Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Meraih Cinta Nadira


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


" Sayang, kenapa kamu diam? ". Seru Andra.


" Maafkan aku mas, sepertinya aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan kita ". Sahut Nadira pada akhirnya.


Deg...


Seolah tak nampak, rasanya tubuh Andra seolah luruh. Pernyataan telak dari Nadira, benar - benar telah membuat kekuatan di dalam hatinya seolah runtuh. Andra merasa hancur karena Nadira tak memberi kesempatan untuk membuktikan kesungguhan cintanya.


" Apa karena kamu masih marah dengan ku sayang, kamu masih belum bisa memaafkan kesalahan ku? ". Sahut Andra dengan perasaannya yang sudah mulai kembali hancur.


" Aku sudah memaafkan mu mas, tapi... untuk kembali menjalani hubungan ini lagi, sepertinya aku sudah tidak bisa ".


" Mas Andra sendiri yang pernah mengungkapkan, jika mas Andra tidak akan mau menerima seorang janda, ungkapan itu sudah membuat ku sadar, jika wanita seperti ku sama sekali tidak pantas untuk bersanding dengan pria seperti mas Andra ". Ungkap Nadira dengan segala kejelasannya.


Andra tak menyahut, dirinya tak bisa mengelak, memang benar apa yang dikatakan Nadira jika dirinya pernah mengungkapkan hal itu disaat dirinya sedang bersama Firly, bahkan itulah salah satu alasan mengapa hubungannya dengan Nadira menjadi hancur seperti ini.


" Sudahlah mas, lebih baik kita jalani hidup kita masing - masing ". Lanjut Nadira entah apa maksudnya mengatakan hal seperti itu.


" Aku akui, jika aku memang pernah mengungkapkan hal itu, tapi itu semua terjadi di luar kesadaran ku, aku masih belum sadar jika aku sudah benar - benar mencintaimu sayang, tidak bisa kah, jika kamu memberikan satu kesempatan saja untuk ku? ". Sahut Andra dengan pandangannya yang terlihat begitu sangat berharap.


Untuk sejenak Nadira menjadi terdiam, sebenarnya dirinya bisa saja memberikan satu kesempatan lagi untuk Andra, namun Nadira masih takut jika Andra kembali menyakiti dirinya lagi.


Memang kali ini Andra sudah bersungguh - sungguh ingin memperbaiki hubungannya, namun esok hari siapa yang akan tahu, jika dirinya benar - benar memberikan kesempatan kedua untuk Andra dan kembali melanjutkan hubungannya, apakah itu semua bisa menjamin jika Andra tak akan mengulangi lagi kesalahannya, bagaimana jika suatu hari nanti Andra berubah dan kembali menyakitinya. Tidak, Nadira tidak ingin merasakan hal itu untuk yang kedua kalinya.


" Maafkan aku mas, ini semua masih terlalu cepat, mungkin perjuangan mas Andra yang ingin agar hubungan kita terus berlanjut benar - benar tulus ".


" Tapi seperti kata mas Andra juga jika, aku ini seorang janda, memiliki anak pula, aku tidak pantas untuk mas Andra, apalagi di luar sana masih banyak gadis - gadis yang mau dengan mas Andra, jadi lebih baik mas Andra berhentilah memperjuangkan hubungan ini, aku yakin, pasti di luar sana sudah seorang wanita yang sudah menunggu mas Andra, yang nantinya akan menjadi pendamping hidup mas Andra ". Jelas Nadira, bahkan kini kedua bola mata indahnya nampak mulai berkaca - kaca.


Andra sudah benar - benar tak mampu menyahut lagi, semua yang diucapkan oleh Nadira benar - benar seperti sebuah senjata yang berbalik arah menyerang nya.


Andra benar - benar menyesali apa yang sudah terjadi, andai saja jika dirinya tak pernah mengungkapkan hal konyol itu disaat bersama Firly, pastilah ini semua tak akan terjadi, dan mungkin hubungannya dengan Nadira saat ini masih dalam keadaan baik - baik saja.


Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Nadira, Nadira begitu sangat ingin kembali menjalani hubungannya dengan Andra, apalagi Andra sudah memiliki tempat istimewa di hatinya, namun, Nadira masih begitu sangat takut, Nadira takut jika Andra kembali mengungkapkan sesuatu yang sama lagi, perasaannya tak akan kuat menerima jika Andra kembali melukainya.


