Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Hari yang dinantikan oleh sang tuan yang saat ini masih dilanda oleh rasa kesedihan, akhirnya telah tiba.


Langkah ini mungkin terbilang awal bagi dirinya yang dilakukan untuk memperjuangkan cinta kekasihnya lagi.


Seperti yang diharapkannya semenjak kemarin, jika dirinya ingin segera menemui sahabatnya yang saat ini sudah datang dari luar negeri.


Ting... tong... ting... tong... ting... tong...


Andra membunyikan bel apartemen pribadi Firly.


Ting... tong... ting... tong...


Andra kembali membunyikan bel nya.


" Kenapa lama sekali dibukanya sih ". Seru Andra.


Entah Firly yang memang lama membuka pintu apartemen nya atau memang Andra lah yang sudah begitu tak sabar agar usahanya bisa segera berjalan. Nampaknya memang Andra lah yang memang terburu - buru ingin melancarkan apa yang menjadi usahanya.


Ting... tong... ting... tong... ting...


Ceklek...


Firly pun akhirnya membuka pintu apartemen nya.


" Ya Tuhan, Andra, kamu tidak sabaran sekali, aku baru siap ini ". Kesal Firly lantaran Andra terus menerus membunyikan bel apartemen nya.


" Bukan aku yang tidak sabaran, tapi kamu yang terlalu lama keluarnya ". Sanggah Andra.


" Enak saja kamu ini, lama apanya sih, kamu saja yang terlalu buru - buru, heran deh aku sama kamu Dra, kalau kamu memang ingin menemui Dira, ya tinggal kamu temui saja, tidak perlu mengajak apalagi menungguku ". Sahut Firly.


Seketika itu Andra menjadi terdiam. Sampai detik ini, Andra masih belum bercerita apapun pada Firly soal masalah hubungannya dengan Nadira.


" Kamu kenapa diam?, baru saja kamu buru - buru, dan sekarang malah diam, ya sudah ayo ". Ujar Firly pada akhirnya.


Tak ingin drama ini menjadi terus berlanjut, Andra pun akhirnya mengikuti sahabatnya. Dalam hatinya Andra hanya bisa berharap, semoga saja kekasihnya Nadira bisa mau menerimanya kembali.


*****


Dua pria tampan yang hampir memiliki tinggi badan yang sama, kini sudah melangkahkan sepasang kaki mereka menuju ke teras rumah bu Dewi.


Setelah sekitar lima belas menit lamanya mereka berkendara, akhirnya dua pria yang sudah lama menjalin hubungan persahabatan itu sudah sampai di tempat ini, tempat yang mereka kunjungi, karena hanya di tempat inilah kekasih mereka tinggal.


" Assalamualaikum, baby, my baby aku datang ". Seru sapa Firly kala dirinya sudah berada di dekat pintu.


Melihat tingkah dari sang sahabat, hanya bisa membuat Andra menggeleng kepala. Bisa - bisanya di rumah bu Dewi sahabatnya ini bertingkah dengan sedikit bar - bar, apalagi memanggil kekasihnya dengan sebutan khusus yang terdengar cukup nyaring.


" Assalamualaikum, baby, my baby, assalamualaikum ".


" Waalaikumsalam, iya sebentar ". Sahut Putri pada akhirnya dari dalam rumahnya.


" Siapa sih kok dari tadi terus - terusan mengucap salam, sabar dulu kenapa, siapa tahu pemilik rumahnya sedang sibuk... ". Seketika itu Putri pun langsung menjadi tertegun di tempatnya.


Benarkah yang dilihatnya ini. Kekasihnya Firly sudah datang, bahkan kini sudah berdiri tegak lurus sejajar dengan posisinya berdiri saat ini.


" Assalamualaikum, baby, aku datang ". Seru Firly tersenyum dengan sedikit merentangkan kedua tangannya.


" Mas Firly ". Gumam Putri yang begitu tak percaya dengan kedatangan kekasihnya.


" Iya, ini aku baby, aku sudah datang, kenapa kamu diam, kamu tidak ingin menyambut kedatangan ku, humm... sayang sekali ". Sahut Firly.


" Eh... ti-tidak seperti itu mas ". Sahut Putri gelagapan lalu dengan segera gadis cantik itupun mulai mendekati kekasihnya.


Grepp...


