
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
" Diana, mama perhatikan wajahmu sedikit pucat, apa kamu sakit?, kalau kamu sakit, biar mama panggilkan dokter dulu ya ". Seru Lusi pada menantunya.
Lalu Lusi pun sudah akan mencari sang dokter untuk memeriksakan kondisi menantunya ini, namun baru saja wanita yang sudah berkepala lima itu hendak melangkah, tangannya malah ditahan oleh Diana.
" Kenapa? ". Tanya Lusi.
" Mama tidak perlu khawatir, Diana tidak sakit ma, Diana bisa seperti ini karena saat ini Diana sedang mengandung ma ". Sahut Diana pada akhirnya.
Deg...
" Apa?... mengandung?... kamu hamil Dia? ". Sahut Lusi yang begitu terkejut.
" Iya ma, Diana hamil, hamil anak kedua ". Sahut Diana.
" Ya Allah, alhamdulillah... ". Dengan penuh rasa syukur Lusi pun langsung memeluk tubuh menantunya yang setengah berbaring itu.
Lusi tak menyangka jika dirinya akan dianugerahi seorang cucu lagi.
Sedangakan Alvin sendiri, yang sedari tadi duduk di sebuah kursi yang berada di dekat ranjang perawatan ayahnya menjadi merasa bingung.
Alvin masih tak mengerti dengan apa yang terjadi pada bunda dan juga neneknya, sebenarnya apa yang terjadi pada mereka, sehingga mereka saling berpelukan.
Merasa sangat penasaran, bocah kecil yang berusia lebih dari tiga tahun itupun mulai menurunkan sepasang kaki mungilnya dari tempat duduknya, sepertinya ada baiknya juga jika dirinya ikut bergabung bersama sang bunda dan juga neneknya.
" Bunda, nenek, ada apa?, tok bunda cama nenek peluk - peluk? ". Tanya Alvin setelah ia berada di dekat sang nenek dan juga bunda nya.
" Sayang, Alvin, cucuku ". Seru Lusi dengan begitu senangnya lalu wanita yang sudah cukup berumur itupun membawa tubuh mungil cucunya ke atas pangkuannya.
" Alvin, sebentar lagi Alvin akan punya adik nak ". Seru Lusi.
" Adik, adik itu apa nek, Alpin dan nelti? ". Sahut Alvin yang memang tidak mengerti.
" Adik itu, anak kecil yang bisa Alvin gendong seperti boneka, iya seperti itu nak ". Seru Lusi dengan bahasa sederhananya.
Alvin tak menyahut, otak kecilnya masih belum mampu memahami dengan sempurna maksud dari perkataan neneknya, adik?, mendengar kata adik mengingatkan Alvin akan temannya yang ke mana - mana selalu membawa seseorang yang tubuhnya lebih kecil dari tubuh sahabatnya, mungkin seperti itulah yang dimaksud adik.
" Ya sudah, kalau begitu mama mau panggil dokter dulu, mama mau tahu kondisi calon cucu mama ini ". Seru Lusi.
Dengan perlahan Lusi pun mulai memindahkan tubuh mungil cucunya Alvin agar duduk di dekat tubuh menantunya yang sedang berbaring ini.
" A-aku di mana? ". Seru suara seorang pria yang terdengar begitu serak.
Sontak Lusi, Diana, dan juga si kecil Alvin pun langsung mengarahkan pandangan mereka ke kasur perawatan milik Dani.
" Mas Dani ". Seru Diana sehingga ia pun mulai terjaga dari posisinya.
" Dani, kamu sudah sadar nak? ". Seru Lusi.
Lusi merasa sangat lega karena setelah hampir seharian ini berada di rumah sakit dengan melihat putranya yang masih tak sadarkan diri, akhirnya putranya ini bisa membuka mata juga.
" Mas, mas sudah sadar? ". Seru Diana yang begitu sangat senang.
" Ayah, ayah cudah banun? ". Tanya Alvin juga.
Diana merasa begitu sangat senang karena akhirnya suaminya Dani bisa membuka matanya juga.
__ADS_1
" Mas, mas Dani sudah sadar? ".Tanya Diana lagi.
Dani tak menyahuti pertanyaan istrinya, malah yang ada ia hanya diam dengan kedua bola matanya yang mengarah pada kedua ujung kakinya yang tertutupi oleh selimut.
Dan tak lama dari itu, datanglah seorang dokter pria dengan di dampingi oleh dua orang suster.
