Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Pertolongan Untuk Aida


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Di dalam kamar tanpa adanya aktivitas yang begitu berarti hanya itulah yang bisa dirinya lakukan.


Menonton tayangan tv dirinya sama sekali tak ada minat, lagipula waktu sekarang masihlah terlalu pagi.


Diam - diam Nadira memperhatikan toples yang berisi makanan ikan milik putrinya. Penasaran dengan isinya, Nadira meraih toples itu.


" Satu toples isinya hanya sebanyak ini, ikan - ikan milik anakku kan banyak, belum lagi ada yang besar - besar, kalau hanya satu toples yang diberikan mana mungkin cukup? ". Gumam Nadira dengan memperhatikan toples yang dipegangnya.


Tak ingin jika putri kecilnya sampai bolak - balik masuk kamar hanya karena demi toples ini, membuat Nadira berinisiatif ingin menyusul putrinya saja.


" Biarkan saja mas Andra marah, lagipula aku hanya keluar sebentar ". Lantas Nadira pun benar turun dari ranjang kasurnya sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamarnya.


*****


Langkahnya sudah tak tertatih-tatih, dan suaminya Andra selalu melarangnya untuk bergerak ke sana ke mari.


Di rumah ini ada cctv nya, sudah pasti suaminya Andra bisa melihat apa yang dirinya lakukan.


" Tidak mungkin mas Andra melihatku jalan - jalan, kan mas Andra sedang ada pertemuan dengan teman kerjanya ".


Nadira berusaha bersikap santai saja kala dirinya sudah sampai di teras belakang meski terdapat cctv yang terpasang suaminya tidak akan mengetahuinya.


Dalam langkahnya Nadira tak melihat keberadaan putri kecilnya di sekitar kolam ikannya.


" Di mana putri ku?, katanya mau memberi makan ikan kok orangnya tidak ada? ". Gumam Nadira di sela - sela langkahnya.


Nadira melewati lantai di sekitar kolam renang, karena dirinya melangkah tanpa menggunakan alas kaki, sangat terasa di telapak kakinya jika ada seperti cairan minyak yang bercampur dengan air.


" Di sini lengket sekali, apa belum di sapu? ". Gumamnya dengan menunduk.


Alih - alih sedang menunduk pandangan Nadira malah tertuju pada sesuatu yang sedang mengapung.


" Loh, itu toples putri ku ".


Entah dari mana asalnya tiba - tiba saja perasaan Nadira mendadak menjadi sangat tak enak. Rasa tak enak hatinya ini membuat pandangannya jadi menyelami kolam renangnya.


Deg...


" Ya Allah, Aida ".


" Ya Allah, sayang ".


" Ya Allah... ".


Byuuurrrrr.....


Tanpa memikirkan apa - apa lagi, Nadira pun langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam renangnya.


Nadira tak memikirkan apapun lagi, yang ingin dirinya lakukan adalah bagaimana agar dirinya bisa menolong putrinya yang sudah tenggelam dan hampir mencapai dasar kolam.


Dengan segala usahanya, kedua tangan Nadira akhirnya berhasil meraih tubuh mungil putrinya dan mencoba mengangkatnya dari dalam air kolam.


" Ya Allah, sayang hiks... Aida hiks... ". Isak tangisnya tak bisa Nadira bendung lagi.


Nadira membawa tubuh mungil putrinya yang sudah basah kuyup dan tak sadarkan diri itu ke atas lantai.


Rasa khawatirnya telah memenuhi relung hatinya, namun dirinya tidak boleh larut dalam kepanikan, dirinya harus tetap tenang agar bisa menolong putri kecilnya.


" Aida - Aida hiks... bangun nak, bangun sayang hiks... ". Dengan lembut Nadira mencoba menepuk - tepuk pipi putrinya.

__ADS_1


Tak ada respon dari Aida, dan ini membuat Nadira menjadi sangat kebingungan.


" Aida bangun sayang hiks... kamu dengar bunda kan nak hiks... bangun sayang ".


Aida tetap tak merespon sentuhan dan suaranya, bagaimana ini, bagaimana caranya agar putrinya Aida bisa sadar.