" Aduh baby aku sangat merindukanmu ". Seru Firly dengan memeluk tubuh mungil Putri dengan begitu erat.


Begitu sangat merindukan sang kekasih, tak membuat seorang Firly merasa malu jika harus memeluk kekasihnya di tempat terbuka.


" Mas, lepas, malu, di kafe masih banyak orang yang makan ". Seru Putri.


" Biarkan sajalah baby, hanya lima menit saja, mereka tidak akan melihat kita, aku sangat merindukanmu baby ". Sahut Firly.


Bukannya melepaskan pelukannya, Firly malah semakin erat memeluk tubuh mungil Putri. Sungguh Putri merasa begitu sangat malu jika harus di peluk di teras rumahnya seperti ini. Sudah pasti para tamu yang sudah hendak akan pulang ada yang banyak melihatnya.

__ADS_1


" Mas, sudah lepaskan, lepasss... ". Dengan gerakan agak mendorong dada bidang Firly, Putri pun berusaha untuk melepas rengkuhan tubuh kekasihnya itu, hingga akhirnya ia pun benar - benar terlepas.


" Sudahlah mas, tidak enak kalau dilihat banyak orang... ".


Deg...


" Ya Tuhan... ". Seru Putri yang sedikit menyentak.


Putri menjadi terkejut kala dirinya baru melihat jika ada sosok tuan Andra yang sedang memperhatikan dirinya dan juga sang kekasih.


" Tuan Andra?, semenjak kapan tuan berada di sini? ". Tanya Putri.


" Sejak tadi, sejak Firly datang ". Sahut Andra dengan rautnya yang datar.


Menyadari si tuan Andra berada di teras rumahnya sudah semenjak dari tadi, jujur membuat Putri menjadi sedikit merasa malu. Pasti tuan Andra nya melihat bagaimana kekasihnya Firly memeluknya tadi. Namun ya sudahlah, semuanya sudah terlanjur terjadi.


" Baby, ini, aku membawa hadiah untukmu ". Seru Firly dengan menyodorkan tiga paper bag pada Putri.


" Ini apa mas, kenapa mas Firly jadi repot - repot seperti ini? ". Tanya Putri.


" Sudah, kamu buka saja nanti di dalam, biar kamu tahu apa hadiahnya ". Sahut Firly dengan masih menyodorkan tiga paper bag nya itu.


" Ya sudah, aku terima hadiahnya mas, terima kasih ya ". Seru Putri.


" Iya baby ku, ya sudah, kalau begitu kapan aku di suruh masuknya ini?... dan, si tuan Andra yang kaku juga, kapan di suruh masuknya? ". Seru Firly.


Putri menjadi terdiam. Haruskah dirinya juga mempersilahkan tuan Andra untuk masuk. Jika seperti itu, lalu bagaimana reaksi dari sahabatnya Nadira jika tahu kekasihnya tuan Andra datang. Jika hanya kekasihnya saja yang disuruh masuk, rasanya itu terlalu kejam pada tuan Andra karena hal itu pasti akan sangat menyinggung nya.


" Baby, kok kamu malah diam sih?, kamu tidak suka aku datang ke sini, atau kamu memang tidak ingin jika aku pulang dari luar negeri? ". Seru Firly, padahal dirinya hanya bercanda.


" Tidak mas, bukan seperti itu, ya sudah ayo semuanya masuk ". Sahut Putri.


Putri sudah pasrah, ini memang harus dirinya lakukan. Tak tahu akan seperti apa nanti reaksi dari sahabatnya Nadira ketika mengetahui tuan Andra juga datang bertamu, namun yang pasti menyuruh kekasihnya Firly dan juga tuan Andra untuk masuk adalah suatu keharusan yang harus dirinya lakukan saat ini.


Dalam hal ini, jujur saja Andra merasa begitu sangat senang. Dirinya merasa jika apa yang dilakukan oleh Firly dan juga Putri begitu sangat mendukung dengan apa yang menjadi keinginannya.


Dalam hatinya Andra cukup tersenyum puas. Beruntung dirinya bisa datang ke rumah bu Dewi dengan Firly, karena hanya dengan cara seperti ini dirinya bisa kembali bertemu dengan kekasihnya Nadira.


