
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Setelah mendengarkan akan obrolan yang singkat itu, entah mengapa tak membuat hati Nadira menjadi puas, Nadira ingin memastikannya lagi.
Hingga tanpa dirinya sadari, Nadira malah melangkahkan sepasang kaki jenjangnya yang tertutup rok panjang itu untuk menuju ke arah Celine.
" Mbak Celine... ". Seru Nadira dengan lembut dari balik tubuh Celine.
Deg...
Sontak suara Nadira itupun langsung mengejutkan Celine, Celine begitu sangat terkejut bukan main.
Deg... deg... deg... deg...
" DDDira... apa yang kamu lakukan di sini? ". Sahut Celine dengan tatapan kedua bola matanya yang sudah melotot.
Deg... deg... deg... deg...
Karena rasa keterkejutan nya yang begitu luar biasa, jantung Celine seolah terjun dari posisinya. Celine begitu sangat terkejut dengan keberadaan Nadira yang ternyata sudah berada di dekatnya, bagaimana bisa Nadira berada di ruangan ini, bukankah ia sedang bersama Andra dan juga Aida di ruangan santai.
" Mbak Celine, kenapa mbak ada di luar, mbak Celine kan harus beristirahat? ". Seru Nadira karena memang inilah yang menjadi pertanyaannya.
" Eee... aku anu... sedang ingin santai di ruangan ini saja... iya begitu ". Sahut Celine terbata.
Setelah mendengar pertanyaan Nadira, membuat Celine sudah bisa menyimpulkan jika Nadira tidak mendengar semua obrolannya di telfon dengan Daniel, jika memang Nadira mendengarnya tidak mungkin Nadira malah menanyakan tentang apa yang dilakukannya saat ini.
" Mbak... mbak Celine kan sedang sakit, lebih baik mbak Celine istirahat di kamar, saya rasa itu akan jauh lebih baik ". Seru Nadira yang memberikan saran pada Celine.
" Huuhh dasar... untuk apa sih sok peduli denganku?, seperti orang yang kurang pekerjaan saja... dasar, gara - gara kamu rahasiaku hampir saja terbongkar ". Batin Celine yang mengumpati Nadira.
Jujur selain merasa begitu sangat terkejut, Celine juga merasa begitu sangat kesal pada Nadira, kemunculan Nadira yang secara mendadak ini membuatnya begitu sangat geram, bagaimana tidak, Nadira telah berhasil membuat jantungnya terguncang hebat dan juga membuatnya begitu ketakutan khawatir jika kebohongannya menjadi terbongkar.
" Ayo mbak, mbak Celine istirahat dulu ". Seru Nadira lagi.
Dengan tanpa memberikan respon apa - apa lagi Celine pun langsung melenggang begitu saja, ia pergi dari hadapan Nadira dengan begitu saja.
Mendapati perubahan sikap Celine, membuat Nadira menjadi cukup tersentak, Nadira tak menyangka jika Celine akan bersikap seperti ini, memang tidak ada kemarahan dari Celine, namun perubahan raut wajahnya telah menunjukkan jika Celine begitu kesal padanya.
Nadira hanya bisa diam dengan sikap Celine yang ini, merasa heran dan tak habis pikir itulah yang dirinya rasakan.
" Sabar Dira, mungkin karena penyakitnya membuat mbak Celine menjadi lebih sensitif ". Batin Nadira yang berusaha menguatkan hatinya sendiri.
Dan seusai obrolan yang berakhir dengan sikap yang kurang begitu menghargai itu, Nadira pun akhirnya memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju kekasihnya dan juga putri kecilnya Aida, pasti sepasang daddy dan juga putrinya telah menunggunya.
" Astaghfirullah, mas... ". Seketika itu Nadira menjadi memekik terkejut, baru saja dirinya melewati salah satu dinding di rumah mewah ini, Nadira malah dikejutkan dengan kemunculan Andra di hadapannya.
