
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Tangis kesedihan yang begitu mengharu biru telah menghiasi dua makam dari sepasang suami dan juga istri yang telah lama mengering.
Seorang gadis cantik dengan didampingi oleh kekasihnya sedang menangis sedih lantaran melihat sepasang makam dari suami dan juga istri yang sudah berlangsung begitu lama.
Ia terus menangis lantaran dua makam ini adalah makam dari sang ayah dan juga ibu kandungnya. Tak pernah ingat kapan dirinya dirawat, dan kini yang dirinya dapati adalah sepasang makam kedua orang tua kandungnya.
" Hiks hiks... hiks hiks... ". Nadira masih menangis semenjak dirinya sampai di tempat pemakaman ini.
" Pa, ma, hiks hiks... ". Isak pilunya seolah tiada henti.
Kesedihan ini benar - benar mendera batin Nadira. Jadi selama dua puluh tahunan lamanya, kedua orang tuanya telah dimakamkan dan dirinya tidak mengetahui hal itu. Hingga setelah semua kenyataan ini sudah terungkap, semuanya terasa begitu menyakitkan.
Selama ini dirinya memang tak pernah mendapatkan kasih sayang yang sebenarnya dari sepasang orang tua yang telah merawatnya, karena memang kedua orang tuanya yang asli telah tiada. Dan kini, di sepasang makam ini, Nadira meraba tanah dari makam kedua orang tua kandungnya yang belum pernah dirinya lihat selama hidupnya. Bukan tak pernah melihatnya, hanya saja dirinya tak mampu mengingat saat - saat di mana orang tua kandungnya masih hidup dan merawatnya karena pada kala itu, sebelum orang tua kandungnya pergi untuk selamanya, dirinya masih menjadi seorang bayi yang masih berumur delapan bulan.
" Sayang ". Seru Andra lembut dengan merengkuh bahu kekasihnya Nadira.
" Mas hiks... ". Tak mampu menahan rasa kesedihannya, Nadira memeluk kekasihnya dengan menenggelamkan tubuh mungilnya itu pada tubuh besar Andra.
Tak banyak kalimat yang keluar dari kedua belah bibir Andra. Bukan karena dirinya mendiamkan kekasihnya Nadira yang masih begitu berkabung dengan rasa kesedihannya, hanya saja Andra sadar jika saat ini yang paling dibutuhkan oleh kekasihnya Nadira adalah tempat untuk bersandar dan menumpahkan semua isak tangisnya, bukan nasihat apapun.
Andra masih memandangi dua batu nisan dari makam kedua orang tua kekasihnya. Sangat terlihat jelas jika nama yang tertera di batu nisan papa kekasihnya adalah Yudi Firmansyah, dan nama depannya itu sama persis seperti nama pak Yudi laki - laki yang sudah cukup berumur yang telah merawat Nadira dari semenjak masih bayi.
Jika teringat akan bagaimana ucapan Siska yang mengatakan jika kekasihnya selama ini dipekerjakan sebagai seorang pembantu, membuat hati Andra merasa begitu panas. Rasanya hatinya tidak puas jika orang - orang yang sudah berbuat tidak baik pada kekasihnya ini sampai tidak mendapatkan balasan. Namun jika dirinya benar membalas, lalu bagaimana dengan kekasihnya Nadira. Jika sampai Nadira tahu jika keluarganya mendapatkan balasan darinya, bukan tidak mungkin jika Nadira akan sangat kecewa dan sedih dengan apa yang dilakukannya.
Ini semua membuat hati Andra menjadi kesal bercampur bingung. Mungkin dirinya harus melakukan cara lain untuk memberikan balasan pada keluarga yang sudah menyakiti hati calon istrinya ini.
" Om, tante, saya janji, setelah ini, saya akan terus membahagiakan putri kalian Dira, restui saya untuk menikahi Dira, restui pernikahan kami om, tante ". Batin Andra yang meminta restu.
Merasa sudah cukup menangis dalam rengkuhan tubuh kekasihnya, akhirnya Nadira pun mulai merenggangkan tubuhnya itu dari rengkuhan Andra.
" Ma-af mas ". Seru Nadira dengan mengusap sisa - sisa lelehan air mata yang membasahi kedua pipi putihnya.
" Iya, tidak apa - apa sayang ". Sahut Andra dengan mengusap pucuk kepala Nadira.
