Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Makan Bakso Bersama


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Larangan mutlak dari dirinya ternyata malah membuat dirinya tersiksa sendiri. Karena dilarang makan bakso di tempat yang terbuka, malah membuat istrinya Nadira merasa begitu sangat sedih.


Istrinya Nadira merasa sangat sedih karena tak bisa memakan bakso yang diinginkannya. Merasa tak tega melihat kesedihan istrinya, akhirnya dengan terpaksa Andra pun mengabulkan keinginan sang istri yang ingin memakan bakso.


Dengan langkahnya yang begitu sangat berat Andra menggandeng tangan sang istri dan juga putri kecilnya untuk menuju ke lokasi gerobak bakso.


Sementara Nadira sendiri sudah merasa begitu sangat senang, bahkan senyuman nampak terlihat nyata di kedua sudut bibirnya, akhirnya dirinya bisa segera makan bakso juga.


" Ingat, kamu makan baksonya hanya semangkuk saja tidak boleh lebih ". Peringat Andra di sela - sela langkahnya.


" Iya mas tenang saja, aku akan makan semangkuk saja tidak lebih ". Sahut Nadira.


Jangankan memakan lebih dari semangkuk bakso, bisa makan semangkuk bakso saja dirinya sudah sangat bersyukur.


" Tapi daddy, kalau baksonya enak boleh kan nambah daddy? ". Tanya Aida.


" Tidak boleh, kalau daddy hanya menyuruh makan semangkuk ya semangkuk saja ". Tegas Andra.


Begitulah larangan tegas dari Andra, pria itu tak ingin jika sang putri dan juga istrinya sampai keasyikan makan bakso yang menurutnya tak menyehatkan itu.


Hingga pada akhirnya keluarga kecil itupun telah sampai di area gerobak bakso.


" Ayo, kalian duduk di sini dulu, biar aku yang memesan baksonya ". Seru Andra.


" Oke daddy ".


Lantas si kecil Aida dan juga bundanya duduk bersama di salah satu kursi kayu panjang dengan meja yang panjang pula, namanya juga tempat bakso di ruangan terbuka, sudah pasti tempat duduknya sama seperti tempat duduk penjualan bakso yang ada di pinggir jalan.


Semua orang yang ada di lokasi penjualan bakso itu hanya bisa memandangi Andra dan juga keluarga kecilnya. Beberapa dari mereka merasa tak menyangka jika akan bertemu dengan bos besar seperti Andra.


Sembari menunggu sang suami, Nadira wanita hamil itu mengelus rambut panjang putrinya. Rupanya rambut putrinya sudah benar-benar panjang, haruskah rambut putrinya ini dipotong.


" Sayang, rambut Aida sudah panjang, sudah hampir mau sepinggang, apa rambut putri bunda ini ingin dipotong? ". Seru Nadira lembut dengan masih mengelus rambut putrinya.


Lantas Aida memandangi rambut bundanya, ternyata rambut bundanya juga panjang, bahkan lebih panjang dari rambutnya.


" Lambut bunda juga panjang, lebih panjang dali punya Aida, tidak, Aida tidak mau potong lambut ". Sahut Aida.

__ADS_1


Aida menolaknya, gadis kecil itu ingin memiliki rambut yang panjang sama seperti rambut bundanya.


Nadira yang mendengar penolakan dari putri kecilnya hanya bisa tersenyum, ternyata ini alasan mengapa putrinya ingin memiliki rambut yang panjang, karena putri kecilnya ingin memiliki rambut yang sama dengan rambutnya.


Hingga tak lama dari itu Andra pun mulai datang. Pria berbola mata biru itu mulai duduk bersama dengan sang istri dan juga putri kecilnya, si kecil Aida berada di tengah-tengah sang bunda dan juga daddy nya.


" Mana baksonya daddy? ". Tanya Aida.


" Sebentar lagi sayang, sebentar lagi pasti sudah disajikan, itu baksonya masih diberi kuah ". Sahut Andra dengan melirik semua mangkuk baksonya di gerobak.


Aida memperhatikan mangkuk - mangkuk itu. Mengapa mangkuk baksonya ada tiga, bukankah yang memesan bakso hanya dirinya dan bundanya saja, itulah pertanyaan yang ada dalam benaknya.


Dan tak lama dari itu, abang tukang bakso itupun datang dengan membawa nampan.


" Tuan nyonya ". Sapa sang abang tukang bakso, lalu abang bakso itupun mulai meletakkan ketiga bakso itu di depan masing - masing orangnya.


" Selamat menikmati tuan nyonya ". Seru abang bakso itu lagi sebelum akhirnya berlalu kembali ke dekat gerobaknya.


Nadira sang wanita hamil sudah begitu sangat fokus pada baksonya. Dirinya benar-benar sudah sangat tergiur dan ingin segera makan baksonya.


Namun beda hal nya dengan si kecil Aida. Jika bundanya sudah begitu sangat fokus pada baksonya, Aida malah masih celingukan dan memperhatikan bakso yang ada di depan daddy nya.


" Daddy, daddy pesan bakso juga? ". Tanya Aida.


" Huuuh... dasal daddy, tadi lalang - lalang kita yang ingin makan bakso, katanya tidak belsihlah, apalah, tapi daddy malah pesan juga, dasal daddy ". Sindir Aida.


