
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Semenjak dirinya datang di waktu yang begitu sangat pagi ke rumah sang kekasih guna untuk bertemu dengan putri kecilnya, kini terasa karena sudah begitu sore rasanya hatinya sudah mulai berbisik ingin segera kembali ke rumahnya.
Namun disaat yang bersamaan pula, ia malah mendapatkan panggilan alam sehingga mengharuskannya untuk pergi sejenak.
" Mas, ini sudah sore, sudah waktunya aku pulang, kasihan dengan ibu dan juga Putri karena aku tidak membantu mereka hari ini ". Seru Nadira pada Andra.
" Bunda ingin pulang sekalang ya?, padahal Aida masih mau main sama bunda ". Seru Aida yang merasa tidak ingin jika bunda nya terburu - buru untuk kembali ke rumahnya.
" Iya nak, bunda harus pulang sekarang, ini sudah sore sayang, besok bunda kan masih ke sini lagi ". Sahut Nadira pada putri kecilnya.
Nadira sangat paham jika Aida memang tidak ingin jika dirinya pergi, sudah menjadi hal yang sering terjadi jika Aida seperti ini.
" Sayang, biar aku yang mengantarmu pulang, dan motormu biar penjaga yang mengantar ke rumahmu ". Seru Andra.
" Iya bunda, bunda mau ya diantal daddy, Aida mau ikut antal bunda juga ". Seru si kecil Aida yang juga ikut membenarkan kalimat daddy nya.
Aida memasang wajah menggemaskan nya, apalagi tujuannya jika bukan agar sang bunda bisa menuruti keinginannya ini.
Nadira yang melihat raut menggemaskan putrinya hanya bisa tersenyum lucu, sudah menjadi hal yang biasa jika putrinya Aida bertingkah seperti ini.
" Iya... baiklah sayangnya bunda, bunda mau diantar oleh kalian ". Sahut Nadira pada akhirnya.
" Asyiiikkk... Aida ikut antal bunda ". Seru Aida dengan begitu senangnya.
" Tapi... ". Entah apa yang ingin dikatakan oleh Nadira.
" Tapi apa sayang? ". Seru Andra yang mulai merasa cemas.
Nadira merasa malu ingin melanjutkan kalimatnya, sangat memalukan rasanya jika dirinya mengatakan yang sebenarnya, tapi jika tidak dikatakan khawatir akan menimbulkan nyeri di bagian perut bawahnya, pasalnya ini sudah lumayan dirinya tahan.
" Sayang, tapi apa?, cepat katakan jangan membuatku khawatir ". Seru Andra lagi bahkan pria itu mulai menyentuh bahu kiri Nadira.
Andra merasa sangat khawatir, khawatir jika Nadira menyembunyikan sesuatu namun ia tak berani mengatakannya.
" Sayang, katakan, tapi apa?, jangan membuatku khawatir ". Seru Andra lagi karena Nadira tak kunjung menyahut.
" Emm... tapi... aku... mau ke... kamar mandi dulu sebentar, aku... mau buang air mas ". Sahut Nadira pada akhirnya dengan penuh malu - malu.
" Puft... puft... ". Awalnya Andra memang menahan tawanya tapi pada akhirnya...
__ADS_1
" Hahahaha... ". Andra tertawa dengan begitu kencangnya.
" Hahahaha... ".
Si kecil Aida awalnya merasa kebingungan mengapa daddy nya tertawa sampai seperti itu, pasalnya daddy nya adalah orang yang sangat jarang tertawa bahkan hampir tak pernah tertawa apalagi sampai terbahak - bahak seperti ini.
" Hahahaha... aduh sayang, jadi ini hal penting yang harus kamu lakukan sebelum pulang hahahaha... jadi ini arti dari kata tapi nya, tapi karena kamu kamu ingin ke kamar mandi? ".
" Hahahaha... sayang - sayang kamu lucu sekali hihihihi... ".
Andra merasa begitu tak habis pikir sekaligus merasa begitu sangat gemas dengan Nadira, hanya karena ingin buang air saja, Nadira sampai semalu ini.
Jujur Andra merasa begitu sangat geli dengan tingkah kekasihnya ini, sebegitu malukah ia untuk mengatakan hal semacam ini, bukankah Nadira sudah terbiasa ke kamar mandi di rumah ini, bahkan tanpa Nadira mengatakannya Andra sudah mengetahuinya.
Saat Nadira sudah tidak tahan dengan sikap Andra yang sedang menertawakan nya, dirinya sungguh merasa malu, lebih baik dirinya langsung saja ke kamar mandi daripada di sini yang terus ditertawakan oleh Andra.
" Sayang tunggu ". Seru Andra dengan menahan tangan Nadira karena sudah hendak akan ke kamar mandi.
" Lepas mas, mas Andra menyebalkan ". Seru Nadira dengan menurunkan cekalan tangan Andra.
" Sayang, mau aku temani ke kamar mandinya, hitung - hitung sebagai latihan biar disaat kita sudah menikah nanti, kamu tidak merasa malu lagi ". Ujar Andra dengan begitu vulgarnya.
" Ih, apa sih mas lepas ". Sentak Nadira yang begitu kesal dengan sikap Andra.
" Sayang - sayang, kamu memang aneh, sudah pernah menikah, tapi tingkahmu seperti gadis polos ". Batin Andra dengan tersenyum.
Ya seperti itulah Nadira, semua sikap malu - malunya terasa selalu begitu aneh bagi Andra, iya aneh, aneh tapi nyata.
