
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sang daddy dengan putri kecilnya menuju ke teras depan. Daddy beranak satu itu melangkah dengan tangan kanannya yang menggendong sang putri sementara tangan kirinya membawa tas yang berisi laptop mahalnya.
Jika di pagi hari seperti ini, seharusnya bukan hanya putri kecilnya yang ikut mengantar dirinya untuk bekerja, namun sang istri juga ikut mengantarnya, akan tetapi karena istrinya masih sakit, tak diizinkan untuk ikut mengantarnya meski itu hanya di teras depan saja.
Mungkin dirinya yang terlalu over protective sehingga hanya untuk sakit kaki yang sudah tak begitu parah sekalipun sampai membuat melarang istrinya melakukan hal ini dan itu.
" Daddy, daddy nanti pulangnya sole? ". Seru Aida dengan sepasang tangan mungilnya yang masih bergelut manja di leher daddy nya.
" Tidak putri daddy, daddy akan pulang cepat, setelah selesai menemui tamu daddy yang dari luar negeri, daddy akan segera pulang ". Sahut Andra.
Si kecil Aida mengangguk paham dengan yang dikatakan daddy nya, baguslah jika daddy nya akan kembali pulang lebih awal.
" Sudah sampai, Aida turun ya, daddy harus berangkat kerja dulu ". Seru Andra setelah sampai di teras rumahnya.
Andra menurunkan tubuh mungil putrinya Aida. Sudah saatnya bagi dirinya untuk pergi bekerja.
Baru saja Andra menurunkan tubuh putrinya, nampak dari arah belakang keduanya sedang ada bi Sari yang melangkah mendekati mereka.
" Tuan, sudah mau berangkat bekerja? ". Sapa bi Sari.
" Iya bi, aku sudah ingin berangkat bekerja, selama aku di kantor, tolong jaga istri dan anakku bi, mungkin sekitar pukul sepuluh menjelang siang aku sudah kembali ke rumah ". Sahut Andra pada asisten rumah tangga kepercayaannya.
" Baik tuan saya akan menjaga nona dan nona Aida ". Sahut bi Sari.
Andra kembali menatap pada putri kecilnya.
" Sayang, daddy berangkat kerja dulu ya, ingat Aida jangan nakal, jaga bunda selama daddy masih di kantor ". Seru Andra pada putrinya.
" Iya daddy pasti, Aida kan sudah tidak nakal lagi, Aida kan sudah banyak belubah daddy, iya bi Sali? ". Sahut Aida dengan endingnya yang meminta bantuan bi Sari.
" Iya benar, tidak nakal, maksudnya tinggal separuh nakalnya ". Sahut bi Sari dengan tersenyum.
" Ih bi Sali tidak selu ". Sahutnya dengan memanyunkan bibir mungilnya.
" Sudah - sudah iya daddy tahu kalau putri daddy ini sudah tidak nakal lagi, oleh karena itu Aida jaga bunda ya daddy mau berangkat bekerja dulu ". Sahut Andra.
" Oke daddy ". Sahut Aida.
Cup... cup... cup...
Tak lupa ciuman kasih sayang pun Andra hujani pada wajah mungil putrinya, wajah mungil yang selalu memberikan senyuman menggemaskan dan membahagiakan kala dirinya telah usai dari dunia kerjanya.
" Daddy kerja dulu ya sayang ". Kalimat itulah yang menjadi penutup sebelum akhirnya dirinya masuk ke mobil untuk berangkat bekerja.
" Daaah daddy ". Aida melambaikan tangan mungilnya pada daddy nya yang sudah melajukan mobilnya.
Kini di teras rumah yang luas ini hanya menyisakan bi Sari dan Aida saja, sebenarnya masih ada pak Rahman, namun pak Rahman ada di halaman samping rumah tuannya karena sedang mencuci salah satu mobil mewah milik tuannya.
" Ayo nona kita masuk ". Ajak bi Sari.
__ADS_1
" Iya ayo, siapa juga yang mau lama - lama di lual, nanti yang ada banyak olang yang lilik - lilik Aida ". Sahut Aida.
Bi Sari hanya bisa tersenyum sambil menggeleng karenanya. Mana mungkin nona Aida nya akan dilirik - lirik oleh banyak orang sementara pagar tembok di rumah tuannya ini sangatlah tinggi, tidak akan ada orang dari luar sana yang bisa melihatnya.
Dengan saling beriringan bi Sari dan Aida memasuki rumahnya.
" Bi Sali mau apa, kenapa ikut - ikut Aida? ". Aida merasa sedikit risih karena bibi asuhnya mengikutinya.
" Ya mau mendampingi non lah, memangnya bibi mau apalagi, kan tadi daddy non sudah berpesan kalau bibi harus menjaga nona Aida dan bunda, jadi bibi mau melakukannya non ". Sahut bi Sari.
" Tidak pellu lah bibi, ini kan di dalam lumah, tidak pellu ada jaga - jagaan, Aida tidak kemana - mana kok ". Sahut Aida.
" Tapi non, daddy nya non sudah menyuruh bibi untuk menjaga non, jadi mana mungkin bibi meninggalkan tugas bibi ". Bi Sari tak ingin lalai dalam tugasnya.
" Aduh bibi, kan itu sudah setiap hali daddy katakan, jadi sudahlah bibi, memangnya Aida mau kemana sampai bibi halus jaga - jaga Aida, sudah, bi Sali kembali saja sama yang lain jangan ikuti Aida lagi ". Putus Aida.
