Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Aida Cemburu


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Tanpa terasa sang waktu sudah masuk sore hari saja, padahal baru tadi rasanya pagi menjelang sekarang sudah memasuki waktu sore saja.


Dengan dibalut oleh handuk mandi, Nadira menggendong tubuh mungil putrinya yang sudah mandi ini untuk dirinya pakaikan baju serta mendandani nya hingga cantik.


" Segal - segal - segal, wangi lagi ". Seru Aida senang dengan digendong oleh bunda nya.


" Ayo berdiri yang tegak sayang, tubuhmu harus dikeringkan dulu ".


Nadira melepas handuk putrinya itu dan mengelapkan nya pada tubuh dan rambut putrinya.


Andra sama sekali tak tahu jika Nadira sempat menggendong tubuh Aida, jika sampai ia tahu sudah pasti Andra akan bersikap tegas atau bahkan mungkin bisa marah pada istrinya. Namun Nadira tetaplah Nadira yang tidak akan menjadikan kehamilannya ini sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu seperti yang diinginkannya.


" Sekarang saatnya untuk memasang bajunya sayang ". Seru bunda dengan satu orang putri itu.


Nadira mulai memasangkan baju bagian dalam untuk putrinya, dan seusai melakukan itu tak lupa ibu muda itupun memakaikan handbody lotion ke hampir semua bagian tubuh putri kecilnya.


" Sekarang pakai baju yang lengkap ". Seru Nadira lagi.


" Waaah, selunya kalau tiap hali Aida bisa dimanja - manja sama bunda, Aida senang sekali cup... ". Seru Aida senang dengan mencium pipi bundanya.


" Sudah hampir selesai sekarang rambutnya harus disisir dulu ya sayang, Aida jangan banyak gerak dulu ya ".


" Okey bunda ".


Dengan penuh ketelatenan Nadira menyisir rambut putri kecilnya yang sudah memiliki panjang hingga di bawah punggungnya, rupanya rambut putri kecilnya ini cepat sekali panjang.


" Cantiknya anak bunda, padahal belum pakai bedak tapi sudah sangat cantik ". Pujinya pada sang putri.


" Iya dong bunda, Aida kan memang cantik, Aida begitu loh ". Sahut Aida dengan penuh rasa bangga.


" Iya - iya, ayo sekarang sudah yang terakhir, yaitu pakai bedak ".


Dengan gerakan yang sangat lembut layaknya seorang ibu yang selalu bersikap manis pada putrinya, Nadira memberikan sapuan taburan bedak di wajah cantik Aida. Putrinya ini memanglah sangat cantik, dan kecantikannya menjadi semakin bertambah kala sudah dibedaki seperti ini.


" Selesai... cantiknya anak bunda cup... cup... ".


" Aida di sini dulu ya sayang, bunda mau mengantar baju kotornya Aida dulu biar dicuci sama suster Lina, kasihan suster Lina kalau tiap kali ingin ambil baju kotor harus bolak - balik ke sini ".


" Iya sudah bunda, tapi jangan lama - lama ya bunda ".


" Iya sayang ".


Nadira membawa baju kotor itu dari sana, sebenarnya di kamarnya sudah tersedia sebuah wadah khusus yang memang disediakan untuk penempatan baju kotor, namun karena baju yang kotor yang tersisa itu hanyalah baju putrinya saja, rasanya sangat nanggung jika harus ditumpuk, lebih baik diserahkan saja pada asisten rumah tangganya agar juga ikutan dicuci.


Mandi dan mengenakan pakaian lengkap sudah selesai, memasuki waktu sore seperti ini rasanya akan terasa lebih menyenangkan jika dirinya menonton tv yang menayangkan tentang dunia satwa.


" Nonton tv sajalah bial tidak sepi ". Gumam Aida.


Aida mendekat ke arah tv nya, gadis kecil itu ingin meraih remote nya.


" Kalau nonton dunia hewan lasanya akan sangat selu ". Serunya dengan mulai meraih remote tv nya.


Drtt... drtt... drtt...


Namun baru saja tangan mungilnya meraih remote tv nya, terdengar adanya suara getaran handphone yang berasal dari meja yang ada di sana.


" Handphone nya bunda bunyi, siapa yang telfon ya? ".

__ADS_1


Aida tak jadi menyalakan tv nya, remote yang sempat diraihnya tadi telah dirinya letakkan kembali.


Drtt... drtt... drtt...


" Ini video call, siapa yang video call? ". Gumamnya.


Merasa begitu sangat penasaran dengan sosok yang menghubungi bundanya, Aida pun menjawab panggilan video itu.


