
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pagi indah yang begitu masih terasa sejuk telah memaparkan banyak insan yang telah saling bergantian datang dan juga pergi untuk mengisi perut mereka.
Semua itu terpampang dengan begitu jelas di balik kaca depan di mobil mewah milik Andra, sudah bukan sesuatu yang dirahasiakan lagi jika di waktu sepagi ini kafe milik bu Dewi selalu ramai dengan pengunjung.
" Ayo daddy kita tulun, Aida sudah tidak sabal ingin beltemu bunda ". Seru Aida pada daddy nya setelah mobil mereka sampai.
" Iya - iya putri daddy kita turun ". Sahut Andra.
Dan Andra pun keluar dari mobil mewahnya, namun Andra juga harus membukakan pintu mobilnya yang satunya lagi agar putri kecilnya Aida bisa keluar.
" Ayo sayang sudah siap? ". Seru Andra pada putri kecilnya.
" Siap dong daddy ". Sahutnya dengan senyumannya yang begitu menggemaskan.
Sang daddy itupun menggendong tubuh mungil putrinya dan melangkah menuju ke teras rumah bu Dewi.
" Assalamualaikum, bunda - bunda ". Seru salam si kecil Aida tanpa turun dari gendongan daddy nya.
" Waalaikumsalam ". Namun yang menyahut adalah bu Dewi.
" Waalaikumsalam ". Sebuah sahutan yang lainnya juga terdengar dari dalam rumah.
Andra dengan putrinya Aida sudah sangat mengenali siapakah pemilik suara yang berasal dari dalam ruangan itu.
" Tuan Andra, nona Aida, pasti ingin bertemu Dira ya? ". Seru bu Dewi.
Namun belum sempat Andra menyahut nya, Nadira pun sudah mulai menampakkan dirinya di ambang pintu.
" Bunda... ". Pekik si kecil Aida lalu dengan gerakan cepat gadis kecil itupun mulai merosotkan tubuh mungilnya dari gendongan daddy nya, hal itupun membuat Andra reflek menurunkan tubuh mungil putrinya itu.
" Bunda ". Seru Aida dan iapun langsung memeluk pinggang bunda nya.
" Sayang ". Sahut Nadira yang begitu sangat senang dengan kedatangan putrinya.
" Bunda, Aida lindu ". Rengeknya.
Sangat begitu terasa bagi Nadira jika putri kecilnya ini begitu sangat merindukannya.
" Sayang ". Seru Nadira lagi lalu ia pun membawa tubuh mungil putrinya itu untuk ia gendong.
" Ya sudah nak, kamu ajak tuan Andra duduk dulu di dalam, ibu mau kembali jaga kafe ". Seru bu Dewi.
" Terima kasih bu ". Sahut Andra.
" Iya tuan, sama - sama ". Sahut bu Dewi dengan tersenyum.
Dan bu Dewi pun benar - benar menuju ke dapur kafe nya.
" Mas, ayo masuk ke dalam dulu, kita bicara di sana ". Ajak Nadira pada Andra.
Hanya satu langkah saja Andra pun mendekati Nadira.
Cup... ciuman hangat di kening Nadira tak pernah lupa dirinya selalu sematkan.
" Tidak perlu sayang, aku kemari bukan untuk mengobrol tapi untuk mengajakmu bermain di rumah dengan Aida ". Sahut Andra yang menjelaskan.
" Loh, kenapa mas Andra tidak memberitahu ku kalau ingin mengajak bermain? ". Sahut Nadira yang menjadi sedikit heran.
" Ya sudahlah sayang, memangnya itu perlu? ". Sahut Andra.
" Bunda, mau ya main ke lumah, Aida ingin main dengan bunda di lumah ". Seru Aida.
" Baiklah sayang, bunda akan menuruti keinginan Aida ". Sahut Nadira yang pada akhirnya mau.
__ADS_1
" Asyiiik, telima kasih bunda ". Sahut Aida dengan begitu senangnya.
" Ya sudah sayang, ayo ". Ajak Andra.
" Tunggu dulu mas, aku mau izin dengan ibu dulu ". Tahan Nadira.
" Sudah tidak perlu meminta izin lagi, aku sudah memberitahu bu Dewi jika pagi ini aku ingin mengajakmu ke rumahku ". Sahut Andra.
" Hah, kapan mas? ". Sahut Nadira yang merasa bingung.
" Tadi sudah sayang sebelum aku ke sini, aku sengaja mengirim pesan padanya agar kamu tidak perlu meminta izin lagi, itu akan sangat membuang waktu ". Sahut Andra.