Aida tak ingin jika bibi asuhnya terus mengikutinya, lagipula dirinya ada di dalam rumahnya dan tak kemana - mana.
Seperti yang sudah - sudah, bi Sari tak ingin membantah keinginan nona kecilnya. Semenjak memiliki seorang bunda, nona Aida nya sudah tak lagi manja padanya. Ternyata keberadaan Nadira memang sudah mengubah semuanya.
" Semoga kamu selalu berbahagia nona ". Batin bi Sari.
*****
Ceklek...
Pintu kamarnya pun telah dibuka, dan ternyata benar sosok yang masuk adalah putri kecilnya Aida.
" Bunda, bunda mau kemana, kok kakinya tulun? ". Seru Aida karena melihat sepasang kaki bundanya yang menyentuh lantai.
" Ya sudah bunda tulun saja, kan daddy sudah ke kantol jadi tidak ada lagi yang lalang - lalang bunda ". Sahut Aida.
Entah apa mungkin Aida yang lupa akan pesan daddy nya jika dirinya juga harus menjaga bundanya.
" Iya benar sayang, lagipula kaki bunda sudah tidak terlalu sakit, daddy mu saja yang terlalu berlebihan memperlakukan bunda ". Sahut Nadira.
Usai terjadi obrolan singkat itu si kecil Aida malah menuju ke salah satu lemari yang berukuran cukup kecil, nampaknya Aida ingin mengambil sesuatu dari dalam lemari itu.
Krieett...
" Sayang, Aida mau apa? ". Tanya Nadira.
" Biasalah bunda Aida mau ambil makanan ikan - ikan, kasihan ikannya Aida sudah waktunya meleka makan ". Sahutnya.
Lalu Aida mengambil dua toples plastik yang tak terlalu berukuran besar. Toples - toples itu berisi makanan ikannya.
" Lebih baik satu sajalah aku bawa toplesnya, ini isinya sudah banyak ". Serunya.
Aida meletakkan salah satu toplesnya di atas meja, niat awalnya yang ingin membawa dua toples yang berisi makanan ikan, berubah ingin membawa satu toples saja.
" Sayang, kenapa hanya satu yang dibawa, memangnya apa tidak kurang? ". Tanya Nadira.
" Aida mau bawa satu saja bunda, ya kalau kulang Aida mau ke sini lagi ". Sahut Aida.
__ADS_1
" Bunda ikut sayang ". Sahut Nadira.
" Jangan bunda, bunda di sini saja, bial Aida sendili saja yang kasih makan ikannya, di kolam ada cctv nya, kalau daddy sampai tahu nanti yang ada daddy bisa malah sama kita ". Sahut Aida yang melarang keinginan bundanya.
Nadira hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah, padahal dirinya begitu sangat ingin memberi makan ikan juga, namun ya sudahlah memang nasibnya yang harus seperti ini.
" Aida hanya sebental bunda membeli makan ikan - ikan di kolam ". Serunya yang kembali mengingatkan bundanya.
" Iya sudah sayang sana beri makan ikannya, kalau sudah selesai cepat ke sini lagi ya ". Sahut Nadira.
" Iya bunda ". Sahut Aida.
Begitulah Aida, memiliki kegemaran untuk memelihara ikan - ikan yang cantik membuat daddy nya Andra memutuskan membuat kolam khusus ikan yang menjadi kesukaannya.
*****
Di lantai dasar si kecil Aida sudah menuju ke teras belakang rumahnya. Sesuai pesan bundanya agar jangan terlalu lama memberi makan ikannya membuatnya malah menjadi terburu - buru.
" Sabal ya ikan - ikan ku, sebental lagi kalian akan salapan pagi ". Gumam Aida di sela - sela langkahnya.
Aida memperhatikan dari jarak jauh kolam ikannya, nampak di sana beberapa ikannya yang sudah bermunculan di permukaan.
Aida terus melangkah mendekati kolam ikannya itu, seperti biasa agar langkahnya menjadi lebih singkat sudah pasti Aida terlebih dahulu akan melewati area di sekitar kolam renang dan itu sudah menjadi kebiasaannya.
Dengan langkahnya yang terburu-buru sepasang kaki mungilnya benar melewati area di sekitar kolam renangnya.
Aida melangkah dengan begitu cepat tanpa mengetahui bahaya apa yang akan menimpa dirinya jika melewati area ini.
Dugg... byurrrr...
Dan benar saja, si kecil Aida benar terpleset dan jatuh dengan kepala mungilnya yang membentur lantai yang keras itu sebelum akhirnya masuk ke kolam renangnya.
Byurr... byurr... byurr...
" Tolong bunda ".
Aida berteriak meminta tolong dengan tubuh mungilnya yang meronta - ronta di dalam air.
Byurr... byurr... byurr...
" Tolong daddy ". Aida memanggil - manggil daddy nya agar bisa menolongnya.
Byurr... byurr... byurr...
" Tolong tolong ".
Tak ada satupun orang yang mendengar teriakannya. Sepasang tangan mungilnya pun tak henti untuk terus digerakkan dengan harapan agar dirinya bisa tetap terus berada di permukaan kolam.
Aida terus berusaha untuk bisa bertahan di kolam renangnya, namun apalah daya semakin dirinya berusaha bergerak semakin membuatnya malah masuk ke dalam air.
Sungguh naas nasib si kecil Aida. Jika sudah seperti ini entah apa yang akan terjadi. Niat baiknya yang ingin memberi makan ikan - ikannya malah membuatnya mengalami malapetaka yang dapat merenggut nyawanya.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€