
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pria berusia matang yang memiliki bola mata biru itupun memperhatikan wanita yang kerap kali dipanggil bunda oleh putrinya, dan dengan perlahan Andra pun mulai meraih tangan mungil Nadira, mendapatkan perlakuan itu sontak membuat Nadira reflek menarik tangannya.
" Sayang, ada apa, kita kan akan berdansa? ". Sahut Andra.
Andra tahu jika Nadira masih belum siap dengan situasi ini, apalagi jika harus berdansa dengan dirinya.
" Iya bunda beldansa, ayo bunda sama daddy beldansa sekalang, Aida mau beli tahu pak Maman dulu agal musiknya diganti ". Sahut Aida yang ikut menimpali.
" Ayo sayang ". Ajak Andra lagi dengan kembali meraih tangan mungil Nadira.
Nadira sudah pasrah dengan situasi, jika dirinya menolak pasti akan membuat putri kecilnya Aida merasa sedih, tidak, Nadira tidak ingin hal itu terjadi.
" Ayo sayang ". Ajak Andra lagi.
Si kecil Aida sudah turun dari tempat duduknya, gadis kecil itu sedang melangkah menuju ke pak Rahman dengan meninggalkan kedua temannya yang masih berdiri di sana.
Sementara sepasang orang tua yang masih belum terikat oleh hubungan pernikahan itu mulai melangkah bersama menuju ke tengah - tengah ruangan pesta. Dan kini putri mereka Aida sudah benar - benar menemui pak Rahman yang saat ini memang bertugas untuk mengatur sound system.
" Pak Maman ". Sentak Aida.
" Aduh non, ada apa? ". Sahut pak Rahman dengan rasa keterkejutan nya.
" Musiknya diganti ya pak Maman, diganti dengan musik yang bagus, soalnya bunda sama daddy mau beldansa ". Sahut Aida dengan segala penjelasannya.
" Oh baik non, siap ". Sahut pak Rahman yakin dengan mengacungkan jempolnya.
Sementara dua tokoh utama yang saat ini sudah siap berdansa itu nampak sudah akan benar - benar bersiap untuk berdansa.
" Mas, aku tidak bisa berdansa ". Seru Nadira pada akhirnya setelah sekian lama gadis cantik itu tak ada suara.
Sebuah senyuman nampak tersemat dari kedua sudut bibir Andra.
__ADS_1
" Akhirnya kamu mau bicara juga denganku sayang, tenanglah, aku yang akan mengajarimu berdansa ". Sahut Andra yang berusaha meyakinkan Nadira.
Hingga beberapa saat dari itu, semua lampu pencahayaan di ruangan mewah dengan segala keindahan ornamen itupun mulai berubah menjadi tak seterang sebelumnya.
Karena terjadi perubahan pencahayaan, sontak membuat semua para tamu undangan pun menjadi saling menoleh, dan ternyata di tengah - tengah ruangan itu sudah nampak tuan Andra dengan calon istrinya yang sudah berdiri bersama dengan posisi mereka yang nampak terlihat romantis.
Apalagi Firly dan juga Putri, mereka berdua nampak bingung dengan situasi ini, bahkan yang membuat mereka berdua semakin bingung adalah adanya sosok Andra dan juga Nadira nampak terlihat seperti ingin mempersiapkan diri.
" Halo semuanya uncle - uncle, teman - temanku, sekalang ini daddy sama bunda ku sedang ingin beldansa, jangan lupa dilihat ya, pasti sangat selu dansa nya daddy dan juga bunda ". Seru si kecil Aida yang menyuarakan akan dilaksanakan nya kegiatan berdansa kedua orang tuanya.
Pok... pok... pok... pok...
Tepukan tangan dari para undangan terdengar nampak memenuhi ruangan mewah itu, mereka semua menyambut dengan penuh gembira kegiatan berdansa yang akan segera dilakukan oleh sang tuan rumah.
Dalam situasi ini, di mana dirinya semakin diperhatikan oleh banyak orang pasang mata, membuat Nadira menjadi begitu sangat canggung dan tak nyaman karena kondisi sekelilingnya.
Nadira masih belum terbiasa dengan hal semacam ini, apalagi harus berdansa di depan banyak orang yang menyaksikan nya.
" Sayang, kamu merasa gugup? ". Seru Andra lantaran dirinya sudah melihat raut yang berbeda dari Nadira.
Nadira menatap wajah pria yang ada di depannya ini.