" Permisi, kami minta waktunya dulu sebentar, kami ingin memeriksa kondisi pak Dani dulu bu, mbak ". Seru sang dokter agar baik Lusi dan juga Diana bisa menghargai apa yang menjadi tindakan tim medis mereka.
" Baiklah, silakan dok ". Sahut Lusi.
" Kenapa kaki ku tidak bisa digerakkan? ". Tanya Dani tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari kedua pasang kakinya yang tertutup selimut itu.
" Ada apa ini, kenapa kedua kaki ku tidak bisa digerakkan? ". Seru Dani lagi.
" Mas, apa maksud kaki mas yang tidak bisa digerakkan? ". Sahut Diana yang sudah nampak begitu khawatir.
" Dok, bagaiamana ini dok, apa yang terjadi pada putraku dok? ". Lusi sudah begitu ketakutan.
" Tenanglah ibu, mbak, kami akan memeriksa kondisi pak Dani ". Sahut sang dokter pria itu.
Lalu sang dokter dengan dibantu oleh kedua susternya itupun mulai memeriksa tubuh Dani.
Hati Diana saat ini sudah menjadi tak karuan, rasa khawatirnya begitu sangat menggelayuti hatinya. Mengapa suaminya Dani bisa mengalami seperti ini, bagaimana jika ternyata suaminya mengalami kelumpuhan.
" Bagaimana dok, bagaimana keadaan putraku Dani, kenapa kedua kaki nya tidak bisa digerakkan? ". Seru Lusi lagi yang begitu sangat khawatir padahal sang dokter masih belum selesai memeriksa kondisi Dani.
Hingga sekitar beberapa menit lamanya sang dokter pria itupun baru selesai memeriksa tubuh Dani.
" Bagaimana dok, bagaimana keadaan suamiku, apa yang terjadi padanya? ". Tanya Diana.
Untuk sejenak dokter pria itu nampak menghela nafasnya.
" Begini bu, mbak, akibat dari kecelakaan yang dialami oleh pak Dani, membuat kedua kakinya mengalami cedera hebat, sehingga dari cedera itu membuat kedua kakinya mengalami kelumpuhan ". Ujar sang dokter.
" Apa?... lumpuh?... ". Pekik semuanya.
" Tidak, aku tidak mau lumpuh, aku tidak mau lumpuuuh... ". Teriak Dani yang merasa tak terima dengan kondisinya saat ini.
Diana sangat tersentak setelah mengetahui kondisi suaminya, ternyata suaminya Dani benar - benar lumpuh, dan tanpa terasa Diana pun menjatuhkan air matanya.
" Aku tidak mau lumpuh dok, aku tidak mau lumpuh ". Seru Dani lagi.
" Nak, tenanglah nak, tenang ". Lusi begitu sangat sedih akan kondisi putranya.
Sebagai seorang ibu, tentu Lusi tidak ingin putranya mengalami nasib seperti ini, menangis melihat kondisi putranya, hanya itulah yang bisa Lusi lakukan.
" Ma, aku tidak mau lumpuh ma, aku tidak mau menjadi cacat seperti ini ". Seru Dani sedih dan kali ini ia benar - benar menjatuhkan air matanya.
Melihat semua kekacauan ini, membuat si kecil Alvin begitu kebingungan serta merasa takut, sebenarnya apa yang sudah terjadi, mengapa ayahnya meraung - raung seperti ini.
" Bunda, ayah tenapa, tenapa ayah beditu? ". Seru si kecil Alvin dengan takut - takut.
Menyadari putra kecilnya Alvin yang nampak ketakutan, Diana pun meraih tubuh mungil Alvin untuk ia gendong.
Rasa sedih memang sangat Diana rasakan, namun dirinya harus berusaha bersikap tegar, karena selain untuk membuat putranya Alvin tetap tenang dirinya juga harus menjaga agar kandungannya tidak terpengaruh dan baik - baik saja.
" Tapi tenang dulu pak, pak Dani dan keluarga jangan terlalu khawatir, kelumpuhan yang terjadi ini adalah sementara ".
" Selama pak Dani rutin menjalani pengobatan dan mengikuti terapi untuk pemulihan, saya yakin tidak akan memakan waktu lama untuk bisa segera sembuh ". Ucap sang dokter.
__ADS_1
" Benarkah itu dok?, jadi putraku tidak mengalami kelumpuhan permanen? ". Tanya Lusi, Lusi sangat berharap masih ada jalan untuk putranya bisa sembuh.
" Berdasarkan hasil pemeriksaan, seperti itu bu, putra ibu pak Dani mengalami kelumpuhan yang tidak permanen ". Sahut sang dokter.
