Duda Kaya Itu Suamiku

Duda Kaya Itu Suamiku
Lahirnya Malaikat Kecil


__ADS_3

Selamat Membaca


🌿🌿🌿🌿🌿


Sore ini semua orang rumah di kediaman Andra telah berkumpul di rumah sakitnya, mereka semua begitu sangat khawatir karena Nadira sang nyonya Andra akan segera melahirkan.


Kini, di depan ruangan persalinan khusus si kecil Aida dengan ditemani yang lainnya sedang menunggu bundanya yang akan segera melahirkan.


Aida menangis sedih karena begitu sangat khawatirnya pada bundanya, apalagi setelah tadi melihat bundanya yang menangis kesakitan.


Semua orang rumah masih tak menyangka jika nyonya Nadira mereka akan melahirkan hari ini, pasalnya tadi pagi nyonya mereka masih terlihat baik - baik saja.


" Hiks hiks... bi Sali, apa bunda akan baik - baik saja hiks... Aida tidak mau bunda kenapa - kenapa hiks... ".


" Tenanglah non, bundanya non pasti akan baik - baik saja, kita doakan saja semoga bundanya non dengan adik bayi bisa selamat. " sahut bi Sari lembut dengan mengusap punggung nona kecilnya.


" Tenanglah tak Aida, tita doatan saja agal bunda sama adik bayi bisa selamat, bundanya Alpin yang di tampung dulu juga begitu sewatu melahiltan adik bayi Alpi, tapi bunda sama adik bayi Alpi tetap selamat. " ujar Alvin.


" Benalkah?, jadi bundamu juga begitu?, dan meleka baik - baik saja?. " Aida pun jadi berhenti dari isakan tangisnya.


" Huum, benal, jadi yang halus tita latutan adalah beldoa agal bunda sama adik bayi bisa selamat, bunda sama adik bayi butuh doa tita, jadi tita halus doatan meleta. " sahut Alvin.


Alvin mengingatkan Aida bak seorang dewasa yang bijaksana, meski sebenarnya Alvin juga begitu sangat khawatir, namun dirinya tetap berusaha untuk bersikap yang pantas.


Alvin tidak ingin menambah kesedihan keluarga ini, kak Aida nya sudah menangis, tidak mungkin kan jika dirinya juga ikutan menangis.


Semua orang yang mendengar bagaimana Alvin berbicara dan meyakinkan Aida begitu sangat terkagum, masih kecil saja sudah nampak bijaksana, bahkan mungkin orang dewasa juga harus belajar darinya.


" Ternyata memang hanya tuan muda Alvin yang bisa membuat nona Aida jadi tenang. " seru pak Rahman dengan tersenyum pada kedua majikan kecilnya.


" Iya pak, benar, tuan muda Alvin sangat mirip dengan nyonya Dira. " timpal Lina.


Mereka sudah tak memanggil nona lagi pada Nadira melainkan sudah memanggil nyonya, hal itu karena Nadira sudah akan benar menjadi ibu kandung dari keturunan tuan mereka.


*****


Perjuangan yang mempertaruhkan nyawa telah terjadi di ruangan ini. Deru dan hembusan napas berulang kali dihembuskannya dengan begitu sangat kuat agar sang buah hati bisa segera keluar dari dalam rahimnya, namun hingga detik ini, bayinya masih belum keluar juga.


Sang dokter dengan kedua susternya inipun begitu sangat siap siaga dalam menangani sang pasien yang tak lain adalah nyonya mereka sendiri, mereka ingin memberikan penanganan terbaiknya agar anak dari majikan mereka bisa lahir dengan selamat.


" Ayo nyonya, tarik napas lalu keluarkan. "


" Eeergh... "


" Lagi nyonya tarik napas lalu keluarkan. "


" Eeergh... eeergh... "


Dengan segala kekuatannya, Nadira berusaha mengeluarkan bayi dari dalam rahimnya sesuai dengan arahan dari sang dokter, tapi rasanya bayinya ini masih susah untuk dirinya keluarkan.


Dalam benaknya Nadira jadi teringat dengan ibunya yang entah bagaimana rupanya, apakah dulu sewaktu ibunya akan melahirkan dirinya merasakan sakit yang begitu luar biasa seperti ini juga, jika memang benar seperti ini rasa sakitnya, ingin sekali rasanya dirinya juga ditemani oleh ibunya.


" Ayo nyonya, tarik napas lagi lalu keluarkan. "


" Eeergh... eeergh... "


" Lagi nyonya tarik napas lalu keluarkan. "


" Eeergh... eeergh... "


Genggaman tangan sebagai penguat tak pernah Andra lepaskan, Andra terus senantiasa menggenggam tangan kanan istrinya sebagai penguatan agar istri tercintanya ini bisa kuat menjalani masa yang sangat sulit ini.