Memang ini terlihat sedikit pengecut, memanfaatkan seseorang agar bisa melakukan apa yang diinginkannya. Namun untuk saat ini hanya cara inilah yang bisa dirinya lakukan, karena jika tidak, tidak mungkin kekasihnya Nadira bisa bertemu dengannya.


" Ayo duduk dulu, mas Firly mau minum apa, biar asisten ibu yang membuatkan nya ". Tanya Putri setelah mempersilahkan Firly dan juga tuan Andra duduk.


" Kalau tuan, tuan Andra mau minum apa? ". Lanjut Putri lagi.


" Samakan saja dengan Firly ". Sahut Andra.


" Wah, tumben minta disamakan Dra, biasanya kamu kan selalu memilih rasa yang berbeda dari pilihanku ". Sindir Firly.


" Ya sudah kalau begitu akan saya segera kami siapkan ". Sahut Putri pada akhirnya.


Namun sebelum Putri menyuruh orang yang bekerja di kafe untuk membuat minuman yang diinginkan oleh Firly dan juga tuan Andra nya, terlebih dahulu Putri menuju ke kamarnya untuk meletakkan tiga paper bag yang diberikan oleh kekasihnya Firly.


Berada di ruangan tamu milik rumah bu Dewi membuat seorang Andra memiliki penilaian tersendiri.


Menurut penilaiannya rumah bu Dewi begitu sangat sederhana. Tak terlalu mewah, namun begitu sangat bersih dan terawat. Bisa dipastikan jika siapapun yang tinggal di rumah ini akan merasa nyaman.


Namun ini hanyalah penilaian awal dari Andra, dan penilaian ini bukanlah tujuan utama dirinya berada di tempat ini.


Semenjak Andra sudah mulai duduk di ruangan tamu ini, hal yang ingin dirinya lihat adalah kekasihnya Nadira.


" Kamu di mana sayang, kenapa kamu belum kelihatan juga? ". Batin Andra.


Andra mencoba mengarahkan pandangannya pada sebuah ruangan tengah yang sedikit agak masuk ke dalam yang ada di rumah ini. Siapa tahu dirinya bisa menemukan sosok Nadira.


" Di sana ada kamar, apa Dira ada di kamar itu? , kamu di mana sayang?, kenapa kamu belum keluar juga? ". Batin Andra.


Seusai meletakkan paper bag nya, Putri pun menuju ke kafe ibunya.


" Ibu, bu Tin ". Panggil Putri pada sang ibu dan juga asistennya.


" Iya ada apa? ". Sahut bu Dewi.


Sontak panggilan Putri itupun membuat Nadira dan juga bu Tin langsung menoleh ke arahnya.


" Ada apa nak Putri? ". Sahut bu Tin dengan mendekati Putri.


" Bu, Putri minta tolong sama bu Tin, tolong buatkan dua gelas es teh lemon ya bu, di rumah sedang ada tamu ". Ujar Putri.

__ADS_1


" Baik nak baik ". Sahut bu Tin.


" Siapa yang datang Put? ". Seru bu Dewi.


" Mas Firly bu, mas Firly yang datang ". Sahut Putri.


" Ooh, nak Firly sudah datang, kenapa hanya dihidangkan dengan minuman saja, beri makanan ringan juga nak, ya sudah, kamu temani saja dulu nak Firly nya, biar ibu dan juga bu Tin yang menyiapkan untuk... ". Kalimat bu Dewi malah menjadi terhenti.


" Put, nak Firly sendirian kan, kenapa minumannya ada dua? ". Tanya bu Dewi.


" Emm... anu bu, minumannya untuk Putri lagi, Putri kan juga mau minum yang segar - segar ". Sahut Putri.


Putri terpaksa harus berbohong, tidak mungkin kan dirinya mengatakan jika kekasihnya Firly datang bersama tuan Andra, bisa - bisa sahabatnya Nadira menjadi tidak nyaman sendiri bahkan mungkin akan berusaha menghindar agar tak bertemu dengan tuan Andra.


" Ya sudah sana Put temani nak Firly, biar nanti bu Tin yang mengantarkan minuman dan juga makanan ringannya ". Seru bu Dewi.


" Okey siap, terima kasih ". Sahut Putri lalu gadis muda itupun langsung melenggang pergi menuju ke ruang tamu di rumahnya.


" Bu Tin, minuman dan makanannya biar Dira saja ya yang bawa ke sana ". Seru Nadira padahal makanan dan minuman itu masih belum benar - benar siap.