" Assalamualitum bunda ". Seru sapa seorang bocah kecil yang ada di layar handphone itu.


Sontak Aida yang melihat dan mendengar akan munculnya serta sapaan dari sosok yang berada di layar handphone bundanya ini menjadi sangat terkejut. Dan kini keduanya malah saling menatap dengan heran.


" Kamu siapa?, kenapa video call ke handphone bundaku? ". Tanya Aida.


Sosok mungil yang berada di layar handphone Nadira itupun menjadi nampak kebingungan, ia bingung karena yang mengangkat panggilan videonya nya bukanlah bundanya.


" Hey kenapa malah bingung?, kamu siapa?, kenapa bisa video call ke bundaku? ".


" Tamu siapa?, atu mau hubungi bunda ". Sahut sosok mungil itu.


" Ih, kamu ini bagaimana?, aku yang beltanya kamunya malah balik beltanya, bagaimana sih kamu? ". Heran Aida.


Sosok mungil yang ada di layar handphone itupun menjadi semakin bertambah bingung. Ia melakukan panggilan video adalah untuk menghubungi bundanya, tapi mengapa yang menjawabnya malah bukan bundanya, apakah mungkin dirinya salah melakukan panggilan.


" Hey, kamu ini suka sekali diam ya?, aku beltanya sama kamu, kamu itu siapa?, kenapa video call ke handphone bundaku? ". Tanya Aida lagi.


" Atu Alpin, atu mau pidio tol sama bunda, tapi tenapa yang antat tamu? ".


" Ya jelas yang angkat aku, kan ini handphone bunda ku? ". Sahut Aida ketus.


Ya, sosok mungil yang sedang melakukan panggilan video itu adalah si kecil Alvin, putra kecil Nadira yang masih tinggal di kampung halamannya. Mungkin karena merasa merindukan sang bunda Nadira, Alvin pun memutuskan untuk melakukan panggilan video, namun sayangnya bukan bundanya yang mengangkatnya melainkan sosok wanita lain yang sama kecilnya seperti dirinya.


" Jadi nama mu Alvin?, apa barusan yang kamu katakan, ingin video call sama bunda?, bunda siapa yang kamu maksud? ".


" Apa?, bunda Dila?, hey siapa kamu yang ngaku - ngaku kalau bunda Dila adalah bunda mu, bunda Dila itu adalah bunda ku, kamu siapa sih yang seenaknya mengaku - ngaku bunda ku? ".


Aida menjadi langsung begitu sangat kesal karena ada orang lain yang sudah berani mengakui bundanya. Yang benar saja, bunda Nadira adalah bundanya, dan tidak boleh ada anak lain yang berani mengakui bunda Nadira nya itu sebagai bundanya juga.


" Bealti ini memang benal nomelnya bunda, telus mana bunda, atu mau lihat bunda, atu lindu bunda ".


" Dasal kamu ya, kan sudah aku katakan bunda itu bunda ku, bukan bunda mu, belapa kali sih halus aku katakan? ".


Habis sudah nasib Alvin, niatnya yang ingin melihat bundanya karena sudah begitu lama tak melihatnya, kini yang dirinya dapatkan adalah omelan yang entah mengapa malah dirinya yang disalahkan.


" Sayang, Aida, ada apa nak?, kok suara Aida sampai terdengar hingga keluar pintu? ". Seru Nadira lembut dengan mendekati putrinya.


" Bunda, ini bunda ada olang yang ngaku - ngaku bunda di telfon, kan bunda bundanya Aida ". Adunya.


Mendengar aduan yang nampaknya terdengar begitu serius dari putrinya membuat Nadira menjadi penasaran, apa maksud dari putrinya.


" Mana handphone nya sayang, coba bunda lihat dulu ". Pinta Nadira.


Aida pun memberikan handphone bundanya.


" Bunda ".


" Alvin, ya Tuhan nak ".


Deg...


" Bunda Alpin lindu bunda ". Seru Alvin dengan begitu rindunya.

__ADS_1


" Sayang, ya Tuhan nak, kamu lama sekali tidak menghubungi bunda, maafkan bunda ya sayang yang tidak menghubungi mu, bunda hanya tidak ingin mengganggu mu sayang ". Sungguh hati Nadira menjadi kembali terenyuh setelah melihat putra kecilnya.


Rasa sedih, rindu, telah bercampur aduk menjadi satu. Akhirnya setelah sekian lama, dirinya bisa kembali melihat putranya, meski ini hanya dalam panggilan video, setidaknya dirinya bisa melihat keadaan putranya yang sudah tak seperti sekian bulan yang lalu.