Rasa khawatir yang begitu menyelimuti hatinya membuat Nadira sama sekali tak terpikirkan untuk meminta pertolongan, yang ada di dalam otaknya adalah bagaimana agar putrinya bisa selamat.


" Aida - Aida bangun sayang hiks... bangun nak ". Dan masih tak ada respon dari Aida.


Tak adanya respon dari putri kecilnya malah membuat Nadira ingin melakukan hal yang bisa dibilang sangat gila.


Entah apa yang ada di dalam benaknya Nadira malah menarik dan mengangkat kedua kaki putrinya hingga membuat tubuh putrinya itu menjadi sungsang.


" Sayang ayo sadarlah nak hiks... jangan buat bunda mu khawatir ". Dengan isak tangisnya Nadira menggerak - gerakkan tubuh putrinya yang sudah sungsang itu.


Nadira sengaja melakukannya dengan harapan agar putrinya ini bisa memuntahkan air yang sudah masuk ke tubuhnya.


" Ayo sayang sadarlah nak jangan buat bunda mu khawatir hiks hiks... ".


" Ayo muntahkanlah nak, keluarkan air yang sudah masuk ".


Nadira tak henti - hentinya melakukan cara yang cukup ekstrem itu agar putrinya bisa segera sadar.


" Ayo Aida sadarlah nak, keluarkan semua yang masuk ke tubuhmu hiks hiks... jangan buat bunda khawatir nak ".


" Aida sadarlah sayang sadarlah nak hiks hiks... ".


" Ayo Aida sadarlah nak hiks... sadarlah hiks... ".


" Hiks hiks... nak ayo muntahkan airnya jangan buat bunda khawatir nak sadarlah Aida hiks... ".


" Uhukk... uhukk... uhukk... uhukk... ".


" Uhukk... uhukk... uhukk... uhukk... ".


" Uhukk... uhukk... uhukk... uhukk... ".


Dengan sangat hati-hati Nadira merebahkan tubuh mungil putrinya di atas pangkuannya dengan kedua tangannya yang memegang kepala putrinya.


" Uhukk... uhukk... uhukk... bun-dah ". Bahkan suara Aida nyaris tak terdengar.


" Sayang hiks hiks... akhirnya kamu sadar nak hiks... ".


" Hiks hiks... akhirnya kamu sadar nak ".


Begitu sangat takut jika sampai kehilangan putrinya, Nadira memeluk tubuh mungil itu dengan begitu sangat erat.


Nadira sangat bersyukur karena apa yang dikhawatirkan nya tidak sampai terjadi, putrinya Aida telah selamat dari maut.


" Bunda harus membawamu ke rumah sakit nak ".


Ingin sang putri segera mendapatkan pertolongan, membuat Nadira tak ingin membuang waktu lagi.


Nadira menggendong tubuh mungil putrinya yang basah kuyup dan tak berdaya itu untuk menghubungi orang rumahnya sebelum akhirnya pergi menuju ke rumah sakit.


*****


Langkah lebarnya begitu sangat tergesa-gesa kala memasuki lorong sebuah rumah sakit mewah miliknya. Banyak pasang mata yang memperhatikan kedatangannya namun dirinya sama sekali tak menghiraukan hal itu.


Rasa khawatir dan cemas sangat berkecamuk dalam benaknya. Merasa kesal pada dirinya sudah pasti, merasa kesal karena sudah meninggalkan istri dan anaknya itulah penyebab kekesalan terbesarnya, merasa kesal karena mengapa langkahnya tak kunjung sampai di kamar di mana putri kecilnya saat ini sedang dirawat.


" Selamat datang tuan Andra ". Sapa sang manager dari rumah sakitnya, namun sayangnya Andra sama sekali tak menyahut, jangankan untuk menyahut sedikit melirik saja sama sekali tidak.

__ADS_1


Andra tetap melangkah begitu saja dengan tidak mempedulikan siapapun meski berpapasan dengan manager dari rumah sakitnya sendiri, yang ada dalam pikiran Andra hanya satu saat ini yaitu melihat jika kondisi putrinya Aida dalam keadaan yang baik - baik saja.


