
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Beriringan dengan saling bergandengan tangan, sepasang suami istri yang telah usai menikmati pesta pernikahan mereka kini terus melangkah bersama memasuki rumahnya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas tengah malam. Setelah pintu rumahnya telah dikunci dengan benar serta sudah dijaga dengan ketat oleh para bodyguard yang bertugas malam, kini Andra dan juga istrinya Nadira sudah bersiap untuk beristirahat.
Dengan beriringan Nadira mengikuti langkah sang suami yang menggandeng tangannya. Sepanjang memasuki rumah suaminya ini, membuat Nadira memikirkan akan sesuatu. Nadira masih tak menyangka jika saat ini dirinya sudah menjadi istri dari seorang Andra. Nadira tak menyangka jika mulai malam ini, dirinya akan tinggal di rumah ini, sebuah rumah mewah nan megah bagaikan sebuah istana.
" Sayang ada apa? ". Seru Andra.
" Tidak ada mas, hanya saja aku tidak menyangka jika mulai saat ini aku akan tinggal di rumah ini ". Sahut Nadira dengan sedikit malu - malu.
Andra tersenyum mendengarnya.
" Tentu kamu tinggal di rumah ini sayang, kamu adalah istriku, dan rumah ini adalah rumah mu ". Sahut Andra.
Hanya obrolan itulah yang menghiasi langkah mereka, hingga telah tiba saatnya langkah mereka berhenti tepat di depan sebuah kamar yang akan menjadi tempat keduanya beristirahat. Andra mulai membuka pintu kamarnya, dan ia pun mulai masuk.
Disaat berada di depan pintu kamar ini, membuat Nadira teringat akan sesuatu. Nadira masih teringat akan bagaimana suaminya Andra pernah marah dan mengusirnya dari kamar ini sewaktu mereka masih berstatus pacaran.
" Sayang, kenapa tidak masuk? ". Tanya Andra.
" Emm, tidak ada mas, aku hanya teringat sewaktu aku masuk ke kamar ini kamu malah marah - marah sama aku dan mengusir ku ". Jujur Nadira.
" Maafkan aku sayang ". Lalu Andra mendekati istrinya yang berada di ambang pintu.
Dengan lembut Andra pun memeluk istrinya. Andra sangat menyesali perbuatannya di kala itu.
" Maafkan aku sayang, aku menyesali semua itu ".
" Iya mas tidak apa - apa, aku sudah memaafkannya ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Ayo sayang ". Ajak Andra.
Andra menutup kembali pintu kamarnya itu sebelum akhirnya juga menguncinya.
Kini, di kamar yang luas ini, Andra dengan Nadira berada. Berada berdua dengan Andra seperti ini mendadak membuat hati Nadira menjadi sedikit gelisah.
Nadira jadi teringat dengan malam pertama yang sempat dibahas oleh Putri tadi. Entah mengapa berada berdua dengan suaminya Andra seperti ini membuatnya menjadi gugup. Mungkinkah malam pertamanya akan terjadi malam ini.
" Istriku Dira.... ". Andra memeluk istrinya itu dengan begitu erat.
Akhirnya, setelah sekian lama, dirinya bisa memiliki Nadira dengan seutuhnya.
" Sayang, aku mencintaimu, aku mencintaimu sayang, kamu mencintaiku juga kan sayang? ". Serunya.
" I-iya mas, aku mencintai mas Andra ". Sahut Nadira dengan gugup.
__ADS_1
" Hihihihi... kamu kenapa sayang?, apa kamu merasa malu padaku?, tenanglah sayang, jangan malu - malu, kita ini sudah menjadi suami dan istri, jadi kita bebas melakukan apapun ".
Deg...
Cup... cup... cup... cup...
Andra menciumi di seluruh bagian wajah istrinya. Jujur saja Andra merasa begitu gemas sekaligus merasa agak aneh. Mengapa istrinya Nadira sangat begitu malu bahkan raut wajahnya nampak memerah dari saking malunya, seolah apa yang terjadi ini adalah yang pertama kali dialaminya. Namun ya sudahlah, yang terpenting bukanlah itu, yang terpenting saat ini adalah dirinya bisa segera menikmati malam pertamanya dengan istrinya.
