
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Senyum kesenangan nampak terpancar nyata di wajah cantik dan menggemaskan seorang gadis kecil yang semenjak beberapa minggu ini tak terlihat senyumannya.
Didukung dengan sejuknya suasana pagi, dengan perasaannya yang gembira ria gadis kecil itu mulai mengayunkan sepedanya kembali.
Dengan ditemani oleh sang daddy dan juga bunda kesayangannya, ia mengayunkan sepedanya mengitari taman di belakang rumahnya.
" Hati - hati sayang. " Seru Nadira karena putri kecilnya mengayunkan sepedanya dengan agak cepat.
" Iya bunda. " Sahut Aida.
Nadira sangat bahagia karena putri kecilnya sudah tak seperti beberapa hari yang lalu. Semoga setelah ini putri kecilnya tak merasakan takut lagi.
Andra yang sejak awal mengelus perut buncit istrinya jadi ikut tersenyum juga.
" Sayang, kamu terlihat bahagia, bahkan sampai tak melihatku. " Seru Andra yang sengaja menyindir istrinya.
" Hihihihi... iya mas maaf, karena hari ini aku sangat bahagia bisa melihat senyuman putri kita, aku bersyukur karena putri kita sudah tidak takut lagi. " Tutur Nadira.
" Dan aku lebih bahagia lagi karena ada kamu dalam hidupku, terima kasih sayang karena kamu sudah menjadi istri yang baik dan juga bunda yang baik untuk putri kita. " Dengan penuh rasa haru Andra mengucapkan rasa terima kasihnya.
Nadira hanya tersenyum saja mendengarnya, ini sudah yang kesekian kalinya suaminya Andra mengucapkan rasa terima kasihnya.
" Sayang, kenapa kamu tersenyum?, aku sedang berterimakasih loh sama kamu sayang. " Heran Andra.
" Iya suamiku aku paham, sampai kapan mas terus berterimakasih seperti ini?, memangnya mas tidak lelah apa yang terus berterimakasih padaku hum?. " Dengan begitu gemasnya Nadira mencubit pipi suaminya itu yang sedikit brewokan.
" Lagi dong sayang, aku suka cubitanmu. " Rupanya Andra ketagihan dengan cubitan istrinya.
" Huuum dasar mas Andra sukanya mau dimanja, baiklah kalau begitu aku cubit semuanya, ini - ini rasakan ini. " Dengan begitu gemasnya Nadira mencubiti semua bagian wajah suaminya.
" Rasakan ini tuan Andraaa... aww... "
" Sayang ada apa?, apa perutmu sakit?. " Andra sangat terkejut karena tiba - tiba saja istrinya memekik dengan memegangi perutnya.
" Tidak mas, hanya saja adiknya Aida menendang terlalu keras, jadinya aku terkejut. " Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Aduuuh anak daddy ini jangan nakal ya, jangan keras - keras nendang perut bundamu, kasihan. " Seru Andra gemas dengan mengelus - elus perut buncit istrinya.
" Mungkin dia cemburu mas karena mas Andra hanya menyebut Aida saja, dia kan juga ingin diakui mas. " Sahut Nadira dengan tersenyum.
__ADS_1
" Ya ampun anak daddy, jadi kamu cemburu hum?, dasar manja. "
" Bunda bunda bunda. " Cepat - cepat Aida mengayun sepedanya menuju ke arah daddy dan bundanya.
" Bunda, bunda kenapa?, kok balusan sepelti teliak. " Tanya Aida setelah gadis kecil itu turun dari sepedanya.
" Tidak ada sayang, tidak ada apa-apa. " Sahut Nadira dengan tersenyum.
" Aida benar ingin tahu?. " Tanya Andra.
" Iya daddy, Aida ingin tahu, pasti sudah teljadi sesuatu sama bunda, atau mungkin daddy yang belulah?. " Duga Aida.
" Kamu selalu curigaan pada daddy, tadi itu adikmu yang masih di perut bunda nendang - nendang, dan tendangannya keras, adikmu cemburu karena daddy hanya mengakuimu saja sebagai anak daddy, adikmu tidak terima, jadinya dia nendang perut bundamu. " Jelas Andra.
" Huuuh... dasal adikku yang nakal, jangan nakal - nakal sama bunda, kan kasihan bunda kita adikku. " Dengan begitu gemasnya Aida mengelus - elus
perut buncit bundanya.
" Ya mirip kamu sayang, kan kamu suka nakal, suka usil. " Sindir Andra.
" Ya kan sama saja sepelti daddy, daddy kan suka nakal sama bunda, juga suka usil sama Aida, kalau malam hali kalau Aida masih belum tidul selalu saja disuluh cepat tidul, helan. " Balas Aida.
" Ya kalau daddy tidak nakal tidak mungkin kamu akan punya adik sayang. " Sahut Andra dengan jawabannya yang begitu absurd.
Sontak saja Nadira langsung melotot pada suaminya. Apa - apaan suaminya ini, mengapa memberikan jawaban yang dapat membuat putrinya dewasa sebelum waktunya.
" Tanyakan saja pada bundamu sayang, bundamu lebih tahu dengan jawabannya. " Sahut Andra santai bahkan tanpa memikirkan bagaimana bingungnya Nadira untuk menjawabnya.
" Bunda, maksudnya apa bunda?, apa hubungannya kalau daddy nakal bisa membelikan Aida adik?, memangnya pelut bunda bisa jadi besal sepelti ini kalna daddy nakal sama bunda?. " Dengan polosnya Aida menanyakan hal itu.