" Sayang, kamu kenapa lama?, aku jadi khawatir ". Seru Andra setelah berhasil melihat Nadira.
__ADS_1
" Maafkan aku mas, mas Andra dengan Aida lama ya menunggunya? ". Sahut Nadira dengan tersenyum masam.
" Tidak sayang hanya saja aku merasa khawatir karena kamu tidak kunjung kembali ". Sahut Andra.
" Ayo ". Lanjut Andra lagi dengan merengkuh bahu Nadira.
Akhirnya setelah drama pergi ke kamar mandi tamu yang tak kunjung kembali telah usai sudah.
Ternyata Nadira tak menceritakan tentang kecurigaannya tentang Celine pada Andra, entah Nadira yang lupa atau memang dirinya yang memang sengaja merahasiakannya lantaran kecurigaannya itu masih belum jelas dan masih belum terbukti.
*****
Gemerlap bintang - bintang di tengah indahnya langit malam begitu nampak indah jika di pandang, samar - samar indera pendengaran nya mendengar alunan suara hewan - hewan kecil yang sering merayap di atas tanah dan rerumputan namun sering kali hewan - hewan itu juga bisa terbang ke sana ke mari seolah sibuk dengan dunianya sendiri.
Krikk... krikk... krikk... krikk...
Bunyi dari suara - suara hewan - hewan itu pastilah begitu tak asing bagi setiap orang yang mendengarnya, meski rumah yang ditempatinya berada di daerah perkotaan, namun rumahnya ini terbilang cukup jauh dari jalan raya, sehingga tak heran jika suara - suara jang krik masih bisa terdengar.
Dengan kesendirian Nadira duduk di sebuah kursi kayu yang ada di teras rumahnya, besok adalah jadwal di mana dirinya dan juga sahabatnya Putri akan masuk kuliah, malam ini Nadira tidak belajar, tentu hal ini bukanlah kebiasaannya, sudah menjadi rutinitas malam baginya untuk belajar dan juga memahami kembali catatan - catatan penting yang selalu dirinya tulis disaat dosen di kampusnya memberikan ilmu pengetahuan.
Namun malam ini, gadis muda yang berparas cantik itu malah duduk di luar dengan segala pikirannya yang berkecamuk.
Nadira masih memikirkan tentang obrolan Celine dengan seseorang yang ada di balik handphone nya, entah mengapa pikiran Nadira masih terus saja memikirkan hal itu.
Hatinya begitu sangat penasaran, namun dirinya tak memiliki kuasa untuk mencari tahu lebih jauh mengenai kecurigaan yang dirasakannya.
" Ehem... ".
" Kenapa kamu Dir, dari tadi duduk di luar, bukannya belajar malah di luar kamu Dir ". Seru Putri pada sahabatnya.
" Kenapa kamu keluar juga Put, memangnya sekarang kamu sudah peduli jika aku duduk di luar? ". Sahut Nadira yang malah balik bertanya.
" Apa?... kenapa kamu bicara begitu Dir, memangnya selama ini aku tidak peduli padamu? ". Sahut Putri yang langsung merasa tersindir.
" Iya, aku percaya kamu peduli padaku, tapi sepertinya semenjak kamu jadi kekasih kak Firly, kamu terlihat sibuk sendiri tuh ". Sahut Nadira.
Dalam seketika Putri pun menjadi terdiam, iya, memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya, semenjak dirinya memiliki kekasih, Nadira sudah sering di nomer dua kan, Putri baru menyadarinya.
" Hihihihi... kenapa kamu diam Put?, sudah jangan dipikirkan, aku hanya bercanda ". Sahut Nadira dan ia pun berdiri dari posisinya untuk mendekati Putri.
Nadira tahu jika sahabatnya langsung terdiam seperti ini karena menganggap serius ucapannya.