" Sayang, aku mau mandi dulu, aku hanya sebentar mandinya, dan setelah itu gantian dengan kamu yang mandi ya ". Seru Andra dan Nadira menganggukinya.
Setidaknya dengan suaminya mandi, bisa membuat Nadira menjadi sedikit lega. Nadira tak tahu harus berbuat bagaimana. Malam ini, akan menjadi malam di mana dirinya dan suaminya Andra akan tidur bersama untuk pertama kalinya.
Apakah suaminya akan benar meminta haknya. Jika benar seperti itu, maka tidak ada alasan baginya untuk menolak jika suaminya memang benar menginginkan hal itu.
" Huft... tenang Dira, kamu jangan gugup ". Gumamnya yang berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Lalu Nadira menuju ke lemarinya. Sebelum menikah, suaminya Andra sudah pernah mengatakan jika semua kebutuhannya termasuk pakaian telah dipersiapkan. Jadi Nadira pun berinisiatif untuk mengambil sebuah handuk kimono mandi yang akan dirinya bawa ke kamar mandi.
Karena sang suami masih belum usai dari aktivitas mandinya, Nadira akhirnya memilih untuk duduk di ranjang kasur empuknya saja.
Ceklek....
Tiba - tiba saja pintu kamar mandi itupun sudah terbuka, ternyata suaminya Andra sudah selesai dengan aktivitas mandinya. Ternyata suaminya Andra hanya mandi sebentar saja, mungkin karena ini sudah begitu larut malam, sehingga suaminya tidak mau terlalu lama berhubungan dengan air.
" Sayang, ayo kalau kamu mau mandi ". Ujar Andra dengan dirinya yang sibuk mendusel - duselkan handuk kecil di rambutnya yang masih basah.
" Iya mas ". Sahut Nadira.
Andra hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Keanehan demi keanehan sudah terlalu sering dirinya lihat dari Nadira. Semakin ke sini membuat Andra semakin bisa menilai jika istrinya begitu sangat polos, bahkan dari saking polosnya, istrinya terlihat seperti tidak pernah memiliki pengalaman hidup dengan seorang pria pun, benar - benar sangat polos.
" Malam ini aku akan memakanmu sayang ". Gumam Andra dengan senyuman nakalnya.
Andra memang sengaja sedikit mengulur waktu untuk meminta haknya. Sebenarnya dirinya bisa - bisa saja langsung melakukan apa yang diinginkannya, namun tidak, Andra tidak ingin bersikap terlalu brutal, sedikit mengulur waktu mungkin akan lebih baik.
Sambil lalu menunggu sang istri selesai mandi, alangkah lebih baiknya jika dirinya memeriksa beberapa email yang masuk yang belum sempat dirinya lihat selama dua hari terakhir ini.
Dengan duduk di ranjang kasur empuknya, Andra mulai memeriksa satu persatu email yang masuk. Ternyata dari sekian email yang masuk, isinya adalah banyaknya pihak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaannya.
Andra tersenyum melihat semua kiriman email itu. Entah mengapa apa yang sudah datang pada dirinya adalah rejeki yang ditambah oleh Tuhan untuk dirinya. Sepertinya hadirnya istrinya Nadira dalam hidupnya, menjadi pintu positif yang mampu mendatangkan hal positif dalam hidupnya.
" Kamu memang keberuntungan ku sayang ". Seru Andra.
Ceklek...
Pintu kamar mandi itupun sudah terbuka. Ternyata Nadira juga tak begitu lama mandinya. Nadira keluar dari kamar mandi dalam keadaan rambutnya yang dililit oleh handuk, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu putih dan bersih.
Dengan masih berbalutkan handuk kimono mandi miliknya, Nadira mulai menuju ke arah lemari. Sepertinya ia ingin mencari sesuatu untuk dirinya bisa kenakan.
Disaat Nadira mulai mencari kira - kira baju apa yang cocok untuk dikenakannya saat hendak tidur, tiba - tiba saja ada sebuah lengan kekar yang melingkar di perutnya.
__ADS_1
Sontak Nadira pun langsung terdiam kala lengan kekar itu merengkuh perutnya. Nadira sudah tahu siapa pemilik lengan kekar ini.
Cup... cup...