Sementara di bagian pojok lain, waktu yang sudah sore seperti ini yang seharusnya dipergunakan untuk beristirahat malah dipergunakan untuk hal yang tidak semestinya, ya tentulah ia bersikap seperti itu, karena pada dasarnya ia tidaklah sakit.
Entah apa yang dilakukan wanita yang satu ini, namun yang pasti saat ini ia seperti sedang bernego dengan seseorang agar rencana berikutnya menjadi lancar.
" Bagaimana Daniel, kemungkinan besok Andra akan membawaku ke rumah sakit, kamu katakan saja kalau aku butuh perawatan dan perhatian darinya, buatlah si Andra itu benar - benar merasa iba padaku ". Sahut Celine yang masih dengan rencananya.
" Aku sungguh tidak mengerti dengan mu Celine, kamu ingin dirawat oleh Andra tapi kamu menyuruhku mengatakan pada semuanya agar dirawat di rumah sakit saja, sebenarnya apa sih mau mu Celine, semakin ke sini keinginan mu malah semakin tidak jelas ". Sahut Daniel lagi dari balik handphone Celine.
" Sudahlah Daniel, kamu ikuti saja, aku di sini bukan empat bulan tapi hanya satu bulan, jadi apa salahnya sih kamu membantuku, ingat loh, pada saat kamu kuliah di luar negeri, aku kan sering membantu kondisi keuangan mu, jadi ya tidak apa - apa kan kamu membantu untuk yang ini... hanya satu bulan saja ". Sahut Celine lagi.
Terdengar adanya helaan nafas dari balik handphone Celine, rupanya Daniel merasa masih keberatan dengan permintaannya.
" Daniel, kamu kenapa tidak menjawab ku? ".
" Baiklah - baiklah Celine aku akan melakukannya, tapi ingat hanya satu bulan, setelah satu bulan ini, aku tidak mau ya melakukan hal - hal aneh yang lainnya lagi ". Sahut Daniel pada akhirnya.
__ADS_1
" Mau menjawab seperti itu saja terlalu lama, baguslah kalau kamu mau membantu ".
Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Celine memaksakan kehendaknya pada Daniel, Daniel sendiri yang sampai saat ini masih belum mengetahui niatan Celine yang sebenarnya, menurutnya keinginan Celine kurang begitu masuk akal, namun Daniel sendiri juga tak bisa untuk banyak melawan karena ia masih mengingat bagaimana kebaikan Celine.
Sementara Nadira yang tadi sempat ke kamar mandi tamu telah usai juga, gadis cantik yang sudah berusia dua puluh satu tahun itupun ingin kembali menemui kekasihnya dan juga putri kecilnya.
" Aku harus segera pulang ". Gumam Nadira di sela langkahnya menuju Andra.
Namun disaat Nadira melangkah dengan melewati sebuah pembatas dinding, samar - samar dirinya mendengar suara seorang wanita yang tidak asing di indera pendengarannya, sehingga adanya suara itu membuat langkahnya menjadi terhenti.
" Mbak Celine kenapa di luar, bukannya seharusnya dia istirahat di kamar? ". Batin Nadira yang bertanya - tanya.
" Jadi begini, disaat aku pingsan dan mimisan, kamu katakan saja pada Andra kalau aku harus dirawat di rumah sakit, kamu katakan kalau aku harus banyak diperhatikan ". Seru Celine lagi yang ternyata masih melanjutkan obrolannya dengan Daniel.
Deg...
Terkejut... itulah yang Nadira rasakan, Nadira begitu sangat tertegun dengan ucapan Celine yang tidak sengaja dirinya dengar.
Apa maksudnya Celine mengatakan seperti itu pada seseorang di balik handphone nya yang Nadira sendiri sama sekali tidak tahu.
" Baguslah, aku rasa hanya itu yang perlu kamu bantu untuk saat ini, ya sudah aku tutup handphone nya dulu ". Putus Celine pada akhirnya.
" Huuhh... akhirnya tinggal selangkah lagi semuanya bisa aku gapai ". Seru Celine dengan begitu senangnya.
Hati Nadira menjadi bergemuruh, perasaannya seolah dibuat tak tenang setelah apa yang di dengarnya.
Nadira bisa merasakan dengan jelas, ternyata ada sebuah kebohongan dari Celine, Nadira merasakan kebohongannya, iya, tidak salah, dirinya benar merasakan kebohongan itu.
" Ya Allah, apa yang terjadi, ini benar nyata kan, apa penyakit mbak Celine ini benar sebuah kebohongan?, tapi dokter Daniel... tidak mungkin kan jika dia berbohong ". Batin Nadira.
Nadira menjadi merasa tak menentu dibuatnya, antara percaya dan tidak, namun semuanya benar - benar sangat jelas dirinya dengar.
Meski Nadira tak bisa mendengarkan secara utuh obrolan Celine, namun dirinya bisa memahami dengan jelas jika Celine sedang melakukan sebuah kebohongan.
" Ya Allah, semoga saja penilaianku ini salah, jika mbak Celine memang benar berpura - pura sakit, tapi apa tujuannya ". Batin Nadira lagi.
Semuanya seolah menjadi kelabu dalam benak Nadira, apa yang didengarnya begitu nyata namun begitu sangat sulit untuk dipercaya, merahasiakan nya terlebih dahulu, mungkin itu akan lebih baik sebelum akhirnya kepastian ini benar - benar jelas.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
β€β€β€β€β€
__ADS_1