Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Alvin Datang


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Hari - hari terus berlalu ikut mengiringi sebuah keluarga kecil yang mungkin menjadi dambaan oleh semua pasangan keluarga.


Tanpa terasa sudah dua bulan lamanya waktu berlalu, berbagai kenangan indah dengan segala keriuhan yang ada tentunya sudah mereka lalui.


Pagi ini, di mana sang mentari masih baru muncul dari ufuk timur, Nadira dengan ditemani oleh sang suami Andra serta putri kecilnya Aida melangkah santai menelusuri taman belakang rumah mereka.


Karena kehamilannya yang sudah memasuki usia sembilan bulan, membuat Nadira jadi lebih mendapatkan pendampingan saat beraktivitas. Seperti di pagi ini, ibu muda itu berjalan santai dengan ditemani oleh suaminya Andra dan putri kecil mereka Aida.


Sesuai saran dari dokter jika proses melahirkannya berharap berjalan dengan lancar, maka Nadira harus melakukan aktivitas rutin yang bisa memberikan dampak yang baik untuk proses persalinannya nanti, seperti aktivitas yang dilakukannya di pagi ini yaitu berjalan santai tanpa alas kaki dengan ditemani oleh suaminya Andra dan juga putri kecilnya Aida.


" Bunda, ini kita jalan - jalan begini telus bunda?, kapan kita duduknya?. " seru Aida setelah cukup lama gadis kecil itu diam.


" Anak bunda ingin duduk?. " tanya Nadira.


" Iya bunda, dali tadi kita jalan - jalan begini telus. " keluhnya.


" Tadi kamu mengatakan akan menemani bundamu jalan - jalan, sekarang malah ingin duduk, dasar... " sindir Andra.


" Dali tadi kan sudah jalan telus daddy, apa iya kita akan jalan telus begini?. " bahkan Aida sampai merengut karena sindiran dari daddynya.


" Ya sudah - ya sudah, ayo kita duduk di sana. " sahut Nadira pada akhirnya.


Mungkin putri kecilnya sudah sangat bosan jalan - jalan seperti ini, apalagi berjalan seperti ini sudah dimulai semenjak masih subuh.


Mereka mulai duduk di sebuah kursi kayu panjang bermatras di dekat kolam renang.


" Huuuh... ahilnya duduk juga. " seru Aida yang merasa lega.


Nadira hanya tersenyum saja mendengar seruan kelegaan dari putrinya. Ternyata dari dulu bahasa putrinya memang tak pernah berubah, selalu terdengar cadel, padahal usia putrinya sudah lebih dari lima tahun.


" Kamu barusan mengatakan apa?, akhirnya duduk juga?, Aida merasa lega?. " tanya Nadira.


" Iya bunda, ahilnya duduk juga, kan lega bunda kalna bisa duduk. "


" Hihihihi... " Nadira tertawa cekikikan karena sahutan putrinya.


" Sayang ada apa?, kenapa kamu tertawa? . " tanya Andra.


" Iya bunda ada apa?, apa ada yang lucu?. " bingung Aida.


" Iya ada yang lucu hihihihi... dari dulu kamu memang selalu lucu sayang hihihihi... " tawanya dengan menjawil dagu putrinya.


" Aida lucu bunda?, iya sih Aida memang selalu lucu, tapi kan sekalang Aida tidak sedang lucu, telus kenapa bunda jadi teltawa?, bunda aneh. " sahut Aida.

__ADS_1


" Anak bunda ini memang selalu lucu, dari dulu bahasanya tidak pernah berubah, coba sekarang Aida katakan huruf R. " ujar Nadira.


Mendengar hal ini membuat Aida jadi mengernyit bingung, mengapa bundanya menyuruhnya untuk mengatakan huruf R, memangnya ada apa dengan huruf itu.


" Iya sayang huruf R, coba sekarang Aida katakan R. " ujar Nadira lagi.


" Baiklah bunda, L. "


" Hahahaha... "


Andra dengan Nadira langsung tertawa dengan terbahak-bahak karena jawaban dari putri mereka, terlebih Andra, benar juga dengan yang dikatakan oleh istrinya Nadira jika putrinya Aida memang selalu lucu, bahasanya yang masih cadel itulah yang membuat putrinya itu menjadi lucu.


" Hahahaha... iya ya, kenapa daddy baru menyadarinya sekarang?, ternyata dari tahun ke tahun bahasa putri daddy memang tidak pernah berubah hahahaha... "


" Huh... bunda sama daddy tidak selu, Aida kesal. " rengutnya.


" Hahahaha... jangan kesal, karena memang itu kenyataannya putri daddy hahahaha... "


Sungguh Aida merasa begitu sangat kesal dengan situasi ini, pagi - pagi seperti ini kedua orang tuanya malah menertawainya seperti ini, benar - benar sangat menjengkelkan.


Namun tak lama dari itu, Aida malah ikutan tersenyum, benar juga dengan yang dikatakan oleh kedua orang tuanya jika dirinya memang selalu kurang benar dalam berbahasa.


" Hahahaha... hahahaha... "


Dan seperti inilah jadinya, keluarga kecil itu malah tertawa terbahak bersama.