Dengan lembut Andra pun mulai menciumi tengkuk Nadira yang begitu putih dan bersih ini. Reflek tubuh Nadira pun menjadi meremang akibat ulah dari suaminya.
" Sayang, kamu mau cari apa? ". Bisik Andra.
" A-aku mau cari baju mas, aku mau pakai baju ". Sahut Nadira.
" Untuk apa masih mau pakai baju sayang?, percuma, karena bajunya akan dibuka juga ". Sahut Andra.
Deg....
Nadira menjadi terdiam, bahkan wajahnya nampak memerah karena tersipu malu. Nadira tak tahu harus merespon bagaimana. Bahkan kini tubuhnya sudah terasa panas dingin entah mengapa bisa seperti ini.
Nadira merasa begitu gugup, bahkan detak jantungnya pun berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Haruskah malam ini, haruskah malam pertamanya terjadi pada malam ini.
Dan dengan perlahan, Andra akhirnya mulai membalikkan tubuh mungil istrinya Nadira sehingga sehingga keduanya menjadi saling berhadapan.
Andra merengkuh tubuh mungil itu ke dalam tubuh kekarnya. Dan dengan perlahan, ia pun mulai mendongakkan wajah Nadira yang sedang tertunduk itu.
" Sayang, jangan malu, aku ini suamimu ". Seru Andra dengan lembut.
Andra begitu sangat tertarik dengan bibir peach milik istrinya itu. Entah mengapa bibir Nadira terlihat lebih menarik malam ini. Tak tahan dengan warna bibirnya, Andra pun langsung meraup bibir itu dengan bibirnya.
Andra melu*mat bibir itu dengan begitu dalam. Luma*tan yang awalnya pelan kini malah berubah menjadi semakin menuntut. Entah apa yang terjadi pada diri Andra, namun yang pasti Andra sudah tidak sabar ingin mendapatkan sesuatu yang semestinya dirinya dapatkan.
Nadira yang memang tak berpengalaman dalam hal berciuman tak bisa mengimbangi serangan demi serangan bibir yang dilakukan oleh suaminya ini, hingga pada akhirnya nafas Nadira malah menjadi sedikit terengah - engah.
Menyadari sang istri sudah begitu kesulitan dalam mendapatkan pasokan oksigen, Andra pun mulai melepas tautan bibirnya itu. Namun karena kegiatan ini sudah berlangsung, membuat Andra sudah tak mampu membendung hasratnya lagi. Andra sudah tak bisa menahannya lagi dan ingin melanjutkan kegiatannya ke hal yang lebih intim.
Dan dengan segala has*rat yang bergejolak di dalam tubuhnya, Andra pun langsung menggendong tubuh mungil istrinya itu untuk dirinya letakkan di atas ranjang kasur miliknya.
Baru saja tubuh mungil istrinya itu Andra baringkan, kini Andra sudah mematikan lampu utama di kamarnya, alhasil kini hanya beberapa lampu kecil yang masih menyala sehingga menampakkan pencahayaan yang terlihat remang - remang di kamarnya.
Dalam hal ini, Nadira sudah tak bisa berkutik lagi. Mungkin memang sudah saatnyalah dirinya menyerahkan semuanya pada suaminya Andra.
Hingga tak lama dari itu, Andra pun langsung naik ke tempat tidur dan menindih tubuh mungilnya.
" Sayang... ". Lirih Andra.
Nadira hanya bisa diam dengan menatap kedua bola mata biru suaminya. Meski kondisi kamar dalam keadaan remang - remang, tetap terlihat jelas jika dari kedua sorot mata suaminya ini menunjukkan jika sang suami sudah begitu sangat berhasratt.
" Sayang, aku mencintaimu ". Dan setelah kalimat itu, Andra pun langsung kembali menyambar bibir istrinya.
Andra sudah tak mampu menahannya lagi. Sepertinya malam ini, akan menjadi malam yang cukup panjang bagi dirinya dan juga sang istri Nadira. Andra ingin melakukannya sekarang. Andra ingin menikmati semua yang indah pada tubuh istrinya ini, termasuk di bawah sana yang akan menjadi tujuan akhir dari kenikmatan sebuah malam yang panjang ini.
Bersambung.........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€