" Daddy, daddy ". Seru suara si kecil Aida yang nampak terdengar seperti mencari - cari daddy nya.


Andra yang mendengar seruan panggilan dari sang putri pun seketika menjadi terkesiap, pasti tak lama lagi putri kecilnya itu akan segera datang menghampirinya.


" Daddy, bunda, daddy dengan bunda ada di sini, pantas Aida cali - cali di kamal daddy tidak ada ". Adunya.

__ADS_1


Baik Andra maupun Nadira tak langsung menyahut, mereka berdua masih berusaha untuk menetralkan diri mereka. Dan kedatangan Aida kali ini benar - benar menarik perhatian Nadira, pandangan Nadira tertuju pada sesuatu yang dipegang oleh Aida, bahkan kedua tangan mungilnya itu nampak terlihat penuh hingga ke lengannya.


" Daddy cepat bantu Aida, ambil yang satu ini es klim nya ". Pintanya pada sang daddy.


Ternyata Aida datang menemui sang daddy dan juga bunda nya dengan membawa tiga cup ice cream rasa chocolate.


" Es klim yang itu untuk daddy, telus es klim yang ini untuk bunda ". Serunya dengan menyodorkan satu cup ice cream miliknya.


" Terima kasih sayang ". Sahut Nadira.


" Iya bunda sama - sama, di makan sampai habis ya es klim nya ". Sahutnya dengan raut yang dibuat semanis mungkin lalu gadis kecil itupun duduk diantara daddy dan juga bunda nya.


Nadira tersenyum melihat tingkah putrinya, Nadira baru mengetahuinya sekarang, jika Aida sudah menginginkan sesuatu ataupun seseorang ingin melakukan suatu hal sesuai dengan keinginannya, pasti ia akan bersikap menggemaskan seperti ini.


" Daddy kok malah diam, dimakan dong es klim nya ". Lanjut Aida karena sang daddy hanya diam termangu.


" Iya sayang ". Sahut Andra.


Aida sama sekali tak tahu, jika yang menjadi penyebab daddy nya diam seperti ini adalah karena daddy nya masih harus menelan pil kepahitan akibat penolakan dari bunda nya.


Lalu sepasang orang tua yang tak terikat oleh sebuah hubungan pernikahan itu, mulai memakan ice cream mereka dengan di temani sang putri. Tiga sosok manusia yang nampak seperti sebuah keluarga kecil itupun menikmati ice cream mereka, meski Andra tak begitu menikmati ice cream nya.


Nadira menyukai ice cream rasa chocolate yang diberikan oleh putrinya itu, dari saking begitu sukanya, Nadira pun memakan ice cream itu dengan cukup lahap, hingga tanpa Nadira sadari, di sudut bibirnya terdapat bekas ice creamnya, Nadira nampak sedikit blepotan disaat memakan ice cream itu.


" Dari saking begitu lahapnya kamu memakan ice cream, sampai lupa jika bibir mu sudah blepotan ". Seru Andra dengan mengusap sudut bibir Nadira.


Nadira yang mendapat perlakuan semanis itu tanpa di duga - duga dari Andra merasa sangat malu, bahkan rautnya nampak sedikit merah karena rasa malunya. Bagaimana bisa dirinya diperlakukan seperti ini oleh Andra. Nadira sendiri juga tak mengerti, mengapa setiap dirinya memakan ice cream pasti selalu blepotan, padahal yang dimakan adalah ice cream di dalam cup yang dilengkapi dengan sendoknya.


Lagi - lagi Andra dibuat sedikit terheran dengan sikap Nadira, bukan hanya sekali dua kali saja Nadira seperti ini, bersikap solah dirinya merasa malu jika mendapatkan perhatian lebih.


Andra bingung, sikap semacam inilah yang masih belum dirinya ketahui dari seorang Nadira.


" Kenapa kamu selalu seperti ini jika aku bersikap lebih, apa di matamu aku inj terlihat menakutkan? ". Batin Andra.


Sementara si kecil Aida masih terus memakan ice cream nya itu hingga tandas dan menyisakan cup dan sendoknya saja.


" Yeay, punya Aida sudah habis ". Serunya senang.


