Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Ingin Menyusul


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Suasana sore hari yang terasa begitu menyejukkan cukup dirasa oleh mereka yang pada saat ini berada di bawah naungan hutan yang begitu hijau dengan segala keindahan yang ada di sekelilingnya.


Mereka semua beramai - ramai untuk saling bahu membahu untuk membangun tenda mereka yang akan mereka gunakan sebagai tempat beristirahat selama mereka berada di hutan ini.


Ya, hari ini adalah hari di mana para mahasiswa baru yang mengenyam pendidikan di kampus besar milik tuan Andra melakukan kegiatan berkemah mereka.


Sore ini, setelah berada di lokasi perkemahan, pimpinan panitia serta anggotanya menyuruh semua maba itu untuk membangun tenda mereka masing - masing.


Setelah beberapa waktu lalu mendapatkan arahan dari ketua panitia tentang langkah awal yang harus semua maba itu lakukan, mereka akhirnya saling bantu membantu untuk mendirikan tenda mereka dengan benar.


" Huft... akhirnya selesai juga ". Seru Putri.


Dari semenjak awal Nadira dan Putri mendirikan tenda mereka, Nadira lebih banyak membantu, dalam urusan mendirikan tenda, Putri memang lebih lihai daripada Nadira, mungkin karena Putri lebih berpengalaman sehingga secara keseluruhan Putri lah yang hampir menyelesaikan semuanya.


" Maaf ya Put, aku tidak bisa bantu banyak, aku kurang begitu mengerti untuk menegakkan tenda ". Seru Nadira yang merasa tak enak hati.


" Sudahlah Dir, tak apa, tapi sekarang kan kamu sudah tahu cara untuk memasang tenda ". Sahut Putri.


" Iya, lumayan lah, lumayan tahu ". Sahut Nadira.


" Memangnya waktu sekolah dulu kamu tidak pernah ikut kegiatan berkemah? ". Tanya Putri.


" Pernah sih, malah aku pernah ikut kemah dari semenjak kelas satu SMP, tapi kemahnya di sekolah dan tidurnya di ruang kelas, ya memang ada kegiatan kemah di tempat terbuka, tapi aku tidak berminat mengikuti kemah yang semacam itu ". Sahut Nadira yang menjelaskan.


" Huumm, pantas saja kamu tidak bisa memasang tenda, ternyata hanya mau berkemah di tempat tertutup, dasar anak rumahan ". Sahut Putri yang menyindir sehingga membuat Nadira hanya bisa tersenyum kecut.


Kemah di tempat terbuka seperti ini apalagi di tengah hutan adalah pertama kalinya bagi Nadira.


Dari semua teman - teman sekelasnya dan juga maba yang lain sangat nampak jika mereka sudah mulai menikmati kegiatan berkemah ini, namun meski begitu tidak dengan Nadira.


Nadira yang tadi malam sempat mendapatkan panggilan video dari putra kecilnya Alvin, menjadi terus teringat akan sosoknya, bagaimana tidak, sosok putra kecilnya yang sudah nampak begitu kurus benar - benar membuat hati dan pikiran Nadira menjadi terus mengarah pada putranya.


Rasa ketidaktegaan akan sosok putra kecilnya itu benar - benar telah menjadi kegelisahan dalam hatinya, tubuh Nadira memang berada di tempat kemah ini, namun hati dan pikirannya seolah berada pada putranya.


" Dir, jangan melamun, ayo kita cuci tangan dulu ". Seru Putri sehingga membuyarkan alam pikir Nadira yang sempat menyelam beberapa detik yang lalu.


Dan akhirnya kedua gadis cantik itupun menuju ke tempat pencucian yang memang sudah disediakan oleh anggota panitia mereka.


Sementara di posisi lain, diantara beberapa tenda yang tak terlalu dekat dengan tenda Nadira dan juga Putri, nampak tiga wanita serangkai itu menjadi kesal, bukan tanpa sebab mereka menjadi seperti itu.

__ADS_1


Riska, Yanti dan juga Tina merasa kesal lantaran adanya Putri di dekat Nadira. Semenjak awal ketiga wanita itu memang sudah berencana untuk berbuat hal yang tidak baik pada Nadira.


Namun sayang, sepertinya rencan mereka untuk melakukan hal itu menjadi sulit atau mungkin tidak akan terjadi, karena sosok yang ingin mereka jahili itu nampaknya memiliki seorang pelindung.


" Kenapa si Putri itu harus ikut kemah sih, kalau dia terus nempel dengan Dira, yang ada kita malah tidak punya kesempatan untuk mengerjai dia ". Seru Yanti yang begitu kesal.


" Aku yakin kenapa si Putri itu ingin juga ikut kemah, pasti karena dia merasa kalau kita akan mengerjai si wanita yang tidak tahu diri itu jadinya dia juga ikut kemah ". Sahut Tina.


" Otakmu di mana Tin, Putri kan memang selalu ikut kemah ". Timpal Yanti.


" Sudah - sudah kalian ini banyak bicara dari tadi, mau ada Putri ataupun tidak aku tidak peduli, yang penting itu kita harus mencari celah bagaimana untuk mencelakai si Dira itu ". Sahut Riska yang kesal.


" Oh iya kamu benar Ris ". Timpal kedua temannya itu.


