
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Dengan penuh rasa percaya diri, Adit pun mulai menjentikkan benang gitar miliknya.
Alunan musik yang tercipta dari rangkaian getaran setiap benang gitar itu mampu menciptakan alunan sebuah irama musik yang terdengar begitu indah dalam indera pendengaran setiap pasang mata yang memperhatikan sang pembawa lagu.
" Uh... "
" Dia, hanya dia di duniaku ".
" Dia, hanya dia di mataku ".
" Dunia terasa telah menghilang ".
" Tanpa ada dia di hidupku ".
" Sungguh sebuah tanya yang terindah ".
" Yeay - yeay, bagaimana dia mengkuh sadarku ".
" Tak perlu ku bermimpi yang indah ".
" Karena ada dia di hidupku ".
" Ku ingin dia yang sempurna ( yang sempurna )".
" Untuk diriku yang biasa ( yang biasa ) ".
" Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya ".
" Ku ingin semua yang ada pada dirinya ".
" Ku hanya manusia biasa ".
" Tuhan bantu ku tuk berubah ".
" Tuk miliki dia tuk bahagiakannya ".
" Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia ".
Adit sang ketua BEM itu menyanyikan lagu Dia dari Sami Simorangkir dengan penuh penghayatan, semua mahasiswa yang menyaksikan bagaimana keseruan dari sang ketua BEM dalam membawakan lagu itu begitu sangat terhibur dan seolah mereka benar - benar ikut larut dalam lagu itu.
Namun sayangnya, disaat sang pembawa lagu menyanyikan lagu spesial untuk sosok yang spesial, ternyata dari posisi yang tak terlalu jauh tapi di mana Adit sendiri dan semua teman - temannya tak begitu memperhatikan posisi itu, nampak seorang pria tengah berdiri dengan rasa emosinya yang sudah begitu membuncah.
Pria itu merasa begitu sangat emosi lantaran sebuah lagu spesial yang dibawakan oleh Adit itu sebenarnya dipersembahkan pada sosok wanita yang sangat dicintainya.
" Dasar bocah ingusan, kamu memang tidak tahu diri ya ". Batin Andra yang begitu sangat kesal.
Andra mulai melangkah dari posisi itu seharusnya dirinya menghentikan nya sedari awal, namun sayang karena kebodohannya yang merasa tak ingin mengganggu kegiatan di malam hari untuk semua mahasiswanya, tanpa dirinya sadari sudah memberikan peluang bagi Adit untuk menunjukkan bagaimana perasaannya pada wanita yang dicintainya.
" Andra, tunggu aku ". Seru Firly yang ternyata juga sudah sampai di lokasi itu, namun sayang seruan nya sama sekali tidak Andra pedulikan.
Andra melangkah menuju ke perkumpulan mahasiswanya.
" Ada apa ini, kenapa kalian semua tidak kembali ke tenda masing - masing? ". Seru Andra tiba - tiba sehingga memecah titik fokus semua mahasiswa itu yang sedang asyik - asyiknya mendengarkan Adit yang bernyanyi.
Semua mahasiswa itu dalam seketika langsung terkejut, mereka terkejut lantaran tuan Andra datang ke lokasi kemah mereka.
" Mas Andra ". Gumam Nadira.
Nadira tak menyangka jika Andra tiba - tiba hadir di acara berkemahnya, bahkan kini Andra sudah mendekat ke arahnya.
" Sayang ". Seru Andra lalu pria berusia matang itupun mulai meraih kedua tangan Nadira dan menariknya dengan lembut agar Nadira bisa berdiri dari posisinya.
Cup....
Ciuman hangatnya pun kembali Andra sematkan di kening Nadira, tentunya hal yang dilakukan oleh Andra itu tak luput dari perhatian semua mahasiswa yang ada di sana termasuk perhatian Adit.
" Mas, apa yang mas Andra lakukan, malu sama yang lain ". Seru Nadira dengan rautnya yang nampak merasa malu.
" Sudahlah sayang, kenapa harus malu, biarkan saja mereka tahu, terutama si bocah ingusan itu, yang sok - sokan menyanyikan lagu spesial untuk mu ". Sahut Andra dengan kadua bola matanya yang nampak berkerling sinis ke arah Adit.