Merasa sangat senang karena dirinya menjadi pemenang meski sebenarnya tak ada kompetisi diantara mereka, tak menghilangkan rasa bahagia gadis kecil itu untuk bertingkah sesuka hatinya.


Grepp...


Dan entah apa yang terjadi, si kecil Aida memeluk bunda nya dengan begitu erat, gadis kecil itu memeluk sang bunda seolah tak rela jika harus kehilangannya.

__ADS_1


" Sayang, Aida, ada apa? ". Seru Nadira lembut dengan mengusap pucuk kepala sang putri.


" Bunda, Aida senang sekali bisa memiliki mommy sepelti bunda, bunda jangan pelnah tinggalkan Aida ya ". Sahut Aida dengan masih setia pada pelukannya.


Nadira tersenyum hangat mendengar permintaan putrinya, lalu ia pun membawa tubuh mungil Aida ke atas pangkuannya.


" Bunda tidak akan meninggalkan mu sayang ". Sahut Nadira.


" Bunda, dali dulu Aida tidak punya mommy, Aida selalu ingin punya mommy sama sepelti yang lain, bunda, bunda itu mommy nya Aida, Aida tidak ingin kehilangan bunda, bunda janji ya untuk jangan pelnah tinggalkan Aida ". Seru Aida bahkan tatapannya nampak begitu menghiba.


Nadira benar - benar tak kuasa mendengar permohonan Aida, betapa gadis kecil yang sudah dirinya anggap seperti putrinya ini begitu sangat takut akan kehilangan dirinya.


" Sayang, bunda tidak akan pernah meninggalkan mu nak ". Sahut Nadira lirih dan ia pun langsung memeluk putrinya itu dengan begitu erat.


Rasa bersalah kembali menyeruak di dalam hati Andra. Andra merasa bersalah, seperti inikah ketulusan seorang wanita yang pernah dirinya ingin manfaatkan. Andra merasa bingung, bagaimana nanti kedepannya tentang hubungannya dengan Nadira yang sudah jelas - jelas telah berakhir, bagaimana caranya menjelaskan nya pada putrinya Aida jika bunda nya tak akan selamanya bisa bersamanya.


*****


Sang waktu masih terus berjalan hingga hari pun sudah mulai larut. Setelah beberapa waktu bertamu ke rumah Andra, akhirnya Nadira pun sudah dalam perjalanan pulang.


Sepanjang perjalanan, tak ada sepatah katapun yang keluar, baik dari Nadira maupun Andra sendiri. Mereka berdua bagai dua orang asing yang terjebak dalam satu mobil, sehingga hanya ada suasana dinginlah yang menemani mereka.


Dan kini, mobil yang mereka naiki pun telah benar - benar sampai di halaman rumah bu Dewi.


" Terima kasih mas, sudah mau mengantarku sampai di depan rumah ". Seru Nadira yang berterimakasih.


" Dira, apa kamu yakin tak ingin memberikan satu kesempatan untuk ku? ". Sahut Andra dengan tatapannya yang masih mengharapkan kepastian.


" Maafkan aku mas, hubungan kita cukup sampai di sini ya, dan aku juga mohon, jangan lagi mas Andra menjemput ku disaat aku pulang dari kampus ". Sahut Nadira.


Tanpa menunggu sahutan lagi dari Andra, Nadira pun keluar dari mobil mewah itu. Ia melangkah menjauh dari Andra, tanpa ada satupun niat untuk menoleh.


Andra memandangi punggung mungil Nadira yang semakin lama semakin terlihat menjauh dari pandangan nya, hingga punggung mungil itupun benar - benar tak dapat dirinya pandang lagi.


Dalam sejenak Andra berpikir, apakah dirinya terlalu terburu - buru untuk meraih hati Nadira kembali setelah belum lama ia lukai, iya, mungkin memang seperti itu.


" Sayang, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan mu lagi, mungkin aku yang terlalu terburu - buru, akan aku pastikan aku bisa mendapatkan mu lagi sayang ". Batin Andra.


Meski Nadira sudah menolaknya dengan telak, nyatanya tak membuat pendirian seorang Andra benar - benar runtuh, entah apa yang akan dilakukannya, yang pasti, Andra tak akan melepaskan sosok Nadira yang telah berhasil menguasai hatinya itu. Andra sudah benar - benar bertekad untuk meraih cinta Nadira kembali.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2