" Put, jangan dianggap serius ucapan ku, aku hanya bercanda, lagipula apa sih yang kurang dari kamu Put, semuanya sudah kamu lakukan untuk kebaikanku, kamu dan ibu sangat berjasa untukku Put ". Seru Nadira.
Putri pun langsung menepuk jidatnya sendiri setelah mendengar sahutan dari sahabatnya ini, Putri sudah sempat menyalahkan dirinya sendiri, bahkan ia mengira jika dirinya telah benar - benar mengabaikan sahabatnya.
" Huuhh, dasar kamu Dir, bisa - bisanya kamu meledekku, hampir saja aku benar - benar percaya jika ternyata aku bukan lagi sahabat yang baik ".
" Heran aku sama kamu Dir, akhir - akhir ini kamu banyak bercanda juga ya, jangan - jangan kamu ketularan Aida? ". Sahut Putri dengan panjang lebar.
__ADS_1
" Apa?... ketularan?, memangnya putriku itu virus?, ya tidaklah Put ". Sahut Nadira yang menyangkal nya.
" Waduh... ya jangan marah juga lah bunda nya Aida, kan aku hanya bercanda ". Sahut Putri lagi.
" Sudahlah ayo kita masuk saja, kamu keluar kan ingin mengajakku masuk, ayo kita masuk saja ini sudah malam ". Putus Nadira pada akhirnya.
Dua gadis cantik itu memang tak pernah habis jika sudah saling berbicara, dan mungkin itulah salah satu hal yang membuat hubungan keduanya menjadi semakin erat bahkan seperti layaknya saudara sekandung.
*****
Sang mentari pagi telah menampakkan keberadaan nya, setelah menempuh perjalanan malam yang cukup panjang, akhirnya mentari itu kembali bersinar indah.
Pagi ini tak cukup banyak yang berubah di kediaman Andra, hampir setiap hari Andra selalu mempersiapkan dirinya untuk pergi bekerja sedangkan putri kecilnya Aida sedang diurus oleh bibi asuhnya bi Sari.
Pagi ini Nadira tak datang ke rumah Andra, karena hari ini Nadira sedang ada jadwal kuliah, mungkin nanti sore dirinya akan bermain ke rumah ini.
Semuanya benar - benar telah sibuk dengan urusannya masing - masing, dan tentu hal itupun juga tak luput dari kegiatan pagi yang harus dilakukan oleh asisten rumah tangga di rumah Andra.
Pagi ini mereka semua sedang sibuk di dapur, termasuk si kecil Aida yang saat ini juga berada di dapur dengan memperhatikan semua pelayannya yang mulai menata makanan untuk sarapan.
" Ria, kamu antar sarapan ini ke kamar nona Celine, nona Celine akan sarapan di kamarnya ". Seru bi Sari pada asisten Ria dengan menyodorkan nampan yang sudah berisi sarapan.
" Iy bi, baik ". Sahut Ria singkat dengan menerima nampan itu.
Mendapatkan perintah seperti itu, Ria pun benar - benar langsung berjalan untuk menuju ke kamar Celine, karena Celine berada di kamar tamu, sehingga tak butuh waktu lama bagi Ria untuk bisa sampai di sana.
Tok... tok... tok...
" Nona Celine, saya akan masuk, saya mau mengantar sarapan untuk nona ". Seru Ria setelah mengetuk pintu kamar tamu itu.
Ceklek...
Dan Ria pun benar membuka pintu kamar itu.
" Nona, ini saya membawakan sarapan untuk nona Cel... ". Sontak Ria pun langsung terhenti dari ucapannya.
Deg...
" Astaghfirullah, nona Celine ". Pekik Ria.
Ria begitu sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
" Ya Allah, nona Celine, apa yang terjadi pada anda nona? ".
Tanpa memikirkan hal apapun lagi, Ria pun langsung meletakkan nampannya itu di atas meja dan langsung menuju ke arah Celine yang sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€