Deg... seketika itu tubuh Nadira seolah menjadi membeku. Apa maksudnya dengan Andra mengatakan hal itu, apakah Andra tahu jika Adit memang memiliki perasaan padanya, jika hal itu memang benar, artinya apa yang katakan oleh Putri memang benar jika Adit memang memiliki perasaan padanya, bahkan Andra sendiri sampai mengetahui hal itu.
Nadira seolah dibuat sangat bingung, bagaimana bisa dirinya begitu lama tidak mengetahui hal ini, ia tidak tahu jika Adit memiliki perasaan padanya, jadi selama ini sikap Adit yang terkesan ramah dan sering memiliki keinginan untuk mengantarnya pulang adalah karena Adit menyukainya, sungguh Nadira merasa tak menyangka dengan hal itu.
Sementara dari jarak yang sudah hampir mendekat, Firly mulai mendekati kekasihnya Putri, Firly bisa melihat dengan jelas jika Putri sedang berdiri dengan memperhatikan Nadira dan juga Andra.
" Halo baby ". Seru Firly tiba - tiba lalu pria itupun mulai merengkuh tubuh kekasihnya itu dari arah samping.
" Ih mas, apa yang kamu lakukan lepaskan ". Sentak Putri yang begitu terkejut dengan tubuhnya yang sedikit meronta.
__ADS_1
" Baby, aku merindukanmu sangat merindukanmu ". Seru Firly lagi.
" Mas lepaskan, lepas ". Dan akhirnya Putri pun benar - benar bisa melepaskan rengkuhan dari kekasihnya itu.
" Apa yang mas Firly lakukan, malu sama yang lain ". Sahut Putri.
" Iya maaf baby, habisnya aku terlalu merindukanmu ". Sahut Firly dengan tersenyum, akhirnya setelah cukup lama, dirinya bisa melihat sosok kekasihnya.
Anggota panitia, beberapa dosen serta para mahasiswa yang ada di sana menjadi bingung dan tak tahu harus berbuat bagaimana, datangnt sang pemilik kampus ke area lokasi kemah benar - benar membuat mereka tak menyangka dan tak bisa memprediksi akan hal itu.
Memang benar jika tuan Andra mereka mengetahui lokasi ini, namun berdasarkan sejarah, tidak pernah sekalipun tuan Andra mereka datang ke lokasi kemah disaat semua mahasiswanya berada di lokasi kemah itu, dan hal ini adalah pertama kalinya bagi sang tuan bisa hadir dalam waktu yang seperti ini.
" Tunggu apa lagi, ayo semuanya bubar dan kembali ke tenda masing - masing, bukankah besok kalian akan melakukan kegiatan, bukannya tidur malah mendengarkan orang bernyanyi ". Seru Andra lagi dengan begitu lantangnya.
Tak ingin menjadi sasaran dari kemarahan sang tuan, akhirnya para dosen serta beberapa anggota panitia itu menyuruh para mahasiswanya untuk kembali ke tenda mereka.
Sangat disayangkan, padahal mereka semua yang mendengarkan musik karena sebenarnya mereka ingin mengakhiri waktu mereka dengan mendengarkan musik sebagai bekal sebelum mereka benar - benar beristirahat.
Dan pada akhirnya, semua maba itupun berangsur - angsur masuk ke masing - masing tenda mereka, meski sebagian dari mereka masih ada yang duduk di luar.
Dalam hal ini, Adit sang ketua BEM yang telah diganggu kesempatannya lantaran ulah sang tuan, menjadi merasa begitu sangat kesal, namun apalah daya, dirinya yang hanya seorang mahasiswa tak dapat membantah semua perlakuan sang tuan itu.
Apa yang dirasakan oleh Adit ternyata juga tak jauh berbeda dengan yang dirasakan oleh Riska, Yanti dan juga Tina, tiga wanita yang hampir selalu bersikap tak baik pada Nadira menjadi merasa kesal terutama Riska.
Disaat pria idamannya yaitu Adit ingin menyanyikan lagu yang spesial untuk sosok yang spesial, ternyata sosok itu bukanlah dirinya melainkan Nadira.