Nadira kembali mengalihkan pandangannya pada kedua makam orang tuanya. Setelah cukup lama menangis dengan meluapkan segala kesedihan dan emosinya, kini suasana hatinya menjadi cukup lebih tenang.
Lebih baik dirinya menerima keadaan ini dengan sebaik - baiknya. Mungkin memang seperti inilah takdir yang ditentukan oleh Tuhan, untuk dirinya.
" Pa, ma, ini Dira... terima kasih karena papa dan mama sudah melahirkan Dira ke dunia ini, Dira sayang papa dan mama ".
Namun Nadira tak melanjutkan kalimatnya, masih belum usai dirinya berbincang dengan kedua almarhum orang tuanya, Nadira terlihat seperti ingin memastikan sesuatu pada Andra.
__ADS_1
" Ada apa sayang? ". Tanya Andra.
" Mas, aku ini anak dari sepasang pembantu, apa jadinya jika anak pembantu sepertiku menikah dengan pria terpandang seperti mas Andra? ". Sahut Nadira.
Ternyata ini mengganjal dalam hati Nadira.
" Sayang, memangnya kenapa kalau kamu anak dari pembantu?, aku mencintaimu, aku ingin menikah denganmu, aku tidak peduli meski kamu anak pembantu sekalipun ". Sahut Andra dengan keyakinannya.
Benar - benar sudah berubah. Andra yang dulu sudah tidak sama dengan Andra yang sekarang. Andra memang tetap sangat pemilih dalam urusan menjalin hubungan dengan wanita. Dan yang tak lepas dari kriteria wanita yang diinginkan oleh Andra adalah wanita itu memiliki status sosial yang sangat tinggi.
Jadi jika memiliki pendamping hidup dari anak sepasang pembantu, rasanya sangat tidak masuk dalam kriteria wanita yang diinginkan oleh Andra. Namun saat ini, itu semua seolah berubah, bahkan mungkin sudah tak berlaku lagi. Karena cinta tulusnya pada Nadira, membuat Andra sudah tak memandang status dari wanita yang akan dinikahinya ini. Cinta memang mampu mengubah semuanya. Bahkan hati yang keras sekalipun, akan bisa berubah karena cinta.
Nadira tersenyum setelah mendengar jawaban dari Andra. Nadira tak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Nadira merasa begitu sangat beruntung bisa diberi pasangan seperti calon suaminya Andra, dan dirinya harus bersyukur dengan ini.
" Terima kasih mas ". Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Iya sayang, dan setelah kita menikah, aku berjanji jika aku akan terus berusaha untuk bisa membahagiakan mu ". Sahut Andra yang juga tersenyum.
Nadira kembali menoleh pada sepasang makam kedua orang tuanya.
" Pa, ma, papa sama mama sudah mendengar sendiri kan jika mas Andra akan menikahiku?, restui kami pa, ma, kami akan segera menikah, papa dan mama baik - baik ya di surga ". Ujar Nadira.
Nadira memang tak ingat kapan dirinya pernah secara langsung melihat wajah dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun itu bukanlah masalah, yang penting di hari yang sudah mendekati hari pernikahannya ini, dirinya sudah meminta restu pada almarhum kedua orang tuanya.
Tidak ada yang bisa dirinya lakukan selain hanya selalu memberikan doa terbaiknya untuk kedua orang tuanya yang saat ini sudah tenang di alamnya.
*****
Hari - hari terus berlalu dan juga berlanjut. Dengan dihiasi rasa sedih yang secara berangsur - angsur mulai luntur, Nadira tetap menjalani hari - harinya dengan tenang.
Hingga sudah tiba saatnya, hari yang dinantikan oleh Nadira dan juga keluarga kecilnya bu Dewi dan juga Putri itupun telah tiba, membuat semuanya merasakan bahagia dengan bercampur aduk dengan rasa gugup.
Setelah sekian hari yang sudah berlalu, kini sudah tiba saatnya hari yang dinantikan oleh semuanya akan segera disahkan. Sebuah hari yang akan menjadi penentu di mana Nadira dan juga kekasihnya Andra akan mengesahkan hubungan mereka dalam sebuah ikatan suci yang begitu sakral.
Ya, hari ini, adalah hari di mana Andra dan juga Nadira akan segera melakukan ikatan suci pernikahan.
