
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dengan langkah biasa keluarga Andra melangkah bersama menuju ke ruangan tamu mereka, mereka melangkah hingga mungkin sekitar beberapa meter lagi akan benar tiba di sofa, hingga pada akhirnya putri mereka Aida melihat keberadaan tamunya lebih dulu.
" Alvin... " pekik Aida.
Sontak saja sosok yang dipanggil itu langsung menoleh mengarahkan pandangannya, begitupun dengan yang lainnya yang ikutan menoleh.
" Tak Aida... "
Deg...
" Alvin... "
" Tak Aida, bunda, daddy... "
Dengan begitu senangnya si kecil Alvin berlarian mendekati mereka.
Nadira tak lanjut melangkah, wanita hamil itu jadi terdiam setelah melihat dua sosok sepasang suami istri yang juga melihatnya.
" Bunda... " seru Alvin dan bocah itupun langsung memeluk perut besar bundanya.
" Bunda, Alpin lindu bunda, sanat lindu bunda. "
" Bunda juga sangat merindukanmu nak. "
" Yeay yeay yeay Alvin datang lagi yeay yeay aku senang - aku senang. " bahkan Aida sampai melompat - lompat karena begitu senangnya.
Tak bisa digambarkan lagi bagaimana senangnya hati Aida. Gadis kecil itu sangat senang karena sudah pasti dirinya tak bermain sendiri lagi. Dengan datangnya Alvin ke rumahnya membuatnya memiliki teman untuk bermain sepeda bersama.
" Hey Alvin, sudah peluk bundaku, nanti adikku yang di dalam pelut bunda jadi sesak. "
" Oh iya ya, maap atu lupa. " buru - buru Alvin melepas rengkuhannya pada bundanya.
Keadaan di ruangan ini memang nampak biasa, namun karena keriuhan dari kedua bocah kecil ini, jadi sedikit mengurangi ketegangan diantara dua pasang suami istri yang baru bertemu.
" Dira, bagaimana kabarmu nak?. " seru Lusi setelah cukup lama wanita yang berumur itu diam.
" Baik ma. " sahut Nadira.
" Maafkan kami yang sudah datang kemari tanpa memberi kabar terlebih dulu. " seru Lusi.
Namun belum sempat Nadira menyahut lagi, suaminya Andra malah menggiringnya menuju ke sofa.
Andra dengan keluarga kecilnya mulai duduk di sofa mereka. Semenjak Andra menuju ke sofanya, semenjak itulah pandangannya sama sekali tak lepas dari sosok pria yang duduk bersama istrinya yang menggendong bayi mereka, bahkan anehnya ada alat bantu berdiri di samping pria itu.
" Apa dia cacat?. " batin Andra.
Begitupun dengan Nadira, awalnya Nadira memang sempat canggung saat melihat kak Dani nya bersama istrinya Diana, namun semua kecanggungan itu menghilang ketika dirinya melihat sebuah alat bantu berdiri yang berada tepat di samping kak Dani nya.
Sebenarnya ada apa?, siapa yang ada masalah dalam berjalan?, apa kak Dani nya ada masalah dengan kakinya sehingga harus menggunakan alat semacam itu?, itulah pertanyaan yang ada dalam benak Nadira.
__ADS_1
Dani dengan istrinya Diana hanya bisa diam memperhatikan Nadira dengan suaminya, apalagi Dani, setelah sekian lama tak melihat Nadira, banyak hal yang ternyata berubah.
Nadira yang sekarang terlihat lebih cantik. Pada dasarnya Nadira memang cantik, tapi sekarang Nadira bertambah cantik. Sangat terlihat jelas jika Nadira begitu sangat terawat, bahkan meski dalam keadaan hamil sekalipun. Pasti Nadira dirawat dengan baik oleh suaminya, iya, itu sudah pasti, apalagi suaminya adalah orang yang sangat kaya raya, sudah pasti segala kebutuhannya akan terpenuhi.
Suasana di ruangan tamu ini masih terasa begitu sangat dingin, apalagi yang menjadi penyebabnya jika bukan tatapan seorang Andra yang begitu sangat tajam dan tak biasa.
Bukankah jika ada orang yang bertamu harus disambut dengan baik oleh tuan rumahnya, namun tidak dengan Andra, pria blasteran itu malah bersikap dingin dan sedikit acuh pada tamunya sendiri.
" Alvin, apa kamu ingin menginap di sini lagi?. " tanya Aida setelah gadis kecil itu duduk di sofanya.
" Iya, atu atan ninap di sini lagi. " sahut Alvin.
" Benalkah?, kamu akan menginap di lumahku lagi?, asyiiik... " sungguh Aida begitu sangat senang mendengar kabar ini, akhirnya dirinya benar memiliki teman untuk bermain sepeda.
" Atu atan ninap di lumah ini sampai adik bayi di pelut bunda lahil. " jelas Alvin lagi.
" Asyiiik... asyiiik... aku bisa main sepeda lagi sama kamu Alvin asyiiik... "
Suasana di ruangan tamu ini jadi sedikit lebih mencair karena keriuhan dua bocah kecil yang telah kembali bertemu.
Mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri tanpa memperhatikan bagaimana dinginnya situasi di ruangan ini. Memang dasar anak - anak, meski keadaan orang tua mereka sedang tidak baik - baik saja, mereka tetap nampak baik seolah tak terjadi masalah apapun.
Sebenarnya Alvin adalah tipe anak yang peka, dan Aida sendiri adalah tipe anak yang suka penasaran. Namun karena saat ini mereka sedang senangnya bisa bertemu kembali, membuat kedua bocah kecil itu jadi sibuk dengan dunia mereka sendiri.