Hal itu baru Riska sadari setelah Adit terus memperhatikan Nadira tanpa ada niatan untuk melepaskan pandangannya sepanjang Adit bernyanyi, Riska merasa jika dirinya sudah dikelabui, bahkan ia merasa seperti sudah mempermalukan dirinya sendiri.
" Gara - gara si jan*da yang tidak tahu diri itu semuanya jadi tidak asyik, aku heran deh apa sih istimewanya si jan*da itu, kenapa sepertinya banyak kesatria yang suka sama dia ". Seru Tina berbisik dengan rasa emosinya.
" Kamu itu pikun atau bagaimana sih Tin, kan si Dira itu cantik, ya wajarlah kalau banyak pria yang suka sama dia ". Sahut Yanti.
" Dasar, mereka itu bodoh atau bagaimana sih, bisa - bisanya mau dengan seorang jan*da, apalagi sudah punya anak, seperti tidak ada wanita yang lebih cantik saja ". Sahut Tina lagi.
" Sudah - sudah, bukan saatnya kita memikirkan hal itu lagi, sekarang itu kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk mencelakai si jan*da itu, apalagi tuan Andra ada di sini, semakin kecil kemungkinan kita bisa mencelakai dia ". Ujar Yanti lagi.
" Benar sekali kamu Yan, tapi bagaimana ini, Riska, kok kamu malah diam dari tadi? ". Sahut Tina.
" Kalian ini dari tadi sibuk bicara sendiri, kalian kan sudah tahu kalau tuan Andra datang ke tempat ini, kalau kita sampai mencelakai si jan*da tidak tahu diri itu, sudah pasti kita dengan tuan Andra ". Sahut Riska dengan raut tak bersahabat nya.
Yanti dengan Tina yang melihat perubahan raut dari wajah Riska menjadi bergidik ngeri sendiri, jika Riska sudah seperti ini bisa dipastikan suasana hatinya benar - benar buruk, dan efeknya bisa jadi mereka berdua lah yang akan menjadi sasaran kemarahannya.
Diam dan tak berseru lagi adalah cara yang cukup ampuh untuk menjaga agar emosi Riska tak menjadi kemana - mana, mereka tak ingin jika sampai menjadi sasaran emosi dari teman mereka yang terkenal mudah marah ini.
Sementara Firly sendiri saat ini malah duduk bersama dengan Putri di dekat tenda tempat Putri beristirahat, nampaknya mereka berdua merasa nyaman duduk bersma namun sesekali juga mereka melihat ke arah Andra dan juga Nadira.
" Mas, mereka membicarakan apa sih, kok tuan Andra sampai dekat begitu duduknya dengan Dira? ". Seru Putri.
" Kenapa baby, kamu iri dengan mereka, kalau kamu mau aku akan duduk lebih dekat lagi dengan kamu ". Sahut Firly dengan menaik turunkan kedua alis hitamnya.
" Ih, apa sih kamu mas, jangan dekat - dekat, awas saja kalau kamu sampai dekat - dekat lebih baik aku tidur duluan ". Sahut Putri yang begitu jengkel.
Putri merasa cukup jengkel dengan kekasihnya, ia yang bertanya baik - baik tentang Nadira dan juga tuan Andra yang duduk dengan begitu dekat malah dijawab dengan jawaban lelucon.
" Oh, jadi kamu ingin tidur baby, ya sudah aku temani ya ". Sahutnya dengan nakal.
" Plakk.. plakk... ".
" Aaaw.... aaah... aduh - aduh, sakit... sakit baby ". Teriak Firly dengan begitu kencangnya , Putri memukul lengan Firly dengan begitu sangat kencang.
Sontak teriakan Firly itu pun membuat beberapa mahasiswa yang masih berada di luar tenda mereka langsung menoleh ke arah mereka berdua.
" Aduh baby sakit, apa yang kamu lakukan sih, kenapa kamu memukul ku sampai seperti orang yang kesetanan? ". Sahut Firly dengan masih meringis.