" Tidak apa - apa nak biar ibu saja yang membawanya ". Tolak bu Tin dengan lembut.


" Tidak apa - apa bu biar Dira saja yang membawanya, lagipula Dira mau ke kamar ". Sahut Nadira.


" Baiklah nak ". Sahut bu Tin pada akhirnya.


Dua gelas es teh lemon dan juga makanan ringan itu sudah bu Tin siapkan, dan di tata dengan rapi di atas nampan.


" Baiklah ini sudah siap, Dira bawa sekarang ya bu ". Seru Nadira.


Dengan gayanya yang sudah begitu fasih, Nadira pun membawa minuman dan makanan itu untuk menuju ke ruang tamu di rumahnya.


Nadira tidak mengetahui jika kekasihnya Andra juga ikut datang bertamu ke rumahnya. Jika saja dirinya tahu Andra sedang bertamu juga, sudah sangat pasti dirinya tak akan mau mengantar minuman dan juga makanan yang dibawanya saat ini.


" Baby, kamu kenapa diam?, kamu tidak suka ya aku bertamu ke sini? ". Seru Firly padahal pertanyaannya ini hanyalah akal - akalannya saja.


" Kamu ini bicara apa sih mas, ngawur kamu ". Sahut Putri bahkan ia sudah mulai nampak kesal.


" Hihihihi... jangan kesal begitu dong baby ". Sahut Firly yang merasa gemas.


Andra hanya diam melihat kebersamaan Firly dan juga Putri. Ia diam dengan ekspresi datarnya. Dalam benaknya Andra hanya bisa bertanya, di manakah kekasihnya Nadira, mengapa sampai detik ini dirinya masih belum melihat keberadaan kekasihnya itu.


" Permisi, minumannya sudah datang ". Seru Nadira.


Deg...


Mendengar adanya suara yang begitu sangat tak asing itu, dalam seketika membuat dada Andra terasa begitu bergetar hebat.


Sontak Andra pun menjadi langsung menoleh ke arah di mana suara itu berasal.


" Ini kak Firly, Put, minuman dan makanannya ". Seru Nadira lalu gadis cantik itupun mulai meletakkan minuman dan makanan itu.


Disaat Nadira meletakkan minuman dan makanan yang dibawanya, entah mengapa dirinya merasa seperti ada seseorang yang duduk di sofa single yang berada di posisi sebelah kanan dirinya menunduk.


Dirinya merasa seperti diperhatikan oleh sosok ini. Karena merasakan jika dirinya sedang diperhatikan, membuat Nadira pun menjadi menoleh ke arahnya, dan...


Deg...


Seketika itu tubuh Nadira langsung menjadi membeku. Apa ini. Mengapa ada sosok pria yang ingin dihindari nya.


Nadira begitu sangat terkejut. Ia sangat terkejut bukan main. Mengapa di rumahnya bisa ada Andra.


Merasa begitu sangat terkejut, dan dirinya sangat menyadari rasa keterkejutan ini, dengan cepat Nadira pun berusaha menetralkan dirinya. Dan dengan gerakan cepat, Nadira pun langsung mengalihkan pandangannya ke minuman dan makanan yang dibawanya. Tidak, dirinya tidak boleh merasa gugup seperti ini.


Sementara Andra, sama sekali tak melepas tatapannya. Ia memandang wajah wanita yang dicintainya ini dengan perasaan yang begitu sulit diartikan.


Wajah ini, wajah yang selama ini sangat dirinya rindukan. Wajah seorang wanita yang sudah mampu menghidupkan hatinya kembali setelah cukup lama mati.


Dalam hatinya, sungguh Andra merasa begitu sangat bahagia. Dirinya merasa begitu sangat bahagia bisa melihat kekasihnya Nadira.


Akhirnya, setelah sekian lama, dirinya bisa bertemu kembali dengan wanita yang dicintainya ini, namun....


" Kamu semakin bertambah cantik sayang, tapi... kamu terlihat sedikit lebih kurus, maafkan aku, maafkan aku sayang ". Batin Andra.


Untuk saat ini, Nadira tak tahu harus berbuat bagaimana. Mungkinkah dirinya harus menenangkan diri di dalam kamarnya. Iya, sepertinya memang harus seperti itu.


Bersambung..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2