
Selamat Membaca
πΏπΏπΏπΏπΏ
Sudah masuk malam hari seperti ini tak membuat seorang wanita muda yang sedang hamil besar itu berniat untuk beristirahat, padahal waktu sudah menunjukkan lebih dari pukul sembilan malam.
Ia khawatir akan keberadaan di manakah putri kecilnya. Dalam keadaan perutnya yang besar ia masih terjaga, bahkan tak jarang ia berdiri dengan melangkah mondar-mandir dengan harapan semoga sang suami beserta orang-orang kepercayaannya bisa membawa putri kecilnya kembali pulang dalam keadaan selamat.
" Nona, ini sudah malam, sebaiknya nona istirahat ya, jangan mondar-mandir terus seperti ini nona, tidak baik untuk kehamilan nona ". Seru bi Sari yang merasa sangat khawatir dengan keadaan nona Nadira nya.
" Bi, Aida masih belum pulang, aku tidak bisa tenang sebelum putriku pulang bi ". Nadira sangat khawatir jika putrinya tak sampai kembali pulang.
" Iya nona, bibi tahu, tapi nona Dira juga jangan lupa selain memikirkan nona Aida nona Dira juga harus memikirkan anak nona yang masih ada dalam kandungan ini, kasihan dia nona, pasti dia merasa lelah karena bundanya yang tak kunjung istirahat ". Peringat bi Sari.
Nadira jadi terdiam, mengapa dirinya baru teringat akan anaknya yang masih belum lahir ini, dari tadi pagi hingga masuk waktu malam seperti ini dirinya masih belum beristirahat sama sekali. Ini sama sekali tidak baik untuk kehamilannya, bagaimana jika sampai terjadi sesuatu yang tidak - tidak pada kehamilannya.
" Ayo nona, istirahat dulu, demi adiknya nona Aida, saya yakin nona Aida akan sangat sedih jika tahu nona seperti ini ".
" Jadi nona istirahat dulu ya demi adiknya nona Aida ".
Tak ada alasan bagi Nadira untuk bertahan di sini, lebih baik dirinya memang harus beristirahat.
Semoga saja suaminya Andra bisa kembali pulang dengan membawa kabar baik, rasanya dirinya tak akan bisa tenang sebelum melihat putri kecilnya itu kembali.
Dengan dibantu oleh bi Sari, Nadira melangkah menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas, kamar itu sudah rapi kembali setelah asistennya Lina merapikan kamar pribadinya.
*****
Seruan alam sekitar nampaknya telah berhasil mengusik gadis kecil yang sudah sangat lama terpejam.
Aida sudah menunjukkan tanda - tanda jika akan segera membuka matanya, dan gadis kecil itu secara perlahan mulai membuka matanya.
" Aduuuh... kepalaku ". Rintih Aida dengan memegangi kepalanya.
Aida mencoba membuka matanya lebar - lebar, gadis kecil itu mencoba mengedarkan kedua bola mata birunya ke arah sekelilingnya.
Aida jadi bingung, ini ada di mana, mengapa dirinya malah terbaring di atas ranjang yang keras ini, dan mengapa warna tembok di ruangan ini tidak sama seperti di kamarnya.
" Akhirnya kamu bangun juga gadis kecil ". Seru suara seorang wanita yang berhasil mengalihkan pandangan Aida.
" Sustel Lia? ". Dengan suaranya yang masih serak serta tubuhnya yang terasa lemas, si kecil Aida berusaha bangkit dari posisinya.
" Ternyata kamu masih ingat dengan ku gadis kecil ". Dengan tersenyum seram Ria menyahutnya.
__ADS_1
Aida masih memegangi kepalanya, mengapa kepalanya terasa berat seperti ini. Di mana bunda dan juga daddy nya, mengapa di ruangan ini hanya ada suster Ria, bukankah suster Ria nya sudah dipecat oleh daddy nya, lalu mengapa suster Ria nya masih mengurusnya.
" Aduuuh... kepalaku kenapa pusing sekali ya? , lasanya belat sekali ".
Aida tak paham mengapa kepalanya terasa berat seperti ini, seumur - umur baru kali ini kepalanya merasa berat seperti ini.
" Bunda, daddy, kalian di mana, kok sustel Lia yang jaga Aida? ". Serunya.
Aida tak tahu jika dirinya sedang diculik, dan sekarang gadis kecil itu sedang mencari keberadaan bunda dengan daddy nya.
Ria tersenyum samar melihat kebingungan Aida, sejauh ini alangkah lebih baik jika memberikan kelonggaran waktu pada Aida sampai rasa pusing yang dirasakan oleh gadis kecil itu mulai mereda, setelah itu barulah dirinya memulai aksinya.
" Bunda, daddy, kalian di mana?, sustel Lia ini di mana, kenapa tempat ini walna temboknya beda, dan... kasulnya juga kelas? ". Tanya Aida lagi dengan tangan mungilnya yang menekan - nekan kasurnya yang ternyata terasa sangat keras.