" Ya iyalah daddy pesan bakso juga sayang, kamu dan bunda mu kan pesan bakso, apa iya daddy tidak pesan juga? ". Sahut Andra.


" Huuuh... dasal daddy, katanya baksonya tidak belsih, tapi mau makan juga huuuh... ". Kali ini Aida benar-benar memojokkan daddy nya.


Menurutnya daddy nya plin - plan, tadi saja daddy nya melarang habis - habisan agar dirinya dan bundanya tak makan bakso, dan sekarang tanpa ada rasa malu daddy nya juga memesan bakso.


" Putri daddy menunggu apalagi?, ayo cepat makan baksonya, nanti dingin loh baksonya ". Seru Andra.


Andra mulai menuangkan saos tomat nya, sebelum akhirnya menambahkan sambal dan kecap manisnya.


Keluarga kecil itu benar menikmati kegiatan makannya, mereka makan bakso bersama dengan begitu lahapnya.


Mungkin dari mereka bertiga hanya si kecil Aida dan sang daddy Andra lah yang sempat mengobrol, sementara Nadira hanya diam, bukan diam, lebih tepatnya semenjak bakso pesanannya datang, ibu hamil itu hanya terfokus pada baksonya sehingga ia sudah tak bisa mendengar obrolan antara sang suami dan juga putrinya.


Nadira sudah lebih awal memakan baksonya jauh sebelum suami dan putrinya memakan bakso mereka.

__ADS_1


*****


" Hah... baksonya enak sekali, aku ingin menambah satu mangkuk lagi ". Seru Andra, lantas pria itu berdiri dari posisinya.


Nadira yang melihat bagaimana semangat suaminya yang memakan bakso hanya bisa terdiam dan melongo. Apakah ini memang benar suaminya Andra, orang yang telah melarangnya makan bakso karena menganggap bakso yang dimakannya tidaklah bersih, dan sekarang suaminya malah ingin menambah makan bakso lagi.


" Ya ampun, lihatlah daddy bunda, tadi menyuluh kita hanya boleh makan satu mangkuk saja, tapi nyatanya daddy sendili malah nambah, dasal daddy... ". Seru Aida.


Si kecil Aida merasa jika daddy nya tak konsisten dengan ucapannya sendiri. Jika tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik dirinya menambah juga.


Lantas tak lama dari itu Andra pun kembali ke tempat duduknya dengan membawa semangkuk bakso di tangannya.


" Ayo, kenapa kalian tidak lanjut makan? ". Seru Andra dan pria itu kembali duduk di kursinya.


" Daddy, daddy tidak lihat atau bagaimana?, bakso Aida dan bunda kan sudah habis, telus kita mau makan apa daddy?, daddy sih enak bisa nambah lagi, huuuh... dasal daddy, tadi melalang bunda dan Aida untuk tak boleh makan lebih dali semangkuk, tapi daddy sendili sekalang malah nambah ". Aida benar menyindir daddy nya habis - habisan.


Lantas Andra melihat mangkuk anaknya dan juga mangkuk istrinya, ternyata memang benar jika mangkuk mereka berdua sudah tak ada lagi baksonya.


Menyadari akan hal itu hanya bisa membuat Andra tersenyum hambar, benar juga dengan apa yang dikatakan oleh anaknya, mengapa dirinya malah menambah baksonya, ya harus bagaimana lagi, baksonya benar-benar sangat enak sehingga membuat dirinya tak tahan ingin menambah lagi.


" Ya sudah, kalau begitu kalian menunggu aku selesai makan baksonya ya, nanggung, aku sudah menambah semangkuk lagi, kan sayang jika tidak dihabiskan ". Sahut Andra dengan rautnya yang seperti menahan rasa malu.


" Huuuh... dasal daddy ". Jengkel Aida.


Daddy nya benar-benar tak konsisten dengan ucapannya sendiri. Untuk apa juga daddy melarang jika pada akhirnya daddy nya sendirilah yang sangat menikmati makanannya, haruskah dirinya dan bundanya hanya menjadi penonton saja.


Begitu pun dengan Nadira, awalnya ibu muda itu merasa jika suaminya sudah melakukan kecurangan dengan tidak konsisten pada ucapannya sendiri, namun tak lama dari itu ia malah tersenyum karena tingkah suaminya.


Apakah ini termasuk senjata makan tuan, suaminya Andra yang melarang suaminya pula yang melanggarnya.


" Mas... ". Seru Nadira dengan lembut.


" Humm... ". Hanya dehaman itu yang keluar karena Andra sibuk mengunyah baksonya.


" Kalau kita sudah mau pulang nanti, kita belikan bakso juga untuk bi Sari, pak Rahman dan juga yang lainnya ya mas, biar mereka bisa menikmati bakso ini juga ". Sahut Nadira.


Andra mengangguk saja sebagai responnya, sangat menikmati rasa dari baksonya membuat pria itu tak terlalu memperhatikan yang lainnya.


Andra memang benar-benar sudah lupa diri. Akibat dari enaknya bakso si abang bakso, membuatnya lupa dengan yang lainnya, memang dasar Andra.


Bersambung..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2