
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Kepuasan yang ingin didapatkan dari kegiatan bercintanya akhirnya telah dirinya dapatkan. Kenikmatan yang didapatkan nya ini sungguh luar biasa. Semua stress dalam dirinya seolah hilang entah kemana.
Ternyata yang menjadi akar masalah mengapa dirinya begitu lepas kontrol dari emosinya hanyalah satu penyebabnya, yaitu karena tak mendapatkan jatah. Tapi karena sekarang dirinya sudah mendapatkannya, maka semua belenggu stress itu telah hilang.
Hanya satu harapan Andra setelah beberapa kali melakukan hubungan percintaan dengan istrinya, Andra berharap jika benihnya bisa tumbuh di dalam rahim istrinya.
Cup... cup... cup...
" Terima kasih sayang, aku mencintaimu ". Ucapnya dengan nadanya yang terdengar berat.
Nadira hanya mengedipkan kedua kelopak matanya sebagai jawabannya, mungkin karena dirinya sudah lelah, sehingga tak mampu mengeluarkan suaranya lagi.
Andra menyelimuti tubuh mungil istrinya dan juga tubuhnya. Kegiatan percintaannya cukup sampai di sini dulu. Andra tidak ingin melakukannya dengan berronde - ronde karena itu tidak akan baik untuk istrinya.
Dengan penuh rasa kasih sayang dan cinta pria yang memiliki sepasang bola mata biru itu memeluk tubuh istrinya.
Diusapnya lelehan keringat yang terlihat mengembun di wajah cantik istrinya. Pasti istrinya Nadira sangat kelelahan karena sudah melayaninya.
" Sayang, ini masih siang, apa kamu ingin tidur siang? ". Tanya Andra, pasalnya istrinya Nadira masih terpejam.
" Tidak mas, aku hanya ingin rebahan dulu ". Sahut Nadira yang terdengar begitu lirih.
" Baiklah sayang, tetaplah seperti ini, aku akan menemanimu di sini ". Sahut Andra.
Andra ingin menikmati waktu kebersamaannya dengan sang istri tercintanya, kapan lagi dirinya bisa seperti ini jika bukan sekarang, beruntung dirinya karena istrinya Nadira memiliki inisiatif untuk datang ke kantornya, jika tidak mungkin dirinya masih terus berada dalam belenggu setress nya.
*****
Di sebuah ruangan khusus meeting nampak sang sekretaris Andra serta para manager dan juga semua kepala staff nya sudah merasa uring - uringan.
Mereka sudah terbilang lama menunggu kehadiran tuan Andra nya yang ternyata masih tak kunjung memasuki ruangan. Hal ini tak seperti biasanya. Tak seperti biasanya tuan Andra mereka seperti ini. Bagi mereka tuan Andra adalah sosok yang sangat disiplin apalagi dalam soal waktu.
" Tuan Lexi, apakah tuan Andra jadi melakukan meeting? ". Tanya salah seorang manager pria di bagian pemasaran.
" Iya, tuan Andra tadi sudah mengatakan padaku jika pukul satu siang ini akan ada meeting yang akan membahas tentang proyek pembangunan perusahaan yang dilakukan di luar kota ". Sahut sang sekretaris Lexi, padahal ini sudah pukul dua siang, dan ini menandakan jika tuan Andra nya sudah telat satu jam.
Sang manager itupun mengangguk paham, ya apalagi yang bisa dirinya lakukan jika bukan mengiyakan saja perintah atasannya.
Sekretaris Lexi merasa kebingungan sendiri, padahal tadi pagi tuannya mengatakan jika pukul satu siang ini akan ada meeting, namun nyatanya sudah memasuki pukul dua siang tuannya malah belum hadir.
__ADS_1
Merasa bingung dan serba salah saja. Tadi tuan Andra nya juga menghubunginya untuk tidak diganggu. Bagaimana maksudnya, tuan Andra mengatakan akan diadakan meeting tapi tuan Andra nya juga mengatakan untuk jangan diganggu.
" Bagaimana ini tuan?, sebenarnya anda ingin meeting atau tidak?, kalau aku ke ruangannya sudah pasti tuan Andra akan marah, ini sangat merepotkan ". Batin Lexi.