Nadira duduk di ranjang kasurnya, dirinya ingin berbicara lebih banyak lagi dengan putra kecilnya ini.


" Bunda, Alpin lindu bunda, Alpin lindu setali ". Seru Alvin.


" Bunda juga merindukan mu nak, sangat merindukan mu ".


" Bunda, bunda tapan mau te sini, Alpin tan sudah pelnah te sana, setalang dililan bunda yang te sini ". Seru Alvin.


Nadira menjadi terdiam, dan tak tahu harus menjawab bagaimana akan seruan putranya yang ini.


Apakah mungkin dirinya bisa kembali datang ke kampung halamannya, rasanya itu sudah tak mungkin.


" Badaimana bunda?, bunda mau te sini tan? ". Tanya Alvin.


" Maafkan bunda sayang, bunda masih belum ada waktu untuk bisa ke sana, Alvin berdoa saja semoga bunda bisa ada kesempatan untuk datang ke sana ". Sahut Nadira.


Nadira tak tahu harus menjawab bagaimana, tidak mungkin kan jika dirinya berjanji pada putranya jika akan datang ke kampung halamannya.


" Jadi bunda tidak bisa datang te sini? ". Sangat nampak jelas dari raut wajah mungil Alvin betapa dirinya sangat sedih akan kabar ini.


" Alvin sayang maafkan bunda ya nak, ya seperti apa kata bunda, Alvin berdoa saja ya semoga bunda bisa ada waktu untuk datang ke sana ". Sahut Nadira.


" Iya sudah bunda ". Sahut Alvin pasrah.


Sangat nampak jelas kesedihan dari raut wajah Alvin. Nadira pun sangat menyadari hal itu. Namun harus bagaimana lagi, setelah apa yang terjadi rasanya sudah tak mudah untuk kembali datang ke kampung halamannya.


Setelah sekian bulan tak mendengar suara putranya, ternyata ada perubahan dari bagaimana putra kecilnya ini menggunakan bahasanya. Ternyata putranya Alvin sudah tak terlalu cadel pada saat berbicara, ya setidaknya ada peningkatan pada putranya ini dalam penggunaan bahasanya.


" Alvin sayang, bicara mu sudah mulai jelas nak, bunda senang sekali ".


" Benaltah bunda, memangnya dulu Alpin bahasanya tidak jelas? ".


" Hahahaha... iya sayang, Alvin tidak sadar ya?, apakah Alvin tahu, dari dulu bunda itu berusaha untuk memahami bahasa mu, tapi ya untungnya bunda bisa memahami, lucu sekali anak bunda ini ".


" Oh beditu ya bunda, pelasaan bahasa Alpin baik - baik saja ".


" Hihihihi... iya, bahasa Alvin memang baik - baik saja hihihihi... ".


Sungguh Nadira merasa begitu sangat gemas dengan kepolosan putranya.


Nadira sedang asyik mengobrol dengan putranya dalam panggilan video nya. Entah apa mungkin memang Nadira yang tak menyadari jika saat ini sedang ada sosok kecil yang lainnya yang telah terabaikan.


Terlalu asyik dengan putranya, membuat Nadira sampai terlupa jika di dekatnya saat ini sedang ada putri kecilnya Aida.


Aida yang melihat bagaimana bundanya yang telah beralih fokusnya merasa begitu sangat kecewa. Gadis kecil itu merasa begitu sangat kecewa karena bundanya telah mengabaikan nya.


Aida merasa kecewa karena bundanya Nadira lebih memperhatikan anaknya yang lain daripada dirinya yang jelas - jelas ada bersamanya.


" Bunda lebih pelhatian sama anak bunda yang di kampung, huh... menyebalkan, lebih baik aku pelgi dali kamal ini ". Batin Aida yang merasa sudah kesal.


Tanpa minta izin, tanpa memberitahu, Aida mulai melangkah menjauhi bundanya. Gadis kecil itu sudah teramat kecewa dan kesal karena keberadaan nya telah diabaikan. Lebih baik dirinya menjauh dari bundanya karena bundanya lebih mementingkan anaknya yang lain.


Nadira sendiri masih asyik bercengkrama dengan putranya lewat panggilan video itu, ia sama sekali tak menyadari jika putri kecilnya Aida telah pergi dari sisinya.


Entah ini siapa yang salah, namun yang pasti Aida sudah sangat kecewa dan kesal pada bundanya, Aida cemburu akan hal ini. Nampaknya setelah ini akan ada sebuah drama yang akan memperebutkan kasih sayang seorang ibu.


Bersambung..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2