
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Jadi, selama ini mbak Celine berbohong, mbak Celine membohongi kita semua kalau mbak sakit kanker otak?, tapi sebenarnya mbak sama sekali tidak sakit ". Nadira sudah kehilangan kontrol diri untuk meluapkan kegeraman nya.
Celine pun langsung beranjak berdiri dari posisinya, ia tak terima jika Nadira bersikap seperti ini padanya.
" Hey Dira, kamu ini bicara apa hah, datang - datang malah menuduhku yang tidak - tidak ". Marah Celine.
" Menuduh?... menuduh apanya mbak, jelas - jelas mbak Celine mengaku pada teman mbak sendiri jika mbak Celine hanya berpura - pura sakit, mbak Celine sudah membohongi mas Andra ". Sungguh Nadira sudah tak bisa membiarkan ini lagi.
Memang nada suara Nadira tak terdengar begitu tinggi seperti nada suara Celine, mungkin karena kepribadiannya yang cenderung lemah lembut sehingga sikapnya terlihat tak begitu berapi - api, namun sebenarnya Nadira begitu sangat geram setelah dirinya mengetahui kebohongan dari Celine.
" Aduh Cel, bagaimana ini, sudah kamu jangan main drama lagi, katakan saja yang sebenarnya ". Bisik Mita pada Celine.
" Jadi mbak Celine masih tetap ingin berpura - pura setelah saya mengetahui semuanya?, mbak memang keterlaluan ". Entah apakah ini memang benar sikap Nadira atau tidak, namun yang pasti, ini adalah pertama kalinya Nadira merasa begitu sangat geram pada seseorang.
Mita yang sudah merasa begitu khawatir dan juga sangat tak nyaman dengan situasi ini berinisiatif untuk pergi saja dari tempat ini.
Selain karena keadaan yang sudah semakin menegang, juga sudah banyak pasang mata yang sudah mengarah pada mereka bertiga.
" Cel, aku tidak mau ikut - ikutan, kamu urus dulu urusanmu, aku mau pergi saja Cel ". Seru Mita, lalu dengan cepat wanita itupun meraih tas nya dan melenggang pergi dari dua sosok wanita yang saling bersitegang ini.
" Mbak Celine harus mengakui semua kebohongan mbak di depan mas Andra, katakan jika selama ini mbak Celine hanya berpura - pura sakit, jika tidak, saya yang akan mengatakan semua kebohongan mbak ini pada mas Andra ". Seru Nadira yang memperingati.
Rupanya Nadira tidak main - main, dan ini bukanlah sebuah ancaman melainkan sebuah peringatan keras darinya agar Celine mau berkata jujur.
Dan benar saja, sebuah senyuman yang nampak remeh terlihat jelas di kedua sudut bibir Celine.
Celine tersenyum setelah mendengar peringatan dari Nadira. Apakah seperti ini yang namanya peringatan, mengapa tidak terlihat menakutkan sama sekali.
Melihat senyuman dari Celine entah mengapa membuat hati Nadira malah menjadi cemas, mengapa tidak ada raut ketakutan sama sekali, padahal dirinya sudah memberikan peringatan keras.
" Kenapa mbak Celine tersenyum, memangnya ada yang lucu? ". Tanya Nadira.
" Hihihihi... Dira - Dira... kamu dari tadi ngotot rupanya, baiklah akan aku akui sekarang ".
" Iya, memang benar, aku memang pura - pura sakit, lalu kenapa, kamu ingin mengadu pada Andra? ".
" Hihihihi... Dira - Dira, sana, adukan saja pada Andra, memangnya setelah kamu mengadukan semuanya pada Andra, kamu pikir Andra akan percaya? ".
__ADS_1
Deg...
" Dira - Dira, sayangnya itu hanya mimpi ".
Celine sama sekali tak merasa gentar dengan peringatan Nadira.
" Dasar gadis rendahan, tidak punya malu, kamu itu seharusnya sadar diri, kamu itu tidak pantas untuk menjadi kekasih Andra, seorang duda kaya yang diinginkan oleh banyak wanita, jangan mimpi kamu ".
Tutur Celine dengan sikapnya yang merendahkan Nadira.
Mendengar sahutan Celine yang ini, membuat Nadira menjadi teringat akan ucapan Andra tentang status sosialnya. Apa yang diucapkan oleh Celine samalah artinya dengan apa yang Andra ucapkan.
Sungguh Nadira sangat tak menyangka dengan sikap Celine, sosok wanita yang selama ini sudah dirinya anggap baik ternyata adalah wanita pembohong dengan tujuan entah apa itu.
Dengan perlahan Celine mendekati tubuh Nadira, hingga kini diantara mereka hanya menyisakan sedikit jarak saja, dan kini jarak diantara mereka begitu sangat dekat.
" Dengarkan ini baik - baik, aku, kembali ke negeri ini adalah untuk mendapatkan Andra, tidak peduli meski Andra sudah menjadi kekasihmu sekalipun, akan aku pastikan, Andra akan menjadi milikku ". Seru Celine dengan tatapannya yang terlihat tidak meragukan.
Celine tersenyum, dan setelah itu dirinya pun melangkah pergi begitu saja meninggalkan Nadira yang sudah mematung.
Hati Nadira saat ini malah menjadi tak menentu, mengapa sekarang malah menjadi seperti ini, seharusnya di sini Celine yang merasa takut karena kebohongannya telah terbongkar, namun mengapa malah sebaliknya, dirinyalah yang saat ini malah merasa takut, merasa takut jika sampai kehilangan Andra.