" Tenanglah sayang, tidak perlu merasa begitu khawatir, kan ada aku di sini ". Sahut Andra yang berusaha menenangkan.
" Mas, kenapa mas memanggilku dengan sebutan itu, panggil aku dengan namaku saja mas ". Sahut Nadira, Nadira merasa tak nyaman jika Andra masih terus memanggilnya dengan panggilan itu, sementara dirinya bukanlah kekasih Andra lagi.
" Memangnya kenapa sih sayang dengan panggilan itu, panggilan itu adalah panggilan spesial untukmu, kamu itu sayangku ". Sahut Andra dengan senyumannya.
Nadira tak bisa menyahut lagi, menyanggah pun akan percuma, karena pasti Andra akan tetap menjawabnya dengan seribu ketetapan dari dirinya.
Hingga tak lama dari itu alunan musik romantis telah mulai menghiasi ruangan itu, dengan mengikuti alunan musik, dengan perlahan pula Andra menarik dengan lembut kedua tangan Nadira dan meletakkan nya di sepasang bahu kekarnya, tak tinggal diam hanya cukup sampai di sana, Andra pun juga menarik dengan lembut pinggang Nadira, bahkan kini kedekatan tubuh mereka nampak hampir tak ada jarak.
Nadira benar - benar gugup, sangat gugup, bagaimana bisa sampai sedekat ini, bahkan Andra menarik dirinya begitu saja tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu, seperti inikah rasanya berdansa.
Dan kini, sepasang orang tua yang masih belum terikat oleh hubungan pernikahan itu, mulai berdansa bersama dengan mengikuti alunan musik yang begitu terdengar romantis.
__ADS_1
Sementara Firly, yang memang sedari awal sudah menyadari jika Andra sudah merencanakan sesuatu, sudah merasa tak heran lagi, namun dirinya masih tetap tak menyangka, karena hanya demi untuk mendapatkan hati Nadira kembali, membuat Andra sampai melakukan hal yang benar - benar tidak mencerminkan seorang Andra.
" Selamat berjuang Andra, sungguh tidak aku sangka jika kamu sampai mau berdansa seperti ini, padahal kamu sangat tidak suka dengan hal - hal semacam ini ". Batin Firly yang tak menyangka.
Sementara Putri sendiri hanya bisa diam menyaksikan sahabatnya diajak berdansa oleh tuan Andra, meski sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya merasa sangat bahagia bisa menyaksikan sang sahabat
Dan dari kalangan rekan kerja Andra sendiri, tak henti - hentinya mereka kehilangan rasa kagum pada sang tuan, bukan tanpa sebab mereka merasa seperti itu, karena yang mereka tahu, semenjak kepergian almarhumah istrinya, tuan Andra berubah menjadi sosok yang dingin dan juga sulit untuk didekati oleh wanita.
" Sepertinya tuan Andra sudah ada perubahan, coba lihat, malam ini saja tuan Andra begitu sangat romantis pada calon istrinya ". Seru rekan kerja Andra pada sesamanya.
" Iya, benar sekali tuan ". Sahut yang lainnya.
Dan kini sepasang orang tua dari Aida terus menikmati malam berdansa mereka, pesta ulang tahun yang harusnya menjadi pesta bagi putri kecil mereka, namun malah sebaliknya, menjadi pesta dari dua sejoli yang nampak terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
" Ayo daddy bunda, yang semangat dansa nya ". Teriak si kecil Aida kegirangan.
Aida benar - benar sangat bahagia bisa melihat daddy dan bunda nya berdansa bersama, ia ingin dan terus ingin bisa melihat ini.
Dalam dansa nya, Andra terus memperhatikan wajah cantik Nadira, sistem pencahayaan yang nampak terlihat remang - remang benar - benar menambah aura kecantikan pada wanita pujaan hatinya ini.
Seolah tak mampu mengalihkan pandangannya, Andra masih terus memandangi wajah cantik Nadira, hingga tanpa dirinya sadari, Andra malah menghentikan kegiatan dansa nya.
Mendapati hal ini, sontak membuat Nadira pun heran, mengapa Andra malah menghentikan dansa nya, meski menang Andra tak melepas rengkuhannya dari Nadira.
Andra menatap dengan begitu lekat wajah cantik wanita pujaannya ini.
" Sayang... aku mencintaimu ". Seru Andra lirih dengan kedua pandangannya yang nampak sendu.
Nadira hanya diam tak berkutik, hingga...
Cup...
Sebuah ciuman hangat, telah berhasil Andra sematkan di kening wanita yang dicintainya itu.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