Dan seperti itulah ketiga wanita yang tidak pernah menyukai Nadira, hadirnya Nadira di dalam kampus mereka bagaikan batu sandung yang begitu sangat mengganggu.


Sungguh aneh jika mereka sampai membenci wanita yang begitu baik seperti Nadira.


*****


Sang mentari telah cukup lama kembali ke tempat peraduan nya dan berhasil menggantikan siang menjadi malam.


Malam ini, di kediaman rumah mewahnya Andra nampak gusar, setelah dirinya mendapatkan kabar dari wanita pujaannya jika mulai malam ini kegiatan berkemah sudah dimulai, membuat Andra menjadi gelisah sendiri.


Andra menyesali akan kebodohannya sendiri, bagaimana bisa dirinya lupa jika Nadira akan mengikuti kemah sejak hari ini, yang ada diingatan Andra adalah hari ini Nadira libur kuliah, sehingga dari hal itulah Andra tak datang ke rumah kekasih hatinya itu.


Andra merasa sangat khawatir dibuatnya, ia merasa khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Nadira mengingat wanita pujaannya itu sedang berkemah di tengah hutan.


Meski hutan yang menjadi lokasi untuk berkemah itu tergolong hutan yang aman, namun tetap saja rasa khawatir dan prasangka yang tidak - tidak terus bermunculan dalam benaknya, sehingga dari hal itu Andra pun berinisiatif untuk menyusul ke tempat itu.


Dengan langkah gagahnya, pria berusia matang itupun melangkah ke kamar putri kecilnya. Andra ingin sebelum dirinya pergi menuju ke lokasi di mana Nadira berkemah menemui putri kecilnya terlebih dahulu.


Ceklek...


Andra pun membuka pintu kamar putrinya.


" Daddy ". Seru si kecil Aida.


Malam ini Aida sedang melihat buku yang menggambarkan tentang macam - macam hewan dengan dibimbing oleh bi Sari.


" Daddy, daddy mau kemana, kok sepeltinya lapi sekali? ". Seru si kecil Aida pada sang daddy.


" Daddy ingin keluar sayang, daddy ingin menemui bunda mu ". Sahut Andra setelah pria itu duduk di dekat putrinya.

__ADS_1


" Memangnya bunda kemana, Aida mau ikut... Aida mau ikut kalau daddy mau beltemu bunda ". Seru Aida yang mulai merengek.


" Tidak bisa sayang bunda sedang kemah, dan kemahnya itu di tengah hutan, jadi Aida tidak boleh ikut, berbahaya ". Sahut Andra yang mencoba memberikan penjelasan pada putrinya.


Seketika itu raut si kecil Aida nampak sedikit merengut, sangat disayangkan sekali, padahal dirinya begitu sangat ingin menemui bunda nya.


" Putri daddy yang cantik ini di rumah dulu ya dengan bi Sari, kemungkinan daddy akan menginap selama beberapa hari di sana, jadi selama daddy tidak ada di rumah, Aida harus menurut pada bi Sari ". Seru Andra yang memberikan nasihat pada putri kecilnya.


" Humm... baiklah daddy ". Sahut Aida dengan lesu.


" Bi Sari ". Seru Andra pada pengasuh putrinya yang sedari tadi hanya diam.


" Iya tuan ". Sahut bi Sari.


" Tolong jaga putriku, mungkin sekitar tiga malam aku akan menginap di sana ". Ujar Andra.


" Iya tuan pasti, saya akan menjaga nona Aida ". Sahut bi Sari.


Lalu Andra pun mengalihkan pandangannya lagi pada sang putri. Andra meraih tubuh mungil putrinya itu dan membawanya untuk duduk di atas pangkuannya.


Cup...


Sebuah kecupan hangat pun tak lupa Andra sematkan di kening putrinya itu.


" Sudah, putri daddy jangan merengut, nanti cantiknya hilang loh ". Goda Andra pada putrinya.


" Ya sudah, daddy akan pergi sekarang ". Seru Andra lagi.


" Telselah daddy sajalah, jangan lupa kalau daddy sudah pulang, bawa oleh - oleh yang banyak ". Sahut Aida.


" Iya, baiklah putri cantik daddy, kalau daddy sudah pulang, daddy akan bawa oleh - oleh yang banyak sekali ". Sahut Andra.


" Baiklah, sana daddy kalau mau nyusul bunda, kasihan bunda, pasti ketakutan di hutan ". Suruh Aida pada akhirnya.


Cup... cup...


Andra pun kembali memberikan ciuman pada kening putrinya sebelum akhirnya pria berusia matang itupun benar - benar keluar dari rumahnya menuju ke tempat perkemahan Nadira.


Andra merasa khawatir akan Nadira, meski Andra yakin di tempat kemah itu sudah aman bahkan dijamin tidak ada binatang buas, namun rasanya akan tetap kurang bagi Andra apabila ia tak melihat wajah kekasihnya itu secara langsung.


Entah semua ini memang rasa khawatir nya atau mungkin selain rasa khawatir itu, Andra memang sudah benar - benar tak bisa jika satu hari saja tanpa melihat wajah Nadira.


Bersambung..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β€β€β€β€β€


🌿🌿🌿🌿🌿


__ADS_2