
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Kesedihan hatinya yang masih tersisa ini serasa beriringan dengan lantunan Adzan maghrib yang telah berkumandang.
Setelah cukup lama menenangkan dirinya di taman, akhirnya gadis cantik itupun telah sampai di rumahnya. Dengan langkah gontai Nadira pun mulai memasuki rumahnya.
" Assalammualaikum ". Seru Nadira.
" Waalaikumsalam ". Sahut bu Dewi dari dalam kamar ibadah, rupanya bu Dewi sudah bersiap untuk menunaikan sholat maghrib.
Dan bersamaan dengan itupun, Putri juga datang menghampiri Nadira.
" Akhirnya kamu pulang ju... ". Sontak kalimat Putri pun menjadi terhenti.
" Ya Tuhan, Dira, wajah kamu kenapa, kenapa seperti itu, kamu habis nangis? ". Cecar Putri yang begitu sangat terkejut.
" Coba ibu lihat nak ". Seru bu Dewi, lalu wanita paru baya itupun mulai meraih wajah Nadira.
" Dira kamu kenapa nak, kenapa mata kamu terlihat sembab begini, kamu habis menangis, apa kamu ada masalah dengan tuan Andra? ". Seru bu Dewi dengan segala pertanyaannya.
Nadira sudah menduganya dari awal, jika hal ini pasti akan ditanyakan oleh orang - orang di rumahnya.
" Dira baik kok bu, Put, hanya saja Dira tadi sempat nonton film sedih, jadinya Dira nangis deh sampai seperti ini ". Sahut Nadira dengan begitu lancarnya.
" Alhamdulilah, ibu kira kamu menangis kenapa nak, ibu jadi sampai khawatir ". Sahut bu Dewi yang sudah merasa lega.
" Dir - Dir, lain kali jangan nonton film sedih deh, ujung - ujungnya jadi menangis kan? ". Timpal Putri dengan ekspresi tak habis pikirnya.
Nadira sudah menduganya, jika disaat dirinya kembali ke rumahnya, sudah pasti ibu dan sahabatnya ini akan menanyakan nya setelah melihat kondisinya. Dan tentu Nadira tak ingin jika mereka sampai tahu masalahnya dengan Andra, bukan tak ingin memberitahu, hanya saja Nadira tak ingin jika bu Dewi dan juga Putri tahu secepat ini akan berakhirnya hubungannya dengan Andra.
Dan untuk menutupi semua itu, pastilah Nadira sudah memilih jalan pintas agar semuanya tetap terlihat baik - baik saja, Nadira terpaksa memilih berbohong, namun itu hanya untuk sementara waktu. Dan disaat semuanya sudah terasa baik, barulah dirinya akan mengatakan yang sebenarnya.
Jika ditanya apakah dirinya merasa bersalah karena sudah berbohong pada ibu dan juga sahabatnya?, sudah pasti dirinya merasa sangat bersalah, namun untuk saat ini, tidak mengatakan yang sebenarnya tentang masalahnya, itulah keputusan yang saat ini dirinya ambil.
" Ya sudah, ini sudah maghrib, sudah waktunya sholat ". Seru bu Dewi.
" Iya bu, tapi Dira mau mandi lagi, sepertinya tubuh Dira sudah kembali lengket ". Sahut Nadira.
__ADS_1
" Ya sudah terserah kamu nak ". Sahut bu Dewi.
Dan akhirnya Nadira dengan Putri pun sudah masuk ke kamar mereka sedangkan bu Dewi kembali lagi masuk ke kamar ibadah untuk melanjutkan kembali niat beribadah nya.
*****
Hamparan langit malam yang begitu menenangkan terasa sudah menaungi susunan atap - atap rumah. Namun langit malam yang dirasa dapat memberikan ketenangan itu, nyatanya tak mampu membuat hati seorang pria yang saat ini tengah menatap langit - langit kamarnya menjadi ikut merasakan tenang.
Andra saat ini sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur dengan setengah terlentang. Tatapannya masih setia menatap pada langit - langit kamar mewahnya.
" Tuan, jika tuan memang ingin agar saya tetap menjadi bunda bagi Aida, dengan senang hati saya akan melakukannya, namun untuk hubungan ini... mohon maaf, saya sudah tidak bisa melanjutkannya lagi tuan ".
Itulah serpihan kalimat Nadira yang sampai saat ini masih terus mengusik ketenangan hati Andra. Andra masih terus terngiang - ngiang dengan kalimat itu.