Hingga setelah hampir sepuluh menit lamanya perjalanan meski menaiki lift rumah sakit, akhirnya dirinya sudah sampai di depan pintu ruangan rawat khusus VVIP putrinya.


Ceklek...


Andra pun berhasil membuka pintunya, Nadira yang semenjak dari tadi menemani putrinya di ruangan ini langsung menoleh ke arah pintu, dan ternyata suaminya Andra lah yang datang.


" Sayang ".


" Mas ".


Andra memeluk istrinya, sangat Andra rasakan jika istrinya ini begitu sangat khawatir.


Cup...


" Mas putri kita ". Bahkan kedua bola mata indahnya mulai kembali berkaca - kaca.


" Tenanglah sayang, pasti putri kita akan baik - baik saja, terima kasih karena kamu sudah menyelamatkan putri kita ".


Andra memperhatikan keadaan putri kecilnya, sungguh malang nasib putrinya ini, ini adalah yang kedua kalinya dirinya melihat putrinya dalam keadaan yang lemah seperti ini, yang pertama disaat Aida baru lahir di usia yang tidak semestinya sehingga menyebabkannya lahir dalam keadaan prematur, yang kedua adalah saat ini, di mana putrinya harus dirawat setelah tenggelam ke dalam kolam.


Infus yang terpasang di tangan mungilnya, alat bantu oksigen yang terpasang di saluran pernafasan nya membuat Andra merasakan sakit karena harus menyaksikannya.


" Maafkan daddy sayang, maafkan daddy yang sudah lalai menjagamu ".


Cup... cup... cup...


Ciuman bertubi-tubi itupun Andra hujani pada kening putrinya yang masih terpejam.


" Tuan Andra ". Seru sang dokter yang telah menangani Aida setelah cukup lama mematung.


" Kami sudah mengeluarkan air yang ada di paru - paru nona kecil Aida, nona sudah melewati masa kritisnya, dan saat ini nona masih beristirahat untuk masa pemulihan ". Jelas sang dokter.


" Bagus, itu memang tugas kalian, untuk apa aku menggaji kalian dengan gaji yang besar jika tidak mampu merawat putriku dengan baik? ". Bukannya berterima kasih Andra malah memberikan sahutan yang begitu tak mengenakkan hati.


" Dokter, suster, terima kasih ya karena sudah menolong putri ku dengan sangat cepat ". Dan Nadira mengucapkan kalimatnya itu dengan tersenyum.


" Iya nona itu memang sudah menjadi tugas kami ". Sahut sang dokter.


" Kalau begitu kami permisi dulu tuan nona ".


" Iya silakan dok ". Sahut Nadira.


Nadira hanya bisa menghela nafasnya, dalam benaknya Nadira selalu bertanya mengapa suaminya Andra hampir selalu bersikap tak ramah pada bawahannya, apakah memang sikap suaminya selalu seperti ini.


Pantas saja semua bawahan dan karyawannya selalu bersikap sangat sopan, karena suaminya Andra memang terkenal sebagai sosok yang dingin dan begitu ketus.


" Sayang, kamu istirahat saja dulu di sana, itu kan ada sofa besar yang seperti kasur, kamu istirahat saja dulu di sana sayang ". Seru Andra.


" Tidak mas, aku ingin duduk di dekat putri kita, aku ingin disaat Aida sudah sadar nanti dia bisa melihat wajah kedua orang tuanya di sini ". Sahutnya yang merasa enggan untuk berpindah.


" Baiklah sayang ". Sahut Andra.


Ada rasa ketentraman dalam hati Andra karena sikap istrinya. Dirinya memang sangat beruntung memiliki seorang istri seperti Nadira, dan yang paling beruntung lagi adalah putrinya Aida, Aida begitu sangat beruntung karena memiliki seorang ibu sambung seperti Nadira, dan itu adalah pilihannya sendiri.


Sebenarnya Nadira sendiri untuk saat ini kurang merasa begitu nyaman dengan kondisi tubuhnya, terutama dirinya merasa tak nyaman di bagian perutnya, selain itu dirinya juga merasa sedikit agak pusing, entahlah Nadira sendiri juga tak mengerti, padahal dirinya sudah beristirahat dan tidak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat.


Bersambung..........


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀

__ADS_1


__ADS_2