Nadira sungguh merasa sangat malu dan bingung. Bagaimana caranya untuk menjawab pertanyaan putrinya. Putrinya Aida tak mungkin berhenti bertanya jika jawaban yang diinginkannya masih belum ada. Ini semua gara-gara suaminya Andra, coba saja suaminya tak mengatakan hal - hal yang sifatnya berbau dewasa sudah pasti Aida tak akan menanyakan hal semacam ini.
Aida masih terlalu kecil untuk membahas hal semacam ini, otaknya masih belum mampu untuk menalar, jikalau memang bisa memahami, sudah pasti hasilnya tak akan baik.
" Bunda, kok bunda diam saja sih?, apa jawabannya bunda?. "
" Umm... umm... anu sayang. " Nadira jadi bingung harus menjawab bagaimana.
Andra jadi tersenyum melihat raut kebingungan istrinya. Coba saja berusaha untuk dijawab, bisakah istrinya Nadira menjawab pertanyaan Aida. Aida tak mungkin akan berhenti bertanya sebelum bisa mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
" Bunda, apa jawabannya bunda?, kok bunda diam sih?, kalau begini lama - lama Aida jadi kesal. "
" Tidak, iya, maksud bunda... " Bahkan Nadira menatap kesal pada suaminya, namun suaminya Andra malah tersenyum saja.
__ADS_1
Nadira melotot kesal pada suaminya sebagai isyarat agar suaminya mau membantunya. Namun Andra sama sekali tak bergerak, pria itu tetap saja tersenyum seolah menikmati drama ini.
" Bunda, apa jawabannya?, dali tadi bunda jawabannya tidak jelas, lama-lama Aida jadi kesal sama bunda, jawab bunda. " Seru Aida lagi untuk yang kesekian kalinya.
" Sayang, seperti kata Aida, daddy kan suka nakal, menurut Aida orang nakal itu baik atau tidak?. " Sahut Nadira pada akhirnya.
Untuk sejenak Aida diam, gadis kecil itu berusaha menggunakan otak kecilnya untuk berpikir. Hingga pada akhirnya Aida menggeleng sebagai jawabannya.
" Itu Aida sudah tahu jawabannya, jadi jangan dianggap serius ucapan daddy ya sayang, daddymu kan memang suka usil. " Jelas Nadira agar putri kecilnya ini tak lagi bertanya - tanya.
Jika dipikir - pikir benar juga yang dikatakan oleh bundanya, daddynya kan memang suka usil, lalu mengapa ucapan daddynya harus dianggap serius.
" Iya, bunda benal juga, tapi kenapa ya bisa - bisanya Aida mengikuti ucapan daddy, pasti daddy ngawul bicalanya. "
Dalam seketika Aida merasa seperti orang yang dibodohi. Bisa - bisanya dirinya mengikuti suruhan daddynya untuk menanyakan hal yang aneh pada bundanya, seharusnya sejak awal dirinya mengabaikan ucapan daddynya itu.
Andra yang mendengar dialog sang istri dengan putrinya hanya mencebikkan bibirnya. Ternyata istrinya Nadira bisa juga mengalihkan pertanyaan putrinya.
" Ayo daddy gesel sedikit, Aida mau duduk di tengah. " Pinta Aida yang malah menyuruh daddynya untuk bergeser.
Andra yang mendapatkan perintah seperti itu dari sang putri hanya menurut saja, daripada ribut lebih baik menurut saja.
Nadira sudah cukup bisa bernapas lega, ternyata tidak sulit juga untuk mengontrol putrinya, nampaknya alam pagi saat ini sedang berpihak padanya.
" Sayang, sejak bundamu hamil adik bayi, kamu lebih sering memeluk bundamu daripada daddy. " Tiba-tiba saja Andra malah mengatakan ini.
" Apa iya daddy?, mungkin itu hanya pelasaan daddy saja, kemalin Aida kan sudah peluk daddy. " Jelas Aida.
Aida tak ingin dianggap tak peduli lagi pada daddynya, karena setiap harinya dirinya masih memeluk daddynya, mungkin ini hanya akal - akalan daddynya saja, mungkin daddynya ingin memeluk bundanya, seperti kata bundanya, daddynya kan suka berbuat usil, jadi tak perlu semua ucapan daddynya dianggap serius.
" Bunda, bunda kapan mau masuk kampus?, apa bunda tidak bosan belajal di lumah telus?. " Entah mengapa Aida malah menanyakan perihal kampus bundanya.
" Iya sayang, bunda sudah sangat merindukan kampus. " Lantas Nadira menatap suaminya.
" Mas, aku ingin masuk kampus, sudah lama aku tidak masuk kampus mas. " Serunya.
" Kamu kan sedang hamil sayang, sudahlah, kamu kuliahnya tetap dari rumah, tidak perlu datang ke kampus. " Sahut Andra dengan rautnya yang nampak datar.
Nampaknya Andra tak suka jika istrinya Nadira masuk kampus lagi.
Ya, semenjak Nadira resmi menjadi istri Andra, semenjak itu pulalah Andra melarangnya kuliah secara langsung. Pria yang super posesif itu tak ingin jika istrinya dilirik oleh banyak pria, itulah mengapa Andra sudah membuat ketentuan agar istrinya kuliah dari rumah saja. Beruntung kampus yang cukup populer itu adalah kampus miliknya, jadi tak akan ada pihak yang bisa protes dengan keputusannya.
Bersambung..........
__ADS_1
πππππ
β€β€β€β€β€