Aida sudah merasa tak terlalu pusing, gadis kecil itu berusaha mengingat kejadian sebelum kepalanya merasa pusing seperti ini, dan jika diingat - ingat dirinya sama sekali tidak ingin datang ke ruangan seperti ini, yang dirinya terkahir kali ingat yaitu dirinya masuk ke kamar mandi di rumahnya yang ada di lantai bawah, lalu mengapa sekarang dirinya malah berada di tempat yang asing ini.
" Sustel Lia, bunda sama daddy mana, kok aku ditinggal sama kamu sih? ".
Kesadaran Aida sudah hampir penuh, gadis kecil itu benar-benar mulai sadar, dan sekarang ia sedang menunjukkan rasa ketidaksukaannya.
" Sustel Lia, kenapa kamu tidak menjawab ku, bunda sama daddy mana?, kamu ini punya telinga atau tidak sih? ". Kesalnya.
" Tutup mulut mu gadis kecil, beraninya kamu angkuh di depanku ya, di sini tidak ada bunda dan daddy mu yang sialan itu, kalian bertiga benar-benar manusia sialan ". Sentak Ria.
" Wah... rupanya kamu tidak ada takutnya padaku, beraninya kamu memasang wajah seperti itu, kamu dan daddy mu itu memang tak ada bedanya ".
" Baiklah, lihat saja apa yang ingin aku lakukan padamu gadis kecil ".
Lantas Ria mendekati Aida, namun dengan sigapnya si kecil Aida malah langsung berdiri dari posisinya, Aida sangat tahu jika Ria seperti akan melakukan hal yang tak baik pada dirinya.
" Kamu... turun, sini kamu gadis kecil ".
" Untuk apa?, huuuh... aku tidak mau dekat - dekat sama kamu, kamu kan sudah dipecat sama daddy ". Bahkan Aida mengatakan hal itu dengan mencebikkan bibirnya.
" Iya, dan itu semua gara-gara kamu, kamulah penyebab aku sampai dipecat secara tidak terhormat, turun kamu gadis kecil, jangan harap setelah ini aku akan memberimu ampun ".
Kali ini Ria sudah tak main - main dengan ucapannya, api amarah telah benar-benar menyelimuti hatinya.
" Sini kamu, jika tidak akulah yang akan ke sana dan memberi mu pelajaran ".
Namun Aida tetap bertahan di posisinya dengan menjauhi Ria. Kali ini Aida sudah merasa tak aman, Aida sangat menyadari jika dirinya berada di situasi yang terancam.
Merasa sudah sangat gemas dengan Aida, Ria pun menaiki kasurnya juga.
__ADS_1
" Kali ini aku tidak akan melepaskan mu gadis sialan, sini kamu ".
Aida masih mencoba untuk menghindar, namun nahas, tangan Ria sudah lebih dulu menahan tubuh mungilnya.
" Rasakan ini gadis sialan ".
Plakk... plakk... plakk...
" Aduuuh... sakiiit... ".
Plakk... plakk... plakk
Dengan begitu kejamnya Ria menepak - nepak tubuh mungil Aida, seorang gadis kecil yang masih berusia lebih dari lima tahun namun telah dirinya pukuli tanpa ada rasa kasihan.
Plakk... plakk... plakk...
" Hwaaa... sakiiit... ".
" Seharusnya sudah dari tadi aku melakukan ini plakk... dari tadi kamu terus membuatku kesal plakk... sekarang aku tidak akan memgampuni mu plakk... plakk... ".
" Hwaaa... daddy hwaaa... ".
Aida menangis dengan begitu kencangnya, Ria memukul tubuh mungilnya begitu sangat keras dan membabibuta, tubuhnya benar-benar sangat sakit, bahkan rasa sakitnya seperti terus menerus menjalar hingga ke ubun - ubunnya.
" Daddy hwaaa... bunda hwaaa... ".
" Tadi kamu bertingkah sok angkuh di depanku plakk... sekarang kamu teriak - teriak menangis memanggil orang tuamu yang sombong itu plakk... ".
Entah di mana hati nurani Ria, sebegitu bencinya kah ia pada seorang anak sekecil Aida, bahkan meski Aida menangis dengan begitu kencangnya tak membuat dirinya merasa iba sama sekali, malah yang ada dirinya terus memukul tubuh mungil itu bahkan hingga terdapat banyak bekas tangannya.
" Daddy hwaaa... ".
Hanya nama orangtuanya lah yang bisa dirinya serukan. Di manakah daddy dan juga bundanya, mengapa mereka tidak datang menolongnya.
Plakk... plakk... plakk...
Ria masih terus memukuli tubuh mungil dari anak mantan majikannya itu, sudah terdapat banyak memar di tubuh Aida, tapi Ria masih belum ada niatan untuk berhenti memukulnya. Amarah telah benar-benar menyelimuti hati Ria sampai - sampai tak ada rasa belas kasihan walau itu hanya sedikit saja di hatinya.
Bersambung..........
πππππ
β€β€β€β€β€
__ADS_1