Ya memang seperti inilah Andra, ketika sudah menginginkan sesuatu hal maka semuanya telah dipersiapkan, apalagi ketika Andra sudah mengajak dirinya mustahil jika bu Dewi sampai tak memberikan nya izin.
" Ya sudah sayang ayo ". Dan Andra pun mulai merengkuh bahu Nadira.
Dan akhirnya sepasang kekasih layaknya sepasang orang tua dengan putri kecilnya itu benar - benar menuju ke mobil mereka sebelum akhirnya melakukan perjalanan untuk menuju ke rumah sang tuan.
*****
Mobil mewah yang berwarna silver itupun telah nampak memasuki halaman luas nan indah kediaman pribadi Andra.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai, mungkin karena si kecil Aida sudah begitu tak sabar ingin bermain dengan bunda nya sehingga membuat Andra pun lebih melajukan dengan lebih cepat mobil mewahnya itu.
" Yeay sudah sampai ". Seru Aida yang begitu sangat senang.
" Tunggu sayang, kamu tidak usah membuka pintunya, biar aku yang membuka pintu mobilnya ". Tahan Andra lantaran Nadira berusaha untuk membuka pintu mobilnya dalam keadaan masih memangku putrinya.
Dengan gerakan cepat Andra pun keluar dari mobil mewahnya itu untuk membuka pintu mobil yang lain agar Nadira dan juga putrinya bisa segera keluar.
" Selamat datang, tuan, nona ". Salam sapa pak Rahman pada mereka.
" Selamat pagi pak, terima kasih ". Sahut Nadira yang tersenyum.
" Selamat pagi pak, telima kasih ". Sahut si kecil Aida yang juga menirukan sahutan bunda nya.
Dengan sahutan obrolan yang singkat itupun sepasang orang tua yang masih belum terikat dengan hubungan pernikahan dan juga putri kecil mereka melanjutkan langkah bersamanya menuju ruang santai, sebuah ruangan di mana biasanya Aida sering bermain dengan di temani bi Sari.
Dan kini mereka pun benar - benar berada di ruangan yang terbilang mewah itu, namun meski begitu terasa ada yang berbeda dari Nadira.
Ruangan ini, ruangan yang di pijakinya ini adalah sebuah ruangan di mana Nadira bisa mendengar sendiri dengan begitu jelas atas pengakuan Andra pada Firly yang begitu sangat melukai hatinya.
Ya, tentu saja Nadira masih mengingat nya, ia mengingat nya dengan begitu sangat jelas.
" Sayang, kenapa kamu masih berdiri?, ayo duduk ". Seru Andra.
" Iya bunda, ayo kita duduk, Aida mau main puzzle, bunda main juga ya ". Sahut si kecil Aida yang masih belum turun dari gendongan bunda nya.
" I-iya ". Sahut Nadira yang sedikit terbata.
Lalu Andra pun mendekati Nadira, Andra merasa jika ada sesuatu hal pada Nadira namun ia berusaha untuk menutupinya.
Di elusnya pucuk kepala Nadira dengan lembut, seolah Andra ingin ingin mengatakan agar Nadira tak merasa ada sesuatu yang tak membuat enak perasaannya.
" Sayang, ada apa hum? ". Tutur Andra dengan lembut.
" Tidak ada mas... hanya saja aku teringat dengan yang pernah dikatakan mas Andra pada saat dengan kak Firly di sini ". Sahut Nadira dengan nadanya yang terdengar sedikit merendah.
Bagai terkena hantaman di dadanya yang begitu sangat Andra rasakan, batin Andra terasa seolah mendapatkan cubitan yang begitu keras, apa yang dikatakan Nadira telah kembali mengingatkan akan kesalahan fatal dirinya.
Seolah tak pernah berhenti untuk diingat, bahkan keadaan di sekitar pun telah mengingatkan Andra akan kesalahannya.
Dengan perasaannya yang begitu merasa sangat bersalah, Andra pun memeluk keduanya, Andra memeluk Nadira dan juga putrinya.
" Maafkan aku sayang ". Seru Andra dengan maafnya.
Nadira bisa merasakan akan penyesalan dari Andra.
__ADS_1
" Iya mas, aku sudah memaafkan ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Daddy, kenapa daddy minta maaf sama bunda, daddy punya salah pada bunda? ". Seru si kecil Aida yang mulai bertanya.