Kini, di sebuah gedung mewah milik Andra sendiri, dengan disaksikan oleh keluarga, penghulu dan juga para tamu undangan, Andra sudah akan bersiap untuk melakukan ijab kabul nya.
Dengan penuh kesadaran dan rasa hikmat pak penghulu itupun mulai mengucapkan ijab nya dengan jelas, hingga pada akhirnya...
" Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Ayu binti Yudi Firmansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai ". Sahut Andra dengan satu kali tarikan nafas.
" Bagaimana para saksi sah? ".
" Sah... sah... sah... ". Sahut semua saksi.
__ADS_1
" Alhamdulilah ". Puji syukur semua orang yang ada di ruangan ini.
Hati Nadira menjadi begitu sangat terharu dan juga bahagia. Akhirnya, setelah cukup lama menjalin kasih dengan pria yang dicintainya, yang disertai dengan lika - liku ujian dalam hubungan yang dijalaninya, akhirnya semua itu telah disucikan dengan janji suci yang telah diucap. Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidup Nadira. Hari di mana dirinya bisa menikah dengan pria yang dicintainya.
" Dira, selamat ya nak, akhirnya kamu menjadi istri dari tuan Andra ". Seru bu Dewi yang turut bahagia dengan pernikahan putrinya.
" Iya Dir, selamat ya, akhirnya kamu menikah juga dengan tuan Andra ". Seru Putri juga yang ikut merasa bahagia dengan pernikahan sahabatnya.
" Terima kasih bu, Put, terima kasih karena kalian sudah mau menjadi keluargaku ". Sahut Nadira.
" Iya nak, itu sudah pasti, kami ini adalah keluargamu, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan kami juga ". Sahut bu Dewi.
Setelah usai melakukan ijab kabul nya itu, Andra pun mulai beranjak dari posisinya. Andra ingin mendekati istrinya. Iya, istri, Nadira saat ini sudah resmi menjadi istrinya yang sah.
Cup...
Dengan lembut Andra pun mencium kening istrinya Nadira. Sungguh istrinya ini begitu sangat terlihat cantik.
" Sayang ". Seru Andra dengan mulai duduk di samping Nadira.
" Mana jari manismu, aku ingin memakaikan cincin pernikahan kita ". Seru Andra.
Dan dengan senang hati Nadira pun mulai mengangkat jemari mungilnya itu agar suaminya Andra bisa memasang cincin pernikahannya itu dengan benar.
Dengan lembut Andra pun mulai memasangkan cincin pernikahannya itu di jari manis istrinya Nadira. Kemudian tak lama dari itu, bergantian dengan Nadira yang mulai memasangkan cincin pernikahannya di jari manis suaminya Andra.
Cuppp...
Andra kembali mencium kening istrinya, kali ini Andra menciumnya dengan cukup lama.
Prokk... prokk... prokk...
Semua orang yang berada di ruangan ini pun bertepuk tangan ria atas pernikahan dari tuan Andra mereka. Mereka ikut senang karena akhirnya, tuan Andra, si duda manusia kulkas itu, telah melepas status duda nya.
" Selamat Andra, akhirnya kamu menikah juga dengan Dira ". Teriak Firly.
Mendengar kata menikah dari uncle Firly nya, untuk sejenak membuat si kecil Aida nampak bingung. Gadis kecil yang sedari tadi hanya diam menyaksikan kegiatan yang dilakukan oleh orang - orang dewasa di sekelilingnya ini akhirnya sudah mulai tersadar, dan benar, sesaat setelah itu Aida pun menyadari jika kegiatan ijab kabul yang dilakukan oleh daddy nya tadi adalah menikah. Iya, Aida menyadari jika daddy dan juga bunda nya sudah menikah.
" Yeay yeay yeay, daddy sama bunda menikah, yeay yeay yeay, daddy sama bunda menikah ". Seru si kecil Aida dengan begitu senangnya.
Aida begitu sangat bahagia karena akhirnya apa yang diinginkannya tercapai. Akhirnya daddy nya dan juga sang bunda telah menikah, dan itu artinya bunda nya akan tinggal di rumahnya, sehingga dengan seperti itu, dirinya bisa melihat dan bertemu dengan bunda nya setiap hari.
Bersambung.........
πππππ
__ADS_1
β€β€β€β€β€