" Ayo nyonya tarik napas lalu keluarkan. "


" Eeergh... eeergh... "


" Eeergh... "


" Iya nyonya bagus, ini kepala bayinya sudah mulai terlihat. "

__ADS_1


" Sayang, yang kuat, aku yakin kamu pasti bisa sayang. " seru Andra dengan terus mengelus pucuk kepala istrinya.


Sungguh Andra sangat tak tega menyaksikan bagaimana penderitaan istrinya, jika saja boleh memilih, ingin sekali rasanya agar dirinya sajalah yang merasakan sakit ini menggantikan istrinya, namun nyatanya dirinya tak bisa berbuat apa - apa selain hanya menjadi pendamping istrinya.


" Ayo nyonya tinggal sedikit lagi, tarik napas lalu keluarkan. " dengan penuh kesabaran dan ketelatenan sang dokter wanita ini terus memberikan arahan pada nyonya nya.


" Eeergh... eeergh... "


" Ayo nyonya lagi, tinggal sedikit lagi nyonya, ini kepala bayinya sudah sangat terlihat. "


" Eeergh... eeergh... "


" Eeergh... eeergh... "


" Oekk... oekk... oekk... "


Suara tangisan bayi itu pun terdengar menggema memenuhi ruangan persalinan ini.


" Oekk... oekk... oekk... "


Andra yang mendengar suara tangisan itu merasa sangat terkejut sekaligus terharu, akhirnya anak keduanya lahir juga.


" Tuan, nyonya, selamat, bayinya laki-laki. " seru sang dokter dengan penuh rasa haru.


Sang dokter wanita itupun meletakkan bayi mungil yang masih sangat merah itu di dada Nadira.


" Oekk... oekk... oekk... "


" Sayang, putra kita sudah lahir, terima kasih sayang, terima kasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan ini. "


Cup... cup...


Andra mencium kening istrinya dan juga kepala mungil bayinya yang masih merah itu. Senyum kebahagiaan sangat terpancar jelas di wajah tampannya.


Begitupun dengan Nadira, tak ada sepatah katapun yang keluar dari kedua belah bibirnya setelah melihat sosok malaikat kecil yang baru dilahirkannya ini, sudah tak bisa digambarkan lagi bagaimana kebagian hatinya, hingga tanpa disadari air mata kebahagiaan itupun benar terjatuh turut menyapa lahirnya malaikat kecilnya.


" Oekk... oekk... oekk... " bahkan bayi mungil ini menangis seolah ingin menyapa kedua orang tuanya, ia menangis seolah ingin mengatakan jika dirinya hadir di dunia ini memang untuk kedua orang tuanya.


" Anak bunda, terima kasih karena kamu sudah hadir diantara kami nak cup... cup... cup... "


Kalimat itulah yang Nadira sapakan pada malaikat kecilnya dengan terus menciumi wajah mungilnya.


Semua rasa sakit rasa lelah seolah telah terbayarkan dengan adanya sosok mungil yang hadir ini. Akhirnya bayinya lahir juga setelah sekian lama menantikannya.


" Baiklah, nyonya tuan, bayinya harus kami ambil lagi, karena kami masih harus membersihkan bayinya dulu tuan nyonya. " ujar sang dokter.


Andra sebagai daddy dari sang bayi hanya mengangguk saja sebagai sahutnya. Bayinya memang harus dibersihkan lebih dulu dengan dipakaikan pakaian yang rapi sebelum akhirnya dirinya mengadzani bayi mungilnya itu.


*****


Di sebuah ruang perawatan kini Nadira beserta bayi laki-laki nya berada, tak butuh waktu terlalu lama dalam penanganan pasca melahirkan, dirinya sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan khusus sehingga dirinya dengan bayi mungilnya ini bisa beristirahat dengan nyaman.


Nadira berbaring dengan setengah duduk di kasurnya, sementara bayi mungilnya berada di sampingnya yang tidur begitu nyenyaknya.


Ceklek...


Pintunya pun ada yang membukanya.


" Bunda. " seru suara seorang gadis kecil yang sangat Nadira kenal siapa pemiliknya.


Semua orang masuk ke ruangan perawatannya.


" Anak - anak bunda. " sahutnya setelah melihat Aida dan Alvin.


Mereka semua mendekati Nadira, apalagi Aida, gadis kecil itu sudah ingin naik ke ranjang kasur milik bundanya.


" Tunggu, tunggu dulu, jangan langsung naik Aida. " cepat - cepat Andra mendekati putri kecilnya yang sudah bergelayut di tepi ranjang perawatan istrinya.


" Daddy... kenapa Aida ditahan?, Aida kan ingin temani bunda sama adik bayi. " protesnya yang terdengar memelas.

__ADS_1


" Iya, tapi tidak perlu naik juga, duduk di kursi saja sudah bisa lihat adik bayinya Aida. " sahut Andra.