Seketika itu pertanyaan putrinya membuat Andra menjadi kebingungan, Andra tidak tahu harus menjawab bagaimana, jika menceritakan semuanya pastilah tidak mungkin, karena jika putrinya Aida sampai mengetahui apa yang dilakukannya pada bunda nya pastilah Aida putrinya tidak akan memaafkan kesalahannya.
" Daddy, kok daddy diam, daddy salah apa pada bunda? ". Seru Aida lagi.
" Emm... anu, daddy... ".
" Sayang, memangnya daddy nya Aida salah apa pada bunda?, tidak sayang, daddy tidak salah apa - apa pada bunda nak ". Sahut Nadira yang berusaha menggiring jawaban Andra.
" Telus, kenapa daddy minta maaf pada bunda, olang kalau sudah minta maaf itu altinya dia belasah, telus daddy salah apa? ". Tanya Aida lagi.
Sungguh Aida adalah gadis kecil yang memiliki pemikiran kritis.
" Salah apa ya, memangnya dari semenjak kita bertemu, daddy nya Aida berbuat ulah?, tidak kan? ". Sahut Nadira yang mencoba menggiring pemikiran Aida.
Dan benar, Aida langsung memikirkannya, gadis kecil itu sedang berusaha berpikir tentang kesalahan apakah yang telah diperbuat oleh daddy nya, namun ketika otak kecilnya berusaha mengingat tak ada satupun kesalahan daddy di hari ini, itu artinya daddy nya tidak bersalah.
" Katanya Aida ingin bermain puzzle dengan bunda, mana puzzle nya sayang? ". Tanya Nadira.
" Oh iya ya Aida lupa, itu di sana bunda ". Sahut Aida dengan menunjuk ke arah lemari kaca, ternyata di sana terdapat banyak mainan dari Aida.
" Ya sudah sayang ayo kita main ". Ajak Nadira.
" Ayo bunda ". Dan dengan gerakan cepat Aida pun mulai merosotkan diri dari gendongan bunda nya, gadis kecil itu berlari menuju ke arah lemari di mana mainannya banyak disimpan.
Dalam seketika suasana yang telah dirasa cukup membingungkan akibat pertanyaan dari Aida, mendadak telah tergantikan oleh keinginannya yang ingin bermain puzzle.
Entah bagaimana ini bisa terjadi dengan begitu cepat, biasanya Aida tidak semudah ini untuk melupakan rasa penasarannya, apalagi sampai belum menemukan jawaban yang diinginkan Aida akan terus bertanya.
Dalam hatinya Andra menatap kagum pada kekasihnya Nadira, ia begitu sangat kagum dengan sikapnya yang begitu dewasa, tidak suka mengumbar masalah pada semua orang.
Andra juga merasa bangga karena sikap Nadira yang seperti ini membuat putrinya menjadi sosok yang lebih penurut dan cukup mengerti. Sebagai kekasihnya, Andra sungguh merasa sangat beruntung karena memiliki seorang kekasih seperti Nadira, seorang wanita yang baik yang begitu berbeda dari kebanyakan wanita yang ada di luaran sana.
*****
Lenggak - lenggok langkah seorang wanita cantik dengan tubuh tinggi nan semampai telah membelah dan melewati celah - celah ruangan mewah rumah Andra.
Ia melangkah dengan tanpa ragu seolah telah terbiasa memasuki rumah Andra.
" Andra... Andraaa... aku datang ". Seru wanita itu dengan masih melangkah.
Andra yang masih berada di ruangan santainya bersama dengan putrinya dan juga Nadira menjadi merasa sedikit heran karena ada suara seorang wanita yang sedang memanggil - manggil namanya.
" Mas, sepertinya ada yang memanggilmu ". Seru Nadira.
" Iya daddy, ada yang panggil - panggil daddy, siapa ya? ". Timpal Aida juga.
" Andra... Andra.... ".
Dan panggilan suara itupun kembali terdengar.
" Tuh kan mas, dia memanggil mas Andra lagi ". Sahut Nadira.
" Siapa sih, beraninya dia memanggil - manggilku ". Protes Andra.
" Sebentar sayang aku ke sana dulu ". Putus Andra pada akhirnya.
Tak ingin kebersamaannya menjadi terganggu lantaran panggilan itu, Andra pun memutuskan untuk langsung bergegas dari tempatnya, ia begitu penasaran sekaligus merasa begitu kesal dengan siapakah wanita yang sudah berani membuat gaduh di dalam rumahnya.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
β€β€β€β€β€
__ADS_1