" Dok, kira - kira kapan waktu tercepat bagiku untuk sembuh? ". Kali ini Dani lah yang bersuara.
" Jika pak Dani rutin menjalani pengobatan dan terapi, tidak menutup kemungkinan jika bapak akan segera sembuh, tapi... berapa cepatnya waktu agar dapat sembuh, saya tidak bisa menentukannya pak ". Sahut sang dokter.
Mendengar sahutan dari sang dokter membuat Dani merasa seperti mendapatkan kesempatan namun kesempatan itu seolah hanya seperti sebuah keberuntungan jika dirinya memang benar - benar mendapatkannya.
Sungguh Dani merasa sangat hancur, mengapa dirinya harus mengalami nasib seperti ini.
Lalu Dani memandang istrinya, sosok wanita yang begitu sangat dicintainya, yang membuat dirinya akan melakukan apapun asalkan ia bisa bahagia.
" Sayang... ".
" Mas... ". Diana pun menyentuh dengan lembut bahu suaminya yang tertutup oleh helaian benang pakaian khusus pasien itu.
" Sayang, maafkan aku, aku sudah lumpuh sayang, aku cacat, aku tidak bisa menjagamu dan juga anak kita dengan baik lagi ". Seru Dani pada sosok wanita yang masih menggendong tubuh mungil putrnya Alvin.
Diana pun menggeleng, seolah menolak untuk membenarkan kalimat suaminya itu.
" Tidak mas, mas Dani jangan berkata seperti itu, selama ini mas sudah menjadi suami yang baik untukku ".
" Yang harus mas Dani lakukan adalah, mas Dani harus berjuang untuk bisa sembuh, mas Dani harus berjuang demi aku dan juga anak - anak kita ". Tutur Diana dengan lembut.
Mendengar sahutan istrinya membuat Dani menjadi sedikit mengernyit bingung. Apa maksudnya demi anak - anak kita, memangnya dirinya memiliki banyak anak, bukankah anaknya saat ini hanyalah Alvin.
" Sayang, apa maksudmu dengan mengatakan harus sembuh demi anak - anak kita, memangnya kita punya berapa anak, kan anak kita Alvin ada di sini? ". Tanya Dani.
Diana tersenyum, begitu pun dengan sang mama Lusi.
" Kenapa kalian malah tersenyum, aku sedang sakit seperti ini kalian malah tersenyum? ". Tanya Dani, Dani merasa sedikit tersinggung dengan sikap yang diperlihatkan sang istri dan juga mamanya.
" Mas, benar, mas Dani memang harus berjuang untuk sembuh demi anak - anak kita... aku hamil mas, aku hamil anak kedua kita ". Sahut Diana.
Deg...
Seketika itu Dani langsung tertegun, apa yang didengarnya bagai sebuah mimpi yang begitu indah namun datang di waktu yang salah.
" Iya mas, aku hamil, aku hamil adiknya Alvin ". Seru Diana lagi.
Lalu dengan lembut, Diana pun meraih tangan kanan suaminya sebelum akhirnya diletakkan di perutnya yang masih rata itu.
Meski Dani tak mampu mendengar detak jantung dari janin yang saat ini masih bersemayam di rahim istrinya, tak bisa dipungkiri jika dirinya merasakan adanya desiran yang teramat begitu menyentuh hatinya.
Dani tak tahu apakah dirinya harus merasa bahagia atau tidak. Ya, dirinya memanglah bahagia karena tidak lama lagi akan hadir sosok mungil yang akan kembali menemani hari - harinya.
Namun tak bisa dipungkiri jika kebahagiannya ini juga bercampur aduk dengan rasa kesedihannya, sehingga kebahagiaan yang dirinya rasakan seolah menjadi hambar.
" Ya Tuhan, mengapa nasib hidupku menjadi seperti ini, istri dan anakku membutuhkan ku, bahkan kini istriku tengah mengandung anak kedua ku, tapi kondisi ku malah seperti ini ". Batin Dani
Dani merasa sangat sedih dengan nasibnya, mengapa disaat istri dan juga anak - anaknya sangat membutuhkannya kondisinya malah seperti ini.
Apakah mungkin ini adalah teguran kecil dari Tuhan, karena selama ini dirinya sudah menjadi sosok yang begitu angkuh dan tak memikirkan perasaan orang lain, sehingga nasib seperti inilah yang harus dirinya terima, yaitu tak mampu berbuat apa - apa kala orang - orang yang disayanginya sangat membutuhkannya.
Bersambung..........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€