" Habisnya kamu keterlaluan mas, memangnya kamu pikir aku ini wanita murahan apa yang bisa diajak tidur seperti itu? ". Kesal Putri.
" Baby, maafkan aku, aku hanya bercanda, lagipula mana mungkin aku tidur satu tenda dengan kamu, apa kamu tidak lihat itu tenda ku masih dibuat sama anggota panitia? ". Serunya yang meminta maaf.
Firly tak pernah menyangka jika Putri akan se kesal ini padanya padahal dirinya hanya bercanda, namun meski begitu ada rasa kagum di benak Firly untuk Putri, ternyata Putri memanglah sosok wanita yang sangat menjaga kehormatannya.
" Kenapa mas malah diam?, bukannya membantu mereka yang sudah membuatkan tenda untuk mas malah duduk di sini dengan membicarakan hal yang tidak penting ". Sahut Putri lagi.
" Sudahlah baby, kenapa kamu ini marah - marah terus sih, apa jangan - jangan kamu mau datang bulan ya, jadinya sensitif begini? " Sahut Firly dengan praduga nya.
Deg... seketika itu tubuh Putri langsung nembeku, Putri menjadi terdiam dengan pandangannya yang tak berkedip pada Firly.
Putri baru menyadarinya sekarang jika minggu ini sudah memasuki minggu ke tiga, jadi ada kemungkinan jika tak lama lagi dirinya akan segera kedatangan tamu bulanannya, pantas saja jika akhir - akhir ini moodnya sering berubah bahkan menjadi lebih sensitif dan hal itu membuatnya cenderung menjadi lebih mudah tersinggung.
" Kenapa kamu diam, pasti dugaanku benar kan baby? ". Seru Firly lagi.
" Heeh... sudahlah mas, kamu sok tahu, sudah ah, aku malas ngobrol sama kamu lagi ". Putus Putri.
Putri sudah merasa malas jika harus melanjutkan obrolannya lagi dengan kekasihnya, menurutnya Firly tak bisa diajak untuk berbicara serius, jika dilanjutkan berbicara sudah pasti yang menjadi sahutannya hanyalah lelucon saja.
__ADS_1
Sementara ini, di posisi di mana Andra dengan sang kekasih hati Nadira, dua sejoli itu masih memikirkan nasib hubungan mereka yang hingga saat ini masih tak menentu arah dan kejelasannya.
Dengan masih setia Andra menggenggam kedua tangan wanita yang memiliki tempat di spesial di hatinya itu, tatapannya masih sama, tatapan penuh harap.
" Bagaimana sayang, kamu mau kan menerimaku kembali? ". Seru Andra lagi dan ini sudah yang kesekian kalinya ia mengucapkan kalimat yang penuh harapan itu.
Andra begitu sangat berharap jika cinta dan hubungan mereka bisa bersemi kembali.
" Mas, aku seorang janda, untuk menjalin hubungan dengan wanita seperti ku tidaklah mudah, aku hanya merasa khawatir, jika suatu hari nanti mas Andra akan berubah karena statusku ". Sahut Nadira dan inilah yang menjadi kekhawatiran nya selama ini sehingga membuatnya tak kunjung menerima permintaan Andra yang ingin kembali melanjutkan hubungannya.
Seketika itu rasa bersalah kembali mencuat dalam relung hati Andra. Ia tahu jika pastilah tidak mudah bagi Nadira untuk menerimanya kembali. Andra yakin rasa khawatir Nadira ini pasti tak lepas dari pengakuannya disaat bersama Firly.
Jika waktu bisa diputar kembali, tidak mungkin dirinya mengucapkan kalimat itu, kalimat yang membuat Nadira kehilangan rasa kepercayaatn pada dirinya.
" Sayang... percayalah padaku, aku sungguh menyesali semua itu... apapun statusmu, aku tidak peduli sayang, yang aku inginkan hanya satu, yaitu kamu bisa menerima ku kembali ". Seru Andra.
Andra sudah tak tahu lagi bagaimana caranya untuk meyakinkan Nadira, semua permohonannya sudah ia berikan, namun Nadira masih tak kunjung mengatakan iya untuk kembali melanjutkan hubungannya.