Andra tidak ingin hubungannya dengan Nadira berakhir, dirinya tidak ingin kehilangan Nadira. Dirinya ingin memperjuangkan cintanya, Andra ingin memperjuangkan Nadira, namun bagaimana caranya. Setelah semua kebohongan yang sudah dilakukannya, rasanya sangat sulit untuk meluluhkan hati Nadira kembali.
Andra bangkit dari posisi berbaring nya menjadi duduk terjaga. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Perasaannya semakin tak karuan. Andra merasa bingung, bagaimana cara agar dirinya bisa kembali memiliki Nadira, setelah semua yang terjadi, rasanya begitu sangat sulit untuk menaklukkan hatinya kembali.
Andra masih duduk termenung di bibir ranjang kasurnya, hingga...
Ceklek....
Suara dibukanya pintu kamarnya pun telah berhasil mengalihkan pandangannya.
" Sayang, kenapa belum tidur? ". Sahut Andra yang merasa bingung dengan kedatangan putri kecilnya.
Lalu Andra pun membawa tubuh mungil putrinya itu ke atas pangkuannya.
" Sayang, kenapa belum tidur hem? ". Seru Andra lagi.
" Aida mau tidul sama daddy, Aida tidak mau tidul sama sustel Lia, Aida tidak suka ". Sahut Aida dengan rengekannya.
" Baiklah putri daddy, putri daddy yang cantik ini boleh tidur di sini ". Sahut Andra pada akhirnya.
Tak seperti malam - malam biasanya, Aida memang terbiasa tidur dengan di temani oleh bi Sari, namun karena bi Sari masih belum kembali, akhirnya Aida pun tidur dengan ditemani suster Ria, namun sayang, entah Aida yang merasa tak biasa atau memang Aida yang tak suka ditemani oleh suster Ria, Aida pun akhirnya memilih untuk tidur dengan ditemani oleh daddy nya saja.
Merasa kedua bola mata sang putri sudah nampak sayu, mungkin karena sudah mengantuk, Andra pun akhirnya mulai merebahkan tubuh mungil putrinya itu di atas kasur empuknya.
" Tidurlah sayang ". Seru Andra dengan mengelus kening putrinya.
__ADS_1
Aida pun mengangguk. Lalu Andra mulai menutupi tubuh Aida dengan selimut tebalnya, dan dirinya pun juga ikut berbaring di samping putrinya itu.
" Daddy ". Seru Aida.
" Iya putri daddy, ada apa lagi? ". Sahut Andra karena putrinya ternyata masih tak kunjung tidur.
" Aida lindu bunda, Aida besok ingin beltemu bunda ". Sahutnya.
Deg...
Seketika itu tubuh Andra langsung membeku. Andra merasa panik, ia tak menyangka jika Aida ingin bertemu dengan Nadira disaat hubungannya sedang tidak membaik seperti ini.
" Ya daddy, besok kita beltemu bunda ya, Aida lindu sekali dengan bunda, kan sudah belapa hali kita tidak ketemu ". Ujar Aida.
Andra semakin tak berkutik, ia tak tahu harus bagaimana, jika sudah seperti ini, akan sulit baginya menjelaskan pada putri kecilnya ini.
" Daddy, kok daddy tidak menjawab sih, besok kita beltemu bunda ya daddy ". Seru Aida lagi.
" Baiklah sayang, iya ". Sahut Andra pada akhirnya.
Mau tak mau Andra pun lebih baik mengiyakan saja keinginan putrinya, daripada putrinya terus merengek ingin bertemu dengan Nadira, lebih baik di iyakan saja.
*****
Pagi hari yang indah pun telah datang menyapa, dan hari ini adalah hari di mana Nadira dan juga Putri akan segera kembali masuk masuk kampus.
Semuanya pun telah siap, dan sekarang sudah saatnya lah bagi mereka untuk menaiki motor mereka.
" Bunda ". Pekik suara seorang gadis kecil yang terdengar di pendengaran nya.
Sontak hal itupun langsung membuat Nadira menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata memang benar Aida yang datang.
Lalu Aida pun langsung memeluk bundanya. Jujur Nadira merasa sangat gugub saat mengetahui jika Aida datang, sudah bisa dipastikan jika Aida datang ke mari pasti bersama dengan daddy nya.
" Ya Allah, bagaimana ini, aku belum siap jika harus melihat mas Andra ". Batin Nadira yang merasa gugup.
Nadira tak mampu untuk mengarahkan pandangannya ke arah mobil mantan kekasihnya itu, sudah bisa dipastikan jika dia pasti ada di dalam mobilnya. Tidak, untuk saat ini Nadira tak ingin melihatnya.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