*****
Sementara di kamar khusus di ruangan kantornya, sang tuan yang dibicarakan masih asyik memeluk istrinya. Kurang mendapatkan perhatian dari sang istri membuatnya menjadi melupakan semuanya ketika apa yang diinginkannya sudah di dapatkan. Tenggelam dalam kenikmatan kebersamaan itulah mungkin yang dialami oleh Andra. Andra tak menyadari jika karyawannya sedang kebingungan menantikan kehadirannya.
" Sayang, semoga di sini bisa segera tumbuh adiknya Aida, aku sudah tidak sabar ingin memberikan putri kita seorang adik, aku tidak sabar ingin melihatmu mengandung anakku sayang ". Seru Andra dengan mengusap - usap lembut perut datar istrinya.
" Amin, semoga saja mas ". Sahut Nadira.
Ada rasa tak enak hati dalam benak Nadira, suaminya Andra sudah membahas tentang anak, dan ternyata suaminya memang sangat menginginkan jika dirinya bisa segera mengandung anaknya. Entah mengapa hati Nadira menjadi merasa sedih, padahal sama sekali tidak ada yang salah dengan keinginan suaminya.
" Sayang, ada apa?, ada apa hum? ". Seru Andra lembut.
" Tidak ada mas ". Sahutnya.
" Sayang jangan bohong, katakan padaku kenapa kamu tiba - tiba diam, dan kalau aku perhatikan wajahmu berubah jadi agak murung, ada apa sayang? ". Sahut Andra.
Andra tak ingin jika istrinya Nadira sampai menyembunyikan apapun darinya. Andra masih sangat ingat bagaimana dirinya yang sudah beberapa kali pernah menyakiti hati istrinya dan Andra tidak ingin kesalahan itu terulang kembali, terlebih sifat Nadira istrinya yang cenderung pendiam terkadang membuatnya merasa bingung sendiri agar bisa memahaminya.
" Sayang, ada apa hum?, apa aku ada salah bicara? ". Seru Andra lagi.
Apa, jadi ini yang membuat istrinya Nadira nampak sedih.
" Sayang, maafkan aku ya, maafkan aku jika keinginanku membuatmu sedih seperti ini, baiklah, aku tidak akan buru - buru agar kita bisa memberikan Aida adik ". Andra tak menyangka jika istrinya akan sedih seperti ini.
" Maafkan aku mas ". Serunya.
" Sudah sayang jangan meminta maaf, kalau kamu benar hamil anakku aku akan sangat bahagia, tapi kalau masih belum hamil juga, aku juga akan tetap bahagia sayang, kehadiranmu dalam hidupku dan Aida sudah sangat memberikan kebahagiaan sayang ". Jelas Andra.
Andra merasa jika mungkin dirinya terlalu memaksakan istrinya, apalagi ini masih awal bagi Nadira, tidak seharusnya dirinya membicarakan soal keinginannya untuk memiliki anak, biarkanlah semuanya mengalir dengan sendirinya mungkin itu akan jauh lebih baik.
" Mas, kita masih mau tetap seperti ini?, aku mau pasang baju dulu ya mas ". Seru Nadira pasalnya semenjak selesai melakukan hubungan percintaan dengan suaminya dirinya masih belum menggunakan pakaiannya kembali.
" Untuk apa sih menggunakan baju sayang, untuk sementara biarkanlah seperti ini, aku lebih suka memeluk tubuhmu dalam keadaan polos seperti ini sayang ". Sahut Andra.
Nadira yang mendengarnya pun menjadi tersipu malu sendiri, ada saja hal yang diinginkan oleh suaminya. Namun bukan ini yang menjadi persoalannya. Tempat ini adalah kantor di mana orang - orangnya bekerja dan memiliki pekerjaan, tapi suaminya masih berdiam diri di kamar ini, apakah ini tidak akan jadi masalah jika sampai diketahui oleh karyawannya.
" Mas, mas masih ingin di sini?, apa tidak ingin mengurus pekerjaan mas begitu? ". Seru Nadira.