Karena masih tak kunjung mendapatkan jawaban kepastian dari Nadira, membuat Andra pun secara perlahan mulai melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nadira.
Deg... seketika itu Nadira langsung menatap Andra dengan tatapannya yang lebih membulat, ia merasa bingung dan juga khawatir, mengapa Andra melepaskan genggaman tangannya dari jemarinya.
Andra merasa jika untuk saat ini lebih baik dirinya menyudahi dahulu keinginannya untuk bisa membujuk Nadira, mungkin untuk saat ini bukanlah waktu yang tepat membuat Nadira bisa memberikan jawaban yang selama ini dirinya inginkan, mengakhirinya sejenak, mungkin akan terasa lebih baik.
" Ya sudah sayang, jika kamu masih belum bisa memberikan jawabannya sekarang, lebih baik kamu istirahat saja, ini sudah malam, besok kamu kan masih harus mengikuti kegiatan ". Sahut Andra dengan nada suaranya yang terdengar begitu rendah.
Dengan tanpa mengucapkan sepatah katapun bahkan tanpa adanya ciuman di kening, Andra pun mulai beranjak dari posisinya.
Sungguh tak bisa dielakkan jika saat ini Andra memang benar - benar merasa kecewa, kecewa karena dirinya masih belum mendapatkan akan jawaban yang diinginkannya.
Dan akhirnya Andra pun benar - benar telah berdiri tegak dan mulai melangkahkan sepasang kaki kokohnya.
" Mas... ". Tahan Nadira tiba - tiba dengan menyentuh tangan kanan Andra.
Sontak apa yang dilakukan oleh Nadira langsung menghentikan langkah Andra.
Andra pun menatap wajah Nadira, bisa Andra lihat dengan jelas jika dari kedua sorot mata Nadira nampak adanya kekecewaan.
" Ada apa sayang? ". Sahut Andra.
" Iya ". Sahut Nadira singkat.
" Iya?... iya apa? ". Sahut Andra yang malah menjadi bingung.
" Iya, aku mau melanjutkan hubungan kita ". Sahut Nadira pada akhirnya.
Deg... deg... deg...
Seketika itu tubuh Andra terasa seolah membeku, dan detak jantungnya berdetak dengan begitu kencang sehingga membuat seluruh bagian tubuhnya seolah ikut berdetak juga.
Benarkah yang dirinya dengar ini, benarkah jika wanita pujaannya telah kembali menerima cintanya.
" S-sayang, apa aku tidak salah dengar?, kamu menerima ku lagi sayang? ". Seru Andra yang begitu masih tak percaya.
" Iya mas, aku menerima mu lagi, aku ingin melanjutkan hubungan kita ". Jelas Nadira.
" Sayang... ".
Grepp...
Andra langsung memeluk tubuh mungil wanita yang dicintainya itu dengan begitu erat, akhirnya, setelah sekian waktu perjuangannya membuahkan hasil yang begitu membahagiakan.
Andra begitu sangat bahagia, teramat sangat bahagia, ternyata perjuangannya selama ini tidaklah sia - sia, Nadira, wanita yang sangat dicintainya telah menerimanya kembali, sungguh Andra tak tahu lagi harus bagaimana cara mengungkapkan rasa bahagianya itu.
" Sayang, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu ". Seru Andra dengan pelukan eratnya.
" Aku juga mencintaimu mas ". Sahut Nadira.
Dan akhirnya dua insan anak manusia yang baru saja membuat cinta mereka bersemi kembali, saling merengkuh seolah tak ingin lepas antara satu sama lain.
Mereka lupa jika di sana masih ada beberapa orang yang masih belum beristirahat untuk menuju mimpi indah.
Apalagi Andra, ia sudah benar - benar lupa akan segalanya, Andra yang memang sudah sangat mengharapkan akan hal ini, membuatnya sudah berkeyakinan jika apapun yang terjadi, tak akan dirinya menyakiti wanita yang dicintainya lagi.
Cukup satu kali dirinya melakukan kesalahan, dan ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Andra mencintai Nadira, sungguh sangat mencintainya.
Bersambung..........
πππππβ€β€β€β€β€
πΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1