Andra bukannya melarang putri kecilnya untuk melihat adiknya, hanya saja Aida adalah anak yang cukup agresif, bukan tak mungkin karena keagresifannya itu sampai membuat adiknya yang masih belum lama lahir itu merasa tak nyaman.


" Nyonya, selamat, akhirnya adiknya nona Aida telah lahir. " seru bi Sari.


" Iya nyonya selamat, selamat atas kelahiran si adik bayi. " seru suster Lina.


" Iya nyonya, selamat atas kelahiran putra tuan dengan nyonya, kami turut bahagia dengan kelahiran tuan muda. " seru pak Rahman juga.


Semua orang di ruangan ini turut bersuka cita atas kelahiran anak kedua dari tuan mereka, kecuali si kecil Aida, gadis kecil itu memanyunkan bibirnya karena larangan dari daddynya.


" Alvin, Aida, ayo, anak - anak bunda apa tidak ingin melihat adik bayi?. " seru Nadira karena kedua anak - anaknya hanya diam saja.


" Tidak, sama daddy dilalang lihat adik bayi. " Aida menyahutnya dengan begitu kesalnya.


Nadira menatap pada suaminya, ada - ada saja yang dilakukan oleh suaminya, itulah arti dari tatapannya.


" Tidak apa - apa, ayo anak - anak bunda naik saja, lihat ini adik bayinya. " seru Nadira.


" Tapi sayang. " tahan Andra.


" Tidak apa - apa mas, biarkan mereka melihat adiknya, lagipula kasurnya kan lebar, banyak tempat yang bisa mereka duduki, ayo anak - anak bunda sekarang naik nak. " putus Nadira pada akhirnya.


Dan benar saja, si kecil Aida langsung menaiki ranjang kasur bundanya, begitupun dengan Alvin yang turut ikut naik juga.


Aida sudah begitu sangat tak sabar ingin menyentuh adik bayinya itu.


" Adik bayi - adik bayi, sini sama kak Aida. " Aida memperhatikan wajah mungil adiknya yang masih terpejam itu.


" Waaah... adik bayinya lucu, Alpin senang setali lihatnya. " puji Alvin setelah melihat dengan jelas wajah adik bayinya.


" Anak - anak bunda senang dengan kelahiran adik bayi?. " tanya Nadira.


" Iya bunda senang. " bahkan keduanya sampai kompak menyahutinya.


Semua orang sangat bersyukur dengan kebahagiaan ini, apalagi setelah melihat tingkah Aida dan Alvin yang begitu sangat senang karena kelahiran adik mereka.


" Bunda, adik bayinya Aida pelempuan ya bunda?, lucu sekali. " tanya Aida, entah apakah Aida masih tak mendengar kabar jika adiknya laki-laki.


" Sayang, adik bayinya laki-laki. " sahut Nadira.


" Apa?... laki-laki?... kenapa adik bayinya laki-laki sih bunda?, kan Aida maunya adik bayinya pelempuan. " Aida langsung tak suka ketika mendengar hal ini.


" Ya sudah, talo tak Aida tidak mau sama adik bayinya, adik bayinya buat atu saja. " sahut Alvin.


" Ih, enak saja, ini kan adikku. " kesal Aida.


Aida langsung memeluk adik bayinya yang masih terpejam itu, ia tak ingin jika Alvin sampai mengambil adik bayinya.


" Hahahaha... ya ampun nona Aida, katanya tidak mau adik bayi laki-laki, tapi malah takut kehilangan sendiri. " pak Rahman pun jadi menertawai nona kecilnya.


Hanya pak Rahman yang tertawa dengan kencang, yang lainnya hanya tersenyum saja melihat tingkah dari kedua majikan kecilnya.


" Tuan, apakah tuan sudah memberi nama untuk tuan muda yang baru lahir?. " tanya bi Sari.


" Andara Becham Salim. " sahut Andra.


" Tuan, itu nama yang bagus. " sahut pak Rahman.


" Iya tuan itu nama yang sangat bagus, kalau didengar dari nama tuan muda, sepertinya perpaduan dari nama anda dan nama nyonya. " sahut Lina.


" Iya, Andara, nama itu diambil dari nama panggilanku Andra dan nama panggilan istriku Nadira. " terang Andra.


" Jadi nama adik bayiku namanya adik Andala, iya, adik Andala, selamat datang adik Andala ku cup... cup... " Aida sangat bahagia karena adik bayi yang dinantikannya selama ini bisa dirinya peluk dan dirinya cium secara langsung, tidak seperti sewaktu masih di dalam perut bundanya.


Yang lainnya hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah nona kecilnya, tadi nona kecilnya tidak mau pada adik bayinya karena terlahir sebagai laki-laki, dan sekarang nona kecilnya malah sangat menyayangi adiknya, bahkan seperti ingin menguasai adik bayinya, sampai - sampai tak memberi ruang pada yang lainnya.


Bersambung..........

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


❀❀❀❀❀


__ADS_2