" Apa yang perlu aku urusi sayang, aku kan bos nya, ya suka - suka aku mau bekerja atau tidak, semua pekerjaanku sebenarnya sudah ada orang - orang kepercayaan ku yang mengerjakannya, mungkin hanya sesekali saja aku bekerja ". Sahut Andra.
__ADS_1
Dengan begitu santainya seolah tanpa beban Andra lupa akan nasib para karyawannya yang ada di ruangan meeting, bahkan hingga waktu sekarang sudah hampir dua jam lamanya karyawannya menantikan kehadirannya. Keasyikan bercinta dengan sang istri membuatnya lupa diri.
" Ya sudah terserah mas saja, meski mas adalah bos nya, tetap saja mas Andra tidak boleh lupa apalagi sampai lalai, siapa tahu tanpa mas Andra sadari ada tanggungjawab yang belum mas selesaikan, kan namanya orang bisa saja lupa mas ". Peringat Nadira.
Mendengar penuturan dari istrinya seketika itu tubuh Andra seolah menjadi membeku. Mendengar nasihat tentang lupa dari istrinya membuatnya malah teringat jika sekitar dua jam yang lalu dirinya sudah menyuruh sang sekretaris dengan semua manager di kantornya untuk mengadakan meeting, dan parahnya dirinya sendiri masih di sini.
" Sayang aku harus segera ke ruangan meeting, pasti mereka sudah menungguku ". Seru Andra tiba - tiba.
" Ya Tuhan, jadi mas Andra benar lupa?, mas Andra ada meeting? ". Nadira tak menyangka jika suaminya Andra benar lupa akan sesuatu.
Andra tak menyahuti pertanyaan istrinya, dirinya sibuk berbenah untuk kembali memasang pakaiannya. Ini sudah sekitar dua jam an semenjak meeting akan di mulai, pasti semua karyawannya di ruangan meeting itu sudah menjadi seperti patung duduk yang menunggu kehadirannya, baru kali ini Andra menjadi tak disiplin.
*****
Suasana di ruangan meeting menjadi tak jelas saja. Mereka yang ada di dalam ruangan ini sudah kehabisan kesabarannya, namun mereka sendiri juga tak mampu untuk meluapkan emosinya.
" Tuan Lexi bagaimana, tuan Andra jadi ada meeting kan?, ya bukan apa - apa tuan, saya masih memiliki banyak pekerjaan yang sudah saya tinggalkan ". Seru salah seorang kepala staff nya.
" Sabarlah dulu, mungkin sebentar lagi tuan Andra akan datang, kita tunggu sebentar lagi ". Sahut Lexi.
Ini sudah yang kesekian kalinya Lexi mengatakan kalimat yang sama, menyuruh karyawannya bersabar dalam menunggu, padahal dirinya sendiri sudah begitu sangat kesal karena tuannya yang juga tak kunjung datang.
" Tuan Lexi, kalau tuan Andra masih belum datang juga, lebih baik saya permisi dulu tuan, saya masih harus menyusun ulang dokumen penting tu... ".
Ceklek...
Seseorang telah membuka pintu ruangan.
" Kalian sudah ada di sini? ". Ternyata Andra lah yang datang.
Rasa lega sudah cukup dirasakan oleh sang sekretaris, namun tidak dengan karyawan yang lainnya. Mereka masih merasa kesal dengan tuan pemilik perusahaannya sendiri lantaran sudah tidak datang tepat waktu, padahal tuannya adalah orang yang selalu tak merasa bosan dalam menggaungkan soal kedisiplinan, namun nyatanya sekarang ini tuannya sendiri lah yang malah tak disiplin.
" Apa kalian sudah lama di sini? ". Tanyanya lagi seolah tak terjadi kelalaian apapun.
" Puji syukur, di sini kami sudah menghabiskan tiga cangkir kopi tuan ". Sahut sang sekretaris Lexi.
Andra menjadi merasa malu sendiri dengan sindiran halus sekretaris nya. Dirinya hanya bisa memegang tengkuknya yang tak gatal. Pasti karyawannya ini sudah sangat kegerahan menunggu kehadirannya. Akibat keasyikan bercinta dengan istrinya membuat Andra menjadi lupa akan segalanya. Beruntung dirinya adalah bos nya, sehingga karyawannya ini tak punya nyali untuk memarahinya.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1