bisa lagi menerima semuanya. Jadi jika Andra memecatnya secara tidak terhormat seperti ini, maka dirinya pun akan menerimanya.
Dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan, Daniel pun akhirnya beranjak dari posisinya. Ia mulai melangkah untuk menuju pintu keluar dari ruangan Andra.
Padahal baru saja dirinya masuk, dan kini sudah langsung diusir begitu saja. Namun tak mengapa karena dirinya memang layak diperlakukan seperti ini.
Brakkk... brakkk... brakkk...
Andra menggebrak meja kerjanya itu berkali - kali dengan begitu keras. Andra marah, benar - benar sangat marah. Andra marah pada dirinya sendiri lantaran sudah tak mempercayai kekasihnya Nadira.
Seharusnya dirinya lebih mempercayai ucapan kekasihnya, karena sangat tidak mungkin jika kekasihnya itu sampai berbohong.
Brakkk... brakkk... brakkk...
" Sial sial sial ". Marah Andra.
Sungguh sudah tak bisa digambarkan lagi akan bagaimana kemarahan dan hancurnya perasaan Andra saat ini. Andra sangat menyesali perbuatannya. Ia menyesal karena lebih mempercayai ucapan orang lain daripada kekasihnya sendiri Nadira.
" Maafkan aku sayang, maafkan aku ". Batin Andra dengan segala penyesalannya.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€