" Kenapa mas Andra tidak akan percaya jika aku menceritakan kebohongan mbak Celine padanya, memangnya apa yang sudah dilakukan mbak Celine sampai mas Andra tidak bisa melihat kebohongannya? ". Batin Nadira.
" Hey, Dira ". Seru Putri dengan memberikan tepukan pada pundak sebelah kanan Nadira.
" Kamu ini, tidak ada di meja yang kita pesan tapi malah ada di sini ". Ujar Putri.
Putri yang sudah selesai dari kamar mandi wanita menjadi kebingungan, pasalnya sahabatnya Nadira yang sudah tidak ada di tempat duduknya, alih - alih ingin mencari sang sahabat, Putri malah melihat Nadira di posisi ini.
" Ayo Dir kita kembali ke meja kita sekarang, itu pesanan kita sudah siap di sana ". Ajak Putri.
" Tidak Put, aku ingin pulang saja, aku sudah tidak mood ". Tolak Nadira.
" Loh, kamu ini bagaimana sih Dir, kita sudah pesan makanan dan masih belum dimakan, kenapa kamu malah mengajak pulang? ". Sungguh Putri merasa heran dengan sahabatnya.
" Ya sudah, kalau begitu makanannya dibungkus saja Put, kita makan di rumah saja makanannya ". Sahut Nadira.
" Apa?, dibungkus?, kalau begitu apa gunanya kita mampir ke restoran ini Dir, kalau tahu akan begini ya sudah kita makan di rumah saja tidak perlu mampir ke tempat seperti ini ". Putri sungguh tak habis pikir dengan Nadira, bisa - bisanya Nadira berubah pikiran untuk makan di rumahnya sementara pesanannya sudah siap dimakan.
Suasana hati Nadira sudah berubah total, cekcok yang terjadi antara dirinya dengan Celine sudah membuat semuanya menjadi tak menentu.
__ADS_1
Nadira merasa sangat kesal, namun tak mampu untuk melawan, dirinya merasa perlu untuk menceritakan semuanya pada kekasihnya namun percuma jika apa yang dikatakannya tidak bisa dipercaya pula.
" Kenapa malah jadi seperti ini, tidak, ini tidak bisa dibiarkan, apa yang dilakukan mbak Celine sudah sangat keterlaluan, bahkan dia sudah terang - terangan ingin mengambil mas Andra dariku, tidak, aku tidak mau itu terjadi ".
" Tapi bagaimana caranya, aku sama sekali tidak punya bukti untuk menunjukkan semua kebohongannya, Ya Allah, bantu aku untuk membuktikan semuanya pada mas Andra ". Batin Nadira dengan segala kebimbangan dan harapannya.
*****
Dalam sebuah ruangan perawatan yang hampir di penuhi dengan nuansa warna putih di hampir setiap sudut ruangannya, kini seorang pria berusia matang tengah terbaring lemah.
Akibat dari sebuah kecelakaan yang tidak diharapkan, membuatnya menjadi tak berdaya seperti ini.
Setelah mendapatkan penanganan yang prima dari pihak rumah sakit, kini kondisinya sudah mulai mulai stabil meski masih belum sadarkan diri.
Dengan didampingi oleh sang istri dan mamanya, tak lupa juga putra kecilnya, masih membuat Dani belum sadarkan diri.
Namun hal itu tak membuat mereka yang telah menunggu menjadi lelah karena menantikan kesadarannya.
" Bunda, ayah macih lama ya cadal na? ". Tanya si kecil Alvin pada bunda nya.
" Bunda juga kurang tahu sayang, tapi kata dokter, kondisi ayah Alvin sudah mulai membaik ". Sahut Diana lembut dengan mengusap kepala mungil Alvin.
Sementara bu Lusi, mama dari Dani, sedari tadi tidak begitu banyak kalimat yang dilontarkan, setelah dirinya mendapatkan kabar jika putra semata wayangnya mengalami kecelakaan, seketika itu dunianya seolah runtuh.
" Hoekk... hoekk... hoekk... ". Tiba - tiba saja Diana mengalami mual - mual.
" Diana, apa yang terjadi, kenapa kamu mual - mual begitu?, kamu sakit ". Seru bu Lusi yang nampak khawatir dengan menantunya.
Ya, Lusi sudah tak seperti dulu lagi, jika dulu Lusi begitu tidak menyukai Diana, kini Lusi sudah bisa menerima menantunya ini dengan sepenuh hati, hal itu bermula dari ketika putranya Dani mengatakan jika sudah melahirkan putranya Alvin yang tak lain adalah cucu kandung Lusi.
" Hoekk... hoekk... hoekk... ". Diana pun kembali mual - mual.
" Ayo - ayo kamu rebahan dulu, sepertinya kamu sangat kelelahan, jadi istirahat dulu di sofa, kamu bisa tiduran di sana ". Ajak Lusi yang menuntun menantunya itu.
Lusi tak mengerti mengapa Diana bisa mual - mual seperti ini, jika dikarenakan kelelahan, itu sangat tidak mungkin, karena di rumah pribadi putranya sudah ada tiga asisten rumah tangga, sehingga Diana tidak perlu lagi banyak mengurus pekerjaan rumah tangga.
Namun entahlah, Lusi tak mau memikirkan hal itu, lebih baik menantunya ini bisa beristirahat terlebih dahulu.
Bersambung.........
πππβ€β€β€β€
__ADS_1
β€β€β€β€β€