" Kalian, untuk apa datang ke sini?. " tanya Andra tanpa basa - basi.
Mereka nampak bingung, namun beberapa saat kemudian mereka baru mengerti jika yang Andra maksud adalah Dani dengan istrinya Diana.
" Biasanya yang datang ke sini adalah tante Lusi dan Alvin, kalian berdua kenapa datang ke sini?. "
Nampaknya ini kalimat sindiran yang ingin menunjukkan jika Andra kurang begitu suka dengan kehadiran Dani dan istrinya Diana.
" Kami... maksudnya aku ingin meminta maaf pada Dira, aku ingin meminta maaf atas kesalahanku yang dulu. " sahut Dani pada akhirnya setelah cukup lama pria itu diam.
" Kamu cacat?, apa karena kamu sudah cacat seperti ini baru kamu menyadari kesalahan mu?. "
Deg...
" Atau kamu memang sudah cacat sejak lahir?. "
Dengan begitu sarkasnya Andra menanyakan semua itu.
Nadira yang mendengar pernyataan suaminya menjadi tak enak hati sendiri, pasti setelah ini suaminya akan terus memanfaatkan keadaan ini untuk memojokkan kak Dani nya.
" Daddy, ayah Alpin sama bunda Alpin itu datan te sini talna inin minta maap sama bunda, ayah sama bundanya Alpin sudah sadal sama salah meleta. " jelas Alvin yang malah ikut campur.
" Apa ayahmu sudah cacat dari lahir?. " sahut Andra yang malah bertanya.
" Tidak daddy, ayah Alpin bisa cacat talna tecelataan, dulu ayah Alpin patai tulsi loda, setalan sudah tidak. " Alvin menjelaskan semuanya tanpa ada rasa ragu.
Alvin sangat tahu jika ayahnya tulus ingin meminta maaf pada bunda Nadira nya, hanya saja mungkin ayahnya merasa kurang nyaman karena ada daddy Andra nya.
" Jadi karena sudah cacat, kamu baru sadar atas kesalahanmu dan baru meminta maaf?. "
__ADS_1
" Beruntung sekali kalian bisa punya anak seperti Alvin, yang tidak merasa malu untuk mengakui kesalahan orang tuanya sendiri. "
Deg...
Mendengar hal ini hanya bisa membuat Nadira memejamkan kedua matanya dengan meremas tangan suaminya. Ternyata memang benar, suaminya Andra memang benar memojokkan mereka.
" Iya, kamu memang benar, itulah kenapa aku datang kemari dalam keadaan ku yang masih seperti ini, aku ingin meminta maaf pada Dira. "
" Mungkin ini adalah balasan yang Tuhan berikan karena aku pernah menyakiti wanita sebaik Dira. "
" Dira aku minta maaf, aku tahu jika permintaan maaf ku ini sudah terlambat, tapi aku berharap kamu masih mau memberiku maaf. " ujar Dani.
" Aku sudah memaafkan mu kak, bahkan jauh sebelum kamu meminta maaf. " sahut Nadira.
" Sayang, semudah itu kamu memaafkan dia?, dia sudah memanfaatkan kamu sayang. " kesal Andra.
" Itu dulu mas, aku sudah melupakan semua itu. " sahut Nadira.
" Semudah itu kamu memaafkan dia sayang?. " Andra masih sangat tak terima jika Nadira memaafkan Dani begitu saja.
" Mas, semua yang terjadi itu adalah masa lalu, aku sudah melupakannya, aku ingin hidup tenang mas, bersama kamu dan bersama anak - anak kita. "
" Jika aku masih terus mengingat masa lalu, kapan aku akan bisa hidup tenang bersama keluarga kita?. "
Andra memperhatikan kedua bola mata istrinya dengan begitu lekat, tak ada beban dan keraguan di sana.
Semudah itukah istrinya Nadira memaafkan. Mengapa istrinya Nadira terlihat tak memiliki beban sama sekali, padahal tiga tahun lebih lamanya dirinya hanya dimanfaatkan saja.
" Dan aku juga minta maaf padamu Dira, maafkan aku. " seru Diana.
Nadira tersenyum mendengarnya, dan ia pun mengangguk sebagai jawabannya.
" Terima kasih. " itulah sahutan Diana.
Akhirnya Nadira mau memaafkan, bahkan dengan mudahnya Nadira memaafkan dirinya.
Ya seperti itulah Nadira, seorang wanita yang tak pernah enggan untuk memberikan maaf pada siapapun orang yang telah menyakiti hatinya.
Lusi hanya bisa tersenyum haru menyaksikannya. Nadira memang berhati lembut, tak pernah dendam dan sangat pemaaf. Tak salah memang jika dulu dirinya bersikukuh menjodohkan Dani dengan Nadira, tapi sayang, mereka tidak ditakdirkan untuk bersama, karena mereka tidak berjodoh.
Sementara Andra sendiri hatinya masih begitu tak terima jika istrinya Nadira memaafkan Dani dan Diana begitu saja. Sudah terlalu banyak kepahitan yang diterima Nadira saat bersama mereka.
" Kalian sudah mendapatkan maaf dari istriku, lalu kalian masih butuh apa lagi?. "
Deg...
Semua orang pun jadi menatap bingung, mereka sangat tak menyangka dengan yang Andra katakan. Apakah Andra ingin Dani dan Diana segera pergi dari rumah ini.
Bersambung.........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1