" Benarkan yang dikatakan daddy? hahahaha... "


" Hahahaha... "


Bahkan mungkin suara tawa mereka sampai masuk ke dalam rumah.


Pelan tapi pasti, akhirnya mereka pun benar selesai dari tawanya, dan bersamaan dengan itu seseorang dari arah belakang mendekati mereka.


" Tuan, nona... " seru bi Sari dan mendekati mereka.


" Tuan, nona, di dalam sedang ada tamu. " tuturnya.


" Tamu?, pagi - pagi begini ada tamu?. " heran Andra.


" Iya tuan, nona, tuan muda Alvin dengan keluarganya datang. "


Deg...


" Tuan muda Alvin datang lengkap dengan orang tuanya juga. " jelas bi Sari.


" Apa?, Alvin bi Sali?, jadi Alvin datang?. " seru Aida.

__ADS_1


" Iya nona, tuan muda Alvin dengan keluarganya datang, sekarang mereka sedang berada di ruang tamu. " jelas bi Sari.


" Yeay Alvin datang, asyiiik... bunda Alvin datang, ayo kita temui Alvin bunda. " dengan begitu senangnya Aida menarik - narik tangan bundanya.


" Ya sudah, tuan nona saya permisi dulu mau ke dalam, saya masih akan memberikan jamuan pada mereka. " seru bi Sari.


" Iya sanalah. " sahut Andra.


" Ayo bunda, daddy, kita masuk juga, Aida sudah tidak sabal ingin beltemu dengan Alvin. " serunya lagi yang sudah begitu sangat tak sabar.


Nadira hanya diam, sangat senang rasanya saat mendengar kabar jika putranya Alvin telah kembali datang, tapi mengapa orang tua putranya juga ikutan datang, dan itu artinya mantan suaminya dengan istrinya sudah berada di rumah ini.


" Ayo bunda kita masuk sekalang, Aida mau beltemu dengan Alvin. " rengeknya.


" Sayang, ayo kita temui mereka. " seru Andra.


" Iya mas. " sahut Nadira dengan lirih.


Mau tak mau dirinya harus menemui mereka.


Sementara Andra sendiri sebenarnya sudah begitu sangat tak sabar ingin melihat mereka, lebih tepatnya Andra tak sabar ingin melihat mantan suami dari Nadira secara langsung. Ini adalah momen yang tak pernah diduga, kapan lagi dirinya bisa melihat pria yang sudah begitu tega memperlakukan istrinya dengan sangat tak baik selama masa pernikahan mereka dulu.


*****


Keluarga ini masih setia duduk menantikan sambutan dari tuan rumah. Makanan ringan serta minuman yang menyegarkan sudah tersaji di depan mereka, namun mereka sama sekali masih belum menyentuh sajian itu.


" Nek, Alpin haus, Alpin mau minum dulu. " ujar Alvin lalu bocah kecil itu langsung merosot dan turun dari posisinya.


Lusi sang nenek hanya bisa memperhatikan cucunya. Nampaknya cucunya Alvin sudah tak lagi merasa sungkan berada di rumah ini. Akhirnya setelah cukup lama duduk, jamuan di meja ada yang menyentuhnya meski itu hanya minuman milik Alvin.


Apa yang dilakukan oleh Alvin, tentunya tak luput dari perhatian kedua orang tuanya Dani dan Diana, terutama sang ayah Dani, jika diperhatikan putranya Alvin seperti sudah terbiasa di rumah ini.


Jika diperhatikan semenjak dari tadi, semenjak awal masuk pintu gerbang rumah mewah ini, bisa dipastikan jika suami Nadira memanglah seorang konglomerat, hal itu terlihat dari betapa megahnya rumah ini yang seperti bak istana.


Apa yang sempat dikatakan oleh putranya Alvin memanglah benar jika rumah Nadira sangat besar seperti sebuah istana. Pasti hidup Nadira begitu sangat bahagia dan sejahtera tinggal di rumah ini.


" Bunda, adik Alpi apa sudah buta mata bunda?, Alpin mau beli minuman ini. " ujar Alvin karena bocah itu ingin memberikan adiknya minum.


" Tidak boleh nak, adik Alvi mu masih belum bisa minum minuman seperti ini, adikmu masih terlalu kecil untuk minum minuman seperti ini nak. " sahut Diana yang melarang agar putranya ini mengerti.


Alvi masih baru berumur beberapa bulan, rasanya akan kurang baik jika mengkonsumsi minuman yang berekstrak seperti itu.


" Ya sudah talo tidak bisa, Alpin mau lanjut matan tuenya saja. " sahut Alvin, lantas bocah laki-laki itu mulai meraih potongan kue brownies chocolate yang sudah tersaji.


Nampaknya pagi ini Alvin sedang lapar, itu wajar, karena ia sendiri mulai berangkat dari kampung halamannya semenjak sebelum subuh, apalagi saat berada di dalam mobil Alvin hanya memakan sepotong roti rasa keju dengan minum sebotol air mineral, maka tak mengherankan jika pagi - pagi seperti ini perutnya sudah terasa lapar.


Bersambung...........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2